NovelToon NovelToon
Milikku Di Atas Net

Milikku Di Atas Net

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Martha Wulan

Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.

Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.

"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."

Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.

Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: GARIS YANG TERLANGGAR

Rangga tidak melepaskan cengkeramannya di pinggang Livia. Justru, ia menariknya sedikit lebih rapat, membuat Livia bisa merasakan kerasnya otot perut Rangga di balik kaos tipisnya. Suasana di ruang kerja itu mendadak terasa begitu panas, seolah oksigen di sana baru saja terbakar habis oleh tensi di antara mereka.

"Livia," suara Rangga bukan lagi sebuah teguran. Suaranya rendah, serak, dan membawa getaran yang membuat bulu kuduk Livia meremang. "Jangan samain aku dan Mateo. Kamu tahu aku perjuangin karierku juga. I’m not playing for fun, Liv."

Livia tersenyum miring, jarinya masih nakal memainkan ujung rambut di tengkuk Rangga. "Oh ya? Terus apa namanya kalau bukan permainan, Ngga? Kamu bawa aku ke sini, kamu pasang badan di depan media, tapi di belakang... kamu punya agenda sendiri sama Papi."

Rangga menatap mata Livia dengan intensitas yang nyaris menyakitkan. "Dunia ini nggak sesederhana lapangan bulu tangkis, Livia. Di sana, kamu cuma perlu pukul shuttlecock buat menang. Di luar sini? Kamu harus punya tameng kalau nggak mau hancur. Dan aku... aku milih jadi tameng kamu dengan caraku sendiri."

Livia tertawa getir, matanya melirik sekilas ke arah ponsel Rangga yang baru saja menampilkan pesan dari Mamanya. Pesan tentang "anak Pak Darmawan". Pesan tentang "saham".

"Tameng atau penjara, Ngga?" bisik Livia, wajahnya kini hanya berjarak satu inci dari wajah Rangga. "Karena tameng biasanya melindungi, bukan malah diam-diam nunggu waktu buat ngebuang orangnya setelah urusan bisnis selesai."

Rangga tertegun. Matanya menyipit, mencoba mencari tahu apakah Livia baru saja membaca pesan itu atau hanya sedang menebak-nebak. Namun, alih-alih menjauh, Rangga justru mencondongkan tubuhnya lebih dalam, memerangkap Livia di antara tubuhnya dan meja kerja.

"Kalau ini penjara," gumam Rangga, napasnya terasa hangat dan maskulin di bibir Livia, "bukannya kamu kelihatan sangat menikmati berada di dalam sini, hm?"

Tangan Rangga naik, mengusap pipi Livia dengan punggung jarinya, sebuah gerakan yang sangat kontras dengan kata-katanya yang dingin.

"Kamu menantang aku karena kamu penasaran, Livia. Kamu mau tahu seberapa jauh aku bisa bertindak sebagai 'calon suami' kamu. Kamu mau tahu apakah aku benar-benar se-suci yang orang bicarakan."

Livia menelan ludah. Keberaniannya yang tadi meluap kini mulai goyah saat melihat kilat gelap di mata Rangga.

"Aku nggak peduli kamu suci atau nggak," tantang Livia, suaranya sedikit bergetar. "Aku cuma mau tahu... siapa yang sebenarnya kamu liat kalau kamu cium aku? Aku... atau saham pelabuhan itu?"

Rangga tidak menjawab dengan kata-kata.

Dalam satu gerakan cepat yang tidak terduga, ia menangkup wajah Livia dan membungkam bibir gadis itu dengan ciuman yang tidak ada kesan 'santun'-nya sama sekali.

Ciuman itu menuntut, posesif, dan sarat akan dominasi. Rangga seolah ingin membuktikan bahwa di balik segala rencana bisnis dan strategi keluarga, ada gairah yang nyata—dan berbahaya—yang ia simpan hanya untuk Livia.

Livia terkesiap, tangannya reflek mencengkeram bahu Rangga.

Rasanya seperti tersengat listrik. Ini bukan tentang cinta, ini tentang perebutan kekuasaan. Dan di dalam apartemen yang terkunci ini, Livia baru menyadari bahwa ia telah memancing monster yang salah.

Setelah beberapa detik yang terasa abadi, Rangga melepaskan pautannya. Ia menempelkan dahinya ke dahi Livia, keduanya terengah-engah.

