Zavier terpaksa harus mencari seorang wanita untuk di jadikan istri secepatnya, karena di paksa oleh sang kakek yang sedang sakit parah. Sebagai seorang pewaris tunggal dirinya di tuntut oleh sang kakek untuk memiliki istri di usianya yang ke 27 tahun, hal ini membuat Zavier hampir gila.
Sementara itu di sisi lain, Sofia yang baru saja kehilangan sang papa, kini menjadi yatim piatu hidup menderita di tangan mama dan adik tirinya. Namun sebuah teragedi tak terduga terjadi, mama tiri Sofia tiba-tiba menjual Sofia kepada seorang laki-laki tua demi uang. Namun pada akhirnya hal ini malah membuat jalan bagi Sofia bertemu dengan Zavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06
Dua hari kemudian.
"Zavier, kau harus mewakili kakek ke pesta pernikahan anak tuan Ex," kata Siho yang saat ini baru saja keluar dari kamar Wiliam setelah memeriksa keadaan sang kakek.
"Tuan Ex? Kenapa aku harus menghadiri nya dia kan tau kalau kakek sedang sakit dan tidak akan bisa datang kenapa harus mengudang?" jawab Zavier yang sedari tadi menunggu di depan pintu masuk kamar sang Kakek.
"Ayo lah Zavier, kau sendiri tau kan mereka adalah orang yang seperti apa, hanya sebentar hanya sebuah pesta pernikahan, ayo lah hargai undangan orang, mereka juga rekan bisnis mu di perusahaan kan?" kata Siho menasehati sepupunya yang tidak doyan pergi ke acara apapun itu kecuali ke kantor nya sendiri.
"Kau saja," kata Zavier singkat dan hendak masuk ke dalam kamar sang kakek.
"Tunggu, jangan masuk jika hanya ingin membuat kakek makin kepikiran dengan kebandelan mu itu, kau tidak pernah mendengar kan apa yang kakek inginkan jadi jangan membuat kondisi nya semakin buruk, satu lagi, aku juga mewakili mama dan papa ku karena mereka sedang di luar negri, aku tidak mau tau kau harus datang ke pesta itu nanti malam," jawab Siho yang kemudian menarik Zavier untuk tidak masuk ke dalam kamar sang kakek.
"Hanya kali ini," kata Zavier mengacungkan satu jari telunjuk nya di hadapan Siho.
"Ya, iya hanya kali ini," jawab Siho merasa lega.
Zavier pun berjalan pergi meningalkan Siho sendirian, ia tidak ingin terlalu banyak bicara dengan Siho karena itu hanya akan memancing emosi nya sendiri.
"Ya Tuhan akhirnya dia mau pergi melihat keramaian," kata Siho merasa lega.
Sementara itu Zavier memutuskan untuk pergi ke perusahaan, sebagai CEO di perusahaan besar itu, Zavier tidak perlu melihat waktu kapan dia akan datang atau pulang.
Meskipun ada hak yang sangat penting Glen pasti lebih dahulu memeriksa nya.
Sementara itu di sisi lain.
"Sofia, kemarilah," kata Rusita yang saat ini tengah duduk bersama dengan Tara di ruang tamu.
"Iya ma," jawab Sofia sambil membawa pelan nya.
"Kau tau tuan Ex kan?" tanya Rusita lagi.
Sofia teridam dan berusaha mengingat siapa itu tuan Ex.
"Rekan bisnis papa mu, apa kau sudah tidak ingat? Apa kau pikun?" Kata Tara lagi.
"A-ah iya aku ingat, memang nya ada apa dengan tuan Ex ma?" tanya Sofia dengan lembut.
Tuan Ex adalah rekan bisnis sekaligus sahabat dari papa nya Sofia, usianya juga sama dengan mendiang papa nya Sofia.
"Malam ini kau harus ikut aku ke pesta pernikahan anak nya, karena papa mu sudah tidak ada, anggap saja kau menggantikan papa mu untuk menghormati undangan tuan Ex, kau mengerti" kata Rusita berdiri dan menghampiri Sofia.
"Tapi ma? Bukan kah mama dan Tara saja sudah cukup?" kata Sofia yang pada dasarnya juga tidak terlalu suka keramaian.
"Berani-beraninya kau membantah mama, ingat Sofia kau itu di sini hanya menumpang sekarang, jadi kau harus menuruti kata-kata mama, lagipula kami kan bukan kelaurga papa mu," ujar Tara dengan tidak sopan nya.
