Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telepon di Tengah Badai Hati
Axel berjalan terhuyung‑huyung menuruni jalan setapak berbatu, napasnya memburu, dadanya sesak seakan ditindih beban gunung. Rasa marah, kecewa, sakit hati, dan rasa dikhianati berdesakan di dadanya hingga sulit berpikir jernih. Leonardo berjalan beberapa langkah di belakangnya, diam dan tak berani menyela. Ia paham betul betapa hancur hati tuannya saat itu. Pemandangan tadi masih terbayang jelas, Ayranza berdiri begitu dekat dengan Dr. Rendra yang wajahnya merah padam dan gerak‑geriknya tak wajar, seolah tak ada jarak sedikit pun di antara mereka.
“Kenapa?” gerutu Axel pelan namun penuh kepahitan, suaranya pecah tertiup angin pegunungan. “Sudah kubilang dia istriku, aku yang berjanji menjaganya seumur hidup… tapi apa balasannya?”
“Tuan,” panggil Leonardo hati‑hati. “Belum tentu semuanya benar‑benar seperti yang terlihat. Saya curiga ada hal lain di balik kejadian itu, mengingat kedatangan Nona Cindy yang tiba‑tiba dan sikapnya yang mencurigakan.”
Axel berhenti sejenak, menoleh dengan pandangan tajam namun mata yang berkaca‑kaca.
“Apa lagi, Leonardo? Kau sudah melihat sendiri di depan matamu! Dokter itu dalam keadaan mabuk kepayang, dia ada di sana, mereka berdua di rumah kayu terpencil, berbulan‑bulan tanpa kabar… apa lagi yang kurang jelas?”
Leonardo hendak menjawab, tapi suara panggilan telepon berdering dari saku jaket Axel memotong pembicaraan. Axel mengeluarkan gawai itu dengan tangan gemetar. Di layar tertulis jelas nama, Mommy.
Ia terdiam sejenak, ragu mengangkat atau tidak. Hatinya masih bergejolak hebat, takut kalau suara parau dan nada marahnya akan terbawa keluar. Namun dering itu terus berlanjut, tak berhenti. Akhirnya ia mengangkatnya, menempelkan benda itu ke telinga dengan napas yang diatur paksa agar terdengar lebih tenang.
“Halo, Mom…” suaranya keluar berat dan serak.
Di seberang sambungan, suara Mommy Xena terdengar jelas, cerah namun bercampur rasa cemas yang tak bisa disembunyikan.
“Nak, akhirnya kau angkat juga! Dari tadi Mommy coba hubungi tapi tak ada jawaban. Bagaimana keadaannya? Sudah sampai di sana? Sudah bertemu Ayranza dan adik‑adiknya? Bagaimana wajah si kecil Alex? Sehatkan dia lahir?”
Rentetan pertanyaan itu datang bertubi‑tubi penuh kerinduan seorang nenek dan kekhawatiran seorang ibu. Mendengar nama Alex disebut begitu saja, dada Axel makin sesak. Ia menelan ludah susah payah, pandangannya melayang ke arah puncak bukit tempat barusan ia pergi dengan hati hancur.
“Iya, Mom… kami sudah sampai,” jawabnya pelan, berusaha menahan amarah agar tak meledak lewat telepon. “Sudah bertemu mereka semuanya.”
Mommy Xena langsung berseru lega dan bahagia.
“Syukurlah! Terima kasih Tuhan! Bagaimana Ayranza? Apakah dia sehat? Masih marahkah dia padamu? Apakah dia mau pulang bersama kalian?”
Axel diam agak lama sebelum menjawab, rasa getir menjalar dari tenggorokan sampai ke dada.
“Dia sehat, Mom. Begitu juga Alex dan kedua adiknya.” Suaranya perlahan berubah dingin dan getir. “Tapi… Mommy takkan suka mendengar apa yang baru saja kulihat.”
Di seberang sambungan, nada bahagia Mommy Xena seketika lenyap, berganti ketegangan yang mendalam.
“Ada apa, Nak? Kenapa nadamu begitu? Apa yang terjadi?”
Axel menarik napas panjang lalu menceritakan apa yang ia lihat dari kejauhan tadi tanpa menambahkan penjelasan yang belum ia ketahui. Dengan kalimat yang kaku dan penuh rasa sakit. Ia bercerita tentang dokter itu, keadaan tubuhnya yang tak wajar, kedekatan mereka, serta bagaimana ia pergi begitu saja karena tak sanggup lagi bertahan di sana.
Setelah Axel selesai bicara, hening menyelimuti sambungan itu cukup lama. Hanya terdengar napas berat Mommy Xena yang memburu pelan.
“Kau yakin benar apa yang kau lihat, Axel?” tanyanya akhirnya dengan nada serius namun tak langsung membenarkan. “Tak ada hal lain yang mungkin membuatnya begitu?”
“Tak ada yang lain, Mom!” seru Axel tak kuasa lagi menahan emosinya sedikit. “Semua tampak gamblang sekali di depan mata. Aku datang menjemput keluarga, tapi yang kudapatkan malah rasa malu dan sakit hati yang makin dalam.”
Leonardo yang berdiri tak jauh mendengar percakapan itu sepenuhnya. Ia memberanikan diri berbicara cukup keras agar terdengar di telepon juga.
