Rasyid adalah calon Bupati muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengincar posisi Istri Bupati.
Tetapi hati Rasyid sudah terpaut pada Ami, gadis desa lulusan SMA yang benar-benar tak tertarik padanya.
Perjuangan Rasyid untuk mendapatkan Ami, dibantu oleh ajudan setianya, Andre.
Ketika Rasyid sudah mendapatkan Ami, lawan politik menyerang hingga mereka dipisahkan takdir.
Andre hadir untuk mengisi posisi kosong itu tanpa niat buruk.
Namun, ketika keadaan kembali seperti semula, Ami memutuskan kembali ke desa, mencari ketenangan hingga dijemput kembali oleh lelaki pilihannya.
~~Kita bisa merencanakan sesuatu, namun takdir yang menentukan akhirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melawan Para Pengusaha
Kalimat itu membuat Paman Badri terdiam. Untuk pertama kalinya ia mulai melihat bahwa Rasyid benar-benar tidak lagi bergerak dengan pola pikir keluarga mereka yang lama, yang selalu menghitung kekuasaan dari seberapa besar keuntungan dan seberapa kuat jaringan modal di belakangnya.
“Dan satu lagi,” lanjut Rasyid sambil menatap pamannya lurus. “Dulu waktu semua dukungan pergi, masyarakat kecil tetap berdiri di sisi saya. Jadi sekarang, saat saya punya kekuasaan, saya tidak akan meninggalkan mereka hanya demi menyenangkan para pemodal.”
Paman Badri menarik napas panjang. Ia tampak ingin membantah lagi, tetapi kali ini tidak ada kata-kata yang langsung keluar. Karena jauh di dalam dirinya, ia sadar bahwa Rasyid sudah menjadi pemimpin dengan caranya sendiri, dan mungkin justru itulah alasan masyarakat memilihnya.
Paman Badri akhirnya duduk perlahan di kursi depan meja kerja Rasyid. Untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruangan itu, kemarahannya sedikit mereda, digantikan oleh tatapan yang lebih dalam dan penuh perhitungan. Ia memandang keponakannya beberapa saat sebelum berkata pelan, “Kamu benar-benar mirip ayahmu.”
Rasyid terdiam mendengar nama itu disebut.
“Dulu ayahmu juga berpikir rakyat harus lebih dulu disejahterakan daripada pemodal,” lanjut Paman Badri sambil tersenyum hambar. “Dan kamu tahu apa akibatnya? Dia dijatuhkan pelan-pelan.”
Suasana ruangan mendadak menjadi lebih berat. Bukan lagi sekadar soal izin usaha walet atau konflik kepentingan, tetapi tentang bayangan masa lalu yang perlahan kembali muncul di antara mereka.
Rasyid menatap keluar jendela sebentar sebelum menjawab tenang, “Saya tahu.”
“Kalau tahu, kenapa kamu tetap memilih jalan yang sama?” tanya Paman Badri tajam. “Kamu punya kesempatan menikmati kekuasaan dengan aman. Tapi kamu malah mencari masalah dengan orang-orang yang punya uang dan pengaruh.”
Rasyid tersenyum kecil, kali ini bukan senyum kemenangan, melainkan senyum seseorang yang sudah berdamai dengan risiko hidupnya sendiri.
“Karena saya juga tahu kenapa masyarakat masih mengingat Ayah dengan hormat sampai sekarang,” jawabnya pelan. “Beliau mungkin kalah secara politik waktu itu, tapi masyarakat tidak pernah benar-benar melupakan keberpihakannya.”
Paman Badri kembali terdiam.
Rasyid kemudian berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati jendela besar ruang kerjanya. Dari sana terlihat halaman kantor Bupati yang mulai ramai oleh warga yang datang membawa berbagai urusan.
“Paman pernah bilang dulu kalau saya adalah titisan Kakek,” katanya tanpa menoleh. “Tapi saya rasa, saya lebih banyak mewarisi Ayah.”
Kalimat itu membuat ekspresi Paman Badri berubah samar. Ada sesuatu di wajahnya yang sulit dijelaskan, antara kecewa, kagum, dan takut pada kemungkinan bahwa sejarah lama keluarga mereka akan terulang kembali.
Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu. Salah satu staf masuk dengan sedikit gugup. “Maaf Pak Bupati, warga dari daerah walet sudah datang. Mereka ingin mengucapkan terima kasih langsung.”
Rasyid mengangguk kecil. “Suruh mereka masuk sebentar lagi.”
Setelah staf itu keluar, Rasyid kembali menatap pamannya. “Saya tahu keputusan ini membuat banyak orang tidak nyaman,” katanya tenang. “Tapi kalau jabatan ini hanya dipakai untuk menjaga keuntungan segelintir orang, lalu apa bedanya saya dengan mereka yang dulu kita kritik?”
