NovelToon NovelToon
Sibeban Keluarga Mendapatkan Sistem

Sibeban Keluarga Mendapatkan Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

seorang pemuda berusia 25 tahun tampak sedang rebahan dengan posisi super tidak estetis di atas bangku kayu panjang.
Dia adalah Kevin Wahyu Wijaya. Lulusan sarjana manajemen dari salah satu universitas swasta di Depok yang gelarnya saat ini hanya berguna sebagai alas tikar saat piknik keluarga.

"Kevin! Lu kagak ada niat nyari kerja apa? Itu si Doni anak RT sebelah udah keterima kerja di SCBD, tiap hari pake kemeja rapi. Lah lu? Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjaan lu cuma mabar Mobile Legends sambil ngetek di warkop gua!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter: 11

Kevin Wijaya atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Pak Kevin berdiri di depan cermin toilet guru SMA Garuda Depok, memijat pelipisnya yang terasa agak berdenyut.

Otak Ensiklopedia Dewa dari Sistem memang membuatnya tahu segalanya, mulai dari rumus integral lipat tiga sampai taktik perang

Napoleon, tetapi otak itu tidak memberinya solusi instan untuk menghadapi pemerasan manis dari seorang siswi SMA bernama Viola.

"Supir pribadi rahasia? Yang bener aja,"

gumam Kevin sambil merapikan kerah batik PGRI-nya.

"Kalau guru-guru lain atau kepala sekolah tahu gue boncengan sama murid sepulang sekolah, bisa runtuh reputasi karismatik yang udah dibangun Sistem susah payah!"

Ding!

[Pengingat Sistem: Misi sampingan adalah elemen penting untuk memperkuat fondasi 'Harem' Pengguna. Kegagalan menjaga rahasia akan mengurangi poin karisma sebesar 50%. Kesuksesan misi akan membuka petunjuk mengenai faksi rahasia di Kota Depok.]

"Faksi rahasia apa lagi, sih?"

"Ini Depok, Sistem! Isinya cuma ruko, angkot, sama isu babi ngepet, bukan Gotham City!"

protes Kevin dalam hati, merasa Sistemnya ini terlalu banyak menonton film fiksi ilmiah.

Bel pulang sekolah akhirnya berdering nyaring pada pukul 15:00.

Seluruh koridor SMA Garuda langsung dipadati oleh ratusan murid yang berhamburan keluar.

Kevin sengaja menahan diri di dalam ruang guru, berpura-pura sibuk memeriksa lembar jawaban tugas matematika kelas sebelah, padahal matanya terus melirik layar ponsel.

Sebuah pesan singkat masuk ke WhatsApp-nya dari nomor baru tanpa foto profil, tapi Kevin tahu persis siapa pemiliknya.

[Viola: Pak Kevin, saya tunggu di gerbang belakang dekat pohon ceri ya. Lima belas menit dari sekarang. Jangan telat, atau saya kirim foto Bapak pakai jaket ojol ke grup chat komite sekolah. 😉]

"Ancamannya pake emotikon senyum lagi. Bener-bener bocah ajaib,"

gerutu Kevin.

Dia segera membereskan tas ranselnya, berpamitan dengan guru-guru sosiologi yang sejak tadi curi-curi pandang padanya, lalu berjalan cepat menuju parkiran motor guru.

Untuk melancarkan "Operasi Jemputan Rahasia" ini, Kevin memanfaatkan Sistem untuk mengubah penampilan berkendaranya.

Jaket ojol hijaunya disimpan rapat di dalam bagasi dimensi.

Sebagai gantinya, dia mengenakan jaket denim hitam kasual di luar kemeja batiknya, serta mengganti helm ojol hijaunya dengan helm full-face hitam pekat yang menutupi seluruh wajahnya.

NMAX mesin MotoGP itu meluncur halus tanpa suara melewati gerbang utama, lalu berputar mengitari tembok sekolah menuju ke gang sepi di bagian belakang.

Di sana, di bawah naungan pohon ceri yang rindang, Viola sudah berdiri sembari menggendong tas ransel berlogo desainer ternama.

Gadis itu tampak kontras dengan lingkungan sekitar wajahnya yang dingin dan anggun membuatnya terlihat seperti model yang salah alamat di gang sempit Depok.

Begitu NMAX hitam Kevin berhenti di depannya, Viola langsung tersenyum kemenangan.

Dia membuka kaca helm hitamnya sedikit.

"Tepat waktu."

"Saya kasih nilai sembilan puluh untuk pelayanan pertama, Pak Driver,"

 puji Viola dengan nada mengejek yang manja.

"Jangan panggil 'Pak' kalau di luar sekolah, Viola."

"Panggil... ah, panggil Mas Kevin aja biar gak aneh kedengerannya kalau ada warga yang lewat,"

koreksi Kevin sambil menyerahkan sebuah helm cadangan berwarna merah muda yang entah sejak kapan disediakan Sistem di dalam bagasi.

"Oke, Mas Kevin. Siap,"

sahut Viola lancar. Dia menerima helm itu, memakangnya dengan rapi, lalu naik ke atas jok belakang NMAX yang tinggi.

Berbeda dengan seminggu lalu saat dia ketakutan dan terpaksa memeluk Kevin karena kecepatan roket, kali ini Viola duduk dengan canggung namun ada semburat merah di pipinya.

Jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.

