NovelToon NovelToon
WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Theurgist

Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.

Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.

Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 – Hari yang Menentukan

Pagi hari itu datang lebih cepat dari yang diharapkan.

Atau setidaknya begitulah yang dirasakan Arga.

Selama beberapa hari terakhir, seluruh keluarga sibuk mempersiapkan pesanan untuk pelatihan pegawai kecamatan.

Bahan baku sudah dihitung.

Kemasan sudah disiapkan.

Daftar tugas sudah dibagi.

Simulasi sudah dilakukan.

Namun ketika hari pelaksanaan benar-benar tiba, Arga tetap merasakan ketegangan.

Karena teori dan praktik sering kali berbeda.

Dan hari ini bukan simulasi.

Hari ini nyata.

Kesalahan yang terjadi tidak bisa diulang begitu saja.

Pukul lima pagi.

Lampu dapur sudah menyala.

Ibunya dan Bu Rina mulai bekerja bahkan sebelum adzan Subuh selesai berkumandang.

Maya datang lebih awal dari biasanya.

Sementara ayah Arga bertugas memeriksa kembali bahan dan kemasan.

Begitu masuk dapur, Arga langsung melihat suasana yang jauh lebih sibuk dibanding hari biasa.

Baskom berisi adonan berjajar di atas meja.

Pisang yang sudah dikupas tersusun rapi.

Kemasan makanan ditumpuk di sudut ruangan.

Semua terlihat siap.

Namun Arga tahu.

Persiapan baru setengah dari pekerjaan.

Pelaksanaannya yang akan menentukan hasil.

"Semua siap?"

tanya Arga.

Ayahnya mengangguk.

"Sejauh ini."

Jawaban yang cukup realistis.

Tidak terlalu percaya diri.

Namun juga tidak pesimis.

Persis seperti yang dibutuhkan.

Pukul enam pagi.

Produksi dimulai.

Suara minyak mendesis memenuhi dapur.

Aroma gorengan menyebar ke seluruh rumah.

Semua orang bergerak sesuai tugas masing-masing.

Pada awalnya, semuanya berjalan lancar.

Bahkan lebih lancar dibanding simulasi.

Karena setiap orang sudah memahami apa yang harus dilakukan.

Namun setelah satu jam berlalu, masalah pertama muncul.

"Kemasan kecil habis!"

Suara Maya terdengar dari ruang depan.

Arga langsung menoleh.

"Habis?"

"Iya!"

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Mereka sudah menghitung jumlah kemasan beberapa kali.

Seharusnya cukup.

"Periksa kardus cadangan!"

teriak Arga.

Maya langsung berlari menuju gudang kecil.

Beberapa detik yang terasa sangat lama berlalu.

Kemudian suara Maya terdengar lagi.

"Ada!"

Semua orang menghela napas lega.

Ternyata sebagian kemasan masih tersimpan di kardus lain dan belum dipindahkan.

Masalah selesai.

Namun kejadian itu cukup untuk mengingatkan mereka bahwa kesalahan kecil masih bisa muncul kapan saja.

Pukul tujuh pagi.

Separuh pesanan sudah selesai dikemas.

Kecepatan kerja mulai meningkat.

Semua orang mulai menemukan ritmenya.

Bahkan Maya yang sebelumnya masih sering gugup kini bekerja jauh lebih percaya diri.

Saat melihat itu, Arga merasa sedikit lega.

Beberapa minggu lalu, mereka bahkan belum yakin apakah Maya bisa mengikuti ritme kerja warung.

Sekarang gadis itu menjadi salah satu bagian penting dari tim.

Namun ketenangan tersebut tidak berlangsung lama.

Karena masalah kedua segera datang.

Kali ini lebih serius.

Minyak goreng mulai berkurang lebih cepat dari perkiraan.

Bu Rina yang pertama menyadarinya.

"Kalau begini, stok cadangan kita tidak cukup sampai selesai."

Arga langsung menghitung cepat.

Benar.

Karena volume produksi jauh lebih besar dibanding hari biasa, penggunaan minyak juga meningkat drastis.

Dan jika perhitungan mereka salah...

Produksi bisa terhenti di tengah jalan.

"Berapa kurangnya?"

"Sekitar dua jerigen."

Ayah Arga langsung berdiri.

"Aku beli sekarang."

Tanpa menunggu jawaban, pria itu mengambil motor dan pergi.

Arga memperhatikan punggung ayahnya yang menjauh.

Masalah seperti ini tidak muncul saat simulasi.

Karena simulasi hanya setengah kapasitas.

Inilah alasan mengapa pengalaman nyata selalu berbeda.

Untungnya, ayah Arga kembali sebelum stok benar-benar habis.

Produksi kembali berjalan normal.

Meski sempat kehilangan waktu sekitar dua puluh menit.

Dan dua puluh menit terasa sangat berharga ketika tenggat waktu terus mendekat.

Menjelang pukul sembilan pagi, pesanan hari pertama akhirnya selesai.

Seratus paket.

Tersusun rapi.

Siap dikirim.

Semua orang terlihat lelah.

Namun tidak ada waktu untuk beristirahat lama.

Karena tahap berikutnya baru akan dimulai.

