Keyvandi Orion Eduardo atau didunia entertainment lebih dikenal dengan nama Orion Key merupakan seorang musisi terkenal dengan berbagai macam prestasi yang ia miliki. Kehidupan yang jauh dari berbagai macam isu tidak mengenakkan serta keramahannya membuat lelaki berumur 25 tahun itu banyak disukai oleh berbagai kalangan.
Namun, bagaimana jika semua citra yang telah ia bangun itu mendadak sirna. Ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis SMA yang bahkan belum berumur 18 tahun. Perlahan berbagai macam fitnah dan isu buruk tentangnya mulai tersebar. Sehingga membuat ia dicap sebagai musisi dengan scandal terburuk sepanjang masa.
Disisi lain, seorang gadis SMA dengan nama Despina Elara Faye yang juga merupakan adik tiri dari salah satu musisi yang iri akan karir Keyvandi terpaksa menuruti perintah kakaknya untuk mendekati Keyvandi dan menghancurkan karirnya perlahan. Jika tidak, maka siksaan akan terus ia dapatkan.
Lalu, bagaimana kisah selanjutnya? Baca yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nevera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Hari ini adalah hari dimana Keyvandi akan pulang kembali ke Indonesia, menghabiskan waktu kurang lebih 3 hari di Singapura membuat lelaki itu sangat merindukan tanah air dan segala isinya, terutama ia sangat merindukan sang kekasih Despina. Lelaki itu sudah tidak sabar untuk segera bertemu kekasihnya, dari tadi ia tidak berhenti tersenyum.
"Lia ayo! Lama sekali," Ujar lelaki itu, gadis yang bernama Lia dan merupakan manajer sekaligus assistennya itu berdecak sebal, bagaimana tidak, yang membawa barang-barang Keyvandi memang Lia, bukan koper, karena yang membawa koper Keyvandi adalah pak Jo dan pak Tomo. Tapi gadis itu ditugaskan oleh Keyvandi untuk membawa barang berupa oleh-oleh untuk keluarganya.
"Sabar, belanjaanku ini banyak sekali, aku sedikit kewalahan."
Keyvandi menoleh ke arah Lia yang ada di belakangnya, lelaki itu mengambil satu tas barang belanjaan, laku lanjut berjalan meninggalkan Lia.
"Untung saja dia yang artisnya aku assisten, jika saja aku yang artis dan dia assistennya sudah aku buang semua barang-barang ini," Kesal Lia. Tapi mau bagaimanapun juga ia tidak akan oernah bisa menolak oermintaan Keyvandi, karena ia dibayar oleh Keyvandi.
Keyvandi berjalan masuk ke gate keberangkatan internasional, lelaki itu terlihat begitu antusias. Beberapa saat kemudian pesawat yang ditumpangi oleh Keyvandi akhirnya mulai terbang, Keyvandi selalu membayangkan ia akan bertemu dengan Despina nanti di Indonesia.
Lia menyerngitkan keningnya heran, lelaki itu benar-benar aneh pikir Lia, ada apa sebenarnya dengan Keyvandi.
"Rion, ada apa denganmu?" Tanya Lia penasaran.
Keyvandi hanya mengedikkan bahunya saja, ia tidak ingin menjawab pertanyaan Lia, biarkan saja manajer sekaligus assistennya itu kepo.
"Kau tidak apa-apa kan?"
Akhirnya karena geram Lia menempelkan punggung tangannya di jidat Keyvandi. Keyvandi langsung menepis tangan Lia pelan, "Aku tidak apa-apa, aku hanya senang karena akhirnya kita akan kembali ke tanah air."
Lia menatap bingung, padahal biasanya Keyvandi akan lebih antusias jika melakukan perjalanan ke luar negeri entah itu sekedar syuting ataupun ia jalan-jalan, lelaki itu memang sangat suka jalan-jalan ke luar negeri, tapi kali ini ada apa dengan lelaki itu, tumben sekali ia senang ketika pulang ke Indonesia.
Beberapa jam berlalu, pesawat yang Keyvandi tumpangi telah sampai di bandara internasional Soekarno-Hatta Jakarta, setelah ada aba-aba untuk segera turun lelaki itu langsung turun.
"Lia, kau pulangnya naik taksi saja, aku ada urusan yang tidak bisa kutinggalkan, oh ya, barang-barangku biar pak Jo dan pak Tomo saja yang membawakannya."
Setelahnya lelaki itu berlari menuju mobil yang sudah di ambil oleh pak Jo tadi. Kemudian langsung menaikinya. Sedangkan Lia, gadis itu hanya bisa melongo melihat itu, sebelum akhirnya ia sadar jika Keyvandi meninggalkannya.
