NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Nama yang Hilang Dari Sejarah

Kalimat itu terus terngiang di kepala Reynard.

Jika sesuatu terjadi padaku, percayalah bahwa Aldebaran tidak bekerja sendirian.

Tulisan tangan yang mulai memudar itu terasa jauh lebih mengerikan daripada ancaman mana pun yang pernah mereka terima.

Karena ancaman bisa dibuat untuk menakut-nakuti.

Tetapi pesan terakhir seseorang yang kemudian meninggal?

Itu berbeda.

Sangat berbeda.

Reynard menatap halaman itu beberapa saat.

Lalu mengangkat pandangan ke arah ayahnya.

"Fajar menulis ini sebelum meninggal?"

Arman mengangguk pelan.

"Beberapa minggu sebelumnya."

"Dan Ayah menyimpannya selama dua puluh tahun?"

"Ya."

"Kenapa?"

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Karena Reynard tahu jawabannya tidak akan sederhana.

Arman duduk kembali di kursinya.

Wajahnya tampak jauh lebih lelah dibanding satu jam lalu.

"Aku takut."

katanya akhirnya.

Kejujuran itu membuat Reynard terdiam.

Karena sepanjang hidupnya, Arman Mahardika selalu terlihat seperti sosok yang tidak pernah takut pada apa pun.

Pria yang mampu menghadapi investor besar.

Menghadapi krisis perusahaan.

Menghadapi media.

Menghadapi dunia.

Namun kini ia mengaku takut.

"Ayah takut pada Aldebaran?"

"Bukan hanya dia."

"Lalu?"

Arman menatap dokumen di atas meja.

"Aku takut pada apa yang akan terjadi jika kebenaran itu keluar."

Hening.

Karena untuk pertama kalinya, Reynard mulai memahami beratnya rahasia yang disimpan generasi sebelumnya.

"Dua puluh tahun lalu."

lanjut Arman.

"Setelah Fajar meninggal, kelompok kami pecah total."

"Sebagian orang keluar."

"Sebagian memilih diam."

"Dan sebagian lainnya..."

Ia berhenti sejenak.

"...menghilang."

Jantung Reynard berdebar lebih cepat.

"Menghilang?"

Arman mengangguk.

"Bukan mati."

"Bukan kabur."

"Menghilang dari semua catatan."

"Seolah mereka tidak pernah ada."

Ruangan mendadak terasa semakin sempit.

Karena itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan orang biasa.

Menghapus jejak seseorang dari sejarah membutuhkan kekuasaan.

Jaringan.

Pengaruh.

Dan semua itu adalah sesuatu yang dimiliki Aurora.

"Ada berapa orang?"

tanya Reynard.

Arman menghela napas.

"Awalnya sembilan."

"Sembilan pendiri?"

"Ya."

"Sekarang?"

"Lima yang diketahui."

"Dua meninggal."

"Satu menghilang."

"Dan satu lagi..."

Arman tidak melanjutkan kalimatnya.

Namun ekspresinya cukup menjelaskan.

Satu lagi mungkin menjadi musuh mereka sekarang.

Aldebaran.

"Tunggu."

kata Reynard.

"Satu orang menghilang?"

"Ya."

"Siapa?"

Untuk pertama kalinya sejak pembicaraan dimulai, Arman tampak ragu.

Bukan ragu karena tidak tahu.

Melainkan ragu karena tidak ingin menjawab.

Dan itu membuat Reynard semakin yakin bahwa nama tersebut penting.

"Sebutkan namanya."

Arman menatap putranya.

Lalu perlahan berkata,

"Raka Pranegara."

Nama itu terasa asing.

Sangat asing.

Reynard mengernyit.

"Aku tidak pernah mendengarnya."

"Itulah masalahnya."

jawab Arman.

"Hampir tidak ada yang pernah mendengarnya lagi."

Sementara itu, di dalam mobil yang terparkir beberapa ratus meter dari rumah Mahardika, suasana juga berubah.

Ponsel Almira bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Reynard.

"Masih hidup. Jangan panik."

Almira langsung mendengus.

"Aku tidak panik."

gumamnya.

Dimas yang duduk di sampingnya melirik layar.

Kemudian tersenyum.

"Oh, dia bahkan mengirim laporan kondisi."

"Diam."

"Aku tidak mengatakan apa-apa."

"Itu wajahmu yang mengatakan semuanya."

"Karena wajahku jujur."

"Sayangnya."

Meski begitu, Almira tidak bisa menahan senyum kecil yang muncul.

Dan itu membuat Dimas semakin yakin dengan teorinya.

Di dalam rumah, Arman membuka salah satu laci lainnya.

Ia mengeluarkan album foto tua.

Sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Reynard akan menjadi bagian dari penyelidikan mereka.

"Ayah menyimpan semuanya, ya?"

"Sebagian."

"Itu terdengar menakutkan."

"Memang."

Arman membuka salah satu halaman.

Foto-foto lama memenuhi lembaran album.

Kebanyakan berasal dari era dua puluh tahun lalu.

Pria-pria muda mengenakan jas.

Pertemuan bisnis.

Acara sosial.

Seminar.

