“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”
Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.
Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.
Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 - Santriwati Fanatik
Sore itu, langit di atas Pesantren Al-Farizi masih mendung meski hujan sudah reda. Udara terasa dingin dan lembap, bercampur dengan aroma tanah basah dan dupa gaharu yang biasanya menyala di koridor masjid.
Gus Azzam berjalan melewati lorong asrama putri dengan langkah panjang dan cepat. Baju koko putihnya masih setengah basah, menempel di dada dan punggungnya, memperlihatkan siluet tubuhnya yang berisi nam berbatu. Sorbannya sudah dilepas, digenggam di tangan kanan, sementara tangan kirinya memasukkan sesuatu ke dalam saku sebuah baret kecil berwarna pastel yang jatuh dari kepala Naura saat mereka berlari menghindari hujan tadi.
Azzam tersenyum tipis saat jarinya menyentuh baret itu. Aroma parfum floral yang asing di dunianya masih melekat di kain itu. Aroma yang sangat... Naura.
"Gus Azzam!"
Suara melengking itu membuyarkan lamunan Azzam. Ia menghentikan langkahnya, rahangnya sedikit mengeras, sebelum menoleh ke arah sumber suara.
Zahra Humaira berlari kecil mendekat, membawa nampan berisi teko teh hangat dan beberapa gelas. Gadis itu mengenakan jubah hitam lebar dan kerudung syar'i yang menutup dada hingga pinggang, wajahnya manis, bersih, ditutupi oleh cadar tipis yang hanya memperlihatkan sepasang mata cokelat yang melirik sayu. Di mata orang awam, Zahra adalah perempuan shalihah perwujudan santriwati teladan, hafidzah juz 30, dan putri keponakan pengurus pesantren.
Namun di mata Azzam, Zahra adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatnya selalu menjaga jarak.
"Assalamu'alaikum, Gus," sapa Zahra dengan suara yang diatur selembut mungkin, matanya menatap Azzam dengan kerelaan yang tak tersamarkan. "Gus baru pulang? Kena hujan ya? Saya sudah siapkan teh hangat di ruang tunggu ustaz, Gus bisa singgah sebelum—"
"Terima kasih, Zahra. Tapi aku harus ganti baju," Azzam memotong sopan, tak memberi kesempatan percakapan itu memanjang. Ia mengangguk pelan, lalu kembali melangkah.
"Gus, tunggu!" Zahra hampir menjatuhkan nampannya saat melangkah maju, memblokir jalan Azzam. Matanya mengunci pada baju koko basah pria itu, lalu turun ke tangan Azzam yang menyembunyikan sesuatu di saku. "Baju Gus basah... nanti Gus sakit. Biar saya—"
"Aku bisa urus diriku sendiri, Zahara." Suara Azzam kini lebih tegas. Ketenangannya mulai menipis. "Dan ingat, ini lorong putra. Santriwati tidak seharusnya berada di sini."
Wajah Zahra memerah, namun ia tidak mundur. Genggamannya pada nampan menguat hingga buku-buku jarinya memutih. "Saya hanya khawatir, Gus. Selama ini saya selalu mendoakan Gus... dan saya dengar... saya dengar rumor bahwa Gus akan menikah?"
Azzam menatap Zahra dengan pandangan yang tak terbaca. Ia tahu rumor menyebar cepat di pesantren, apalagi soal wasiat kakeknya.
"Rumor atau bukan, itu urusanku dengan keluarga," jawab Azzam tenang. Ia berusaha melangkah membelah Zahra, namun gadis itu berdiri tegak.
"Tapi Gus, dengan siapa?" Suara Zahra bergetar, nada manisnya retak. "Dengan siapa Gus akan menikah? Bukankah lebih baik Gus menikah dengan perempuan yang sudah mengenal dunia Gus? Perempuan yang faham agama, yang bisa mendampingi Gus di mimbar, yang—"
"Yang seperti siapa, Zahra?" Azzam menatapnya tajam, membuat Zahra tertegun. "Perempuan yang kuingat bukan yang paling fasih membaca kitab, tapi yang hatinya paling lembut saat menyentuh tanah dan anak-anak."
Hati Zahra tertikam. Kata-kata itu terasa seperti tamparan. Sejak kecil ia menghabiskan waktu menghafal ayat, memperindah bacaannya, berdandan ala pesantren semuanya untuk satu tujuan, menjadi istri Gus Azzam. Dan sekarang, pria itu berkata dia mencari kelembutan hati, bukan kefasihan lisan?
"Gus... apakah benar Gus akan menikah dengan Naura Aleesha?" Nama itu meluncur dari bibir Zahra dengan getar benci yang tak bisa disembunyikan. "Putri pengusaha itu? Gadis modern yang tidak berhijab? Yang hidupnya penuh maksiat duniawi?"
Mata Azzam menyipit. Auranya yang biasa teduh kini bergeser menjadi sesuatu yang mengintimidasi. Ia mengambil selangkah maju, menatap Zahra dari ketinggiannya.
"Jaga perkataanmu, Zahra. Berbicara soal aib orang lain di belakang mereka adalah dosa yang sangat dibenci Allah. Kamu santriwati teladan, seharusnya kau lebih tahu adab."
Zahra terkesima, matanya membesar. Ia belum pernah ditegur seperti itu oleh Gus Azzam. Pria itu selalu lembut, selalu sopan. Tapi menyebut nama Naura saja sudah cukup membuatnya kehilangan kesabaran.