"EH RIONNNN, TUNGGU." Teriaknya, namun sayang, Keyvandi sudah jauh dari jangkauannya.
***
Disisi lain, Daisy sedang melanjutkan tulisannya yang semalam ia abaikan, gadis itu sepertinya sedang tidak mood terlalu banyak menulis, otaknya begitu penuh dengan pikiran-pikiran menyebalkan kejadian di sekolah. "Huh, mungkin nanti aku akan meminta pertolongan kak Vandi," Gumam gadis itu pelan.
Hari ini adalah hari Sabtu, hari dimana anak sekolah libur dan tidak sekolah. Despina bingung akan kemana, kegiatan menulisnya ia lakukan setiap malam tapi kali ini ia melakukannya di siang hari.
"Oh ya, kak Vandi kok belum mengabariku, bukankah katanya dia hari ini akan pulang ya?" Ujar gadis itu bertanya-tanya.
Ceklek
"Kak Vandi?"
Pintu apartemen keyva di itu terbuka, menampilkan sosok seorang lelaki yang Despina kenali, lelaki itu tersenyum manis, tapi bagi Despina itu bukanlah senyuman manis, justru itu adalah senyuman yang sangat menakutkan.
"Haloo baby, how are you?"
***
Keyvandi sampai di apartemen miliknya, lelaki itu langsung saja turun dan berlari untu segera menemui Despina. Lelaki itu menekan password pintu apartemennya, lalu masuk ke dalam.
"Sayang, kamu aku pulang," Ujar lelaki itu saat baru memasuki pintu apartemen.
Keyvandi langsung mencari keberadaan Despina, namun ia tidak bisa menemukannya. Keyvandi mencari ke kamar, kamar mandi, dapur, kamarnya dan ke setiap sudut ruangan apartemen, namun nihil, tidak ada sedikitpun penampakan dari Despina. Keyvandi merogoh ponsel yang ada di sakunya, lelaki itu mencoba menghubungi Despina kalau kalau ternyata Despina pergi keluar bersama sahabatnya tapi lupa untuk mengabarinya.
Ting
Suara sebuah notifikasi ponsel terdengar di telinga Keyvandi, lelaki itu mencari sumbernya, namun itu bukan suara ponsel miliknya. Pandangan mata Keyvandi jatuh pada sebuah ponsel yang menyala di atas meja. Keyvandi mendekati ponsel itu dan mengambilnya. "Kenapa ponselnya ada di sini?" Tanya Keyvandi pada dirinya sendiri.
Lelaki itu akhirnya langsung mengetikkan beberapa digit nomer dan menghubunginya.
"Halo."
"Halo Bang, bisa membantuku?"
"Ada apa Van?"
"Despina menghilang, aku tidak tau dia dimana, aku sangat mengkhawatirkannya."
"Kenapa bisa?"
"Nanti aku akan menceritakannya pada bang Vando, tapi aku mohon, bisakah Abang membantuku sekarang, aku benar-benar frustasi sekarang, aku khawatir jika terjadi sesuatu padanya."
Setelah itu, sambungan telepon itu akhirnya terputus, Keyvandi langsung duduk di sofa ruang tamunya. Lelaki itu hanya bisa menatap ponsel Despina yang ada di tangannya dengan perasaan tidak karuan, bagaimana ia akan tenang, sedangkan ia tidak tau bagaimana keadaan kekasihnya itu. Padahal tadi Keyvandi cepat-cepat ingin sampai karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Despina, tapi sekarang Despina malah menghilang.
Beberapa saat kemudian pintu apartemen lelaki itu terbuka, menampilkan seorang laki-laki dengan wajah yang hampir sama dengannya, Keyvandi langsung berdiri.
"Bang Vando, aku mengkhawatirkan Despina, dia ada di mana, aku tidak tau, aku baru saja pulang dari Singapura, tapi ketika aku kembali Despina sudah tidak ada."
Keyvando langsung mendekati adik kembarnya itu, mencoba untuk menenangkan lelaki itu.
"Bukankah di apartemenmh terdapat CCTV?" Tanya Keyvando pada Keyvandi.
Benar juga apa yang abangnya itu katakan, di apartemennya ini dilengkapi dengan CCTV, bukankah harusnya ia langsung mengecek CCTV saja dari tadi? Tapi karena panik Keyvandi tidak berpikiran untuk mengecek CCTVnya.
Akhirnya Keyvandi dan keyvando berjalan ke layar monitor tempat CCTV di apartemen milik Keyvandi berada. Keyvandi mengitak atik layar monitor itu dan. . .
"Siapa dia?" Tanya Keyvandi ketika beberapa waktu lalu di hari pertama Keyvandi pergi ada seorang pria yang berbicara dengan Despina di depan pintu apartemennya.