Pengiriman.

Pak Arif datang tepat waktu.

Begitu melihat tumpukan paket yang sudah siap, ekspresinya berubah.

"Wow."

Hanya satu kata.

Namun cukup membuat seluruh keluarga merasa usaha mereka dihargai.

Pak Arif memeriksa beberapa paket secara acak.

Kemasan.

Isi.

Kerapian.

Semuanya diperiksa.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian ia tersenyum.

"Bagus."

Arga merasakan ketegangan di dadanya sedikit menghilang.

Namun ia tetap menjaga ekspresi tenang.

Karena pekerjaan belum selesai.

Masih ada hari kedua.

Dan yang lebih penting, masih ada penilaian dari para peserta pelatihan.

Hari itu berlalu lebih lambat dari biasanya.

Semua orang kelelahan.

Namun tidak ada yang benar-benar bisa beristirahat.

Karena mereka terus menunggu kabar.

Bagaimana tanggapan peserta?

Apakah ada keluhan?

Apakah ada masalah?

Menjelang sore, telepon akhirnya berbunyi.

Pak Arif.

Arga langsung mengangkatnya.

"Halo, Pak."

"Arga."

Suara di seberang terdengar cukup santai.

Membuat Arga sedikit lega.

"Bagaimana, Pak?"

"Sejauh ini bagus."

Arga menahan napas.

"Bagus?"

"Iya."

"Bahkan beberapa peserta bertanya makanan ringan itu dibeli dari mana."

Untuk pertama kalinya hari itu, Arga benar-benar tersenyum.

Karena itu adalah jenis pujian terbaik.

Bukan dari panitia.

Melainkan dari pelanggan akhir.

Malam harinya, suasana rumah jauh lebih hidup dibanding biasanya.

Bahkan ayah Arga yang biasanya tenang terlihat bersemangat.

"Kita berhasil."

"Kita baru menyelesaikan hari pertama."

kata Arga.

Namun kali ini bahkan ia sendiri tidak bisa menyembunyikan rasa puasnya.

Karena keberhasilan hari pertama membuktikan sesuatu yang penting.

Sistem mereka bekerja.

Tidak sempurna.

Masih banyak masalah.

Masih banyak kekurangan.

Tetapi berhasil.

Maya yang sedang menyusun catatan stok tiba-tiba berkata,

"Kalau dipikir-pikir lucu juga."

"Apa?"

"Dulu kita panik melayani beberapa pelanggan tambahan."

Semua orang tertawa.

Karena itu memang benar.

Beberapa bulan lalu, kenaikan sedikit saja sudah membuat dapur kewalahan.

Sekarang mereka baru saja menyelesaikan seratus paket untuk sebuah acara resmi.

Perbedaannya sangat besar.

Keesokan harinya, proses hari kedua berjalan lebih lancar.

Masalah kemasan tidak terulang.

Masalah minyak juga sudah diantisipasi.

Semua orang bekerja lebih tenang.

Lebih percaya diri.

Dan hasilnya terlihat jelas.

Pesanan selesai lebih cepat dibanding hari pertama.

Bahkan masih ada waktu cadangan sebelum pengiriman.

Ketika Pak Arif datang mengambil pesanan kedua, ia tampak lebih santai.

Sebelum pergi, pria itu berkata sesuatu yang tidak diduga Arga.

"Kami sering mengadakan acara seperti ini."

Arga langsung memperhatikan.

"Lalu?"

Pak Arif tersenyum.

"Kalau hasilnya konsisten, mungkin kita bisa bekerja sama lagi."

Kalimat itu sederhana.

Namun dampaknya besar.

Karena artinya kesempatan ini mungkin bukan pesanan satu kali.

Bisa menjadi sumber pelanggan baru di masa depan.

Malam setelah seluruh acara selesai, warung akhirnya kembali tenang.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, tidak ada tenggat waktu.

Tidak ada tekanan produksi.

Tidak ada kepanikan.

Arga duduk di depan warung sambil membuka buku catatannya.

Lalu menulis:

Pesanan Pelatihan Kecamatan

Hari Pertama: Berhasil

Hari Kedua: Berhasil

Keluhan: Tidak ada

Pelajaran: Banyak

Ia tersenyum kecil.

Kemudian menambahkan satu kalimat lagi.

Kami belum siap mengambil ruko.

Arga berhenti sejenak.

Lalu melanjutkan.

Tetapi kami jauh lebih siap daripada sebulan yang lalu.

Angin malam bertiup pelan.

Di kejauhan, lampu proyek masih menyala.

Tanda bahwa perubahan besar terus mendekat.

Namun kali ini, Arga tidak melihat perubahan itu dengan rasa takut.

Karena untuk pertama kalinya, ia memiliki bukti nyata.

Warung kecil mereka mampu tumbuh.

Mampu belajar.

Dan mampu menghadapi tantangan yang lebih besar.

Mungkin mereka belum siap melompat.

Tetapi mereka sudah mulai berlari.

Dan itu lebih dari cukup untuk saat ini.

Bersambung...

1
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah ini atau sistem gitu thor
Dewiendahsetiowati: ok Thor dan ditunggu up selanjutnya
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!