NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 — Pria yang Menghancurkan Nayla

“Rafael?”

Nadira mengulang nama itu pelan.

Angin malam meniup rambut mereka di balkon kamar yang sejak kecil jadi tempat pelarian. Dulu, mereka sering duduk berdampingan sambil makan mi instan diam-diam supaya Mama nggak marah.

Sekarang…

Mereka duduk di tempat yang sama, tapi rasanya seperti dua orang asing.

Nayla mengusap air matanya kasar.

“Aku tahu kamu mau marah.”

“Aku memang marah.”

“…”

“Dua ratus miliar itu bukan angka kecil, Nay!”

Suara Nadira pecah karena syok.

Ia masih sulit percaya saudara kembarnya bisa melakukan hal segila itu.

“Aku nggak berniat nyuri,” bisik Nayla lirih. “Awalnya aku cuma pinjam dana perusahaan buat investasi.”

“Tanpa izin Papa?”

Nayla menunduk.

Dan itu sudah cukup jadi jawaban.

Nadira memejamkan mata frustrasi.

“Ya Tuhan…”

“Aku pikir bakal balik lagi dalam beberapa minggu.”

“Tapi malah hilang.”

Nayla tertawa kecil pahit.

“Bukan cuma uangnya.”

Deg.

Nadira perlahan menatap saudara kembarnya lagi.

“Apa maksudmu?”

Nayla menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sampai hampir berdarah.

“Aku juga jatuh cinta sama dia.”

Sunyi.

Hanya suara jangkrik malam dan angin yang terdengar samar.

Nadira tidak tahu harus marah atau kasihan.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidup…

Nayla terlihat benar-benar hancur.

Bukan Nayla yang sempurna.

Bukan Nayla yang selalu percaya diri.

Tapi seorang perempuan yang ditipu habis-habisan oleh orang yang ia cintai.

“Kamu kenal dia dari mana?” tanya Nadira akhirnya.

“Acara bisnis.”

“Terus?”

“Dia baik banget.”

Nayla tertawa kecil sambil menangis.

“Klasik ya? Semua perempuan bodoh selalu mulai ceritanya dari situ.”

“Nay…”

“Aku pikir dia beda.”

Tatapan Nayla kosong menatap langit.

“Dia dengerin aku.”

“Dia ngerti aku capek.”

“Dia bilang aku nggak perlu jadi sempurna terus.”

Kalimat terakhir membuat Nadira diam.

Karena itu tepat seperti yang tadi Arsen katakan padanya.

Dan mendadak ia sadar sesuatu—

Orang yang paling haus perhatian adalah orang yang paling mudah dimanfaatkan.

“Aku kasih dia akses ke beberapa data perusahaan,” lanjut Nayla pelan. “Karena dia bilang mau bantu Papa.”

“Ya Tuhan…”

“Terus uangnya hilang.”

“Papa tahu?”

“Awalnya nggak.”

“Terus?”

“Rafael kabur.”

Nadira mulai pusing.

“Dan kecelakaanmu?”

Wajah Nayla langsung berubah.

Takut.

“Aku lihat dia malam itu.”

Deg.

“Apa?”

“Nggak jelas… tapi aku yakin itu dia.”

Tubuh Nadira meremang.

“Dia nyoba bunuh kamu?”

“Aku nggak tahu.”

“Tapi kamu bilang rem mobil dirusak.”

Nayla memeluk dirinya sendiri.

“Makanya aku takut.”

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai…

Nadira merasa mereka benar-benar dalam bahaya.

Keesokan paginya suasana rumah terasa mencekam.

Papanya sudah pergi sejak subuh.

Mamannya mondar-mandir sambil terus menelepon seseorang.

Sedangkan Nayla mengurung diri di kamar.

Nadira turun ke dapur dengan kepala penuh pikiran.

Namun langkahnya langsung berhenti ketika melihat Arsen duduk santai di meja makan sambil minum kopi.

“Kamu ngapain pagi-pagi di sini?”

Arsen mengangkat alis.

“Rumah tunanganku.”

“Yang mana?”

Pria itu tersedak kecil.

Lalu menatap Nadira dengan ekspresi datar.

“Kamu mulai berani ya sekarang.”

Nadira duduk di depannya sambil mengambil roti.

“Aku cuma nanya.”

Arsen memperhatikannya beberapa detik.

