NovelToon NovelToon
DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi
Popularitas:548
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

INGIN BANTU BERSIHKAN BENGKEL,MALAH BIKIN KACAU

Setelah kejadian terjebak hujan beberapa hari lalu, hubungan kami dengan Bang Rian terasa makin akrab saja. Kalau sebelumnya kami hanya datang sesekali saat ada kendaraan yang perlu diperbaiki, sekarang rasanya ada saja alasan untuk mampir, mengobrol sebentar, atau sekadar menyapa. Terutama setelah sekian lama tidak bertemu, rasanya ada yang kurang.

Pagi itu, suasana terasa sangat nyaman. Hujan semalam sudah reda, menyisakan udara yang segar dan bersih, dengan sisa embun yang masih menempel di daun-daun pohon pinggir jalan.

Di kantor, hari ini tidak ada pekerjaan yang mendesak. Semua berkas surat sudah tersusun rapi, stiker alamat sudah dicetak dan disimpan dengan baik, serta kendaraan operasional juga sudah dicek dan dinyatakan sehat oleh Bang Rian.

“Karena hari ini tugasnya sudah beres semua, kita punya waktu luang. Mau mengisi waktu dengan apa ya?” tanya Pak Harun sambil duduk santai di kursi kerjanya, menyeruput teh manis buatan Pak Joko.

Begitu mendengar pertanyaan itu, Ojak langsung mengangkat tangan dengan semangat yang tidak pernah habis.

“Gimana kalau kita mampir ke bengkelnya Bang Rian saja? Kemarin dia sudah menolong kita, disuruh berteduh di bengkelnya saat hujan, dan selalu melayani dengan baik. Rasanya kurang sopan kalau kita hanya menerima bantuan saja tanpa pernah membalas sedikit. Hari ini kita bantu dia beres-beres apa yang bisa dikerjakan, biar dia tidak bekerja sendirian terus.”

Usul itu langsung disambut persetujuan dari semua orang. “Benar juga kata Ojak. Bang Rian itu orangnya baik dan sabar. Kalau kita bisa meringankan sedikit bebannya, kenapa tidak?” kata Pak Joko mengangguk setuju.

Belum sempat kami melangkah keluar dari halaman kantor, dari arah jalan depan muncul Sari dan Rara yang baru saja pulang dari pasar, membawa keranjang berisi sayuran dan kebutuhan dapur. Mendengar rencana kami, mereka langsung tersenyum dan mempercepat langkah mendekat.

“Wah, mau ke bengkel Bang Rian ya? Kami ikut boleh? Sudah sempat melihat sekilas kemarin saat hujan, tapi belum sempat mengamati lebih dekat dan mengobrol lebih lama,” kata Rara dengan nada antusias.

“Boleh sekali! Makin rame makin seru kerjanya,” jawab Bima sambil tersenyum.

Jadilah kami berenam berjalan kaki santai menuju lokasi bengkel. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar lima belas menit berjalan biasa. Sepanjang jalan kami mengobrol ringan, mengenang kejadian-kejadian lucu yang sudah kami alami selama bulan puasa ini, sambil sesekali tertawa mengingatnya.

Begitu sampai di depan bengkel, kami melihat Bang Rian sedang sibuk sendirian menyapu lantai dan menyusun peralatan yang berserakan. Wajahnya terlihat sedikit berkeringat, meskipun pagi itu udara cukup sejuk.

Melihat kedatangan kami, dia langsung berhenti bekerja, menyeka tangannya di kain lap yang tergantung di pinggangnya, lalu menyambut dengan senyum lebar khasnya.

“Wah, hari ini rame sekali tamunya! Ada keperluan apa lagi sampai semuanya datang ke sini?”

“Tidak ada kerusakan apa-apa kok Bang, kendaraan kami masih bagus semua. Hari ini kami datang cuma sekadar mampir dan ingin membantu saja. Melihat kelihatannya pekerjaanmu banyak, kami pikir bisa meringankan sedikit bebanmu,” jawab Bima menjelaskan tujuan kedatangan kami.

Bang Rian tertawa mendengarnya, lalu menggeleng-gelengkan kepala seolah tidak setuju. “Wah, tidak usah repot-repot. Pekerjaan di sini kotor, penuh debu dan sisa oli. Nanti baju kalian jadi rusak dan sulit dibersihkan. Lebih baik duduk saja santai di sana, biar saya kerjakan perlahan-lahan saja.”

