Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.
Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.
pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.
tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.
tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....
karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 5 : Jalan Tol bernama Meta
*Ep 5: Jalan Tol Bernama Meta*
Pukul 03.47.
Indry masih duduk di teras kos Karawaci. Lampu lorong mati sebelah, jadi bayangan tiang jemuran ikut goyang-goyang. Di dalam, Ogah ngorok pelan. Meta ngorok kencang, sampai suara Matarmaja yang baru aja dia tinggalin dua jam lalu kalah telak.
HP masih di tangan. Chat Zaki belum ditutup:
“Kamu ngilang 15 tahun, Ndry.”
Lima belas tahun. Nggak sehari. Nggak setahun.
Tas besar Zaki masih di sudut kamar. Uangnya belum dihitung. Rosario pink muda udah nggak di leher. Sekarang di saku kemeja Zaki, entah disimpan di mana.
Indry peluk lutut. “Lima belas tahun, Tuhan. Lima belas.”
---
Pikiran Indry melayang jauh.
Ke berbagai perjalanan hidupnya slama ini,
kadang lamunan tentang Zaki di gang kecil di sudut Kalimantan yang lain. ke rumah kayu Bu Inah, ke waktu hidup masih manis manisnya bersama Cowok Manis itu, penjual Martabak Terang Bulan.
Kadang pandangan ke kampung halaman, waktu hidup lagi rame dan penuh suka cita.
_________
2003-2004 Indry masih SMP . Rambut dikepang dua, aktif di Remaja paroki, Putri Altar. Cita-citanya sederhana: jadi dokter. Biar naik satu tingkat dari Ayahnya. Indry masih tinggal di asrama waktu itu, kalo pulang kampung liburan sekolah, slalu ikut kemanapun Ayah nya pergi. Memang kesukaannya jadi ekor Ayah sedari kecil.
Pak Andre, perawat Polindes Desa Sungi. Kalau ada pasien nggak mampu, pulangnya malah dikasih telur sama beras dari dapur sendiri. Kalau pasien mampu, pulangnya titip ayam, kambing, bahkan anak anjing. Rumah Indry jadi kebun binatang mini.
Mama, Bu Bertari, buka warung sembako kecil di depan rumah.
Anak-anak ada enam. Indry paling tua. Adik - adiknya Carel, Paul, Deoni, Mauba, dan Ogah yang masih 2 tahun, mata sipit kulit kuning langsat, lucu banget.
_______
Ingat suasana akrab masa bersama Zaki,
Tamat SMA Indry cari kerja di kota yang jauh dari kampung halamannya.
Zaki waktu itu baru 2 tahun pulang nyantri. Bantu Pak Lek nya jualan martabak terang bulan malam-malam. Kontrakannya 3 rumah dari Bu Inah.
Ketemu Indry karena Bu Inah nyuruh Zaki benerin pompa air yang ngadat.
“Kamu nggak takut ya deket-deket tempat aku doa?” tanya Zaki waktu lihat Indry duduk di teras sambil pegang rosario.
“Tuhan aku nggak ngusir orang, Zak,” jawab Indry sambil senyum kecil.
Zaki garuk kepala. “Kamu doa sambil denger dzikir ya.”
“Nggak ganggu kok. Tuhan kami satu.”
Dari situ mereka akrab. Ngobrol apa aja di teras Bu Inah. Tentang kerja, tentang keluarga, tentang Tuhan yang mereka percayai dengan cara berbeda. Zaki lihat Indry yang kerja padat, jaga adik, tapi masih sempat ikut pelayanan OMK gereja. Rosario pink muda itu nggak pernah lepas.
Indry pikir, mungkin kalau hidup jalan biasa, mereka bisa lebih dari sekadar teman gang.
---
Tapi hidup nggak jalan biasa.
Oktober 2005, Pak Andre nggak pulang dari Polindes. Serangan jantung saat jaga malam, meninggal sendiri. Indry baru kelas 1 SMA. Dunia runtuh.
Tanggung jawab jatuh ke pundaknya. Mama syok, warung sembako makin sepi, adik-adik masih sekolah ada juga masih kecil.
Malam pemakaman, Meta datang bawa nasi bungkus dan muka kusut. Aneh si Meta, di rumah duka disediain banyak makanan malah bawain Indry nasi bungkus.
“Dry, lu nggak sendiri. Ada gue. Ada Tuhan. Kita jalan bareng.”
Kalimat itu yang bikin Indry nggak tenggelam. Meta jadi satu-satunya yang nggak pergi.
---
Tahun-tahun setelah Ayah pergi makin berat.
Semenjak Ayah Indry gak ada, Mama nya keadaannya gak baik, keuangan juga semakin sulit. Utang banyak.