"Tara kau bicara apa? Papa merawat dan membiayai mu sejak lima tahun terakhir, kenapa kau bisa-bisa nya bicara seperti itu?" ujar Sofia untuk yang pertama kali nya dia tidak bisa menerima perkataan Tara yang berlebihan.
"Cukup! Hentikan! Jangan berdebat di hadapan ku, dan kau Sofia apa yang di katakan Tara adalah kebenaran, sekarang juga cepat lakukan semua pekerjaan mu dan malam ini kau harus ikut," kata Rusita yang kemudian menarik tangan Tara pergi dari hadapan Sofia.
Tak lupa juga Tara menendang ember tempat kain pel nya Sofia dengan tatapan sinis nya sambil menjulurkan lidah merasa sangat berkuasa.
Sofia mengelus dada melihat perilaku Tara, dia tidak berani melawan demi kehidupan nya sendiri, dia membereskan ember tersebut dan melanjutkan pekerjaan nya.
Sementara itu di sisi lain.
"Tuan muda," sapa Glen yang baru saja masuk ke dalam ruangan nya.
"Hm," jawab Zavier singkat.
"Bad mood lagi, apakah ada masalah lagi?" ujar Glen yang paling mengerti dengan Zavier.
"Siho sialan, dia memaksa ku pergi ke pesta yang tidak penting," kata Zavier dengan rokok yang kini sudah berada di tangan nya.
"Huhhhh," Glen menarik nafas panjang dan melepas nya dengan kasar.
Zavier pun mulai kembali menyesap rokok nya, wajah tampan, tatapan tajam seperti mata elang, pakaian yang selalu bertemakan hitam membuat siapapun yang melihatnya mengira kalau dia boss dari kawanan mafia.
"Pergi saja tuan muda, atau mau aku yang menggantikan?" tanya Glen lagi.
"Tidak perlu, aku sudah berjanji dengan Siho," jawab Zavier.
"Baik lah, oh iya tuan muda, ada satu perempuan lagi yang ingin aku perkenalkan dengan anda, kali ini di jamin anda pasti suka," kata Glen dengan senyum tipis nya sambil membetulkan kacamata.
"Cukup, jangan dulu, selama dua hari kau sudah memperkenalkan lima orang perempuan yang ingin aku jadikan istri kontrak, namun semuanya sangat tidak menarik, aku bahkan jijik dengan bentuk mereka yang seperti ulat bulu dan ular," marah Zavier karena dua hari terakhir Glen selalu membawa wanita untuk di jadikan istri kontrak namun sama sekali tidak bisa membuat Zavier ingin menerima mereka.
"Astaga lagian kenapa tuan muda harus banyak memilih ini hanya kontrak bukan betulan," kata Glen yang juga hampir ikutan gila.
"Beraninya kau memarahi ku," ucap Zavier dengan tatapan dingin nya ke arah Glen.
"Tidak, aku tidak bermaksud begitu," jawab Glen seketika pucat.
Begitu lah Glen dan Zavier yang akur namun tidak jarang mereka cek cok hanya karena hal sepele.
Tak terasa waktu pun berlalu begitu cepat, siang yang tadinya memancarkan panas yang begitu terik kini berganti malam yang dingin di sinari cahaya rembulan.
"Sofia! Sofia!" pangil Tara yang saat ini berdiri di depan pintu kamar Sofia.
"Sebentar," Sofia berdiri dari tempat duduknya dan kemudian berjalan menuju pintu kamar dan membuka nya.
"Ambil ini, mama meminta aku memakai gaun ini," kata Tara menyerahkan sebuah gaun pesta hitam yang terlihat mini dan pendek.
"Apa? Tara ini sangat tidak sopan," ujar Sofia sambil menatap gaun kecil tersebut.
"Kau harus memakainya, jika kau tidak memakai gaun ini kau terima saja akibat nya," setelah mengatakan itu Tara kemudian melengang pergi dari hadapan Sofia.
Sementara Sofia terdiam menatap gaun hitam yang kelihatan kecil dan sempit tersebut,
"Ini bukan gaun, tapi dress pendek," kata Sofia yang kemudian masuk ke kamar sambil memperhatikan baju itu.
Sofia merenung dan menatap dress itu begitu lama, ia tidak tau apa yang harus dia lakukan dengan dress tersebut ia benar-benar tidak bisa memakai nya.
Bersambung ....