NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Sang Penguasa

Belenggu Janji Sang Penguasa

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mafia / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Redblue Vixx

Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman di Balik Senyum Manis

Sinar matahari pagi baru saja menembus tirai jendela saat Ayranza terbangun. Tubuhnya terasa pegal luar biasa sisa lelah pesta semalam, namun pikirannya langsung jernih begitu teringat janji Axel untuk membicarakan kejadian itu hari ini. Ia bergegas bersiap, mengenakan pakaian rapi namun sederhana, lalu bergegas ke ruang makan setelah mengantar Angga dan Arshen ke sekolah seperti biasa.

Di sana, Axel sudah duduk sendirian di ujung meja panjang sambil membolak‑balik koran pagi. Di hadapannya ada secangkir kopi hitam yang masih mengepul. Leonardo berdiri tak jauh, menunggu perintah selanjutnya. Saat Ayranza melangkah masuk, Axel menurunkan korannya perlahan, menatapnya sekilas lalu memberi isyarat duduk di hadapannya.

“Duduklah,” katanya singkat. “Kita bicara dulu sebelum aku berangkat ke kantor.”

Ayranza duduk dengan hati‑hati. “Ada kabar soal kejadian semalam?”

Axel mengangguk pelan. “Leonardo sudah menyelidiki. Pelayan itu diancam oleh seseorang yang menyuruhnya mendekatkan nampan tepat di sebelahmu saat aku sedang sibuk bersulang. Dia tak berani berbicara semalam karena takut, tapi pagi ini dia sudah mengaku.” Ia berhenti sebentar, nada suaranya makin dingin. “Elena lah yang menyuruhnya.”

Meski sudah menduga, hati Ayranza tetap berdebar. “Kalau begitu… apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan bertemu Giancarlo dan Elena siang ini. Akan aku berikan peringatan tegas. Bahwa tak ada yang boleh main‑main di belakangku, apalagi melibatkanmu.” Axel mencondongkan tubuh sedikit ke depan, sorot matanya tajam namun ada nada perlindungan yang jelas terasa. “Mulai hari ini, Leonardo akan menambah pengawalan saat kau keluar rumah. Dan adik‑adikmu pun akan diawasi diam‑diam saat di sekolah. Aku tak mau ada kejadian serupa menimpa mereka.”

Pembicaraan mereka terhenti saat Mommy Xena dan Daddy Xavier masuk ruangan. Mereka tak bertanya banyak soal insiden semalam, seolah sudah tahu semuanya. Namun saat Axel berpamitan pergi, Daddy Xavier sempat berpesan pendek, “Tangani dengan bijak tapi tegas. Jangan biarkan siapa pun mengira kita lemah.”

Pukul dua siang, Axel dan Leonardo sampai di kediaman keluarga Giancarlo di distrik elit kota. Suasana pertemuan itu berlangsung dingin dan penuh ketegangan. Elena menyambut mereka dengan senyum manis seolah tak terjadi apa‑apa, namun begitu masuk ruang tamu dan pintu tertutup rapat, wajah Axel berubah serius seketika.

“Kau kira aku tak tahu siapa di balik insiden semalam?” tanyanya langsung tanpa basa‑basi, menatap tajam ke arah Elena yang duduk bersandar santai di sofa.

Wajah Elena sedikit pucat namun tetap berusaha bersikap tenang. “Insiden apa? Itu cuma kecelakaan biasa, Axel.”

Giancarlo yang duduk di sebelahnya ikut menyahut, berusaha meredakan ketegangan. “Benar, tak perlu dibesar‑besarkan.”

“Besar atau kecil, aku yang menentukan,” potong Axel tegas, nada bicaranya membuat ruangan seketika hening. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, tatapannya tak beralih dari Elena. “Ingat baik‑baik, Nona Elena. Ayranza adalah istriku. Siapa pun yang berniat mencelakakan dia sama saja berniat melawan aku. Kali ini sekadar gaun tumpah. Lain kali jika hal lebih buruk terjadi, jangan harap hubungan bisnis keluarga kita masih berjalan mulus.”

Ancaman itu jelas, keras, dan tak memberi ruang bantahan. Giancarlo tersentak sadar betapa seriusnya masalah ini. Ia segera menoleh ke anak perempuannya dengan sorot mata tegas. “Minta maaf sekarang, Elena.”

Elena terpaku sejenak, menahan rasa benci yang meluap, namun akhirnya sadar tak punya pilihan. Ia menundukkan kepala berat. “Aku… aku minta maaf. Takkan terulang lagi.”

Axel bangkit berdiri, tak peduli apakah maaf itu tulus atau sekadar formalitas. “Cukup. Pesanku hanya satu: jaga jarak. Kalian semua.”

Ia berbalik berjalan keluar ruangan diikuti Leonardo, meninggalkan ayah‑anak itu diam membeku di tempat. Di perjalanan pulang, Leonardo berkomentar pelan: “Mereka akan berusaha diam sebentar, Tuan. Tapi niat buruk Elena belum tentu hilang begitu saja.”

“Aku tahu,” jawab Axel datar. “Karena itulah kita harus tetap waspada.”

Sore harinya, saat Ayranza sedang menunggu di gerbang sekolah menjemput Angga dan Arshen, ia mendapati wajah kedua adiknya tampak murung dan cemas.

“Ada apa?” tanyanya segera saat mereka masuk ke mobil.

Angga menghela napas panjang sebelum menjawab. “Ada sekelompok anak populer di sana yang mulai bertanya‑tanya soal kita. Mereka bilang dengar berita buruk tentang ayah kita dan mengatai kita sekadar beban keluarga Alexander. Ada yang sampai mendorong‑dorong Arshen saat istirahat.”

