Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Potret dari Kota Sebelah
Suasana di ruang tamu rumah bawah mendadak menjadi begitu sunyi setelah helai kertas foto tebal itu diletakkan di atas meja kaca. Irmi menatap lembaran gambar tersebut dengan sepasang mata yang membelalak kaku, sementara kerongkongannya terasa sangat kering seperti tersedak bongkahan kerikil. Candaan santai antara Pak Juned dan Ibu Meliska yang duduk di hadapannya seolah berubah menjadi dengung pengap yang menyiksa isi kepalanya.
"Ya, minggu depan Ibu sama dia bakal datang ke sini. Bapak nggak ikut karena mau rapat kerja di luar kota," ucap Ibu Meliska, tangannya bergerak merapikan letak tas jinjingnya di atas pangkuan dengan raut wajah yang tampak begitu optimis.
"Ta... ta... tapi... Bu...?!" Irmi bersuara, lidahnya mendadak kelu, menelan ludah dengan susah payah seolah ada cairan racun yang menyumbat tenggorokannya.
"Nggak pakai tapi-tapi, Irmi. Iya, pokoknya iya," potong Ibu Meliska tegas, tidak memberikan celah sedikit pun bagi anaknya untuk berkelit sore itu. "Namanya Randian. Usianya memang lebih muda dua tahun darimu. Tenang saja, dia memang masih muda dan gayanya agak bebas, tapi orang tuanya menjamin dia mau menerima status jandamu beserta seluruh gerai tokomu ini."
"Tapi Bu... Irmi belum siap..."
"Udah, ketemu dulu! Masalah cocok atau nggaknya, nanti urusan gampang bisa diatur belakangan. Yang penting Bapak ini mau cucu yang ganteng darimu!" Pak Juned menimpali secara blak-blakan, suaranya yang berat membuat Irmi semakin kehilangan kekuatan di kedua lututnya.
"Hiss, perempuan dong, Pak! Enak aja minta cowok terus," Ibu Meliska menyenggol lengan suaminya sambil tertawa kecil, mencoba mencairkan atmosfer ruang tamu yang kaku.
"Kan dari anak kedua kita sudah dapat dua perempuan, Bu. Sekarang dari Irmi harus cowok, dong! Biar nanti Papa kasih hadiah motor modifikasi paling keren buat cucu Papa," kekeh Pak Juned, wajah judesnya mendadak melunak sepenuhnya saat ia menggulung lengan kemejanya, memamerkan guratan tato gambar kepala singa di kulit lengannya yang mulai keriput. "Papa tahu kau pasti cemas melihat penampilannya di foto itu. Tato di leher Randian itu tidak masalah bagi Bapak. Bapakmu ini juga punya tato, lihat... ini hasil keisengan anak kedua kita yang masih SMP dulu."
Di antara derai tawa renyah kedua orang tuanya, ada satu hati yang dipaksa bungkam menahan ngeri di sudut kursi rotan. Irmi menatap potret Randian yang tergeletak di atas meja. Pria berusia dua puluh tiga tahun itu memiliki rahang yang tegas, potongan rambut pendek jabrik yang berdiri rapi ke atas, dan sebuah tato abstrak hitam yang melingkari leher maskulinnya. Sebagai anak tunggal dari pemilik jaringan bengkel modifikasi moge sekaligus arsitek lanskap terkemuka di kota sebelah, sosok Randian memancarkan dominasi pria kaya yang tidak akan mudah dikelabui.
"Oh ya, adikmu si Marni juga bakal ikut Ibu minggu depan. Katanya dia sudah sangat kangen padamu," tambah Ibu Meliska sebelum ia bangkit berdiri untuk merapikan berkas aset tanah peninggalan uang asuransi kematian pilot yang kini urung dibahas lagi jika Irmi sudah klop dengan Randian.
Irmi hanya bisa mengangguk kaku. Jemarinya yang dingin menyentuh pinggiran foto Randian. Ada dorongan gila di dalam dadanya untuk merobek gambar pemuda ganteng itu sekarang juga, namun seluruh persendian tubuhnya terasa begitu lemas, menyadari bahwa rahimnya yang sudah terisi dua setengah bulan oleh benih pelayan toko di kamar belakang tidak akan bisa menyembunyikan aib ini lebih lama lagi saat Randian datang minggu depan.
***
Keesokan paginya, tepat pukul tujuh, kesunyian di dalam rumah bawah kembali pecah oleh deru mesin mobil sewaan yang sudah menunggu di depan pagar luar kompleks. Pak Juned dan Ibu Meliska terpaksa harus membatalkan rencana menginap dua harinya karena ada panggilan bisnis yang sangat mendesak dari rekan kerja mereka di luar kota.
"Kami berangkat dulu, Irmi. Ingat, hubungi nomor Randian yang sudah Ibu selipkan di balik foto itu!" seru Ibu Meliska dari balik kaca jendela mobil sebelum kendaraan roda empat itu melesat membelah jalanan pagi kompleks yang masih berkabut.
Irmi berdiri di ambang pintu dengan wajah yang teramat pucat, memegangi sekotak kertas foto dan secarik nomor WA Randian di tangan kanannya. Begitu mobil orang tuanya hilang di ujung belokan jalan, pintu kamar depan mendadak terbuka dengan sentakan pelan.
Erni keluar dengan pakaian yang sudah sangat rapi. Daster sutra barunya tampak mengilat di bawah sinar matahari pagi, dan aroma bedak wangi menguar dari tubuhnya. Setelah membersihkan area intimnya dengan sangat teliti di kamar mandi tadi malam, pagi ini ia bersiap melangkah mandiri menuju klinik bidan kampung untuk melakukan pemeriksaan USG pertamanya. Tangannya meraba kantung pakaiannya, memastikan seikat rupiah tebal hasil sogokan Irmi kemarin pagi masih aman di posisinya.
"Aku pergi dulu, Jeng Irmi. Mau melihat perkembangan bayiku sendiri," cibir Erni, ia sengaja melangkah melewati Irmi dengan dagu yang terangkat tinggi, memamerkan kemandirian palsunya yang kini disokong oleh dompet yang tebal. Erni sama sekali tidak melirik ke arah kamar belakang tempat Hino masih mengerang tertidur menahan demam parah akibat ponselnya yang sengaja dimatikan sejak semalam.
Irmi hanya diam menatap kepergian istri sah Hino itu dengan sepasang mata yang dipenuhi racun dendam finansial. Tepat di atas tangga lantai dua, Linda juga sedang berdiri membisu, memegangi perutnya yang mual sembari menatap bungkusan alat tes urine di jemarinya yang mulai bergetar. Rantai rahim di bawah atap kontrakan itu kini semakin mengencang, menanti saat yang tepat untuk meledakkan seluruh kebohongan mereka di depan berondong bertato minggu depan.
Erni melangkah keluar pagar gerbang sepi, membuka dompet kainnya untuk mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu guna membayar ongkos ojek depan. Namun, begitu jemarinya menarik seikat uang tunai dari dalam tasnya, gerakan tangan Erni mendadak terkunci rapat di atas aspal jalan saat matanya menangkap selembar slip kertas slip slip gaji resmi bertuliskan 'Gaji Bulanan Minimarket Utama' milik Irmi yang terselip di antara lembaran merah tersebut.
"Tunggu sebentar... ini kan..." bisik Erni dengan dahi yang berkerut tajam, langkah kakinya terhenti di samping pohon mangga saat ia mulai menyadari sesuatu yang janggal di balik jumlah nominal uang sogokan batin yang diberikan Irmi kemarin pagi.