NovelToon NovelToon
Hidayat Bersaudara

Hidayat Bersaudara

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:680
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Pamer Keahlian dan Ancaman Baru

Pagi itu, matahari baru saja menyelinap masuk lewat celah jendela bengkel, menyinari secercah debu yang melayang di udara. Suara dentuman halus mesin CB peninggalan Bapak masih terngiang di telinga Faris, Guntur, dan Ali. Motor itu kini berdiri gagah di sudut paling depan bengkel, cat hitam mengkilap, bodi lurus sempurna, dan suara mesinnya halus berirama, seolah bernyanyi setiap kali dikasih gas. Bukan cuma diperbaiki, motor itu sudah disempurnakan dengan tangan-tangan ajaib mereka. Setiap orang yang lewat pasti berhenti sebentar, terpesona melihat keindahan motor legendaris itu.

"Bang, nggak sabar rasanya bawa motor ini keliling kota. Pasti semua orang nengok," kata Ali sambil mengelap bodi CB sekali lagi, meski sudah bersih tanpa debu sedikit pun. Matanya berbinar bangga.

Guntur tertawa renyah, sambil merapikan kunci-kunci pas di meja kerja. "Iya, pasti. Ini bukan cuma motor, Li. Ini bukti kalau kita bisa mengalahkan segala keterbatasan. Barang langka nggak ada? Kita bikin sendiri. Orang ngalangin jalan? Kita cari jalan lain. Bima kira dia bisa bikin kita susah, eh malah bikin kita makin jago."

Faris tersenyum melihat kedua adiknya. Dia pun merasa bangga, tapi hatinya tetap waspada. Dia tahu betul sifat Bima. Orang seperti itu nggak akan terima kalah diam-diam. Kalau kemarin dia cuma ngalangin suku cadang, besok-besok bisa saja dia pakai cara yang lebih kotor, lebih licik, dan lebih menyakitkan.

"Persiapan sudah matang. Hari ini kita bawa motor ini ke Pasar Kota, tempat kumpulnya bengkel-bengkel besar dan pedagang onderdil. Kita mau tunjukkan hasil karya kita, sekalian cari kenalan baru, cari pasokan barang yang lebih aman di luar jangkauan Bima," kata Faris tegas. "Ingat, kita ke sana bukan buat pamer kekayaan, tapi buat pamer keahlian. Biar semua tahu, anak-anak Hidayat punya ilmu yang nggak bisa dibeli pakai uang."

Setelah semuanya siap, Faris naik ke atas jok CB itu, Guntur dan Ali naik motor lain di belakangnya. Perjalanan menuju pusat kota itu rasanya luar biasa. Setiap kali Faris memutar gas sedikit, suara mesin itu menggema berat dan merdu, membelah jalanan yang ramai. Orang-orang menoleh, pedagang berhenti dagang, pengendara lain memberi jalan, seolah memberi hormat pada sang legenda yang bangkit kembali.

Sesampainya di kawasan bengkel besar, suasana langsung berubah. Mekanik-mekanik dari bengkel resmi, pemilik toko onderdil, dan pengusaha kendaraan berkerumun melihat kedatangan mereka. Mereka tahu betul siapa Hidayat Bersaudara, cerita soal motor Bima dan motor tua ini sudah menyebar seperti angin.

"Masya Allah... itu CB lama ya? Tapi kok bentuknya rapi dan gagah banget?" tanya seorang pemilik bengkel besar, Pak Darmawan, yang terkenal paling disegani di situ. Dia mendekat, menyentuh rangka motor itu dengan takjub. "Dan ini mesinnya... kok suaranya beda? Lebih padat, lebih presisi. Padahal barang aslinya udah langka banget."

Faris turun, menyapa dengan sopan. "Iya, Pak. Ini peninggalan Bapak saya. Komponen aslinya banyak yang rusak dan susah dicari. Jadi kami akali sedikit, modifikasi penyetelan, sesuaikan barang pengganti, tapi tetap jaga wujud dan karakter aslinya."