Paman Badri perlahan berdiri. Ia tidak lagi membantah, hanya menghela napas panjang sebelum berjalan menuju pintu. Tepat sebelum keluar, ia berhenti sejenak lalu berkata pelan tanpa menoleh, “Hati-hati, Syid. Orang yang terlalu dicintai rakyat sering kali paling ditakuti oleh orang-orang berkuasa.”
Pintu tertutup perlahan. Dan untuk sesaat, Rasyid berdiri sendirian di ruang kerjanya, menyadari bahwa masa kepemimpinannya yang baru berjalan ini kemungkinan besar akan jauh lebih berat daripada perjuangan untuk memenangkan pilkada dulu.
***
Ternyata para pengusaha itu tidak main-main dengan ancaman mereka. Tidak lama setelah kebijakan pengelolaan sarang burung walet dialihkan kepada masyarakat diumumkan, tekanan mulai datang dari berbagai arah dengan cara yang rapi dan sulit disentuh secara langsung.
Beberapa investor mendadak membatalkan kerja sama pembangunan yang sebelumnya sudah hampir disepakati, sejumlah relasi bisnis mulai menjaga jarak dari pemerintah daerah, bahkan muncul pemberitaan yang perlahan membentuk opini bahwa kepemimpinan Rasyid terlalu emosional dan tidak ramah terhadap investasi.
Di balik layar, orang-orang dekat Rasyid mulai mendengar percakapan bahwa para pemodal besar merasa dipermalukan karena akses keuntungan mereka dipotong secara terbuka oleh kebijakan baru itu. Sebagian dari mereka tidak hanya ingin menghentikan langkah Rasyid, tetapi juga ingin memberi pelajaran agar tidak ada pemimpin lain yang berani melakukan hal serupa di kemudian hari.
Dampaknya perlahan mulai terasa. Beberapa proyek pembangunan melambat karena dana pendamping dari pihak swasta tertahan, tekanan politik dari lawan-lawan lama mulai muncul kembali, dan media-media tertentu mulai mengangkat isu bahwa kebijakan populis Rasyid bisa membuat daerah kehilangan investor dan memperburuk ekonomi. Bahkan di internal pemerintahan sendiri, beberapa pejabat mulai terlihat gelisah dan diam-diam menyarankan agar Rasyid melunak demi menjaga stabilitas.
Namun yang paling terasa bagi Rasyid bukan ancaman terbuka itu sendiri, melainkan kesadaran bahwa kekuasaan ekonomi ternyata jauh lebih panjang jangkauannya daripada yang dibayangkan banyak orang. Mereka tidak perlu menjatuhkan seorang pemimpin secara langsung; cukup membuat pemerintahannya berjalan terseok-seok, maka perlahan kepercayaan masyarakat bisa runtuh dengan sendirinya.
Malam itu, setelah rapat panjang yang melelahkan, Rasyid duduk sendirian di ruang kerjanya dengan wajah letih. Untuk pertama kalinya sejak dilantik, ia benar-benar merasakan beratnya menjadi pemimpin yang mencoba melawan arus kepentingan besar. Tapi di tengah kelelahan itu, ia teringat satu hal yang dulu pernah dikatakan ibunya: bahwa perjuangan yang benar memang sering membuat seseorang berjalan lebih sepi. Dan kini, Rasyid mulai memahami bahwa kemenangan politik hanyalah awal dari pertarungan yang sebenarnya.
Malam semakin larut, tetapi lampu ruang kerja Bupati masih menyala. Tumpukan laporan memenuhi meja Rasyid, pembatalan kerja sama investasi, tekanan dari asosiasi pengusaha, hingga surat protes dari beberapa pihak yang merasa dirugikan oleh kebijakannya. Untuk pertama kalinya sejak menjabat, ia mulai merasakan bagaimana kekuasaan besar bisa bergerak diam-diam namun menghimpit dari segala arah.
Pintu ruang kerjanya kemudian terbuka perlahan. Ami masuk membawa secangkir kopi hangat. Ia tidak langsung berbicara ketika melihat wajah suaminya yang jelas kelelahan.
“Belum mau tidur?” tanyanya pelan.
Rasyid hanya tersenyum tipis. “Masih banyak yang harus dipikirkan.”
Ami meletakkan kopi di meja lalu memperhatikan beberapa dokumen yang terbuka. Meski tidak memahami seluruh permainan politik dan ekonomi di baliknya, ia bisa melihat tekanan yang sedang dihadapi Rasyid jauh lebih besar daripada saat kampanye dulu.
“Mereka mulai menyerang ya?” tanyanya hati-hati.
Rasyid mengangguk pelan. “Investor mulai mundur. Beberapa proyek ditahan. Mereka mau kasih pesan kalau melawan mereka ada harganya.”
Suasana menjadi hening beberapa saat.
“Takut?” tanya Ami kemudian.