Bau kemenyan menyengat hidung Raka jam 12 malam pas. Bukan dari kamar bapak nya yang udah kosong 40 hari. Dari punggung nya sendiri. Pekat, anyir, kayak kemenyan di campur darah basi.
"Arghh!" Raka jatuh dari kasur, sprei putih nya ketarik. Punggung nya serasa di sayat silet panas dari tulang ekor sampe tengkuk. Keringet dingin langsung mengucur segede jagung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvian Adi Pratamaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 PENGKHIANATAN DARAH
Hujan darah. Itu hal pertama yang Raka sadari. Bukan kiasan. Tetes air dari langit warnanya merah pekat, bau anyir. Tanah di bawah kaki Raka udah jadi kubangan lumpur merah. Di depannya, Dinda adiknya sendiri, lututnya nyentuh tanah, lehernya di sodorin.
“Kak... bunuh aku aja,” bisik Dinda. Air mata darah netes dari pelupuk matanya. “Sebelum semuanya telat.”
Tangan Raka gemetar hebat. Keris Kelir di genggamannya panas kayak bara. Ukiran rajah di bilahnya nyala, ngerespon perintah Nyi Roro yang berdiri 5 langkah di belakang.
“Cepat, Raka sayang,” suara Nyi Roro mendesah. Manis, tapi dinginnya nusuk tulang. “Darah keturunan langsung... harus tumpah sebelum bulan purnama ketutup awan. Tinggal 3 menit lagi, masak tega sama Nyi?”
Raka ngelirik ke langit. Bulan purnama segede nampan udah digerogotin awan hitam dari ujung. Kepalanya muter. Dinda ini satu-satunya keluarga yang dia punya. Bapak-ibu mati dibantai perampok 10 tahun lalu. Dinda yang umur 7 tahun waktu itu, dia gendong lari 3 hari 3 malam ke hutan.
Dan sekarang Nyi Roro nyuruh dia nyembelih adiknya sendiri?
“Kak,” Dinda angkat muka. Senyumnya pucat. “Kakak inget kan janji kakak dulu? Waktu kita kelaperan di hutan, kakak bilang bakal lindungin Dinda sampe mati.”
“DIAM!” Nyi Roro sentak. Angin panas nyapu lapangan. “Dia bukan adikmu lagi, Raka! Dia bejana! Wadah Rajah ke-7! Kalau kau nggak bunuh dia sekarang, jiwa adikmu bakal hilang selamanya dimakan Rajah!”
Jantung Raka mau copot. Bejana? Wadah?
Raka gertak gigi. Dia angkat Keris Kelir tinggi-tinggi. Ujungnya ngarah ke tengkuk Dinda. Tinggal satu tebasan. Cepat. Biar Dinda nggak sakit.
“Maafin kakak, Din...”
*TRANG!*
Bukan suara daging kesayat. Suara logam ketemu logam.
Mata Raka melotot. Keris Kelir mental. Di depan leher Dinda, ada selapis sisik hitam yang tiba-tiba muncul, nahan mata keris. Sisiknya hidup, bergerak-gerak kayak napas.
Dinda ketawa. Pelan. Terus makin keras. Suaranya bergema, bukan suara anak 17 tahun. Berat. Tua.
“Kak Raka bodoh,” Dinda berdiri. Air mata darahnya berhenti. Matanya yang tadi cokelat, sekarang nyala merah kayak bara. “Kakak pikir aku Dinda beneran?”
Dunia Raka runtuh.
“A-apa maksudmu...” Keris di tangan Raka jatuh. Berlutut.
Nyi Roro tepuk tangan. “Nah kan. Akhirnya nongol juga wujud aslinya. Lama banget tidur 17 tahun, Rajah ke-7.”
“DIAM KAU, PELACUR ISTANA!” Dinda yang bukan Dinda itu bentak. Suaranya bikin tanah retak. “Kau pikir aku nggak tau rencanamu? Kau mau darah keturunan Ki Ageng Selo buat bangkitin Rajah Kelir, terus kau serap kekuatannya buat jadi Ratu Iblis!”
Raka mau muntah. Ki Ageng Selo? Itu nama kakek buyutnya. Pendekar yang ngilang 50 tahun lalu.
"Adik"nya jalan mendekat. Setiap langkahnya, tanah kebakar. “Kak Raka denger ya. Aku ini Rajah ke-7. Penjaga Segel. 17 tahun lalu, nyawa adikmu Dinda udah ditumbalin sama dukun suruhan Nyi Roro buat jadi wadahku. Aku dipaksa tidur di tubuh bocah itu, nunggu darah Ki Ageng Selo yang terakhir... yaitu KAKAK.”
Raka nggak bisa napas. Dindanya... udah mati 17 tahun lalu? Yang dia rawat, dia suapin, dia ajarin ngaji... itu siapa?
“Jadi selama ini...”
“Selama ini kau ngobrol sama aku,” Rajah ke-7 nyengir. Taringnya panjang. “Enak ya, Kak? Punya ‘adik’ yang manis, nurut, masakin. Padahal tiap malem aku ngitung hari buat nyabut nyawamu.”
