NovelToon NovelToon
Cinta Sesuai Takdir

Cinta Sesuai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.

Sampai suatu malam…

orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.

Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.

Namun di malam yang sama—

dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.

Lorenzo Moretti.

Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.

Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.

Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—

dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.

Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.

Dia salah.

Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.

Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 — Orang-Orang yang Bergerak di Balik Bayangan

Bab 29 — Orang-Orang yang Bergerak di Balik Bayangan

Malam di mansion Moretti terlihat tenang.

Tapi itu cuma dari luar.

Di dalam, semua orang bergerak lebih cepat dari biasanya.

Penjaga bertambah.

Pemeriksaan diperketat.

Setiap orang yang masuk dan keluar diperiksa dua kali.

Dan semua itu…

karena satu pita rambut.

Marco berdiri di ruang keamanan sambil memperhatikan puluhan layar monitor.

Tangannya memegang kopi yang sejak tadi tidak diminum.

Matanya menelusuri rekaman satu per satu.

Jam demi jam.

Tidak ada hasil.

Tidak ada orang asing.

Tidak ada pergerakan mencurigakan.

Dan justru itu yang membuatnya tidak nyaman.

Kalau seseorang bisa masuk, mengambil barang Amelia, lalu keluar tanpa jejak…

berarti mereka bukan orang biasa.

Pintu ruang keamanan terbuka.

Salah satu anak buah masuk.

“Pak Marco.”

Marco tidak menoleh.

“Ada?”

Pria itu menyerahkan map.

“Kami cek semua staf. Tidak ada identitas palsu.”

Marco mengambil map itu.

Diam beberapa detik.

Lalu bertanya,

“Kalau orang luar?”

Pria itu menggeleng.

“Tidak ada.”

Marco menutup map.

“Berarti orang dalam.”

Ruangan langsung sunyi.

Pria itu sedikit kaget.

“Pak?”

Marco tersenyum tipis.

Tapi matanya dingin.

“Kalau tidak ada yang masuk…”

Dia meletakkan map.

“…berarti sudah ada di dalam.”

Di tempat lain.

Gedung tua.

Lampu redup.

Ruangan besar dipenuhi asap rokok.

Beberapa pria berdiri diam.

Tidak ada yang bicara.

Di ujung ruangan…

seorang pria sedang duduk sambil memainkan cincin burung hitam di jarinya.

Wajahnya tertutup bayangan.

Salah satu anak buah maju.

“Tuan.”

Pria itu tidak menjawab.

“Pesan sudah sampai.”

Baru kali ini pria itu bergerak sedikit.

“Reaksinya?”

Anak buah itu menjawab,

“Moretti memperketat penjagaan.”

Pria itu tertawa pelan.

Tawa kecil.

Tapi tidak hangat.

“Bagus.”

Sunyi.

Lalu dia bertanya lagi.

“Gadisnya?”

Anak buah diam sebentar.

“…lebih tenang dari dugaan.”

Pria itu berhenti memainkan cincin.

“Menarik.”

Dia berdiri.

Tinggi.

Dan dari cara semua orang menunduk…

jelas dia bukan orang biasa.

Dia berjalan pelan menuju jendela.

Di luar hanya ada kota yang gelap.

Suara rendahnya terdengar.

“Dia tidak terlihat seperti orang yang tahu apa yang dia lihat.”

Anak buah bertanya hati-hati,

“Kalau begitu kenapa kita tetap ambil risiko?”

Pria itu tersenyum kecil.

Lalu menjawab—

“Karena aku ingin tahu…”

Dia berhenti sebentar.

“…kenapa Lorenzo Moretti mulai berubah.”

Ruangan mendadak sunyi.

Pria itu kembali melihat cincin di tangannya.

“Dan gadis itu…”

Tatapannya sedikit turun.

“…adalah jawabannya.”

Sementara itu…

Di sisi lain kota.

Romano sedang marah besar.

Suara pecahan gelas memenuhi ruangan.

Brak!

“Tidak berguna!”