"Jangan pernah tanya aku liat siapa," bisik Rangga, suaranya sangat serak. "Karena sejak sepuluh tahun lalu di lapangan itu, mataku nggak pernah bisa liat orang lain selain kamu, Livia. Bahkan kalau aku harus jadi penjahat di mata kamu buat milikin kamu."

Ponsel Rangga kembali bergetar. Layarnya menyala lagi. Satu pesan baru masuk dari Papanya: "Pertemuan dengan keluarga Darmawan dimajukan besok siang. Rangga, pastikan Livia tidak keluar apartemen."

Livia melihat pesan itu dengan jelas. Ia tersenyum tipis di tengah napasnya yang masih memburu.

"Besok siang ya, Ngga?" tanya Livia dengan nada polos yang mematikan. "Ada acara penting?"

Livia tidak bergerak. Kata-kata Rangga barusan bukan sekadar kalimat pembelaan; itu adalah pengakuan yang liar. Aroma kayu cedar dari tubuh pria itu semakin pekat, bercampur dengan ketegangan yang nyaris bisa diraba di udara.

"Livia," suara Rangga bukan lagi sebuah teguran. Suaranya rendah, serak, menyeret vibrasi yang membuat ulu hati Livia berdenyut. "Jangan samain aku dan Mateo. Kamu tahu aku perjuangin karierku juga. I’m not playing for fun, Liv."

Livia menahan napas, matanya terkunci pada manik mata Rangga yang menggelap—seperti pusaran hitam yang siap menelannya hidup-hidup. "Terus apa, Ngga? Kalau bukan permainan, kenapa ada nama perempuan lain di pesan Mama kamu?"

Rangga justru semakin mendekat, menumpu satu tangannya di daun pintu tepat di samping telinga Livia, mengurung gadis itu dalam ruang sempit yang dipenuhi intimidasi.

"Kamu pikir aku akan nikahin perempuan cantik, penurut, sementara aku ngejar kamu?" Rangga menyeringai, sebuah ekspresi yang tampak asing sekaligus memabukkan pada wajah "suci"-nya. "Aku nggak butuh pajangan yang cuma bisa bilang 'iya'. Aku butuh kamu, Livia. Perempuan yang bikin aku mau hancurin semua aturan cuma buat ngelihat kamu berdiri di sisi aku."

Ada sebuah keinginan terlarang yang meledak di antara mereka.

Livia tahu ini salah. Dia tahu pria di depannya ini punya agenda bisnis yang kotor, tapi tatapan lapar Rangga membuatnya goyah. Perasaan ini berbahaya—seperti berdiri di tepi jurang tanpa tali pengaman.

Livia menunggu Rangga bergeming. Tetapi seperti dia kelihatan mantap dan yakin. Apakah ini hasil didikan keluarga Adiwinata? Atau memang ini hanya bagian dari manipulasi Rangga agar Livia terlena?

"Kalau gitu, buktiin," tantang Livia, suaranya naik satu oktav, penuh provokasi. "Besok siang, jangan datang ke pertemuan itu. Tetap di sini sama aku. Tunjukin kalau kamu beneran pilih aku, bukan saham itu."

Rangga terdiam.

Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari bibir Livia. Ia bisa merasakan napas Livia yang memburu, mengundang sesuatu yang lebih primitif dari sekadar logika bisnis.

Jari Rangga perlahan menelusuri rahang Livia, menyentuh kulitnya dengan kelembutan yang menyakitkan.

"Kamu pikir aku berbohong?" tanyanya perlahan.

Livia lebih memilih tak menjawab.

"Ada hal-hal yang harus aku beresin dulu supaya kamu bener-bener jadi milikku tanpa gangguan siapa pun, Liv," gumam Rangga, suaranya kini terdengar seperti sebuah janji gelap. "Percaya sama aku."

"Aku nggak bisa makan kata 'percaya', Rangga," sahut Livia getir.

Ia mendorong bahu Rangga dengan sisa kekuatannya, lalu menyelinap masuk ke dalam kamar dan langsung membanting pintu.

"Apa pernah aku bohong sama kamu Liv?"

Livia menatapnya tak percaya. "Menurutmu gimana? Kenapa aku harus percaya sama kamu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!