"Tapi dia tidak pantas untuk Gus!" protes Zahra, air matanya mulai menggenang. "Aku yang selalu ada di sini! Aku yang selalu menunggu Gus selesai ceramah! Aku yang—"
"Zahra." Azzam memotong dengan suara dingin bak es. "Ikhlaslah. Posisimu bukan di sini menungguku, melainkan di atas sajadahmu memurnikan niatmu pada Allah. Jangan sampai cintamu padaku justru menyeretmu ke dalam neraka hasad."
Azzam tidak menunggu respons lagi. Ia membelah tubuh Zahra dan melanjutkan langkahnya, meninggalkan gadis itu berdiri membeku di lorong yang dingin.
Zahra menatap punggung yang menjauh itu. Air matanya tumpah, bergulir di pipinya yang ditutupi cadar. Tangannya yang memegang nampan bergetar hebat.
"Tidak pantas?" batin Zahra, giginya mengatup penuh dendam. "Perempuan itu yang tidak pantas! Perempuan yang tidak kenal batas agama, yang menampakkan auratnya, yang hidup di lumpur duniawi bagaimana bisa dia berdiri di samping Gus Azzam yang suci?!"
Nampan di tangannya terlepas, jatuh ke lantai keramik dengan bunyi berisik. Gelas-gelas pecah, teh tumpah membasahi ujung jubahnya. Tapi Zahra tak peduli. Ia hanya menatap ke arah Azzam yang menghilang di balik pintu, dengan mata yang kini berubah dari sedih menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap.
"Jika perempuan itu datang ke pesantren ini," bisik kebencian di hati Zahra, "aku akan memastikan ia menyesal pernah dilahirkan."
.
.
.
Malam harinya, di kamar tidur Naura.
Naura duduk bersila di atas kasur, memandangi terrarium sukulen di meja nakasnya dengan perasaan yang sangat campur aduk. Ia masih memakai sweater oversized miliknya, rambutnya masih setengah basah, dan di pangkuannya terdapat sebuah buku harian merah muda yang halamannya masih kosong.
Ia mengambil pulpen, lalu mulai menulis.
Hari Ini. Aku bertemu dengan pria yang mencoba merampas kebebasanku lagi. Dan dia membawa hadiah. Seekor tanaman dalam kaca. Siapa sangka, seorang Gus yang hidupnya diisi kitab kuning bisa membuat karya seni seekok itu?
Dia memberiku jubahnya saat hujan turun. Dia berdiri di sana, basah kuyup, hanya agar aku tidak kehujanan. Siapa yang melakukan hal sepelik itu di abad ke-21 ini? Pria dari novel-novel yang kubaca?
Aku benci ia membuatku bingung. Aku benci ia tidak marah saat aku menolaknya. Aku benci cara dia menatapku seperti aku adalah teka-teki yang ingin ia pecahkan, bukan masalah yang harus ia selesaikan.
Dan yang paling kubenci... adalah betapa harumnya jubahnya saat mengenakanku. Aroma attar, hujan, dan sesuatu yang sangat maskulin. Aroma yang membuatku tidak bisa berhenti memikirkannya.
"Astaga, Naura. Lo sedang jatuh cinta pada musuhmu? Nggak. Mustahil." Naura memutup pulpen itu dan mendecakkan lidah kesal. Ia menutup buku harian itu dengan kasar dan melemparkannya ke bawah bantal.
Di meja nakas, ponselnya bergeta. Pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Naura mengerutkan dahi, membuka pesan itu.
[Foto]
Jantung Naura berhenti berdetak.
Itu adalah foto screenshot dari akun media sosial. Terlihat sebuah postingan dari akun fanpage pesantren. Fotonya adalah dirinya Naura.saat berdiri di taman belakang rumahnya sore tadi, mengenakan celana pendek dan kaus oblong, menyiram bunga. Tepat sebelum hujan turun. Foto itu diambil dari jauh, mungkin dari luar pagar.
Dan di bawahnya, ada ratusan komentar dari akun-akun yang jelas merupakan santriwati pesantren.
"Inikah calon istri Gus Azzam? Astaghfirullah, auratnya..."
"Gus Azzam terlalu suci untuk perempuan seperti ini."
"Haram, perempuan modelan gini yang jadi penghancur pesantren nantinya."
"Kakak Zahra jauh lebih pantas. Kenapa harus dia?"
Tangan Naura gemetar. Ponsel itu terasa sangat dingin di genggamannya. Nafasnya memburu. Siapa yang mengambil fotonya? Siapa yang menyebarkannya? Dan siapa... Zahra?
Mata Naura terpaku pada nama yang disebut berulang-ulang di kolom komentar itu. Zahra. Perempuan yang dianggap lebih pantas menjadi istri Gus Azzam.
Perasaan aneh menyembul di dada Naura. Bukan sedih. Bukan marah. Tapi sesuatu yang panas, tajam, dan sangat familiar.
Cemburu.
Naura melempar ponselnya ke kasur dan memejamkan mata, berusaha menekan debaran di dadanya.
"Kelakuan orang pesantren ternyata tidak seindah yang kubayangkan," batinnya pahit. "Mereka pandai membaca kitab, tapi belum tentu pandai menjaga lisan."
Naura memeluk lututnya, merasa kamar yang hangat ini tiba-tiba menjadi sangat dingin. Jika ini baru permulaan, bagaimana nanti jika ia benar-benar menjadi bagian dari dunia mereka? Apakah ia cukup kuat?
.
.
.