Aroma parfum maskulin yang segar dari tubuh Kevin kembali menyerbu indra penciumannya, membuat jantung gadis remaja itu berdegup sedikit lebih cepat.

"Kita mau kemana? Ke rumahmu yang di Pesona Khayangan lagi?" tanya Kevin, menghidupkan mesin.

"Gak. Antar saya ke Jalan Margonda Raya Nomor 88. Ada properti baru papaku yang mau aku periksa," jawab Viola santai.

Kevin yang baru saja mau menarik gas langsung menginjak rem kakinya dengan refleks kejutan.

"Hah?! Margonda Nomor 88?!"

"Iya. Kenapa, Mas? Kok kaget gitu? Mas tahu tempatnya?"

tanya Viola heran dari belakang.

Kevin menelan ludah berat.

Margonda Raya Nomor 88 itu kan alamat ruko tiga lantai yang baru gue dapetin dari Sistem minggu kemarin!

Pikiran Kevin.langsung berputar liar.

Bagaimana bisa ruko yang sah menjadi miliknya di dalam inventori Sistem diklaim oleh ayah Viola sebagai properti miliknya?

Apakah ada kekeliruan data, atau ini bagian dari konspirasi yang disebutkan Sistem?

"A-Ah, gak apa-apa.

Cuma agak akrab aja sama nomornya. Oke, pegangan, kita jalan,"

dalih Kevin, mencoba menenangkan debaran jantungnya sendiri.

NMAX itu bergerak membelah jalanan sore Kota Depok.

Kevin tidak menggunakan mode kecepatan penuh agar Viola tidak curiga, melainkan berkendara dengan kecepatan normal namun sangat stabil, memanfaatkan Refleks Dewa untuk menyalip angkot-angkot yang berhenti mendadak demi kenyamanan penumpangnya.

Di sepanjang jalan, Viola diam-diam memperhatikan cara berkendara Kevin dari belakang.

Punggung cowok di depannya ini terasa sangat kokoh dan memberikan rasa aman yang aneh.

Viola yang biasanya bersikap dingin dan tidak peduli pada laki-laki mana pun di sekolahnya termasuk para anak konglomerat yang mengantre untuk mendekatinya kini merasa sangat penasaran dengan latar belakang guru honorer merangkap ojol ini.

"Mas Kevin," panggil Viola di sela deru angin jalanan.

"Ya? Kenapa, Vi?"

"Sebenarnya... Mas Kevin itu punya rahasia apa sih? Masak orang sejenius Mas di kelas tadi, yang bisa memecahkan metode matematika tingkat universitas dalam tiga puluh detik, kerjaannya cuma narik ojek?"

"Mas gak lagi pelarian dari masalah hukum, kan?"

tanya Viola setengah berbisik, matanya menatap tajam ke arah helm Kevin lewat kaca spion.

Kevin terkekeh pelan.

"Rahasia? Semua orang punya rahasia, Viola."

"Anggap aja Mas ini lagi menjalani tantangan hidup dari... seseorang yang berkuasa tinggi. Biar hidup gak membosankan."

Orang berkuasa tinggi itu namanya Sistem, tambah Kevin dalam hati.

Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di lokasi yang dituju.

Sebuah ruko tiga lantai yang megah dengan cat abu-abu modern di kawasan elite Margonda.

Namun, begitu Kevin menghentikan motornya di depan ruko tersebut, matanya menangkap pemandangan yang tidak beres.

Gerbang ruko nomor 88 itu tampak dirantai besar, dan di depannya berdiri tiga orang pria berbadan tegap dengan seragam hitam organisasi masyarakat (ormas) lokal.

Mereka memasang spanduk besar bertuliskan: "TANAH DAN BANGUNAN INI DALAM SENGKETA".

Viola yang melihat hal itu langsung turun dari motor dengan wajah marah.

"Lho? Kok ada mereka lagi? Padahal Papa sudah bayar lunas sertifikatnya minggu lalu!"

Kevin ikut turun, melepas helmnya, dan berjalan di samping Viola.

Matanya menatap tajam ke arah tiga anggota ormas yang kini mulai memandangi mereka dengan tatapan mengintimidasi.

Ding!

[Misi Sampingan Diperbarui: Lindungi Viola dan Pertahankan Aset Ruko Margonda Nomor 88 dari Komplotan Ormas Mafia Tanah!]

[Hadiah: Sinkronisasi Fisik 'Tubuh Baja Dewa' (Peningkatan kekuatan fisik dan daya tahan dari senjata tumpul).]

Kevin tersenyum tipis, meretakkan buku-buku jarinya.

"Wah, pas banget. Selain supir, kayaknya minggu ini gue harus merangkap jadi bodyguard juga."

1
Tri Wahyuni
iya maaf kak ada kesalahan untuk penamaan karakternya, Skrang sudah di perbaiki,makasih udah ngasih tau ya kak👍
ラマSkuy
wait bukannya di bab sebelumnya nama ayahnya Viola itu Herman ya kok dibab ini jadi Wijaya 🤔🤔
ラマSkuy
awalan yang menarik untuk di baca Thor semangat terus berkarya 👍
Hentri Gunawan
lanjut Thor walupun beda dr yg kemarin
Tri Wahyuni: iya maaf ya soalnya kak soalnya kena revisi total
total 1 replies
Tri Wahyuni
jangan lupa kasih likenya ya kak
Hentri Gunawan
lanjut lg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!