NovelToon NovelToon
DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi
Popularitas:548
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAU BALAS BUDI,MALAH BIKIN BENGKEL PENUH

Kejadian tertinggal bekal di bengkel beberapa hari lalu masih jadi bahan ledekan yang nggak ada habisnya. Setiap ada waktu senggang, pasti ada saja yang ingat dan menggoda Bima sama Ojak. Tapi di balik ketawaan itu, hubungan kami sama Bang Rian malah makin akrab dan dekat, kayak saudara sendiri.

Bang Rian malah merasa berhutang budi. Menurut dia, makanan yang kami bawa itu bukan cuma buat mengganjal perut, tapi juga bentuk perhatian yang bikin dia semangat kerja di tengah kesibukan. Dia sudah berkali-kali bilang mau membalas kebaikan itu, tapi Bima sama Ojak selalu menolak sambil bilang itu cuma hal sepele.

Sekarang sudah masuk hari ke-27 puasa. Suasana di mana-mana makin meriah. Banyak warga mulai sibuk bersih-bersih rumah, memperbaiki yang rusak, dan masak-masak buat persiapan lebaran. Di kantor juga, pekerjaan hampir semua sudah selesai, jadi kami punya banyak waktu luang buat santai dan ngatur kegiatan bareng.

Pagi itu, pas kami lagi kumpul minum teh, Pak Joko buka suara. “Kita sudah sering dibantu sama Bang Rian, entah pas motor rusak, pas kehujanan, atau pas butuh tempat berteduh. Walaupun kemarin kita sempat ‘ngasih’ lewat cara yang agak konyol, rasanya belum cukup buat balas semua kebaikannya.”

Mendengar itu, Ojak langsung semangat. “Betul juga Pak! Saya sudah kepikiran dari kemarin. Hari ini kita nggak ada tugas penting, gimana kalau kita bantu dia lagi? Tapi kali ini kita atur baik-baik, jangan sampai malah bikin rusuh atau nambah kerjaan kayak pas nyusun ban dan kaleng dulu.”

Usul itu langsung disetujui semua orang.

“Setuju! Kali ini tugasnya dibagi sesuai kemampuan, nggak usah terburu-buru, dan nggak usah berlebihan,” kata Nina sambil ketawa ingat kejadian dulu.

Sari sama Rara juga ikut senang. “Kalau soal bersih-bersih atau ngatur barang yang nggak terlalu berat, biar kami yang kerjain. Urusan alat berat atau mesin, biar bapak-bapak sama Bang Rian saja yang pegang,” usul Rara.

“Bagus juga itu. Kali ini kita nggak mau lagi jadi ‘penambah masalah’, tapi beneran bantu yang berguna,” tambah Kak Dedi sambil senyum-senyum.

Setelah sepakat, kami pun jalan bareng ke bengkel. Jaraknya nggak jauh, cuma sekitar 15 menit jalan kaki. Sepanjang jalan kami ngobrol supaya nggak ada kesalahan lagi kayak kemarin. Kali ini kami janji bakal nurut apa kata Bang Rian, nggak sembarangan bertindak.

Sesampainya di depan bengkel, suasananya kelihatan lebih sibuk dari biasanya. Sudah ada tiga orang yang nunggu antrean, dan Bang Rian lagi sibuk periksa satu per satu motor yang dibawa. Wajahnya kelihatan agak lelah, tapi tetap ramah menyapa siapa saja yang datang.

Begitu lihat kami datang rame-rame, dia agak kaget terus langsung lap tangannya dan menyambut. “Wah, hari ini rame banget tamunya. Ada apa lagi? Motor kantor rusak lagi ya?”

“Nggak ada apa-apa kok Bang, semua kendaraan aman. Kami cuma mau mampir sekalian bantu. Soalnya hari-hari terakhir puasa begini banyak orang yang bawa motor diperbaiki sebelum pulang kampung, pasti kerjaanmu makin numpuk,” jawab Pak Harun mewakili kami semua.

Bang Rian terdiam sebentar terus senyum lebar. “Wah, baik banget kalian. Tapi nggak usah repot-repot deh, saya biasa kerjain sendiri pelan-pelan. Nanti baju kalian kotor kena oli, tangan jadi kasar, sayang kan?”