"Kenapa terlihat sangat akrab?" Tanya Keyvandi.
Di dalam CCTV itu juga menampilkan jika lelaki itu dijak Despina untuk masuk ke dalam, setelahnya Despina dan lelaki yang da di CCTV itu berbincang-bincang dengan sesekali keduanya saling tertawa. Keyvando tau perasaan adik kembarnya itu, ia mengelus pelan punggung Keyvandi, takut takut jika lelaki itu akan meluap.
"Tenanglah, nanti kita akan bertanya tentang kebenarannya kepada despina apa yang sebenarnya terjadi."
Keyvandi berusaha menghembuskan napasnya pelan agar emosinya kembali stabil.
"Coba sini biar aku yang kembali mengecek CCTV di hari berikutnya." Kali ini Keyvando yang berusaha untuk memutar rekaman CCTV di hari berikutnya.
Keduanya saling pandang satu sama lain, hari itu memang tidak ada yang mencurigakan, semua yang Despina lakukan di CCTV itu hanyalah kegiatan normal, seperti saat gadis itu menulis di komputernya, atau saat Despina baru pulang sekolah, atau saat gadis itu video call dengan Keyvandi.
"Tidak ada apapun yang mencurigakan bang, aku penasaran, siapa lelaki di hari oertama aku pergi itu, sayang sekali aku tidak memasang alat pendeteksi suara dalam CCTV."
"Apa mungkin itu adalah kekasih Despina yang lain?" Ujar Keyvando, lelaki itu berusaha membuat adiknya itu kesal.
Keyvandi menatao nyalang kearah Keyvandi, abangnya itu niatnya ingin bercanda atau bagaiman, tapi wajah lelaki itu tapi tidak mengeluarkan ekspresi yang jelas, huh, menyebalkan sekali.
"Abang ingin bercanda?"
Keyvandi menggelengkan kepalanya, masih dengan wajah datar lelaki itu menatap sang adik, lalu ia kembali fokus dengan layar monitor CCTV yang ada di hadapannya.
Tiba-tiba saja di saat Keyvando menekan tombol enter untung mengetahui isi dari rekaman CCTV di hari ketiga atau hari ini ternyata rekamannya kosong.
"Kenapa seperti ini?" Tanya Keyvandi, lelaki itu tidak menyangka jika rekaman cctvnya tidak ada.
"Sepertinya ada yang sengaja meretas CCTV apartemenmu."
Keyvandi yang mendengar jawaban kakak lelaki itu mengacak rambutnya frustasi. "Sial, kita harus mencari lelaki yang ada di CCTV itu juga bang, gunakan pengaruh kita, berani sekali mereka menculik gadisku.
***
Sedangkan disisi lain, Despina sedang berada di sebuah ruangan dengan keadaan tangan dan kaki yang diikat, gadis itu terus saja mengeluarkan air matanya, lirihan kecil keluar dari mulutnya karena memang rasanya sudah tidak ada lagi tenaga yang bisa ia keluarkan.
"Bagaimana baby? Apa kau sudah jera? Aku mencarimu selama dua bulan ini ternyata kau justru dengan enaknya tinggal di apartemen itu," Ujar seorang lelaki yang masih mengenakan jas hitam miliknya. Lelaki itu menatap Despina dengan pandangan penuh minat.
"Aku mohon kak, lepaskan aku."
Lelaki tadi bukannya mendengarkan ucapan dari Despina, ia justru tertawa terbahak-bahak. "Kenapa baby? Apa kau mau menemui kekasihmu itu lagi? Hmm?"
Despina menggelengkan kepalanya, "Aku mohon kak, kak Reza tolong lepaskan aku, aku mohon."
Reza, lelaki itu langsung mencengkram dagu Despina, lelaki itu begitu kesal dengan despina yang kabur dan bersembunyi darinya. "Dengar ya Baby, aku tidak akan pernah melepaskanmu, aku akan menjadikan kau milikku segera, besok kita akan menikah."
Despina lagi dan lagi hanya bisa mengeluarkan air matanya, tenaganya sudah habis jika harus berteriak, lelaki dihadapannya ini terlalu memiliki kekuatan yang besar, tidak mungkin Despina yang hanya seorang diri ini mampu melawannya, ditambah lagi, lelaki di hadapannya ini mendapat dukungan penuh dari kakak tirinya, Leo. Mungkin Despina hanya bisa berdoa dalam hati agar ada keajaiban yang akan datang menolongnya, ia benar-benar tidak sanggup menghadapi semuanya sendirian. Ia berharap semoga saja Keyvandi bisa menemukannya.