Dan di beberapa foto, wajah yang sama terus muncul.

Arman.

Pradipta.

Fajar.

Aldebaran.

Dan seorang pria lain.

Pria yang tidak dikenali Reynard.

"Raka?"

Arman mengangguk.

"Itu dia."

Reynard memperhatikan foto tersebut lebih teliti.

Raka terlihat berbeda dari yang lain.

Saat semua orang tersenyum ke arah kamera, pria itu justru tampak memperhatikan sesuatu di luar frame.

Matanya tajam.

Penuh perhatian.

Seperti seseorang yang selalu berpikir beberapa langkah lebih jauh.

"Apa perannya?"

Arman tersenyum tipis.

"Dia yang paling jujur di antara kami."

"Lalu kenapa menghilang?"

Keheningan turun lagi.

Karena pertanyaan itu rupanya tidak memiliki jawaban sederhana.

"Tidak ada yang tahu."

kata Arman pelan.

"Apa maksudnya tidak ada yang tahu?"

"Dia benar-benar menghilang."

"Setelah kematian Fajar?"

"Ya."

Reynard mulai merasakan sesuatu.

Sebuah pola.

Fajar meninggal.

Raka menghilang.

Aurora pecah.

Aldebaran menghilang dari permukaan.

Terlalu banyak kebetulan.

Dan ia mulai membenci kebetulan.

Karena hampir semua misteri besar selalu bersembunyi di balik kata itu.

"Menurut Ayah?"

tanya Reynard.

Arman mengangkat pandangan.

"Menurut Ayah apa yang terjadi pada Raka?"

Untuk beberapa detik, tidak ada jawaban.

Kemudian Arman berkata pelan,

"Menurutku dia menemukan sesuatu."

Jantung Reynard langsung berdebar.

"Sesuatu seperti apa?"

"Sesuatu yang tidak seharusnya dia ketahui."

Di sisi lain kota.

Almira akhirnya memutuskan keluar dari mobil untuk membeli kopi.

Menunggu ternyata lebih melelahkan daripada berlari dari organisasi rahasia.

Setidaknya saat berlari, ia tahu apa yang harus dilakukan.

Sekarang?

Ia hanya bisa menunggu.

Dan itu membuatnya frustrasi.

Dimas ikut turun.

"Kamu terlihat gelisah."

katanya.

"Aku sedang duduk diam selama hampir dua jam."

"Benar."

"Dan hidupku sekarang bergantung pada orang-orang yang suka menyimpan rahasia."

"Itu juga benar."

Mereka berjalan menuju sebuah kafe kecil di dekat lokasi.

Tempat sederhana.

Tidak ramai.

Namun saat mereka memasuki ruangan, sesuatu menarik perhatian Almira.

Sebuah foto lama yang tergantung di dinding.

Foto hitam putih.

Tidak ada yang istimewa.

Kecuali satu hal.

Pria yang berdiri di sudut foto itu terlihat familiar.

Sangat familiar.

Almira berhenti melangkah.

"Dimas."

"Ada apa?"

"Lihat itu."

Dimas mengikuti arah pandangannya.

Lalu membeku.

Karena pria dalam foto tersebut adalah orang yang sama yang baru saja mereka lihat di album milik Arman.

Raka Pranegara.

Atau setidaknya pria yang sangat mirip dengannya.

"Ini tidak mungkin."

bisik Dimas.

Almira mendekati foto itu.

Di bawah bingkai terdapat keterangan kecil.

Foto peresmian yayasan pendidikan.

Tahun 2004.

Dan salah satu nama donatur tertulis jelas.

R. Pranegara.

Jantung Almira langsung berdetak lebih cepat.

Karena jika foto itu benar...

Maka Raka tidak menghilang dua puluh tahun lalu.

Setidaknya tidak langsung.

Artinya ada tahun-tahun yang belum diketahui siapa pun.

Tahun-tahun yang mungkin menyimpan jawaban.

Pada saat yang sama, di rumah keluarga Mahardika.

Ponsel Reynard tiba-tiba bergetar.

Pesan dari Almira.

Ia membuka pesan tersebut.

Dan matanya langsung membesar.

Karena yang dikirim bukan teks.

Melainkan foto.

Foto bingkai tua di sebuah kafe.

Foto yang menampilkan Raka Pranegara.

Tahun 2004.

Empat tahun setelah ia dinyatakan menghilang.

Reynard langsung menunjukkan layar itu kepada Arman.

Dan reaksi ayahnya membuat seluruh darah di tubuhnya terasa dingin.

Karena untuk pertama kalinya sejak pembicaraan dimulai...

Arman benar-benar kehilangan ekspresi tenangnya.

"Itu tidak mungkin."

bisiknya.

"Ayah mengenalnya?"

Arman menatap foto itu tanpa berkedip.

Lalu berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar.

"Karena aku sendiri yang menghadiri pemakamannya."

Keheningan langsung memenuhi ruangan.

Reynard merasakan bulu kuduknya berdiri.

Karena hanya ada dua kemungkinan.

Pemakaman itu palsu.

Atau seseorang yang seharusnya sudah mati masih hidup.

Dan kedua kemungkinan itu sama-sama mengerikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!