“Tidak apa-apa Bang! Kami sudah biasa terkena debu dan kotoran kok. Kemarin saja bersih-bersih kantor sampai kena cipratan air dan lumpur, ini hanya oli insya Allah masih bisa dicuci bersih nanti. Izinkanlah kami membantu,” bantah Ojak dengan nada meyakinkan.

Karena kami terus mendesak dengan niat yang tulus, akhirnya Bang Rian mengalah dan mengizinkan kami masuk. “Ya sudah, kalau begitu hati-hati saja ya. Jangan memegang alat yang tajam atau yang masih panas. Tugasnya cukup ringan saja: sapu lantai, lap meja kerja, susun kaleng oli kosong, dan atur tumpukan ban bekas di sudut belakang. Tidak ada yang sulit kok.”

“Siap! Pasti beres rapi dan cepat, biar Bang Rian bisa istirahat sebentar,” jawab kami hampir serentak.

Kami pun segera membagi tugas sesuai kemampuan masing-masing. Pak Joko dan Kak Dedi mendapat tugas menyapu seluruh lantai bengkel dan mengumpulkan paku-paku kecil serta serpihan besi yang berserakan agar tidak melukai kaki.

Nina, Sari, dan Rara bertugas mengelap meja kerja, membersihkan debu dari peralatan, dan menyusun kunci inggris serta obeng ke dalam raknya agar tertata rapi. Sedangkan Bima dan Ojak mendapatkan tugas yang dianggap paling gampang: menyusun kaleng oli kosong dan menata tumpukan ban bekas di tempat yang sudah disediakan.

Di awalnya, semua berjalan sangat lancar dan teratur. Pak Joko menyapu dengan teliti, memastikan tidak ada sampah yang tertinggal. Nina dan kedua temannya bekerja dengan hati-hati, mengelap setiap bagian meja sampai bersih mengkilap, menyusun peralatan sesuai ukuran agar mudah dicari jika nanti dibutuhkan. Bang Rian sesekali melirik hasil kerja mereka dan mengangguk puas.

“Bagus sekali kerjamu, rapi dan bersih. Terima kasih banyak ya,” ucapnya sambil tersenyum.

Namun, seperti yang sudah sering terjadi sebelumnya, jika ada Bima dan Ojak yang menangani tugas tertentu, rasanya pasti ada saja kejadian tak terduga yang muncul.

Tugas menyusun kaleng oli sebenarnya sangat sederhana, cukup ditumpuk datar dan rapi di tempat yang rata agar tidak mudah jatuh. Tapi karena mereka merasa tugas itu terlalu sepele, jadinya dikerjakan dengan gaya santai dan sambil bercanda.

“Lihat Bim, kalau kita susun berdiri seperti menara, tempatnya jadi hemat dan terlihat lebih rapi,” usul Ojak sambil mengambil satu kaleng lalu menumpuknya tegak.

Awalnya hanya tiga sampai empat kaleng, masih terasa kokoh dan seimbang. Namun karena ingin terlihat lebih rapi dan menghemat ruang, Ojak terus menambahnya sampai mencapai ketinggian lebih dari sepuluh kaleng.

Bima melihatnya mulai merasa khawatir. “Jak, hati-hati jangan terlalu tinggi. Nanti goyah dan jatuh sendiri kalau angin sedikit berhembus.”

“Tenang aja, tangan aku udah terlatih kok. Masih stabil ini,” jawab Ojak dengan nada percaya diri yang berlebihan, sambil meluruskan posisi kaleng agar tetap tegak.

Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, angin sepoi-sepoi yang masuk lewat celah dinding bengkel, atau mungkin hanya sentuhan kecil dari siku Ojak yang tidak disadari, membuat susunan itu sedikit bergoyang.

Mulanya hanya bergoyang ke kiri dan kanan, tapi karena dasarnya sudah terlalu sempit, dalam sekejap susunan kaleng itu roboh dan berantakan. Kaleng-kaleng itu berguling ke segala arah, ada yang jatuh ke tumpukan kain bekas, ada yang menggelinding ke tengah lantai, bahkan ada yang sampai menabrak kaki Bima.

“Waduh! Awas!” teriak Bima sambil melompat mundur menghindari gelindingan kaleng.

Suara berisik itu langsung menarik perhatian semua orang. Bang Rian yang sedang memeriksa busi motor langsung menoleh, begitu juga yang lain yang sedang bekerja. Mereka melihat pemandangan yang tadi sudah terlihat rapi, sekarang kembali berantakan.

Ojak berdiri mematung, menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum malu. “Maaf… tadi kayaknya kurang seimbang. Anginnya datang tiba-tiba sekali.”

