NovelToon NovelToon
Savage Royalty

Savage Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Diam-Diam Cinta
Popularitas:216
Nilai: 5
Nama Author: SeraphinSky

SMA Pertiwi dan STM Rajawali bagaikan langit dan bumi yang dipaksa berdampingan. Hanya terpisah oleh satu tembok tinggi, Pertiwi adalah istana bagi putri-putri konglomerat yang dipimpin oleh Roseanna Vallerian, sang Ratu Es yang perfeksionis. Sementara di sebelahnya, Rajawali adalah medan perang bagi Fattah Maverick, legenda jalanan yang memimpin pasukannya dengan kepalan tangan dan loyalitas tanpa batas.

​Selama tiga tahun, "Perjanjian Batas" menjaga gencatan senjata di antara mereka: Jangan sentuh wilayah kami, dan kami tidak akan menyentuh kalian.
​Namun, kedamaian itu hancur dalam semalam. Serangkaian teror misterius menghantam kedua sekolah. Mobil-mobil mewah siswi Pertiwi dirusak dengan lambang Rajawali, dan markas Rajawali dibakar oleh sosok berseragam Pertiwi. Fitnah menyebar lebih cepat dari api. Tawuran pecah di perbatasan, dan kedua sekolah terancam ditutup permanen oleh Dinas Pendidikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeraphinSky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: FILOSOFI BASKET JALANAN DAN KEPALA LICIN

Jumat Sore, Pukul 15.30 WIB

Lapangan Basket Indoor SMA Pertiwi (Full AC)

​Situasi darurat ditetapkan oleh Ratu Pertiwi.

​Julian Adhitya, dengan segala kelicikannya, baru saja mengumumkan "Pertandingan Persahabatan" (baca: Pembantaian) antara Tim Basket Putri Pertiwi vs Tim Basket Putra Cakrawala di final DBL besok sebagai acara pembuka.

​Alasannya: "Untuk menunjukkan kesetaraan gender dan solidaritas yayasan."

Alasan sebenarnya: "Untuk mempermalukan Roseanna di depan umum sebelum dia digulingkan."

​Masalahnya: Separuh tim inti Pertiwi tiba-tiba "sakit perut" massal setelah makan katering yang dikirim Julian tadi siang. Tersisa hanya Raisa (Kapten) dan beberapa anak cadangan yang mentalnya kerupuk.

​"Kita butuh pemain tambahan," kata Roseanna Vallerian sambil memijat pelipisnya. Dia menatap sisa pasukannya: Aqeela, Naura, dan... Lia.

​"Gue?" Lia menunjuk dirinya sendiri. Dia sedang duduk di bench sambil minum collagen drink. "Rose, lo gila? Lari ngejar bola? Big No. Keringet itu musuh skincare gue."

​"Lia, gue tau lo mantan MVP pas SMP," desak Roseanna. "Lo berhenti cuma karena lo males keramas tiap abis latihan kan?"

​"Itu alesan valid," jawab Lia datar. "Rambut gue butuh 2 jam buat kering."

​"Gue beliin hairdryer Dyson supersonik lima biji," tawar Aqeela polos.

​"Oke, gue ikut," jawab Lia cepat. (Lia memang lemah sama barang mewah).

​Tapi masalah kedua: Tim Cakrawala main kasar. Wasit sudah dibeli. Pertiwi butuh taktik yang tidak ada di buku peraturan.

​Pintu GOR terbuka. Masuklah 5 "Pelatih Khusus" dengan gaya tengil.

​Fattah Maverick memimpin, memutar-mutar bola basket di jari telunjuknya.

Ilham Mahendra (masih botak dan pake headband biar kayak pemain NBA, padahal kayak tukang pijat).

Harry (pake jersey Lakers KW yang kegedean).

Mohan (pake kaos kutang doang).

Oliver (bawa papan strategi).

​"Selamat sore, Tuan Putri," sapa Fattah. "Denger-denger kalian butuh pelajaran tentang 'Basket Jalanan'?"

​Raisa mendengus. "Gue Kapten Basket, Fattah. Gue tau teknis. Gue nggak butuh diajarin preman."

​"Teknis lo nggak guna kalau wasitnya buta, Sa," Fattah melempar bola ke Raisa. "Di lapangan besok, nggak ada foul. Adanya survival."

​Sesi Latihan: The Royal Vanguards

​Latihan dimulai. Dan itu... berantakan.

​Posisi 1: Raisa vs Mohan (The Wall)

​Raisa mencoba melakukan lay-up. Tekniknya sempurna. Langkahnya gesit.

​Tapi di bawah ring, berdiri Mohan. Dia cuma berdiri diam, merentangkan tangannya yang segede dahan pohon beringin.

​BUGH!