“Nyonya Xena, ini Leonardo. Saya juga melihatnya, namun saya tetap berpendapat, kejadiannya terlalu mendadak dan berbarengan persis setelah Nona Cindy ikut menyusul kami dan memberikan makanan serta minuman kepada dokter itu. Saya sangat curiga ada perbuatan jahat di balik semua kekacauan ini.”
Mommy Xena diam sejenak memproses penjelasan itu, pikirannya bekerja cepat menyambungkan satu hal ke hal lain. Ia tahu betul sifat anaknya yang kadang terburu‑buru mengambil kesimpulan saat sedang terluka. Ia pun tahu betapa gigih dan liciknya wanita bernama Cindy itu saat mendatangi rumah mereka tempo hari.
“Baiklah, aku paham sekarang,” ucap Mommy Xena dengan nada yang perlahan menjadi tegas namun tetap tenang. “Dengar baik‑baik, Axel. Jangan biarkan rasa marah menutup akal sehatmu sepenuhnya. Ingat betapa berat alasan Ayranza pergi dulu, karena rasa dikhianati yang mendalam. Ingat pula dia melahirkan anakmu sendirian di tempat asing tanpa perlindungan siapa‑apa selain adik‑adiknya dan warga desa. Kalau benar ada dokter yang membantunya, itu belum tentu berarti dia tak setia.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada lembut namun penuh tekanan.
“Dan satu hal lagi, kau bilang Cindy ikut ke sana? Wanita itu sudah pernah datang ke sini, bicara manis demi menjauhkanmu dari istri sahmu. Kalau Leonardo mencurigai dia yang berbuat onar, aku pun setuju dengannya. Kemungkinan besar matamu tertipu keadaan yang direkayasa orang lain.”
Axel terdiam, rasa ragu perlahan mulai menyelinap masuk lewat kata‑kata ibunya yang bijak itu. Amarahnya perlahan mereda sedikit meski rasa sakitnya belum hilang.
“Lalu apa yang harus kulakukan sekarang, Mom?” tanyanya akhirnya dengan nada jauh lebih rendah dan bingung.
“Kembalilah ke sana, Nak,” perintah Mommy Xena tegas namun penuh kasih sayang. “Tapi kali ini tenangkan hatimu dulu, dengarkan penjelasan mereka sampai tuntas, cari tahu kebenaran dari setiap kejadian. Jangan biarkan kesalahpahaman memisahkan kalian selamanya, apalagi saat anakmu baru saja lahir dan namanya kau sematkan padanya. Kami semua di sini berdoa semoga semuanya cepat jelas dan kalian segera pulang dengan selamat.”
“Baik, Mom… Aku akan coba,” jawab Axel pelan, rasa berat di dadanya sedikit berkurang meski belum hilang sepenuhnya.
“Bagus. Segera kabari lagi begitu semuanya sudah terang benderang ya. Mommy dan Daddymu sudah tak sabar ingin segera menggendong cucu kami,” tutup Mommy Xena sebelum mengakhiri sambungan.
Axel menurunkan gawai itu, menatap Leonardo di sebelahnya. Asisten itu hanya mengangguk mantap seolah berkata, benar kata Nyonya.
“Baiklah,” ucap Axel dalam hati yang perlahan mulai tenang. “Kita kembali ke sana. Kali ini takkan ada lagi emosi yang membutakan mata.”
Namun sebelum mereka sempat berbalik arah, terdengar suara langkah kaki tergesa dari atas bukit. Angga muncul berlari, napasnya terengah, wajahnya tegang namun penuh keprihatinan. Ia segera berhenti tepat di depan Axel dan Leonardo, tak peduli sikap dingin Axel saat itu.
“Kak Axel!” serunya keras agar terdengar jelas. “Kami tahu kau salah paham besar tadi! Dokter Rendra terkena racun obat perangsang dari makanan yang dibawa wanita itu! Kakakku sama sekali tak bersalah dan tak pernah berbuat hal tak pantas sedikit pun! Kami semua ada di sana hanya berusaha menolongnya sampai reaksi obat itu hilang!”
Pengakuan langsung dari adik kandung Ayranza itu seketika menambah keraguan sekaligus membuka sedikit cahaya kebenaran di benak Axel. Ia menatap wajah muda itu lekat‑lekat, mencari ketulusan yang akhirnya ia temukan juga di sana.
“Cindy…” gumamnya pelan, amarah yang tadinya tertuju pada Ayranza perlahan beralih menjadi murka yang jauh lebih besar pada sosok wanita yang diam‑diam merencanakan kekacauan ini.
Di atas sana, tak jauh dari rumah kayu, Ayranza berdiri diam memeluk erat tubuhnya sendiri, air mata perlahan berhenti menetes. Ia mendengar segalanya dari kejauhan, berharap penjelasan lewat telepon ibunya dan kedatangan Angga ini mampu meluruskan segala kesalahpahaman yang hampir saja menghancurkan segalanya. Di balik semak belukar, Cindy yang diam‑diam masih mengintai pun mendengar segalanya, wajahnya perlahan berubah pucat menyadari rencananya mulai terbongkar satu per satu.