“Angin? Di dalam ruangan tertutup mana ada angin sekuat itu?” goda Kak Dedi sambil tertawa melihat tingkahnya.

Belum sempat kami membereskan kekacauan itu sepenuhnya, masalah baru muncul dari tugas menata tumpukan ban bekas. Bima dan Ojak mulai memindahkan ban-ban itu satu per satu ke sudut belakang bengkel. Ban-ban itu ukurannya lumayan besar, berat, dan permukaannya agak licin karena masih ada sisa minyak bekas yang menempel.

“Gimana kalau kita susun berdiri melingkar saling bersandar? Lebih kokoh katanya kalau diletakkan seperti itu,” usul Bima kali ini yang punya ide.

“Bagus juga idemu! Ayo kita coba,” jawab Ojak langsung setuju.

Mereka pun mulai menyusun ban satu per satu berdiri melingkar, saling menopang satu sama lain. Sudah tersusun sekitar enam buah ban, terlihat cukup rapi dan stabil dari luar.

Namun saat Ojak mengangkat ban ketujuh untuk diletakkan di bagian tengah lingkaran itu, kakinya tidak sengaja menginjak kain lap bekas yang tergeletak di lantai dan tidak terlihat jelas. Kain itu licin, sehingga kakinya tergelincir sedikit. Badannya terhuyung ke belakang, dan tangannya yang memegang ban itu langsung terlepas.

Ban itu jatuh menyamping, menabrak salah satu tumpuan ban yang sudah ada. Akibatnya, satu per satu ban itu roboh dan berguling-guling ke seluruh penjuru ruangan. Ada yang menggelinding sampai ke dekat tempat Sari dan Rara bekerja, ada yang menabrak tumpukan kayu bekas, dan ada yang sampai meluncur masuk ke bawah meja kerja Bang Rian.

“Wah, hati-hati!” teriak Sari dan Rara serentak sambil melompat menjauh menghindari ban yang meluncur deras itu.

Suasana seketika berubah dari tenang menjadi riuh dan kacau. Bima dan Ojak terengah-engah berdiri di tempatnya, wajah mereka memerah karena campuran rasa lelah, kaget, dan malu. Lantai yang tadinya sudah disapu bersih, sekarang kembali tertutup jejak debu dan bekas gesekan ban.

Bang Rian meletakkan peralatannya, lalu mendekat sambil melihat sekeliling ruangan. Kami semua sudah siap menerima teguran atau kemarahan, merasa sudah merepotkan dan malah merusak ketertiban yang ada.

Namun yang terjadi justru sebaliknya Bang Rian menatap pemandangan itu sebentar, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sampai perutnya terasa sakit.

“HAHAHAHAHA! Ini namanya membantu atau merombak tata letak bengkel ya? udah aku bilang tadi, pekerjaan di sini gak semudah yang terlihat dari luar,” katanya sambil menepuk pahanya sendiri.

Melihat dia tidak marah, kami pun menarik napas lega, lalu ikut tertawa melihat kekacauan yang kami buat sendiri.

“Maaf ya Bang, niatnya baik ingin meringankan pekerjaanmu, tapi malah jadi menambah pekerjaan baru. Ternyata tangan kami lebih terampil memegang kertas dan pena daripada memegang barang berat begini,” kata Bima sambil tersenyum malu.

“Sudah tidak apa-apa, namanya juga baru pertama kali mencoba. Kalau saya yang lakukan saja butuh kehati-hatian, apalagi kalian yang belum terbiasa. Yang penting tidak ada yang terluka dan tidak ada alat yang rusak, itu sudah lebih dari cukup bagus,” jawab Bang Rian dengan nada santai dan memaklumi.

Kami pun segera berkumpul kembali dan bekerja sama, kali ini dengan lebih hati-hati dan tidak tergesa-gesa. Bima dan Ojak kali ini tidak berusaha menyusun terlalu tinggi atau terlalu rapi secara berlebihan; cukup ditumpuk datar dan stabil saja agar tidak mudah roboh.

Sari dan Rara membantu mengangkat ban-ban yang terselip di sudut-sudut yang sulit dijangkau, sedangkan Pak Joko dan Kak Dedi menyapu kembali debu yang terbang ke mana-mana.

Selama proses membereskan ini, suasana tetap terasa riuh dengan candaan dan tawa. Ojak menjadi sasaran utama ledekan teman-temannya.