Pak Darmawan mengangguk-angguk kagum, matanya meneliti setiap sudut mesin yang terbuka sedikit. "Modifikasi cerdas. Bukan sekadar ganti barang, tapi paham cara kerjanya. Banyak mekanik jago di sini, tapi cuma bisa pasang barang jadi. Jarang yang punya keberanian dan ilmu buat utak-atik begini. Kalian hebat, Nak. Pak Darmawan bangga kenal kalian."

Pujian itu membuat nama mereka makin melambung. Banyak pemilik usaha yang langsung mendekat, minta kerja sama, mau pesan perbaikan kendaraan-kendaraan tua mereka, bahkan ada yang minta diajari teknik modifikasi itu. Rezeki mengalir deras, peluang terbuka lebar. Di sinilah letak kecerdikan Faris. Dia tahu, dengan punya banyak kenalan dan pendukung, posisi mereka makin kuat, makin sulit diganggu orang seperti Bima.

Namun, di tengah keramaian dan tepuk tangan itu, ada sepasang mata yang memandang dari kejauhan, penuh kebencian dan iri hati. Bima berdiri di balik kaca mobil mewahnya, di pinggir jalan sana. Dia melihat semuanya. Dia melihat Faris disanjung, dia melihat motor yang dia kira bakal jadi beban, malah jadi kebanggaan, dia melihat orang-orang berdatangan ingin bermitra sama mereka.

Gigi Bima gemeretuk menahan amarah. Tangannya mengepal kuat di kemudi. "Dasar sampah... kok bisa? Kok makin lama makin hebat? Harusnya mereka jatuh, harusnya mereka bangkrut, harusnya mereka minta ampun sama aku. Ini salah! Semua ini salah!" geramnya sendiri di dalam mobil.

Dia ambil ponselnya, menekan nomor tertentu dengan kasar.

"Halo? Iya, ini aku. Denger baik-baik... rencana awal gagal. Mereka malah makin terkenal dan dapat banyak kerjaan baru. Ubah rencana. Jangan cuma tupok barang. Kita harus serang langsung ke titik lemah mereka. Ingat kan? Bapak mereka masih sakit kan? Dan bengkel itu berdiri di tanah warisan yang statusnya agak remang kalau dilihat dari aturan baru? Cari celahnya. Cari cara biar bengkel itu diganggu pihak berwenang, biar mereka sibuk urus surat-surat, biar mereka nggak bisa kerja, biar nama mereka rusak. Saya mau lihat mereka jatuh sejatuh-jatuhnya, sampai nggak ada lagi yang berani bantuin mereka. Biar mereka tahu siapa penguasa di kota ini."

Bima membanting ponsel ke kursi penumpang, lalu melajukan mobilnya pergi dengan kecepatan tinggi, meninggalkan debu dan rasa dendam yang makin membara.

Sore itu, saat Faris, Guntur, dan Ali pulang dengan hati gembira dan tas penuh pesanan baru, mereka sama sekali tidak tahu bahwa jebakan yang jauh lebih berbahaya sedang disiapkan. Mereka pikir tantangan sudah selesai, padahal baru saja masuk ke babak yang paling berat.

Sesampainya di depan bengkel, Faris melihat ada dua orang berseragam dinas berdiri menunggu di sana. Wajah mereka kaku, memegang berkas-berkas kertas. Jantung Faris langsung berdegup kencang. Firasaannya yang tajam langsung menangkap ada yang tidak beres.

"Selamat sore, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Faris sopan, meski dalam hati mulai gelisah.

Seorang petugas mengangguk sedikit, lalu menyerahkan selembar surat pemberitahuan.

"Kami dari dinas perizinan dan tata kota. Kami dapat laporan resmi, bahwa usaha bengkel yang Saudara jalankan ini tidak memiliki izin operasional lengkap, dan lokasi bangunannya berada di jalur yang seharusnya disiapkan untuk perluasan jalan utama kota. Berdasarkan peraturan yang berlaku, kami memberikan tenggat waktu tujuh hari. Jika sampai waktu habis Saudara tidak bisa melengkapi surat izin, atau tidak bisa menunjukkan bukti kepemilikan tanah yang sah, maka bengkel ini harus kami tutup dan bangunannya dibongkar total."