Arshen menunduk sedih, matanya berkaca‑kaca menahan tangis. “Aku tak berani melawan, Kak. Takut makin dipukuli.”

Darah Ayranza mendidih sekaligus hati perih melihat keadaan adiknya. Ia segera melapor pada Axel begitu sampai di kediaman sore itu. Mendengar penjelasan mereka, wajah Axel kembali berubah dingin dan penuh amarah tertahan.

“Mereka kira bisa sembarangan karena kita diam saja?” gumamnya pelan, matanya menatap kosong ke arah taman luas di luar jendela. Ia segera memanggil Leonardo dan memberi perintah tegas: besok pagi ia sendiri akan datang ke sekolah menemui kepala sekolah serta orang tua murid yang bersangkutan. Masalah ini harus tuntas secepatnya agar Angga dan Arshen bisa belajar dengan tenang.

Keesokan paginya, kedatangan Axel di sekolah itu langsung mengguncang lingkungan elit tersebut. Dengan penampilan berwibawa dan tegas, ia berbicara langsung di ruang kepala sekolah, didampingi Ayranza dan kedua adiknya. Orang tua murid yang awalnya bersikap santai seketika menjadi tegang dan tak berani membela anaknya begitu mendengar nada bicara Axel yang tak kenal kompromi.

“Anak‑anak saya di sini berhak belajar aman tanpa diganggu, dihina, apalagi disakiti,” ucapnya lantang dan jelas. “Jika ada yang merasa berani menindas mereka, bersiaplah menghadapi konsekuensi serius, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Nama keluarga Alexander bukan sekadar hiasan.”

Tak lama kemudian, anak‑anak yang bersalah dipanggil dan diminta meminta maaf secara resmi di hadapan semua pihak. Kepala sekolah pun berjanji akan memperketat pengawasan dan memberi sanksi tegas bagi siapa saja yang melanggar aturan ketertiban.

Pulang dari sekolah itu, suasana hati Angga dan Arshen jauh lebih lega dan tenang. Di dalam mobil, Arshen bahkan berani tersenyum kembali. “Terima kasih, Kak. Terima kasih, Kak Axel. Sekarang mereka takkan berani lagi.”

Ayranza melirik sekilas ke arah Axel yang sedang menyetir dengan tenang. Meski wajahnya masih datar, ia bisa merasakan perubahan sikap Axel perlahan berubah: tak sekadar menjaga demi kontrak, tapi mulai menunjukkan rasa tanggung jawab tulus sebagai pelindung mereka sekeluarga.

Sepanjang minggu‑minggu berikutnya, suasana menjadi lebih tenang namun tak benar‑benar aman. Ayranza perlahan mulai terbiasa menjalani hari‑hari penuh aturan ketat, berlatih menghadapi tamu penting, dan belajar mengelola sebagian urusan rumah tangga sesuai arahan Mommy Xena. Di sisi lain, Axel makin sering meluangkan waktu pulang lebih awal atau menemani mereka makan malam. Sesuatu yang awalnya jarang sekali ia lakukan.

Suatu sore saat Ayranza sedang berjalan sendirian di taman belakang, ia berpapasan dengan Axel yang sedang berhenti sejenak di dekat kolam ikan. Sinar matahari sore jatuh lembut di wajahnya, sedikit melunakkan garis keras yang biasanya terlihat.

“Kau dan adik‑adikmu sudah mulai terbiasa di sini?” tanyanya tiba‑tiba, memecah keheningan sore itu.

“Sudah jauh lebih baik dari hari pertama,” jawab Ayranza jujur. “Terima kasih sudah banyak membantu, meski awalnya… aku kira takkan seberuntung ini.”

Axel menoleh sedikit menatapnya, ada kilatan tak terbaca di matanya. “Aku tak suka separuh hati dalam berjanji. Sekalipun awalnya kontrak, takkan kubiarkan kalian menderita di bawah tanggung jawabku.”

Kalimat itu sederhana namun makin mempererat ikatan tak terlihat di antara mereka. Ayranza sadar, rasa benci dan ketakutannya perlahan berubah jadi rasa percaya yang perlahan tumbuh kuat. Axel pun diam‑diam mengakui: kehadiran Ayranza dan kedua adiknya membawa perubahan tak terduga dalam hidupnya yang dulu kaku dan sunyi sepi.

Namun di balik kedamaian itu, Leonardo masih diam‑diam melaporkan gerak‑gerik mencurigakan. Elena masih sering berhubungan dengan orang‑orang tak dikenal, dan ada beberapa surat anonim mulai masuk ke kotak pos kediaman Alexander berisi ancaman tersirat. Semua itu menjadi tanda jelas bahwa babak bahaya berikutnya sudah menanti tak lama lagi.

Di ujung lorong panjang kediaman itu, rahasia lama keluarga Alexander pun perlahan mulai terkuak sedikit demi sedikit. Sebuah rahasia yang jika terbuka sepenuhnya, bisa mengguncang seluruh fondasi kekuasaan mereka. Dan Ayranza, tanpa sadar, kini berdiri tepat di tengah pusaran besar itu.

 

1
KZ2
Kenapa yang Black Eagle di hapus?
KZ2: Siap beb👍🏻
total 2 replies
Fahri Purba
smangt bossqueee.
Fahri Purba
mkanya jjur kw xavier biar gk lari binimu.
Murni Caem
🌟🌟🌟🌟🌟
Murni Caem
jahat x ferguso eh salah fabrizio ini anak² pun diracuni.
Jhony
tor cpetan hlangkan sih cindy, gedek liatny.😡
Jhony
good job👍👍
ShyLvia
smbg amat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!