NovelToon NovelToon
Diam-diam Hamil Anak Mantan

Diam-diam Hamil Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Mantan / Romansa / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.

Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.

Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.

Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

"Mustahil... mereka hanya kebetulan mirip. Apa mungkin?"

Yudha tertegun, matanya tertuju pada Arya dan Sasa. Tatapan Arya yang penuh harap dan senyuman Sasa yang lugu terasa seperti potongan kenangan yang menyeretnya kembali ke masa lalu. Ada sesuatu di wajah mereka yang begitu akrab, terlalu dekat. Seperti perpaduan dirinya dan... Sonya.

"Tidak mungkin," gumamnya lirih, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Aku sudah merawat Arya selama empat tahun. Aku bahkan melakukan tes DNA. Hasilnya jelas... Arya bukan anakku."

Namun, semakin ia menatap kedua anak itu, pikirannya semakin kacau. Kenapa perpaduan mereka terasa begitu kental? Ada getaran yang membuatnya tak bisa mengabaikan kesamaan itu, seolah-olah seluruh hidupnya telah disusun kembali di hadapannya.

Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan gejolak yang memenuhi dadanya. Ini bukan saat untuk bertindak gegabah, tapi rasa penasaran yang semakin mencekam membuatnya hampir kehilangan kendali. Wajah Arya dan Sasa seperti teka-teki yang menuntut jawaban.

Dengan hati yang penuh keraguan, Yudha meneguhkan tekadnya. Dia harus mencari tahu kebenarannya, tentang Sonya, tentang anak-anak ini, dan tentang misteri yang mungkin akan mengubah hidupnya selamanya.

"Sonya, lain kali aku akan memperhitungkan semua ini," ucap Yudha dengan suara tegas, mencoba mengakhiri pergulatan batinnya. Belum sempat Sonya menjawab, pandangan Yudha beralih ke kedua anak yang kini berdiri di sisinya. Tanpa banyak bicara, ia berjongkok untuk menyamakan tinggi badan dengan Arya dan Sasa.

"Maaf, sudah membuat kalian takut," ucap Yudha dengan lembut, suara yang biasanya keras kini penuh kelembutan.

"Paman, Sasa nggak takut kok," jawab Sasa dengan polos, "Cuma, Sasa nggak mau Paman marah sama bunda Sasa. Kasihan bunda Sasa, lagi sakit."

Arya ikut menambahkan, "Benar, Ayah. Tadi tiba-tiba Tante sakit, dan sebenarnya aku yang minta Tante nggak bilang ke Ayah kalau aku ikut pergi. Maaf, Ayah."

Yudha terdiam sejenak, matanya melirik ke arah Sonya yang masih duduk lemah di ranjang rumah sakit. Apa aku telah berburuk sangka padanya?

Suasana tiba-tiba menjadi canggung. Intan yang sejak tadi hanya diam, merasakan pergulatan batin sendiri. Ia mencoba mencari jalan keluar dari ketegangan yang melingkupi ruang itu. "Aku keluar dulu untuk mengurus administrasi. Setelah ini, kita pulang," katanya, suaranya terdengar terputus-putus, mencoba menghilangkan rasa tak nyaman yang mulai mengganggunya.

Namun, saat Intan melangkah maju, beberapa bodyguard yang dibawa Yudha tadi langsung menghalangi jalannya. "Apa kalian bisa minggir?" Intan bertanya dengan nada kesal, meskipun ia berusaha tetap tenang.

Melihat semua orang diam seperti patung, Intan merasa frustrasi. Ia hampir menyerah, tapi akhirnya, Yudha memberi kode agar para bodyguard itu memberi jalan.

"Yudha, apa kamu harus seperti ini?" Sonya akhirnya membuka mulut, suaranya penuh tekanan, seperti mencoba meredakan suasana yang semakin memanas.

"Aku seorang ayah. Jika anakku dalam bahaya, aku akan mengerahkan semua yang aku miliki untuk melindunginya," sahut Yudha dengan nada tegas, seolah tak ada keraguan sedikit pun dalam dirinya.

"Jadi, sekarang semuanya sudah jelas, kan? Bisakah kamu membubarkan semua orang itu? Aku merasa sangat tidak nyaman," ujar Sonya lagi, suaranya sedikit bergetar, meskipun ia berusaha untuk tetap tegar.

Ada rasa enggan yang menggelayuti hati Yudha, tapi akhirnya ia mengangguk. Mungkin ini cara untuk menebus prasangka buruk yang sempat ia tanamkan tadi. "Lain kali, kalau kamu membawa Arya, kamu beri tahu aku," ujarnya, masih dengan nada datar, namun ada kehangatan yang tak bisa disembunyikan di balik kata-katanya.

"Maaf, ponselku lowbat, dan tadi Arya—"

"Kamu itu orang dewasa, Sonya. Apa harus mengikuti keinginan anak kecil? Harusnya kamu bisa berpikir lebih panjang," Yudha menyela, nada suaranya mengandung keprihatinan, namun tetap tajam.

Sonya terdiam, menunduk. Ia sadar, ia memang salah. Kali ini, ia tidak ingin memperpanjang debat dengan Yudha, mengingat kondisi tubuhnya yang lelah dan anak-anak yang ada di sana.

Ia kembali menatap ketiga orang di depannya, sebuah pemandangan yang menggetarkan hatinya. Ada kenyamanan yang tiba-tiba menyelinap masuk, sebuah gambaran keluarga yang utuh. Namun, di sisi lain, ketakutan juga menggerogoti hatinya.

Sonya takut kehilangan. Takut jika nantinya Yudha mengetahui bahwa Sasa adalah anaknya, dan Yudha akhirnya tahu tujuan sejatinya mendekati pria itu. Ia tahu, itu bisa berimbas pada Sasa, dan kemungkinan besar, Sasa akan diambil oleh Yudha.

"Kenapa semua menjadi rumit?" gumam Sonya yang bisa didengar oleh dirinya sendiri.

Tak lama kemudian, Intan kembali dan membawa Reza bersamanya. Yudha yang semula duduk tenang, merasakan ketegangan yang mendalam begitu melihat kedatangan Reza. Sejenak, ia mengamati dengan seksama ketika Sasa, yang tadinya berada di sisi Yudha, tiba-tiba berlarian riang menghampiri Reza.

"Paman, kenapa baru datang? Sasa sakit, Paman nggak jenguk-jenguk Sasa," ucap Sasa dengan nada manja yang khas, tangannya memeluk Reza erat.

Melihat pemandangan itu, Yudha merasa ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Hatinya bergejolak, cemburu yang tak bisa ia bendung. Sasa begitu mudahnya berpaling, seolah-olah ia sudah lupa dengan keberadaannya. Begitu saja, seakan ia tak lagi menjadi yang utama di hati anak itu.

Yudha menatap mereka dengan perasaan sesak yang mulai memenuhi dadanya. Kenapa aku merasa seperti ini? pikirnya, mulutnya terasa kering dan berat. Perasaan tak nyaman itu perlahan menggerogoti pikirannya, menjadikan semuanya semakin sulit untuk diterima.

“Sasa…” Yudha mencoba menyapa, suaranya sedikit terputus karena rasa cemburu yang begitu mendalam menguasai dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!