Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).
Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.
Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 6
Dunia Fana – Kota Batu (Dua puluh mil dari Desa Angin Lembut).
Malam ini, Kota Batu diterangi oleh ribuan lampion merah dan kuning yang digantung menyilang di atas jalan-jalan berbatu. Aroma manisan Tanghulu (manisan buah), daging panggang, dan dupa menyatu di udara, menciptakan atmosfer kemeriahan khas fana yang begitu hidup.
Shi Hao berjalan perlahan menyusuri jalan utama yang padat, tangan kirinya bertumpu pada tongkat bambu, sementara tangan kanannya digenggam erat oleh Gu Qing Yi. Hitam Satu dan saudara-saudaranya sengaja ditinggalkan di rumah menjaga gubuk, karena membawa tiga anjing neraka bermata enam ke pasar malam fana bukanlah ide yang cerdas.
"Wah, ramai sekali ya, Istriku," kata Shi Hao sambil tersenyum. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, seolah kain putih di mata kirinya tidak menghalanginya untuk merasakan kemeriahan tersebut. "Suara musik kecapinya sangat merdu."
Qing Yi tersenyum, menyandarkan kepalanya sedikit ke bahu pria itu saat mereka berjalan. Gaun hijaunya yang sederhana bergoyang tertiup angin malam.
"Ini adalah Festival Awal Musim Semi, Suamiku. Orang-orang dari berbagai desa datang kemari untuk berdagang dan merayakan berakhirnya musim dingin," jelas Qing Yi.
Mereka berhenti di sebuah kios penjual perhiasan perak. Tangan Shi Hao meraba meja kios, lalu tak sengaja menyentuh sebuah tusuk konde kayu yang ujungnya diukir berbentuk bunga persik.
"Paman, berapa harga tusuk konde ini?" tanya Shi Hao.
Penjual itu, seorang pria bertubuh tambun, melihat mata Shi Hao yang tertutup kain dan pakaiannya yang sederhana. Niat licik seketika muncul.
"Ah! Anak muda, kau punya selera yang bagus! Itu adalah kayu cendana berusia seratus tahun yang diberkati oleh biksu kuil agung! Harganya sepuluh keping perak!"
Qing Yi mengerutkan kening. Itu hanya kayu pinus biasa yang dicat, harganya tak lebih dari tiga keping tembaga. Dia baru saja hendak menegur pedagang licik itu, ketika Shi Hao tertawa pelan.
"Paman, kayu cendana yang diberkati biksu memiliki aroma dupa yang khas dan berat kayunya padat. Yang kupegang ini ringan, dan baunya seperti getah pinus yang baru ditebang bulan lalu. Bagaimana kalau tiga keping tembaga?" tawar Shi Hao dengan nada santai namun tidak bisa dibantah.
Pedagang itu terbelalak, wajahnya memerah karena malu kebohongannya dibongkar oleh orang buta. "B-Baiklah! Tiga keping tembaga! Bawa sana!"
Shi Hao menyerahkan koinnya, lalu berbalik dan menyelipkan tusuk konde kayu itu ke rambut Qing Yi.
"Aku tidak bisa melihatnya, tapi kurasa ini sangat cocok dengan wangi terataimu," kata Shi Hao lembut.
Pipi Qing Yi merona merah. Baginya, tusuk konde murahan ini jauh lebih berharga daripada Mahkota Permaisuri Alam Atas yang pernah ditawarkan padanya. "Terima kasih, Hao. Ini sangat indah."
Namun, di saat sepasang suami istri itu sedang menikmati romansa fana mereka, kegelapan mulai merayap di sudut kota yang tak tersentuh cahaya lampion.
Di Gang Gelap Kota Batu.
Sebuah bayangan tidak wajar meluncur di dinding bata. Ia tidak memiliki bentuk fisik yang tetap, melainkan seperti genangan lumpur hitam yang terus mendidih.
Itu adalah Iblis Bayangan Nether (Nether Shadow Fiend), salah satu dari ribuan mata-mata kelas rendah yang dikirim melalui celah dimensi oleh Shen Yu untuk memetakan kelemahan pertahanan dunia ini.
Monster itu seharusnya hanya mengintai. Namun, karena terbiasa dengan Sembilan Nether yang tandus, ia mabuk oleh kepadatan energi kehidupan manusia (Mortal Qi) di pasar malam ini. Insting kelaparannya mengambil alih perintah komandannya.
Bayangan itu membesar, memadat menjadi wujud fisik menyerupai banteng raksasa yang seluruh tubuhnya terbuat dari asap hitam pekat, dengan sepasang tanduk melengkung tajam dan mata yang menyala ungu.
GROAAAAAR!
Monster itu melompat keluar dari gang, langsung menghantam deretan kios makanan.
Gerobak mie terbang ke udara. Panci air mendidih tumpah. Jeritan panik meledak di seluruh penjuru pasar.
"SILUMAN! SILUMAN BANTENG GILA!" teriak para pengunjung, berhamburan menyelamatkan diri.
Monster Bayangan itu mengibaskan kepalanya, bersiap menyeruduk kerumunan yang berlarian. Di tengah kekacauan itu, seorang anak kecil berusia lima tahun terjatuh, terpisah dari ibunya. Anak itu menangis histeris di tengah jalan tanah, tepat di jalur lari sang monster.
"Ibuuu!" tangis anak kecil itu.
Di jarak sekitar sepuluh meter, Shi Hao dan Qing Yi kebetulan berada di dekat sana.
Qing Yi langsung menyadari bahaya yang sesungguhnya. Makhluk Nether?! Mereka sudah berhasil mengirim pasukan pelacak ke dunia ini?!
Qing Yi baru saja akan membentuk segel kematian, tapi sebuah gerakan di sampingnya membuatnya tertegun.