“Besok kalau mau bantu lagi, bawa saja berkas dan stiker dari kantor, itu yang paling pas untuk kalian,” goda Nina sambil tersenyum geli.

“Iya benar, urusan kaleng dan ban ini biar jadi tugas spesialis Bang Rian saja. Kita cukup jadi penonton yang memberi semangat saja,” tambah Kak Dedi disambut tawa kami semua.

Ojak hanya bisa menggaruk kepalanya dan menjawab pasrah, “Sudah, sudah, saya akui kalah telak. Ternyata setiap pekerjaan butuh keahlian dan kebiasaan masing-masing, tidak bisa langsung dianggap gampang hanya karena dilihat sekilas.”

Setelah bekerja lebih lama dari waktu yang diperkirakan, akhirnya seluruh bagian bengkel terlihat lebih bersih dan tertata rapi dari sebelumnya. Alat-alat tersusun di tempatnya masing-masing, lantai bersih tanpa sampah, dan tumpukan ban serta kaleng juga sudah disusun dengan aman dan stabil. Meskipun prosesnya sempat kacau dan berantakan, hasil akhirnya tetap memuaskan.

Bang Rian berjalan mengelilingi ruangan, memeriksa hasil kerja kami, lalu mengangguk puas. “Bagus sekali hasilnya! Meskipun jalannya berliku dan sempat bikin deg-degan sebentar, akhirnya jadi juga kan? Terima kasih banyak atas bantuan dan waktunya hari ini.”

“Terima kasih juga sudah memaklumi kekurangan kami ya Bang,” jawab Bima mewakili kami semua.

Sebagai tanda terima kasih, Bang Rian membuatkan teh manis hangat dan menyajikan kue-kue yang diberikan tetangganya tadi pagi. Kami pun duduk melingkar di sudut bengkel, menikmati hidangan itu sambil mengobrol santai.

Sari dan Rara kini sudah merasa lebih akrab, bertanya tentang berbagai jenis alat dan cara kerja perbaikan kendaraan yang tidak mereka ketahui sebelumnya.

“Jadi begini rasanya ya bekerja di bengkel. Terlihat sederhana, tapi butuh ketelitian dan kekuatan fisik yang cukup,” kata Rara sambil menyeruput tehnya.

“Benar sekali, hari ini jadi pelajaran berharga buat kami. Sesuatu yang kelihatan gampang dari luar, belum tentu semudah yang dibayangkan kalau kita belum pernah mencobanya dengan sungguh-sungguh,” tambah Sari mengiyakan.

Dalam hati Bima berpikir panjang sambil menikmati suasana yang hangat itu:

Memang benar kata people, niat baik itu tidak akan pernah salah, meskipun cara pelaksanaannya sempat salah dan berantakan. Hari ini kami datang ingin membantu, sempat membuat kekacauan, tapi akhirnya justru jadi pengalaman baru yang menyenangkan.

Lebih dari itu, hubungan persahabatan kami dengan Bang Rian terasa makin erat, penuh pengertian dan tawa. Hari ini pasti akan menjadi salah satu cerita yang sering kami kenang dan ceritakan lagi di kemudian hari.

Saat matahari mulai condong ke barat dan waktu hampir masuk istirahat siang, kami pun berpamitan untuk kembali ke kantor dan kemudian pulang ke rumah masing-masing. Bang Rian mengantar kami sampai ke depan pintu bengkel dengan senyum lebar.

“Terima kasih sudah berkunjung dan membantu. Kalau ada waktu luang lagi, silakan mampir saja kapan saja. Tapi lain kali cukup jadi tamu saja ya, tidak perlu menyusun kaleng dan ban lagi, nanti bengkelnya jadi ikut bergoyang sendiri,” candanya yang disambut tawa kami semua.

“Siap Bang! Kami janji, lain kali cukup duduk dan mendengarkan cerita saja!” jawab Ojak sambil melambaikan tangan.

Kami berjalan pulang dengan langkah yang ringan dan hati yang senang, membawa pulang bukan hanya tubuh yang sedikit lelah, tapi juga pengalaman berharga dan kenangan manis yang tidak ternilai harganya.

1
Ananda Anggit
bagus ceritanya 👍
Wulandari Ayuningtyas: makasih😁
total 1 replies
tazayaa
semangat kakk💪💪
Wulandari Ayuningtyas: kakak juga semangat y
total 1 replies
tazayaa
bima udah pesimis aja ni doanya ga dikabulkan🤣🤣
Wulandari Ayuningtyas: wkwk karna pasti ada aja kejadian konyol kak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!