NovelToon NovelToon
WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Theurgist

Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.

Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.

Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 – Menghitung Harga Sebuah Kesempatan

Malam setelah menerima tawaran dari Damar, Arga hampir tidak bisa tidur.

Bukan karena terlalu bersemangat.

Bukan pula karena terlalu takut.

Melainkan karena untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia dihadapkan pada pilihan yang tidak memiliki jawaban jelas.

Ketika warung hampir tutup, jawabannya sederhana: selamatkan warung.

Ketika pelanggan berkurang, jawabannya jelas: cari pelanggan baru.

Ketika arus kas bermasalah, jawabannya: perbaiki pemasukan.

Namun tawaran ruko berbeda.

Tidak ada jawaban benar atau salah.

Hanya risiko yang berbeda.

Arga menatap langit-langit kamarnya cukup lama sebelum akhirnya tertidur.

Keesokan paginya, ia bangun lebih lambat dari biasanya.

Saat keluar kamar, aroma gorengan sudah memenuhi rumah.

Ibunya sedang menggoreng pisang.

Bu Rina menyiapkan adonan.

Sementara Maya sedang menyusun kemasan.

Begitu melihat Arga, Maya langsung menyeringai.

"Wajahmu seperti orang yang habis ujian."

Arga mengambil segelas air.

"Kurang lebih."

"Masih memikirkan ruko?"

Arga hanya mengangguk.

Maya tidak melanjutkan.

Namun ekspresinya menunjukkan bahwa ia juga sedang memikirkannya.

Bukan karena ia akan ikut membeli ruko.

Melainkan karena keputusan itu bisa memengaruhi masa depan semua orang yang bekerja di warung tersebut.

Hari itu, Arga memutuskan melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.

Ia ingin menghitung.

Bukan menghitung laba rugi harian.

Bukan menghitung stok.

Melainkan menghitung kemampuan sebenarnya usaha mereka.

Setelah membantu di warung hingga siang, ia membuka seluruh catatan yang sudah dikumpulkannya selama beberapa bulan terakhir.

Catatan penjualan.

Catatan pengeluaran.

Catatan produksi.

Semua disusun di atas meja.

Maya yang melihat pemandangan itu hanya menggeleng.

"Kalau ada orang lewat, mereka kira kamu akuntan."

"Aku sedang mencari jawaban."

"Biasanya orang mencari jawaban dengan bertanya."

"Aku mencarinya dengan angka."

Jawaban itu membuat Maya tertawa.

Namun Arga benar-benar serius.

Selama hampir dua jam, ia menghitung berbagai kemungkinan.

Kalau keuntungan tetap seperti sekarang...

Kalau penjualan naik sepuluh persen...

Kalau biaya bahan naik lagi...

Kalau proyek jalan selesai...

Semua dihitung.

Semua dicatat.

Dan hasilnya membuatnya menghela napas panjang.

Mereka belum siap.

Bukan berarti tidak mampu.

Tetapi belum siap.

Kalau memaksakan diri sekarang, risikonya terlalu besar.

Masalahnya, kesempatan seperti ini mungkin tidak datang dua kali.

Sore harinya, sebuah kejadian tak terduga terjadi.

Pak Hendra datang ke warung seperti biasa.

Namun kali ini ia tidak sendirian.

Bersamanya ada seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun.

Tubuhnya agak gemuk.

Wajahnya ramah.

Namun matanya terlihat tajam.

"Ini warung yang saya ceritakan."

Kata Pak Hendra.

Pria itu mengangguk.

Kemudian membeli beberapa gorengan.

Tidak ada yang aneh.

Sampai akhirnya ia bertanya,

"Siapa yang mengelola usaha ini?"

Ayah Arga menunjuk ke arah Arga.

"Anak saya banyak membantu."

Pria itu tersenyum.

"Lumayan."

Arga mengangkat alis.

"Lumayan?"

Pria itu tertawa.

"Maksud saya perkembangan usahanya lumayan."

Mereka akhirnya mengobrol beberapa menit.

Dari percakapan tersebut, Arga mengetahui bahwa pria itu memiliki usaha katering kecil di kecamatan sebelah.

Tidak besar.

Namun sudah berjalan cukup lama.

Saat hendak pergi, pria itu berkata sesuatu yang menarik.

"Jangan terlalu cepat membesar."

Kalimat itu membuat Arga langsung memperhatikan.

"Maksudnya?"

Pria itu tersenyum pahit.

"Aku pernah hampir bangkrut karena terlalu cepat berkembang."

Untuk kedua kalinya dalam waktu berdekatan, Arga mendengar cerita yang hampir sama.

Dari Rudi.

Dan sekarang dari pemilik usaha katering.

Keduanya melakukan kesalahan yang sama.

Tumbuh terlalu cepat.

Saat pria itu pergi, Arga tidak bisa berhenti memikirkannya.