“Nggak apa-apa Bang! Kali ini kami sudah siap dan sudah bagi tugas. Janji nggak bikin kacau kayak dulu, percaya deh,” kata Ojak sambil angkat tangan seolah bersumpah, bikin semua orang ketawa.

Melihat niat kami yang tulus, akhirnya Bang Rian mengangguk setuju. “Ya sudah, kalau begitu saya terima dengan senang hati. Tapi ingat, apa yang saya bilang harus dituruti, jangan sembarangan pegang bagian yang nggak kalian ngerti.”

“Siap! Kami nurut sepenuhnya!” jawab kami hampir serentak.

Pembagian tugas pun berjalan lancar:

- Pak Harun sama Pak Joko: Melayani orang yang datang, catat kerusakan motor, atur antrean biar nggak berdesakan, dan terima bayaran.

- Kak Dedi: Bantu ambil alat, bersihkan bagian luar motor, siapkan air bersih dan lap kering.

- Bima sama Ojak: Bantu angkat ban, pindah-pindah motor, kumpulkan sampah buat dibuang, tapi tetap diawasi ketat sama Bang Rian.

- Nina, Sari, sama Rara: Sapu lantai, bersihkan debu di rak-rak alat, siapkan minuman dan camilan buat semua orang yang ada di bengkel.

Awalnya semuanya berjalan mulus dan rapi. Orang yang nunggu antrean jadi lebih cepat dilayani, lantai tetap bersih meskipun banyak motor keluar masuk, dan Bang Rian bisa lebih fokus perbaiki mesin nggak perlu pusing hal lain. Dia pun merasa kerjanya jadi jauh lebih ringan dari biasanya.

“Wah, ini baru namanya bantuan yang beneran nolong. Kalau begini terus, hari ini pasti selesai lebih cepat dari perkiraan,” puji Bang Rian sambil senyum puas.

Tapi kayak biasa, di tengah ketenangan pasti ada saja hal yang nggak disangka-sangka. Bukan karena kami ceroboh, tapi justru karena niat kami ingin bikin suasana lebih nyaman.

Sari sama Rara lihat banyak orang yang menunggu dan cuaca di luar lagi terik, jadi mereka punya ide. “Gimana kalau kita siapkan tempat duduk yang lebih nyaman, dan pas nanti sudah hampir waktu berbuka, kita siapkan air minum dan sedikit makanan ringan buat dibagikan? Kan banyak yang mungkin juga langsung pulang sesudah motornya selesai, jadi nggak perlu cari tempat buat buka puasa dulu,” usul Rara.

Semua setuju. Mereka pun menyusun kursi-kursi biar nggak berdesakan, lalu membersihkan meja kecil buat nanti dipakai menaruh kebutuhan berbuka. Sambil menunggu waktu, mereka hanya melayani dengan ramah dan menjawab pertanyaan orang yang datang, tanpa menyiapkan makanan atau minuman untuk dimakan saat itu juga.

Berita soal bengkel yang pelayanannya ramah, bersih, dan tempat menunggunya nyaman itu cepat banget menyebar dari mulut ke mulut. Orang yang lewat dengar cerita itu, jadi ikut mampir cuma buat lihat atau sekadar tanya-tanya soal perbaikan kendaraan.

Belum sampai dua jam, bengkel yang tadinya cuma ada tiga empat motor, sekarang sudah penuh lebih dari sepuluh kendaraan yang datang bertubi-tubi. Ada motor, ada sepeda, bahkan ada satu mobil kecil yang dibawa buat dicek kondisinya.

Suasana yang tadinya tenang, sekarang jadi rame dan agak sesak. Jalan masuk ke bengkel hampir tertutup kendaraan antrean, suara orang ngobrol bercampur suara mesin dan kunci inggris, bikin Bang Rian kaget sekaligus agak kewalahan.

“Wah, ini jadi terlalu rame juga ya! Maksud kita mau bantu dan bikin nyaman, eh malah bikin tamu makin banyak dan kerjaan makin numpuk,” kata Bima sambil garuk kepala bingung lihat situasi yang berubah drastis.

Ojak yang tadinya merasa bangga, sekarang juga bingung. “Saya kira makin tertib makin bagus, tapi ternyata kalau orangnya makin banyak, kerjanya jadi makin berat juga. Maaf ya Bang, nggak sengaja begini jadinya.”