Shi Hao, yang seharusnya lumpuh dan buta, menjatuhkan tongkat bambunya. Tubuhnya bereaksi mendahului kesadarannya. Dengan Langkah Gajah Purba yang meski tanpa Qi tetap memiliki kecepatan refleks yang menakutkan Shi Hao melesat ke depan, menempatkan dirinya tepat di antara anak yang menangis itu dan monster banteng bayangan yang sedang menerjang.
"Hao!" teriak Qing Yi panik.
Banteng Bayangan itu menundukkan kepalanya, tanduknya yang tajam mengincar dada Shi Hao.
Saat jarak mereka tinggal satu meter, sesuatu di dalam Dantian Shi Hao bergejolak hebat.
Insting untuk melindungi yang begitu kuat menghantam Segel Kekacauan di tubuhnya.
KRETAK!
Terdengar suara retakan halus, seperti cangkang telur yang pecah.
Kelopak mata kanan Shi Hao, yang selama seratus tahun hanya melihat kegelapan fana, mendadak terbuka di alam spiritual. Bukan secara fisik, melainkan mata batinnya!
Di saat yang genting itu, kegelapan di mata Shi Hao memudar. Dia tidak melihat lampion, tidak melihat jalan, dan tidak melihat bentuk banteng.
Yang dia lihat adalah Warna Jiwa.
Dunia di sekitarnya berubah abu-abu, sementara makhluk di depannya memancarkan pendaran warna Ungu Gelap dan Hitam Busuk yang membentuk siluet binatang mematikan.
"Warna ini... menjijikkan," batin Shi Hao dalam sepersekian detik itu. Tangannya perlahan terangkat, jari-jarinya tanpa sadar melengkung, membentuk cengkeraman Cakar Kun Peng.
Namun, sebelum tangan Shi Hao menyentuh monster itu...
ZRAAAASH!
Sebuah Bilah Angin berwarna hijau zamrud, yang setipis rambut namun setajam pedang abadi, melesat dari arah belakang Shi Hao dengan kecepatan melampaui suara.
Bilah itu menembus tepat di antara kedua alis Banteng Bayangan.
Tidak ada darah yang keluar. Inti kehidupan monster Nether itu hancur seketika oleh Seni Teratai Hijau milik Qing Yi. Wujud bayangannya langsung memudar, dan momentum serudukannya berubah menjadi jatuhnya sebongkah tubuh kosong yang terseret di tanah.
BRUK!
Mayat banteng (yang kini ilusi visualnya diubah oleh Qing Yi agar terlihat seperti banteng hitam fana biasa) terseret di tanah dan menabrak tiang kayu kios tepat di depan kaki Shi Hao.
Debu mengepul.
Retakan kecil di Dantian Shi Hao kembali menutup seketika saat bahaya berlalu. Visi spiritual yang melihat "Jiwa Ungu" tadi menghilang, digantikan kembali oleh kebutaan yang familiar.
Tubuh Shi Hao sedikit oleng. Ingatan bawah sadar yang baru saja muncul membuatnya pusing.
"A-Apa yang terjadi?" gumam Shi Hao sambil memegangi kepalanya yang berdenyut.
Qing Yi segera menghampiri, memeluk lengan suaminya dengan erat sambil menghela napas yang luar biasa lega. Anak kecil yang tadi diselamatkan Shi Hao segera ditarik oleh ibunya yang menangis berterima kasih sebelum berlari menjauh.
"Kau tidak apa-apa, Suamiku?!" tanya Qing Yi cemas.
"Aku... aku baik-baik saja," Shi Hao meraba dahinya yang berkeringat. "Tadi aku mendengar anak menangis dan suara banteng berlari. Tapi... Istriku, sekejap tadi, aku merasa melihat warna ungu raksasa. Sangat busuk. Apakah banteng ini dicat warna ungu?"
Qing Yi menelan ludah. Hatinya mencelos menyadari segel Shi Hao hampir jebol.
"Banteng ungu?" Qing Yi tertawa ringan, sebuah tawa yang sangat dipaksakan namun terdengar meyakinkan bagi telinga fana. "Itu pasti karena matamu terkena silau cahaya lampion saat kau melompat tadi, Suamiku. Ini hanya banteng hitam gila dari rumah jagal yang lepas. Tadi dia tersandung batu, lalu kepalanya menabrak tiang kios kayu di depanmu dengan sangat keras sampai mati."
"Tersandung lalu menabrak tiang sampai mati?" Shi Hao mengerutkan kening.
"Benar. Bodoh sekali banteng itu, bukan? Untung saja kau tidak tertabrak," Qing Yi segera mengalihkan pembicaraan, memungut tongkat bambu Shi Hao dan meletakkannya kembali ke tangan suaminya. "Ayo kita pulang. Keributan ini membuat pasar malam tidak nyaman lagi."
Shi Hao mengangguk pelan. Dia percaya sepenuhnya pada Qing Yi. "Baiklah. Banteng yang malang."
Keduanya pun berjalan menjauh dari kerumunan warga kota yang mulai berkerumun mengelilingi mayat banteng tersebut.
Sepanjang perjalanan pulang ke desa, Shi Hao tampak diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri tentang "warna ungu" yang membekas di ingatannya.
Sementara itu, Gu Qing Yi yang berjalan di sebelahnya, sesekali menoleh ke belakang, ke arah Kota Batu yang perlahan menjauh. Senyum lembut di wajahnya menghilang, digantikan oleh tatapan sedingin es abadi.
Mereka sudah sampai ke Dunia Fana, batin Qing Yi, matanya memancarkan niat membunuh yang bisa membekukan lautan. Jika pasukan Nether berani menyentuh sehelai saja rambut suamiku... aku akan mengubah Sembilan Nether menjadi lautan darah.