Adik Adik yang Kuliah, SMA, SMP,
Warung sembako yang juga kurang terurus.
Deoni mulai sakit, dari demam nggak turun-turun. Awalnya dibilang tipes. Tapi makin kurus, makin pucat, sendi bengkak. Dokter RSUD bilang leukimia.
Indry nggak tinggal di kampung karna kerja, Dia kerja tiga tempat: subuh bikin kue titip warung, pagi-sore admin dealer motor, malam jaga apotek. Sabtu-Minggu kerja dadakan apa aja.
Namun slalu sempatkan waktu buat bolak balik pulang kampung di sela bisa meninggalkan kerjaan, sabtu Minggu atau ambil Izin.
Karna sulit bolak balik maka Deoni diboyong rawat di kota dimana Indry bekerja, ada besty spek malaikat si Meta yang bantu jaga kalo pas ada waktu.
Mama terpaksa ditinggal dengan keadaannya yang sebenarnya gak bisa dibiarin sendiri, walau ada adik yang lain juga.
Carel kuliah akuntansi di Pontianak. Paul kuliah di Malang. Kirim 800 ribu sebulan plus pensiun Ayah. Nggak cukup buat berempat, apalagi Mauba udah mau SMP.
Meta waktu itu kosnya deket RSUD.
“Dry, gue jagain Deoni malam ini. Lu tidur. Lu pingsan di pojokan tadi.”
Indry nolak. “Gue nggak bisa tidur.”
Meta nyeret Indry ke mushola RS. “Novena dulu. Terus tidur. Tuhan nggak butuh lu pingsan buat nolong Deoni.”
"Ngapain di mushola, sholat kali gua" Meta ngakak aja,
"Kali lu ketemu Zaki biar lelah mu menguap..... "
"Ada aja lu... " Sungut Indry, emang besty nya ni suka ngayal dan aneh seringnya.
Tiga tahun Deoni dirawat. Kemoterapi. Tapi dia masih rajin banget doa Rosario. Slalu belajar walaupun sambil nahan pake tissue tetesan darah dari hidung yang sewaktu waktu mengalir begitu saja.
“Ka, kalau aku mati, jangan nangis ya. Bapak di surga sepi. Aku temenin.”
2015 Deoni pergi. Usia 15 tahun. Setelah Kemoterapi yang terakhir. Indry ditemani Meta dan Romo Leo saat itu.
Makamnya di samping Ayah.
Indry nggak kerja dua minggu. Nggak makan. Nggak doa.
Meta dateng bawa ember dan sapu.
“Udah. Nangis cukup. Sekarang kerja. Deoni nggak mau liat Kakaknya mati pelan-pelan.”
---
Tahun berikutnya Mama yang makin pelupa. Masak kue pisang gosong. Lupa nama sendiri. Udah gak bisa ngapa ngapain. Lalulah di ajak tinggal bareng di kota, adik adik pada di angkut. Dokter bilang stres berat, hipertensi, komplikasi liver.
Tambah pengeluaran lagi, bolak balik Rumah sakit,
“Kakak kuat, kakak bisa?” kata Mama. Itu kata yang sering mama ucap, entah apa maksudnya, aku anggap itu Doa mama secara gak sadar terus terusan diucapin.
Sampai masuk RS yang terakhir, di ruang ICU pun kata itu terus diucap dalam keadaan yang udah gak sadar lagi.
2017, Mama meninggal di pelukan Indry. Setelah didoakan dan diberi Minyak Suci Romo Leo.
“Kak... ... bisa...”
itu kata terakhir
Meta lagi yang ngurus pemakaman.
Yang nyeret Indry daftar kerja di klinik.
Yang jadi bank darurat kalau adik butuh SPP.
---
2017 sampai 2021 itu tahun-tahun salib.
Indry kepala keluarga: Carel, Paul, Mauba, Ogah.
Carel kuliah sambil kerja. Paul juga. Mauba masuk pertanian ikut Paul ke Malang. Ogah baru SMP.
Semua butuh uang. Kos, SPP, seragam, obat asma Indry. Gaji klinik pas-pasan. Kirim ke Malang, bayar kos, sisanya hemat banget.
Nggak ada waktu pacaran. Nggak ada waktu nonton bioskop. Nggak ada waktu mikirin Zaki.
FB Indry dihapus. Nomor ganti.
“Aku nggak mau Zaki lihat aku hancur,” kata Indry ke Meta.
Meta nggak pernah pergi. Jadi sopir, tukang ojek, tukang curhat, tukang pukul kalau Indry mau nyerah.
Zaki?
Setelah Indry pindah kontrakan, Zaki masih sering nanya kabar ke Bu Inah.
“Bu, Indry gimana?”