​Raisa menabrak "tembok" Mohan dan terpental jatuh.

​"Mohan! Minggir!" teriak Raisa emosi.

​"Kata Bos Fattah, Mohan nggak boleh gerak. Mohan jadi Tembok Cina," jawab Mohan polos.

​"Itu namanya Blocking Foul!"

​"Wasitnya mana? Nggak ada kan?" sahut Fattah dari pinggir lapangan. "Lanjut! Raisa, cari cara muterin dia. Jangan ditabrak, dia makan beton!"

​Posisi 2: Aqeela vs Harry (The Distraction)

​Aqeela sedang belajar dribble. Dug... dug... dug... Pelan banget, takut kukunya patah.

​Harry bertugas menjaganya.

​"Ayo Neng, rebut bolanya!" tantang Harry sambil joget-joget nggak jelas di depan Aqeela.

​"Harry, jangan joget! Aku nggak fokus!" keluh Aqeela.

​"Itu strateginya, Neng! Namanya Distraction Dance!" Harry makin heboh goyang gergaji.

​Aqeela ketawa ngakak sampai bolanya gelinding sendiri. Harry langsung ngambil bolanya.

​"Masuk! Dua poin buat Tim Hore!" teriak Harry.

​Posisi 3: Lia vs Ilham (The Lazy Genius)

​Di sisi lain lapangan, Lia berdiri di garis three-point. Dia diam saja memegang bola. Wajahnya datar.

​Ilham berdiri di depannya, pasang kuda-kuda defense super serius. Dia menepuk-nepuk lantai.

​"Ayo, Nona Manja! Lewatin gue!" tantang Ilham. "Coba dribble! Atau lo takut make-up lo luntur?"

​Lia menatap Ilham bosan.

​"Lo berisik banget sih, Botak. Silau tau nggak kena lampu," hina Lia.

​"JANGAN BAWA-BAWA KEPALA GUE!" Ilham emosi. "Ayo! Buktiin kalau lo mantan MVP! Atau itu cuma gosip?"

​Lia menghela napas panjang. "Hah... ribet."

​Lia tidak melakukan dribble. Dia tidak melakukan fake move.

​Dia cuma mengangkat bola itu, menatap ring sebentar, lalu melemparnya dengan gerakan pergelangan tangan yang sangat santai (tanpa lompat).

​Bola melambung tinggi melewati kepala botak Ilham.

​SWUSH.

​Masuk bersih. Jaringnya bahkan hampir nggak gerak.

​Ilham melongo. Dia menoleh ke belakang, melihat bola yang memantul.

​"Hoki doang itu!" tuduh Ilham.

​"Ambilin bolanya," perintah Lia.

​Ilham (dengan bodohnya) mengambil bola itu dan melemparnya balik ke Lia. "Coba lagi! Kalau masuk lagi, gue traktir lo Starbucks sebulan!"

​Lia menangkap bola. Posisi yang sama. Wajah yang sama bosannya.

​Throw.

​SWUSH.

​Masuk lagi. Sempurna.

​Lia menatap Ilham. "Karamel Macchiato. Venti. Less sugar."

​Ilham bengong. Cewek ini... dia nggak lari, dia nggak keringetan, dia cuma berdiri di satu titik dan nembak kayak robot sniper.

​"Lo... lo pake dukun ya?" tanya Ilham tak percaya.

​"Itu namanya Physics, Botak. Sudut dan tenaga," Lia mengibaskan rambutnya. "Basket itu simpel. Masukin bola ke keranjang. Ngapain lari-lari kayak orang gila kalau lo bisa nembak dari sini?"

​"Tapi kalau dijaga ketat gimana?!" Ilham mendekat, menempel ketat pada Lia (pressing). "Nah, sekarang lo nggak bisa nembak kan?"

​Jarak mereka sangat dekat. Ilham bisa mencium wangi vanilla Lia lagi. Jantungnya berdegup kencang (lagi).

​Lia menatap Ilham yang menghalangi pandangannya.

​"Minggir," kata Lia.

​"Nggak mau. Lewatin gue."

​Lia mendecih. Tiba-tiba, dia melakukan gerakan pivot cepat. Kakinya memutar, sikunya "tidak sengaja" menyodok perut Ilham.

​BUKK!

​"Ugh!" Ilham membungkuk kesakitan.

​Lia melangkah mundur satu langkah, lalu menembak lagi.

​SWUSH.

​"Tiga poin," kata Lia datar. "Dan itu namanya Streetball, kan? Siku gue kepleset."

​Ilham memegangi perutnya sambil nyengir kesakitan. "Gila... sadis banget lo. Gue suka."

​"Sakit jiwa lo," Lia berjalan pergi duduk di bench. "Udah ya. Jatah keringet gue abis buat hari ini."