“Kamu nggak tidur lagi?”

“Bisa tidur aja udah syukur.”

Arsen menggeser secangkir cokelat panas ke arahnya.

“Minum.”

Nadira sedikit kaget.

“Kamu bikinin?”

“Pembantu.”

“Oh.”

“Kecewa?”

Nadira langsung melotot.

“Siapa juga yang kecewa!”

Arsen tertawa kecil.

Dan sialnya…

Nadira mulai terbiasa dengan suara tawa itu.

Beberapa menit kemudian Nayla turun dengan wajah pucat.

Begitu melihat Arsen, langkahnya sedikit berhenti.

Namun pria itu terlihat biasa saja.

“Pagi,” katanya singkat.

“Pagi.”

Suasana langsung canggung.

Nadira pura-pura fokus makan roti supaya tidak ikut terseret.

Sayangnya gagal.

“Kita perlu bicara,” kata Arsen tiba-tiba.

Nayla langsung tegang.

“Tentang Rafael?”

Nadira ikut mengangkat kepala.

Arsen bersandar santai.

“Aku udah cari data dia semalam.”

“Cepat banget?”

“Aku nggak suka menunggu.”

Nayla menggenggam tangannya sendiri erat.

“Apa yang kamu temuin?”

Tatapan Arsen berubah dingin.

“Nama Rafael kemungkinan palsu.”

Deg.

“Apa?”

“Data identitasnya banyak yang nggak sinkron.”

“Terus?”

“Dan dia bukan penipu biasa.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Aku nemu beberapa perusahaan yang pernah kena kasus mirip.”

Nadira mulai merinding.

“Maksudmu dia memang sengaja mendekati orang kaya?”

“Mungkin.”

“Mungkin?” Nayla mulai emosional. “Aku hampir mati, Arsen!”

Pria itu tetap tenang.

“Aku nggak mau kasih kesimpulan sebelum semua jelas.”

Nayla tertawa pahit.

“Kamu emang selalu dingin ya.”

“Aku realistis.”

“Dan nyebelin.”

Nadira spontan hampir tersenyum kecil.

Namun suasana berubah lagi ketika Arsen mengeluarkan satu foto dari map hitam di meja.

Foto seorang pria.

Tinggi.

Tampan.

Senyumnya hangat.

Tatapannya lembut.

Dan entah kenapa…

Nadira langsung tidak suka melihat wajah itu.

“Ini Rafael?” tanyanya pelan.

Nayla langsung pucat.

“Iya…”

Arsen menatap mereka berdua.

“Kalau dia muncul lagi, langsung bilang ke aku.”

Namun Nadira justru memperhatikan sesuatu.

“Ada yang aneh.”

Arsen menoleh.

“Apa?”

Nadira mengambil foto itu lalu mendekatkannya.

“Matanya.”

“Kenapa?”

“Kayak…” Nadira mengernyit. “Aku pernah lihat dia.”

Deg.

Nayla langsung berdiri.

“Di mana?!”

“Aku nggak tahu…”

Nadira memegang kepalanya pelan.

Bayangan samar muncul di ingatannya.

Pria berdiri jauh.

Tatapan memperhatikan.

Senyum tipis.

Dan tiba-tiba tubuh Nadira membeku.

“Basement…”

Arsen langsung serius.

“Apa?”

“Pria di basement rumah sakit malam itu…”

Napas Nadira mulai memburu.

“Kurasa itu dia.”

Siang harinya Arsen membawa Nadira pergi dari rumah.

“Ke mana?”

“Makan.”

“Aku nggak lapar.”

“Kamu belum makan bener dari kemarin.”

Nadira mendecih pelan.

“Perhatian banget.”

“Takut kamu mati sebelum misterinya selesai.”

“Jahat.”

Namun diam-diam Nadira merasa sedikit hangat.

Mereka berhenti di sebuah restoran rooftop mewah.

Pemandangan kota terlihat cantik dari atas.

Angin siang berhembus lembut.

Dan untuk beberapa saat…

Semuanya terasa normal.

“Kadang aku lupa kalau hidupku lagi berantakan,” gumam Nadira sambil melihat kota.

“Itu bagus.”

“Kenapa?”

“Artinya kamu masih manusia.”

Nadira tertawa kecil.

“Kamu ngomong kayak psikolog.”