Bu Inah cuma geleng. “Udah pindah, Zak. Nggak ada yang tahu ke mana.”
Zaki pernah cari. Nggak ketemu. Nomor ganti. FB hilang.
Dia simpan akun FB lama “ZakiZt”. “Siapa tahu dia nyari.”
---
Kembali ke teras kos Karawaci, 2026.
Indry buka galeri HP. Foto Ayah pakai seragam perawat, senyum lebar. Foto Deoni pakai kebaya merah hari Kartini, pegang rosario kecil. Foto Mama pegang loyang kue pisang gosong.
Meta keluar bawa dua gelas teh manis.
“Ngapain nggak tidur? Nanti besok lu kayak zombie. Zaki bisa kabur lagi.”
Indry ketawa pelan. “Lu tuh nggak bisa lima menit nggak becanda.”
Meta duduk. “Kalau gue diem, lu mikir berat. Kalau lu mikir berat, lu nangis. Kalau lu nangis, gue ikut nangis. Males gua rusah hari ceria gua aja liat muka lu becek”
Indry cerita pelan. Tentang Ayah yang ngajarin “bantu orang nggak peduli agama”. Tentang Deoni yang bilang Ayah sepi di surga. Tentang Mama yang kata nya ulang ulang.
Meta nimpuk sandal. “Jangan drama! Mereka bangga sama lu.”
Indry tatap tas Zaki. “Gue takut, Met. Gue takut kalau gue terima ini semua... gue bakal kecewa lagi.”
Meta pegang tangan Indry. “Kalau lu nggak terima, lu udah kecewa dari sekarang. Zaki nggak minta dibalas. Dia cuma minta lu hidup.”
---
Pagi jam 06.30, Ogah bangunin Indry.
“Kak, Carel kirim 100 ribu. Paul 150 ribu.”
Indry bangun, mata bengkak. “Buka tas Zaki ya. Kita itung bareng.”
Isinya 10 juta. Cukup buat kos tiga bulan, SPP Ogah, obat asma, beli kulkas kecil.
“Kak, siapa yang kasih?” tanya Ogah pelan.
Indry jawab jujur. “Teman lama Kakak. Dia Muslim. Dia baik.”
Ogah angguk. “Kalau dia baik, terima aja Kak. Ayah pasti setuju.”
Siang di klinik, tiap ada pasien nggak mampu, Indry inget Ayah. Inget Deoni. Inget Zaki.
Dia nggak ngasih diskon. Dia ngasih waktu. Senyum. Doa.
Itu warisan Ayah. Itu permintaan Deoni. Itu yang Zaki kasih tanpa diminta.
Malam jam 23.00, Indry buka notes HP. Zaki belum chat.
Dia tulis pelan:
_Tuhan,
Kalau ini ujian, aku nggak kuat.
Tapi kalau ini harapan, aku takut.
Ayah, Deoni, Mama... kalau kalian lihat aku sekarang, kalian bangga nggak?
Aku capek. Tapi aku nggak nyerah.
Terima kasih udah kasih aku Meta. Jalan tol yang nggak pernah macet.
Terima kasih udah kasih aku Zaki. Rosario pink muda yang ngajarin aku arti hormat.
Aku nggak tahu besok gimana.
Tapi hari ini... aku masih berdiri._
Dia pencet simpan. Hujan gerimis di luar. Indry akhirnya tidur.
Tanpa mimpi. Tanpa takut. Cuma lelah yang jujur.
---
*Garis alur Indry-Zaki biar nggak bingung:*
2009: Ketemu di gang Bu Inah. Akrab, tapi belum pacaran. Dekat tapi tanpa status. Zaki tahu beban keluarga Indry, Dari bu Inah dan dari Meta besty Indry yang kadang ember bocor kalo dah kenal. Juga dari cerita Indry.
2011 Deoni sakit, pindah kontrakan lalu mulai jarang ada kabar dengan Zaki, Indry perlahan menjauh, bukan karna ingin, tapi memang gak ada waktu.
3.2015 Deoni lalu meninggal dan Mama mulai sakit, gak pernah ketemu Zaki lagi,
4.2017 Mama meninggal. Kontak Zaki sudah lama putus. FB dihapus, nomor ganti.
Dari saat saat itu, Indry jadi kepala keluarga. Zaki cari, nggak ketemu. Dia simpan FB lama, nunggu.
2026: Tiba tiba Indry kirim pesan d FB, "Zaki,aku di Malang, Wisuda adik ke 3 aku. "......
Kereta Matarmaja lewat Tegal. Zaki lihat jadwal 20 menit. Dia datang.
Jadi 15 tahun “ngilang” itu bukan benci. Tapi karena hidup Indry ketiban salib terlalu berat. Sekarang Zaki datang lagi.