Bang Rian berhenti sebentar, lap keringat di dahi, terus lihat sekeliling bengkel yang penuh itu. Dia lihat wajah kami yang kelihatan khawatir, terus tiba-tiba ketawa terbahak-bahak.

“hahaha! Jangan khawatir dan jangan merasa bersalah! Ini justru rezeki yang datang karena kebaikan hati kalian. Kalau nggak ada kalian yang bantu atur dan bikin suasana enak, nggak bakal sebanyak ini yang datang. Memang jadi makin sibuk, tapi ini rezeki yang halal dan berkah, datangnya lewat cara yang nggak disangka-sangka.”

Mendengar penjelasan itu, rasa cemas di hati kami perlahan hilang dan jadi lega. “Jadi ini bukan kesalahan kami lagi ya Bang?” tanya Nina ragu-ragu.

“Bukan sama sekali! Kalau kemarin salahnya karena kurang hati-hati, hari ini ‘salahnya’ justru karena terlalu rapi dan terlalu ramah. Bedanya, hasilnya malah bawa kebaikan lebih banyak,” jawab Bang Rian sambil senyum lebar.

Menjelang waktu berbuka, kami semua sudah siap. Sari dan Rara baru saja membawakan air minum, kurma, dan kolak buatan di rumah untuk dibagikan kepada Bang Rian dan semua orang yang masih menunggu. Kami sendiri tidak ikut makan, hanya membantu membagikan saja, karena masih menjalankan puasa sampai waktu tiba.

“Ini buat dibagikan ya, semoga bisa jadi penyegar buat yang sudah lelah menunggu dan bekerja,” kata Rara sambil menaruhnya di meja.

Bang Rian mengangguk terima kasih. “Bagus sekali, jadi semua orang bisa berbuka di sini dengan tenang, nggak perlu buru-buru pulang.”

Kami pun tetap membantu mengatur antrean dan membersihkan tempat, sampai semua kendaraan yang datang hari itu selesai diperiksa atau sudah dapat jadwal kapan harus balik lagi. Bengkel yang tadinya penuh sesak, sekarang kembali tenang, meskipun kami semua terasa lelah dan basah keringat.

Bang Rian duduk bersandar di kursi, tarik napas panjang sambil senyum puas. “Terima kasih banyak semuanya. Hari ini memang hari paling sibuk dalam beberapa bulan terakhir, tapi juga hari yang paling menyenangkan. Kalian datang mau bantu, malah bawa rezeki yang lebih banyak buat saya. Gimana caranya saya balas kebaikan kalian ini ya?”

“Sudah cukup Bang, kami senang bisa bantu dan lihat kamu senang. Lagipula ini jadi pelajaran juga buat kami, niat baik bisa bawa hasil yang nggak terduga, kadang bikin senang, kadang juga bikin kewalahan,” jawab Pak Harun mewakili kami semua.

Waktu kami jalan pulang ke kantor, langkah terasa agak berat karena capek, tapi hati terasa ringan dan senang. Ojak melirik Bima sambil senyum lebar.

“Dulu kita bantu, malah bikin rusuh. Hari ini kita bantu, malah bengkel penuh tamu. Nanti-nanti kita datang lagi ya, siapa tahu rezekinya makin nambah terus!”

Bima cuma bisa geleng-geleng kepala sambil ketawa. “Boleh saja, tapi kali ini atur batasnya ya, jangan sampai besok bengkelnya penuh sampai ke jalan raya!”

Dalam hati Bima berpikir:

Kebaikan itu nggak ada batasnya, dan caranya datang pun bermacam-macam. Kadang lewat makanan yang tertinggal, kadang lewat bantuan yang sempat kacau, kadang lewat keramahan yang malah datangkan rezeki lebih banyak. Yang paling penting, niatnya tetap tulus dan sesuai aturan, dan apapun hasilnya pasti ada pelajaran dan kebahagiaan di baliknya.

1
Ananda Anggit
bagus ceritanya 👍
Wulandari Ayuningtyas: makasih😁
total 1 replies
tazayaa
semangat kakk💪💪
Wulandari Ayuningtyas: kakak juga semangat y
total 1 replies
tazayaa
bima udah pesimis aja ni doanya ga dikabulkan🤣🤣
Wulandari Ayuningtyas: wkwk karna pasti ada aja kejadian konyol kak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!