Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Di atas sajadah, di keheningan malam, Zea menumpahkan isi hatinya setelah sholat tahajud. Ia sedang berada dalam dilema sekarang, antara tetap disini karena Arka berhak mendapatkan kasih sayang ayahnya, atau pergi sejauh mungkin untuk hidup yang lebih aman dan tentram.
Jujur saja, tangisan Arka semalam membuat hatinya hancur, merasa bersalah telah memisahkan seorang anak dari ayahnya. Namun ketika ingat Tuan Very bisa melakukan apapun, nyalinya menciut. Jangankan dia, bahkan Naka pun, ia yakini tak akan mampu melawan ayahnya. Saat ini, ia hanya bisa berdoa semoga keputusan yang ia pilih adalah yang terbaik. Sakit memang, tapi jika itu untuk kebaikan, akan ia tahan. 8 tahun ini tidak mudah, tapi ia bisa melewatinya.
Ia mengakhiri do'anya saat waktu subuh tiba. Masih dengan mukena yang melekat, bangkit dari sajadah lalu berjalan ke arah ranjang. Ia menatap Arka yang masih tertidur pulas di atas ranjang empuk yang sejak kemarin tak henti-hentinya ia puji kenyamanannya. Duduk di sisi ranjang, mengusap lembut kepala Arka sambil menatap wajah foto kopian Naka. "Maafkan Ibu, Nak," gumamnya dalam hati disertai derai air mata. "Tolong maafkan Ibu jika kelak kamu tahu, jika Ibu sengaja menjauhkanmu dari ayahmu," menyeka air mata yang semakin deras mengucur.
Zea kembali ke atas sajadah, menunaikan sholat subuh lalu mengemasi semua barangnya ke dalam tas ransel. Sekarang tak cukup hanya 1 tas ransel kecil yang dulu ia bawa, ada tas jinjing lumayan besar berisi barang-barang milik Arka. Barang-barang yang pastinya memiliki banyak sekali kenangan Arka dan Naka. Pertemuan keduanya memang singkat, tapi hati tak bisa bohong, ada perasaan mendalam diantara keduanya, ikatan batin.
Ia keluar kamar untuk melihat stok makanan di pantry yang mungkin saja bisa ia masak untuk sarapan. Kalau pun tidak ada, setidaknya bisa membuat minuman hangat untuk mengisi perut sebelum pergi ke terminal. Sejak kemarin ia memang belum mengecek apa saja yang ada disana, ke pantry hanya untuk mengambil air minum, setelah itu kembali ke kamar. Semalam, ada kurir yang mengantarkan makanan untuknya dan Arka, jadi ia tak perlu repot mencari makanan. Bukan dia yang memesan, tapi Naka.
"Astaghfirullah!" Zea terjingkat kaget sambil memegangi dada melihat seseorang berbaring di atas sofa. Jantungnya berdegup cepat, takut. Seingatnya, semalam ia hanya berdua saja dengan Arka, tapi kenapa subuh-subuh ada orang yang tidur di sofa. Dengan jantung berdebar kencang dan tubuh gemetar, ia memberanikan diri mendekati orang itu. Dari kejauhan, terlihat seperti sosok laki-laki. "Naka," gumamnya pelan saat melihat dengan jelas wajah laki-laki yang terlentang di atas dengan berbantal kedua lengan yang ditekuk.
Naka yang memang tidak terlalu nyenyak, bisa mendengar suara derap langkah mendekat ke arahnya. Ia membuka mata dan menarik kedua lengannya dari bawah kepala. "Ze," panggilnya sambil mengucek mata.
"Ka, kapan kamu datang? Kok kamu bisa masuk?"
Ia sendiri yang kemarin mengantar Naka, Rizal dan Vira pulang, lalu menutup pintu kembali, tapi tahu-tahu, sekarang Naka sudah ada disini.