Beberapa anak buah langsung menunduk.

Romano berjalan mondar-mandir.

Wajahnya penuh emosi.

“Awalnya cuma mau hancurkan Moretti…”

Dia menendang kursi.

“Sekarang malah ada Black Raven!”

Salah satu anak buah bicara pelan.

“Tuan… apa kita mundur dulu?”

Romano langsung menoleh tajam.

“Mundur?”

Dia tertawa sinis.

“Aku benci Lorenzo.”

Tatapannya berubah dingin.

“Tapi aku lebih benci dijadikan pion.”

Sunyi.

Romano akhirnya duduk.

Berpikir.

Lalu berkata pelan.

“Cari informasi.”

Anak buah mengangguk.

Romano mengetuk meja perlahan.

“Kalau Black Raven masuk…”

Dia tersenyum kecil.

“…berarti ada sesuatu yang jauh lebih besar.”

Dan entah kenapa…

instingnya mengatakan—

semuanya berhubungan dengan gadis desa itu.

Kembali ke mansion.

Marco akhirnya keluar dari ruang keamanan.

Lorong sepi.

Saat melewati balkon—

dia melihat seseorang.

Lorenzo.

Pria itu berdiri sendiri.

Tatapannya ke taman.

Marco berjalan mendekat.

“Masih belum tidur?”

Lorenzo tidak menoleh.

“Ada hasil?”

Marco bersandar.

“Belum.”

Sunyi.

Lalu Marco bertanya santai.

“Kau sadar?”

Lorenzo melirik.

Marco tersenyum kecil.

“Kau berubah.”

Lorenzo diam.

Marco lanjut.

“Dulu kalau ada ancaman, kau pindahkan target.”

Dia melihat ke arah kamar Amelia di lantai atas.

“Sekarang kau malah mempertahankannya.”

Lorenzo tidak menjawab.

Marco tertawa kecil.

“Lucu juga.”

Beberapa detik berlalu.

Lalu Lorenzo bicara.

“…dia tidak cocok dengan dunia ini.”

Marco mengangkat alis.

“Tapi?”

Tatapan Lorenzo kembali ke taman.

Suara rendahnya pelan.

“…aku juga tidak ingin dia keluar dari dunia ini.”

Marco diam.

Lalu menghela napas.

Selesai.

Bosnya sudah masuk terlalu jauh.

Dan tepat saat itu—

suara langkah kecil terdengar.

Keduanya menoleh.

Amelia berdiri di ujung lorong.

Masih memakai jas Lorenzo.

Dia terlihat bingung.

“Aku… tidak bisa tidur.”

Marco langsung menahan senyum.

Sementara Lorenzo hanya diam beberapa detik.

Lalu berjalan mendekat.

Tatapannya melembut sedikit.

“Ada apa?”

Amelia ragu.

Lalu pelan berkata.

“…aku mimpi buruk.”

Sunyi.

Dan tanpa Amelia sadar—

tatapan Lorenzo langsung berubah.

Seolah semua urusan dunia bisa menunggu.

Marco melihat itu lalu menghela napas.

Kemudian berbalik pergi.

Sebelum pergi dia bergumam kecil.

“Sudah selesai. Bos ini nggak bisa diselamatkan lagi.”

Namun tidak ada yang mendengar.

Karena saat itu—

untuk pertama kalinya—

Lorenzo mengangkat tangan dan berkata pelan pada Amelia:

“Kalau kau takut…”

Dia berhenti sebentar.

Lalu melanjutkan.

“…aku di sini.”

Dan malam itu—

di balik perang yang mulai bergerak—

ada sesuatu yang mulai tumbuh diam-diam.

Amelia berdiri diam di lorong.

Tangannya masih menggenggam ujung lengan jas yang dipakai.

Dia sendiri tidak tahu kenapa keluar kamar.

Mungkin karena mimpi tadi.

Atau mungkin…

karena setelah semua yang terjadi, dia mulai tidak suka sendirian.