"Baby, lebih baik jika kau ingin aku tidak memperlakukanmu dengan kasar, menurutkan padaku, jangan membantah, maka aku akan memperlakukanmu dengan lembut." Reza mengelus pipi Despina, mengusap lembut airmata yang ada di pipi Despina, lelaki itu juga perlahan menciumi leher Despina. Bukannya semakin diam, Despina justru semakin ketakutan, gadis itu menangis tanpa ingin berhenti, bibirnya juga terus bergumam.
"Jangan kak, aku mohon, jangan."
Reza tidak mendengarkan ucapan Despina, lelaki itu terus saja menciumi leher gadis itu, kemudian Reza beralih pada bibir Despina, dengan penuh paksaan lelaki itu langsung melumat bibir Despina dengan kasar, gadis itu terus menolak, tapi Reza tidak peduli, karena geram Despina terus memberontak, akhirnya Reza menangkap kepala Despina, menggit bibir gadis itu hingga dengan terpaksa Despina membuka mulutnya. Reza yang merasa ada kesempatan langsung memasukkan lidahnya ke dalam mulut gadis itu, mengabsen satu persatu isi mulut Despina dan memainkan lidahnya di sana.
Beberapa saat berlalu, merasa pergerakan tubuh Despina mulai melamban membuat Reza melepaskan tautannya, lelaki itu tersenyum puas karena melihat Despina kehabisan napas. Sedangkan Despina hanya bisa menghirup dengan rakus udara sebanyak-banyaknya. Setelah merasa Despina cukup mengambil napas Reza kembali mencium gadis itu, Despina lagi-lagi tidak siap hanya bisa pasrah saja.
"Tuhan, tolong aku," Batin Gadis itu menangis, ia benar-benar tidak tau lagi harus berbuat apa, energinya sudah benar-benar habis.
***
"Sialan!"
"Kak sabar, om Sean dan anak buahnya sudah bertindak, pasti nanti Despina akan segera ditemukan, kak Vandi kan masih capek, jadi jangan banyak pikiran dulu." Itu adalah Vara, adik perempuan satu-satunya Keyvandi, wanita itu berusaha menenangkan pikiran Keyvandi yang sangat kacau karena kehilangan kekasihnya itu.
Keyvandi menoleh kearah Keyvara, lelaki itu menghela napasnya pelan, "Tapi kakak ingin supaya Despina cepat ditemukan, kakak tidak ingin jika sampai terjadi seuatu yang buruk dengan Despina."
Keyvara mengelus pundak Keyvandi, "Kak Vandi mengatakan jika sebelumnya dihari kakak berangkat ke Singapura, Despina sempat berbicara dengan seorang lelaki, bahkan sempat tertawa bersama di apartemen kakak, Vara bukannya tidak percaya dengan Despina, tapi Vara hanya ingin yang terbaik untuk kakak, Vara tidak ingin kakak mendapatkan gadis yang tidak tepat. Tapi meski begitu, tidak ada salahnya jika kakak mencari tau dulu mengenai lelaki itu, dan juga, jika nanti Despina ketemu, aku harap kakak dapat mengambil keputusan yang baik untuk kalian berdua, Vara tidak ingin kak Vandi juga menyelesaikan semuanya dengan emosi."
Keyvandi menatap adiknya itu, lelaki itu mengelus puncak kepala Keyvara, "Sayang, kakak tidak mungkin langsung emosi begitu saja, apalagi Vara tau sendiri bukan jika kakak sangat mencintai Despina, apa kakak pernah seserius ini, bahkan Vara juga taukan hanya Desoina yang mampu menaklukkan hati Kak Vandi.".
Keyvara tersenyum, ya, benar, ia sangat tau bagaimana kakak keduanya itu, Keyvandi memang jika sangat menyayangi seseorang pasti akan dengan rela melakukan apapun untuk orang itu, jadi pasti Keyvandi tidak akan pernah asal mengambil keputusan, lelaki itu akan memikirkannya dengan matang.
"Tapi kakak hanya tidak habis pikir mengapa Despina tidak memberitahukan mengenai lelaki di CCTV itu kepada Malaka, dan Vara tau sendiri jika di CCTV itu kakak tidak tau apa yang mereka bicarakan, wajar jika kakak berpikir yang bukan-bukan."
"Vara tau kak, Vara mengerti posisi kak Vandi. Tapi kak Vandi harus sabar, anggap saja ini ujian untuk hubungan kak Vandi dan Despina yang masih seumur jagung itu, jangan lupakan kak, Despina juga masih anak SMA yang berumur 18 tahun, wajar jika Despina mungkin saja kekanak-kanakan, dan itu tugas kak Vandi untuk membimbinnya."
Disaat keduanya sedang terus melanjutkan obrolannya, tiba-tiba saja Sean datang, "Aku sudah menemukannya."
.
.
.
TBC