Apakah ini pertanda?

Atau hanya kebetulan?

Menjelang malam, pelanggan mulai berkurang.

Maya sedang menghitung stok ketika tiba-tiba berkata,

"Aku baru sadar sesuatu."

"Apa?"

"Semua orang menyuruhmu hati-hati."

Arga tertawa kecil.

"Benar juga."

Rudi.

Pemilik katering.

Bahkan Maya.

Semuanya mengatakan hal yang sama dengan cara berbeda.

Jangan terburu-buru.

Namun yang membuat Arga khawatir justru hal lain.

Kalau semua orang takut berkembang terlalu cepat...

Apakah mereka juga bisa kehilangan peluang karena terlalu lambat?

Itulah dilema sebenarnya.

Tidak ada jalan yang benar-benar aman.

Keesokan harinya, Damar datang lagi.

Namun kali ini bukan untuk membahas ruko.

Setidaknya bukan secara langsung.

Ia membeli kopi lalu duduk di depan warung seperti pelanggan biasa.

Beberapa menit kemudian, ia bertanya,

"Sudah memutuskan?"

"Belum."

Damar mengangguk.

"Saya menduga begitu."

"Kenapa?"

"Karena kalau kamu langsung setuju, saya justru akan khawatir."

Jawaban itu membuat Arga sedikit terkejut.

Damar tertawa kecil.

"Kebanyakan orang hanya melihat kesempatan."

"Lalu?"

"Orang yang bertahan lama biasanya juga melihat risikonya."

Untuk beberapa saat mereka mengobrol santai.

Tentang bisnis.

Tentang perkembangan kawasan.

Tentang perubahan yang akan datang.

Sampai akhirnya Damar mengatakan sesuatu yang tidak pernah ia sebutkan sebelumnya.

"Ngomong-ngomong."

"Hm?"

"Ruko itu bukan satu-satunya proyek."

Arga langsung memperhatikan.

"Maksudnya?"

Damar menunjuk ke arah lahan kosong yang berada tidak terlalu jauh dari jalan utama.

"Ada rencana pasar modern skala kecil."

Jantung Arga berdetak lebih cepat.

Pasar modern?

"Itu masih tahap awal."

Damar segera menambahkan.

"Tapi cukup serius."

Informasi itu mengubah banyak hal.

Kalau benar ada pasar modern...

Maka jumlah usaha yang masuk ke daerah ini akan jauh lebih banyak dari perkiraan.

Persaingan juga akan meningkat lebih cepat.

Dan waktu yang mereka miliki untuk bersiap mungkin lebih sedikit.

Saat Damar pergi, Arga masih berdiri memandang jalan.

Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.

Malam hari, setelah warung tutup, Arga tidak membuka buku catatannya.

Tidak menghitung angka.

Tidak membuat daftar.

Ia hanya duduk di kursi plastik depan warung.

Memandang jalan yang perlahan berubah.

Tak lama kemudian Maya datang membawa dua gelas teh.

Lalu duduk di sampingnya.

"Kamu sedang berpikir lagi."

"Tentu."

"Kali ini apa?"

Arga tersenyum tipis.

"Menurutmu apa yang lebih berbahaya?"

Maya mengernyit.

"Apa?"

"Terlalu cepat berkembang."

"Atau terlalu lambat berkembang."

Maya terdiam cukup lama.

Kemudian menjawab,

"Kurasa keduanya sama berbahayanya."

Jawaban itu membuat Arga tertawa.

Karena memang itulah masalahnya.

Tidak ada jawaban mudah.

Tidak ada jalan tanpa risiko.

Namun untuk pertama kalinya sejak menerima tawaran Damar, Arga mulai memahami sesuatu.

Mungkin pertanyaan yang tepat bukan:

"Haruskah kami mengambil kesempatan ini?"

Melainkan:

"Apa yang harus kami lakukan agar layak mengambil kesempatan itu?"

Dan begitu pemikiran itu muncul, arah yang selama ini terasa kabur perlahan mulai terlihat.

Mereka mungkin belum siap hari ini.

Tetapi mereka bisa mempersiapkan diri.

Mereka bisa memperkuat usaha.

Meningkatkan kapasitas.

Memperbaiki sistem.

Menambah modal.

Dan ketika kesempatan itu datang lagi...

Mereka tidak perlu memilih antara nekat atau takut.

Karena mereka benar-benar siap.

Arga menatap warung kecil milik keluarganya.

Warung yang dulu hampir tutup.

Warung yang mengubah hidup mereka.

Lalu perlahan tersenyum.

Karena untuk pertama kalinya sejak menerima tawaran ruko, ia merasa telah menemukan langkah berikutnya.

Bukan langkah terbesar.

Tetapi langkah yang benar.

Bersambung...

1
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah ini atau sistem gitu thor
Dewiendahsetiowati: ok Thor dan ditunggu up selanjutnya
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!