Lorenzo berdiri di depannya.

Tatapannya tetap tenang.

“Masih kepikiran kejadian tadi?”

Amelia diam sebentar.

Lalu mengangguk kecil.

“Sedikit…”

Lorenzo memperhatikannya.

Wajah Amelia memang terlihat lelah.

Lingkar matanya samar.

Dan ada sesuatu yang tidak biasa—

gadis itu terlihat sedang menahan takut.

Biasanya dia berusaha terlihat baik-baik saja.

Tapi malam ini tidak.

Lorenzo membuka suara lagi.

“Apa mimpinya?”

Amelia sedikit ragu.

Lalu berkata pelan.

“Aku mimpi… aku dibawa pergi.”

Tatapan Lorenzo langsung diam.

Amelia lanjut bicara pelan.

“Terus aku cari jalan pulang…”

Dia tersenyum kecil.

“Tapi aku lupa rumahku yang mana.”

Sunyi.

Angin malam masuk pelan dari balkon.

Amelia menunduk.

“Aneh ya…”

Suara gadis itu makin kecil.

“Padahal dulu aku pengen banget pulang…”

Dia menggenggam jas itu sedikit lebih erat.

“…tapi sekarang malah takut pergi.”

Lorenzo diam cukup lama.

Lalu akhirnya berkata,

“Tidak aneh.”

Amelia mengangkat wajah.

Lorenzo melihat ke luar jendela.

Suaranya rendah.

“Orang akan takut kehilangan tempat yang membuatnya merasa aman.”

Deg.

Amelia langsung diam.

Karena entah kenapa…

kalimat itu terasa lebih dalam dari yang seharusnya.

Dan Lorenzo sendiri seolah sadar dia bicara terlalu banyak.

Dia mengalihkan pandangan.

“Kalau tidak bisa tidur, jangan sendiri.”

Amelia berkedip.

“Hah?”

Lorenzo berjalan melewati Amelia.

Lalu berkata tanpa menoleh.

“Ruang baca masih buka.”

Amelia diam beberapa detik.

Lalu tanpa sadar berjalan mengikuti.

Di sisi lain mansion.

Marco belum tidur.

Dia berdiri di balkon lain sambil menelpon seseorang.

“Awasi semua gerbang.”

Suara di seberang menjawab.

Marco diam beberapa detik.

Lalu bertanya,

“Ada pergerakan?”

Jawaban singkat.

Marco menutup telepon.

Lalu bersandar sambil menatap langit.

Dia teringat sesuatu.

Bertahun-tahun lalu.

Saat pertama kali ikut Lorenzo.

Pria itu bukan dingin.

Tapi kosong.

Tidak marah.

Tidak sedih.

Tidak peduli.

Semua hanya pekerjaan.

Sampai hari ini.

Hari saat Lorenzo hampir kehilangan kendali cuma karena Amelia disentuh orang lain.

Marco tertawa kecil sendiri.

“Gadis desa…”

Dia menggeleng.

“…kau bahkan tidak sadar sudah mengubah monster itu.”

Tapi senyum kecilnya perlahan hilang.

Karena dia juga tahu—

perubahan seperti ini berbahaya.

Semakin Lorenzo peduli…

semakin besar kelemahannya.

Dan dunia mereka…

tidak pernah memaafkan kelemahan.

Sementara jauh di luar mansion…

sebuah mobil hitam berhenti.

Seseorang duduk di kursi belakang.

Tangannya memainkan pita rambut yang identik dengan milik Amelia.

Pria itu tersenyum kecil.

Lalu berkata pelan—

“Menarik.”

Tatapannya mengarah ke mansion Moretti yang terlihat jauh.

“Kalau ini terus berkembang…”

Dia berhenti sebentar.

Lalu tersenyum lagi.

“…Lorenzo akan menghancurkan dirinya sendiri.”

Mobil kembali berjalan.

Meninggalkan malam yang tenang.

Tanpa seorang pun sadar—

permainan sebenarnya…

baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!