​Rapat Strategi: The Trap

​Setelah latihan (yang lebih mirip sirkus), Roseanna dan Fattah mengumpulkan semua orang di tengah lapangan.

​"Oke," kata Fattah serius. "Secara fisik, cewek-cewek ini kalah jauh sama tim Julian. Kalau main normal, kalian dibantai 100-0."

​"Terus gimana?" tanya Roseanna cemas.

​"Kita nggak ngejar poin," potong Lia yang sedang kipas-kipas. "Kita ngejar waktu."

​Semua menoleh ke Lia.

​"Maksud lo?" tanya Ilham.

​Lia menunjuk layar LED skor di atas GOR.

​"Rencana kita bukan menang basket. Rencana kita adalah bikin Julian ngaku di depan umum," jelas Lia. "Kita butuh pertandingan berjalan setidaknya 20 menit. Selama 20 menit itu, Harry sama Oliver bakal nge-hack sistem layar LED buat nampilin bukti chat Julian dan Kairos."

​"Tapi 20 menit lawan Julian itu lama banget, Li," kata Raisa. "Dia pasti main kasar buat bikin kita cedera biar game-nya bubar cepet."

​Fattah menyeringai.

​"Disitulah tugas kita," kata Fattah. "Vanguards nggak bakal main. Tapi kita bakal jadi 'Tim Medis' dan 'Anak Gawang' di pinggir lapangan."

​"Maksudnya?"

​"Setiap kali anak buah Julian main kasar," Fattah mengeluarkan kelereng dari sakunya. "Kita bakal pastiin mereka 'kepeleset' secara misterius."

​"Dan gue," Ilham mengangkat tangannya, "Sebagai 'Tukang Pel', bakal pastiin Julian ngerasain lantai yang licin. Licin kayak kepala gue."

​Semua tertawa (kecuali Lia yang cuma senyum tipis).

​"Oke," Roseanna berdiri, mengulurkan tangannya di tengah. "Besok kita perang. Bukan buat piala. Tapi buat ngejatuhin Raja Palsu."

​Satu per satu tangan menumpuk di atas tangan Roseanna.

​Tangan Raisa yang kekar.

Tangan Fattah yang kasar dan kapalan.

Tangan Rose yang lentik dan cantik.

Tangan Aqeela yang mulus dan penuh cincin.

Tangan Harry yang ada bekas sambel.

Tangan Naura yang bersih lucu.

Tangan Oliver yang kapalan karna banyak main komputer.

Tangan Mohan yang gede banget.

Tangan Ilham yang ada bekas olinya.

​Dan terakhir... tangan Lia.

​Lia menatap tumpukan tangan itu dengan ragu.

​"Buruan elah," desak Ilham. "Tangan lo nggak bakal jamuran kok."

​Lia mendengus, lalu meletakkan tangannya yang wangi hand cream di atas tangan Ilham (yang paling atas).

​"Savage Royalty on 3," komando Fattah.

​"1... 2... 3... SAVAGE ROYALTY!"

​Di Ruang Ganti - Setelah Bubar

​Lia sedang membereskan tasnya. Ilham menunggu di pintu (pura-pura benerin tali sepatu, padahal nungguin Lia).

​"Li," panggil Ilham.

​Lia menoleh. "Apa lagi? Utang kopi lo gue tagih besok."

​"Bukan itu," Ilham berdiri, menggaruk kepalanya yang nggak gatal (dan licin). "Tadi... tembakan lo keren. Serius."

​Lia terdiam sejenak. Biasanya dia bakal ngejek Ilham. Tapi kali ini, dia melihat ketulusan di mata cowok itu.

​"Hoki doang," jawab Lia singkat, lalu berjalan melewati Ilham.

​Tapi saat dia lewat, Lia berbisik pelan.

​"Dan makasih... udah mau jadi tameng gue tadi."

​Lia pergi.

​Ilham mematung di pintu, senyum-senyum sendiri kayak orang gila.

​"Dia bilang makasih, Coy. MAKASIH!" Ilham tinju udara saking senengnya.

​Dari kejauhan, Fattah geleng-geleng kepala liat kelakuan wakilnya.

​"Dasar bucin. Perang besok, woy. Fokus."

​Besok adalah hari penentuan.

Final DBL: Pertiwi vs Cakrawala.

Julian vs Roseanna.

Kebenaran vs Kebohongan.

​Dan di tengah lapangan itu, nasib SMA Pertiwi dan Tanah Bengkel Rajawali akan ditentukan.

1
anggita
ikut ng👍like, iklan☝aja. moga novelnya lancar.
Yel
LANJUT SAMPAI TAMAT KAAAKKK 😍 pengen nabung bab nya karna bab 1 aja sdh rame. semangat thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!