Nyi Roro melayang ke depan. Kebayanya berkibar. “Sudahlah, Rajah. Drama keluarga kalian membosankan. Intinya sama: Raka harus mati. Bedanya, kalau aku yang bunuh dia, kekuatannya jadi milikku. Kalau kau yang bunuh dia, segelku lepas dan aku tetap mati. Pilih mana?”
Raka liat kiri-kanan. Dua iblis. Satu nyamar jadi adiknya. Satu lagi dalang dari semua ini. Dan dia di tengah, cuma manusia modal keris doang.
Tapi darah Ki Ageng Selo ngalir di badannya. Kakek buyutnya pendekar paling sakti di tanah Jawa. Masa dia nyerah gitu aja?
Raka pungut Keris Kelir. Kali ini nggak gemetar.
“Kalau gitu,” Raka ngeludah darah. “Dua-duanya aja gue lawan. Dinda yang asli udah mati karena kalian. Utang darah bayar darah.”
Nyi Roro ketawa. “Boleh. Mati gaya pendekar. Romantis.”
Rajah ke-7 yang pake tubuh Dinda mendesis. “BODOH! Kau nggak bakal menang, Kak! Tubuh ini udah aku kuasai penuh. Liat ini!”
Kulit “Dinda” robek. Dari punggungnya keluar 6 sayap dari tulang dan daging. Kukunya jadi cakar. Rambutnya jadi api.
“Ini wujud asliku. Penjaga Neraka Jahanam!”
Raka nyengir. Gila. “Bagus. Sekalian gue bakar utang lu 17 tahun.”
*BUGGGHHH!*
Raka duluan yang nyerang. Dia nggak narget leher lagi. Dia narget dada. Tempat jantung. Tempat Rajah ke-7 bersemayam.
Keris Kelir ketemu cakar Rajah. Bunga api muncrat. Kekuatan 17 tahun dipendem Rajah itu gila. Tiap gebukan bikin tulang Raka retak. Tapi Raka nggak mundur. Dia inget Dinda kecil yang nangis gendong boneka. Dinda yang asli.
“PULANGIN ADIK GUE, BANGSAT!” Raka teriak. Dia tusuk perut "Dinda".
Rajah ke-7 meraung. Darah hitam muncrat. Tapi dia malah ketawa. “Sakit, Kak? Ini belum seberapa sama sakitnya Dinda waktu jiwanya gue kunyah pelan-pelan tiap malem!”
Raka gelap mata. Dia cabut keris, tebas lagi, lagi, lagi. Babat. Tebas. Tusuk. Nggak ada jurus. Cuma amarah. Darah hitam sama darah merah nyampur di tanah.
Nyi Roro nonton dari atas. Dia jilat bibir. “Bagus, Raka. Keluarkan semua amarahmu. Makin banyak darah Ki Ageng Selo tumpah, makin kuat Rajah Kelir-ku...”
Di tengah gelut, Raka kepleset. Cakar Rajah ke-7 nancep di bahu kanannya. Tembus. Raka jerit.
“Udah, Kak,” bisik Rajah ke-7 di kuping Raka. Napasnya bau bangkai. “Nyeraaah aja. Biar aku yang habisi Nyi Roro. Terus aku janji, aku bakal pake tubuh Dinda ini baik-baik. Anggap aja adikmu masih hidup...”
Raka mau muntah dengernya. Dia lirik Nyi Roro. Perempuan itu senyum, ngelus kerisnya sendiri.
Bohong. Dua-duanya bohong.
Tiba-tiba, Raka inget omongan bapaknya dulu: “Kalau kepepet, Le, inget tanah. Tanah Jawa nggak pernah ninggalin anaknya.”
Raka nekat. Dia nggak nyabut cakar di bahunya. Malah dia peluk tubuh “Dinda” erat-erat. Keris Kelir di tangan kiri dia tancepin ke tanah dalem-dalem.
“IBU PERTIWI! PINJEM KEKUATANMU!”
*DUARRR!*
Tanah yang kebuka bukan cuma retak. Dia MENGANGA. Dari dalem tanah, cahaya putih nyembur. Akar-akar pohon raksasa keluar, ngiket kaki Rajah ke-7 sama Nyi Roro.
Nyi Roro menjerit. “BOCAH GILA! KAU PANGGIL KEKUATAN LELUHUR?!”
Dari dalem tanah yang nganga, muncul sesosok. Kerangka. Pake jubah pendekar lusuh. Tapi di tangannya ada kitab dari kulit kayu. Matanya bolong, tapi berasa napat Raka.
Kerangka itu ngomong. Suaranya berat, kayak gema dari dalem sumur.
“Cucuku... jangan percaya siapapun. Rajah itu...”
Raka teriak: “KAKEK?!”
Nyi Roro histeris. Sayapnya ngembang. “TIDAKKK! DIA UDAH MATI 50 TAHUN LALU! KUBURANNYA UDAH GUE INJEK-INJEK!”
Layar HP lu gelap.