Guntur dan Ali memucat mendengar itu. Mereka saling pandang, kaget, takut, dan bingung. Selama ini mereka bekerja apa adanya, sederhana, tidak pernah ada masalah. Tiba-tiba muncul aturan, tiba-tiba ada laporan, tiba-tiba mau dibongkar?

"Pak... kami tidak tahu soal ini. Kami sudah bertahun-tahun kerja di sini, tidak pernah ada masalah. Apakah tidak ada jalan lain? Atau salah paham mungkin?" tanya Ali gemetar.

Petugas itu menggeleng tegas. "Sudah ada laporan tertulis, lengkap dengan bukti-bukti. Kami cuma menjalankan tugas. Ingat, tujuh hari. Lebih dari itu, kami datang lagi dengan tim penertiban."

Setelah petugas pergi, suasana di bengkel berubah jadi sunyi senyap. Surat pemberitahuan itu tergeletak di meja kerja, seolah jadi hukuman mati bagi usaha mereka.

Guntur menepuk meja keras, marah bercampur sedih. "Ini pasti ulah dia! Pasti si Bima! Dia nggak bisa ngalahin kita pakai keahlian, dia pakai jalan licik, pakai orang dalam, pakai aturan! Dia mau musnahkan kita habis-habisan!"

Ali duduk lemas di kursi, matanya berkaca-kaca. "Bang... gimana ini? Izin mahal, urusannya lama, surat tanah Bapak dulu ada yang hilang sebagian. Kita mana punya waktu dan uang segitu banyak dalam tujuh hari? Kalau bengkel ditutup, kita mau ke mana? Bapak gimana nanti?"

Faris memegang kertas itu dengan tangan gemetar, tapi matanya perlahan berubah kembali jadi tajam dan tegas. Dia melihat tulisan di atas meja kerja: Kerja Keras, Doa, Hasil. Dia ingat pesan Bapak, dia ingat perjuangan mereka dari nol. Dia tidak boleh menyerah sekarang, apalagi lawannya cuma orang kecil yang bermodal uang dan kekuasaan semu.

Faris menatap kedua adiknya, suaranya rendah tapi penuh kekuatan.

"Tenang. Mereka pikir dengan kasih waktu sempit dan masalah rumit, kita bakal takut dan lari? Salah besar. Bima mau main aturan? Kita pelajari aturan sampai ke akar-akarnya. Dia mau pakai koneksi? Kita pakai kejujuran dan bantuan orang-orang baik yang kita kenal. Tujuh hari itu cukup. Ingat, kita pernah selesaikan motor mati suri dalam tujuh hari kan? Ini sama saja, cuma beda mesinnya jadi birokrasi. Kita bongkar, kita teliti, kita cari celah, kita perbaiki. Kita nggak bakal kasih dia kepuasan sedikit pun buat nengok kita jatuh. Kita lawan sampai titik darah penghabisan."

Matahari terbenam membawa kabur, tapi semangat di bengkel itu justru makin menyala. Pertarungan kini bukan lagi soal bengkel atau motor, tapi soal harga diri, hak milik, dan keadilan. Bima mengira dia sudah menang, tapi dia lupa satu hal: Hidayat Bersaudara itu tidak pernah takut menghadapi badai, karena justru di tengah badai, mereka menemukan kekuatan terbesar mereka.

1
falea sezi
semangat nanti q kirim hadiah
falea sezi
author orang mana
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Sidoarjo
total 1 replies
falea sezi
bima kn otaknya kosong🤣 cm ngandalin harta orang tua nya aja😒
Ilham
BG jangan gantung gtu cerita nya npa bg
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Siap Kak Ilham
😌 Jangan khawatir… cerita ini nggak bakal jadi ,gantungan kunci doang, bakal lurus sampai garis finis persis di lintasan balap Nanti bab-babnya menyusul cepat kok 😂
total 1 replies
Ilham
lanjut bg
Ilham
lanjut bg👍
Ilham
lanjut BG jangan gantung bg
Ilham
lanjut bg
Ilham
lanjut BG cerita dari awal mantap bg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!