“Aku mahal kalau jadi psikolog.”

“Kamu emang mahal sih.”

Arsen menyipitkan mata.

“Itu flirting?”

Nadira hampir tersedak minumannya sendiri.

“Apaan sih!”

Pria itu tersenyum tipis puas melihat Nadira panik.

Dan lagi-lagi jantung Nadira berdebar tidak jelas.

Sial.

Ia harus berhenti seperti ini.

Karena semakin lama…

Semakin sulit menganggap Arsen cuma tunangan Nayla.

Namun suasana tenang itu tidak berlangsung lama.

Saat makanan datang, seorang pelayan tiba-tiba menjatuhkan nampan tepat di dekat meja mereka.

BRAK!

Gelas pecah.

Orang-orang menoleh.

“Maaf! Maaf…”

Pelayan itu terlihat panik.

Namun Arsen mendadak berdiri.

Tatapannya tajam sekali.

“Jangan diminum.”

Nadira membeku.

“Hah?”

Arsen mengambil gelas jus di depan Nadira lalu menciumnya sedikit.

Wajahnya langsung dingin.

“Bau almond.”

“Apa?”

“Racun.”

Dunia Nadira langsung terasa berhenti.

Pelayan tadi mendadak lari.

“HEY!”

Arsen langsung mengejar.

Kursi-kursi bergeser.

Orang-orang panik.

Nadira ikut berdiri dengan tubuh gemetar.

Beberapa detik kemudian terdengar suara ribut dari bawah.

Namun Arsen kembali sendirian.

“Dia kabur.”

Nadira sudah pucat total.

“Tadi… tadi ada racun?”

“Iya.”

“Ya Tuhan…”

Tangannya mulai gemetar hebat.

Kalau Arsen tidak sadar tadi…

Mungkin sekarang ia sudah meminumnya.

“Dia benar-benar mau bunuh aku…”

Kalimat itu keluar pelan.

Patah.

Dan untuk pertama kalinya…

Nadira sadar ancaman ini nyata.

Sangat nyata.

Malamnya, Arsen memaksa Nadira tinggal lagi di penthouse.

Kali ini Nadira tidak membantah.

Ia terlalu takut.

“Security bakal jaga 24 jam,” kata Arsen sambil melepas jam tangannya.

Nadira duduk diam di sofa sambil memeluk bantal.

“Aku capek…”

Suara itu kecil sekali.

Arsen menoleh.

“Aku tahu.”

“Aku pengen hidup normal.”

Tak ada jawaban.

Karena mereka berdua tahu hidup normal sudah terlalu jauh sekarang.

“Aku iri sama orang biasa,” lanjut Nadira pelan. “Yang bisa jatuh cinta tanpa mikirin bisnis keluarga.”

Deg.

Kalimat itu membuat suasana berubah aneh.

Arsen berdiri diam beberapa detik sebelum berjalan mendekat.

“Jangan ngomong soal cinta dulu.”

Nadira mengangkat kepala.

“Kenapa?”

Tatapan Arsen lurus ke matanya.

Karena terlalu dekat, Nadira bisa melihat detail wajah pria itu dengan jelas.

Garis rahang tegas.

Mata gelap yang selalu terlihat dingin.

Dan ekspresi rumit yang jarang muncul.

“Karena situasinya bakal jadi lebih rumit.”

Jantung Nadira langsung berdetak keras.

Ia tahu.

Ia sangat tahu apa maksud kalimat itu.

Dan itu membuatnya panik.

“Arsen…”

Belum sempat kalimatnya selesai—

Ponsel Arsen berbunyi.

Pria itu langsung mengangkatnya.

“Iya?”

Wajahnya mendadak berubah dingin lagi.

“Sekarang?”

Nadira langsung merasa tidak enak.

“Ada apa?”

Arsen mematikan telepon perlahan.

Tatapannya gelap.

“Nayla hilang.”

Deg.

“Apa?!”

“Dia kabur dari rumah satu jam lalu.”

Tubuh Nadira langsung dingin.

“Ke mana?!”

Arsen menatap lurus ke arahnya.

“Dia ninggalin pesan.”

Nadira mulai gemetar lagi.

“Pesan apa?”

Arsen terdiam sesaat sebelum menjawab pelan—

“Dia bilang mau ketemu Rafael sendirian.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!