"Kamu lupa, ini apartemen aku," Naka bangun sambil meregangkan badan yang terasa pegal gara-gara kurang tidur. "Aku gak bisa tidur sampai jam 3 dini hari, terus aku kesini," memijat bahu dan tengkuk yang terasa pegal. "Maaf, tadi sempat ngintip kamar kamu, aku lihat kamu sedang sholat, jadi aku tutup kembali pelan-pelan pintunya. Lalu aku rebahan bentar di sofa, malah langsung ketiduran."
"Kenapa gak tidur di kamar?"
"Sama kamu?" Naka tersenyum tipis.
"Aku lagi gak pengen becanda ya," Zea mendengus kesal, memutar kedua bola matanya malas. "Kamu yang punya rumah, jadi kamu yang lebih tahu ada berapa kamar di apartemen ini."
"Males, pengennya tidur ngumpul sama kamu dan Arka."
"Kamu jangan macem-macem ya, Naka. Aku udah baik tahu gak, gak marah saat dini hari tahu-tahu kamu ada disini. Perjanjiannya, aku hanya tinggal berdua dengan Arka, dengan kamu datang dini hari, itu kamu udah ingkar janji. Kamu udah bikin aku gak nyaman tahu gak. Aku ini janda, tolong hormati aku. Dini hari masuk ke apartemen yang hanya dihuni janda dan anaknya, apa itu bener?"
"Iya, aku minta maaf. Tapi..." Naka menatap kedua mata Zea. "Hatiku gelisah saat jauh dari kamu dan Arka, Ze. Sepanjang malam aku tak bisa tidur, aku terus kepikiran kalian. Aku takut Ze, aku takut saat datang pagi, kalian sudah menghilang."
Zea membuang pandangan ke arah lain, menyembunyikan mata yang mulai berkaca-kaca. Bagaimana bisa Naka dan Arka merasakan hal yang sama, tak mau berpisah, takut kehilangan.
"Ze, kepalaku pusing, kurang tidur. Bisa gak minta tolong bikinin aku kopi," memijat kedua pelipis untuk mengurangi pusing.
"Kurang tidur kok malah minta kopi," Zea berdecak sambil geleng-geleng.
"Lha terus minta apa, susu?"
"NAKA!" sentak Zea sambil melotot, reflek kedua lengannya menutup dada.
Naka tak bisa menahan senyum melihat reflek Zea. "Dulu kalau aku gak bisa tidur, sering kamu kasih susu kan?"
"Bisa diem gak!" sentak Zea. Berbalik dengan cepat, melangkah pergi menuju pantry dengan langkah terburu-buru.
"Susu sapi maksud aku Ze, kamu mikir apa sih?" Naka menahan tawa. "Dulu kan kamu sering bikinin aku susu low fat kalau gak bisa tidur."
Zea tak menggubris ucapan Naka, terus saja berjalan tanpa menoleh.
"Ze... " panggil Naka sambil senyum-senyum sendiri. Ia merapikan rambut dengan jari, lalu menyusul Zea ke dapur. Terlihat Zea sedang membuka satu persatu almari kitchen set, mencari sesuatu yang bisa dimakan. "Cuma ada kopi dan gula disini, kamu nyari apa? Aku sudah minta Rizal belanja, nanti dia akan langsung antar kesini," berjalan mendekati Zea yang berdiri memunggunginya.
"Jaga jarak!"
Naka terkesiap saat Zea tiba-tiba berbalik dan mengangkat telapak tangan. Wanita itu menatapnya tajam.
"Udah gak ada covid."
"Bukan mahram!" Zea melotot.
"Ya udah, nunggu jam 8 biar jadi mahram."
"Maksudnya?" Zea mengernyit bingung.
"KUA buka jam 8."
Zea membuang nafas kasar, "Gak lucu."
"Ya kan aku emang gak lagi ngelucu, gak lagi stand up, aku serius. Ze, aku masih cinta sama kamu."
Naka, buat cara jitu ya buat naklukkan hati papamu, manfaatkan Arka 🤭
keputusan yg bener zee...
jangan mau terus di rendahkn oleh bpknya naka itu.
pastikn naka mau berusaha memperjuangkn kalian....
Ayo Naka berusaha semangat💪💪💪