NovelToon NovelToon
Magic Knight: Sunder-soul

Magic Knight: Sunder-soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Antagonis
Popularitas:110
Nilai: 5
Nama Author: Arion Saga

Arion adalah seorang pemuda biasa yang terobsesi dengan novel fantasi populer berjudul Magic Knight, ia bukan penggemar pahlawan suci kerajaan Ashford, namun seorang antagonis yang namanya samapersis Arion. Arion didalam cerita novel, merupakan seorang antagonis yang dikhianati oleh kerajaannya sendiri, ia putra mahkota yang dilengserkan karena alasan Arion terlalu kejam dan tidak layak untuk menduduki tahta, namun kenyataannya para petinggi istana taku akan kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Saga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Malam Berdarah 2 (Bagian 2-Bayangan Kejam)

Di dalam kamar Raja yang kini berlumuran darah ksatria elit, pertarungan antara Nyx dan Vorg memasuki level yang lebih mengerikan.

Vorg, yang kini telah berubah menjadi sosok beruang raksasa setinggi tiga meter dengan bulu hitam legam, menggeram hingga menciptakan getaran yang meretakkan porselen di ruangan itu.

Namun, di hadapan monster tersebut, Nyx seolah kehilangan berat tubuhnya. la tidak lagi sekadar berlari; Nyx seolah terbang, meluncur dari satu sisi ke sisi lain dengan gerakan yang begitu halus hingga ia tampak seperti asap hitam yang ditiup angin.

Setiap kali Nyx melesat, belati hitamnya menyambar dengan presisi mematikan, mengincar titik-titik saraf vital di balik otot tebal Vorg.

Sret! Sret!

Suara gesekan tipis terdengar seat ujung belati itu mencoba menembus pertahanan saraf di leher dan persendian Vorg.

Namun, Vorg bukan sekadar komandan karena ukuran tubuhnya.

Insting binatangnya sangat tajam.

Dengan raungan buas, ia mengayunkan cakar raksasanya secara horizontal, menciptakan tebasan angin yang menghancurkan pilar-pilar tempat tidur raja.

"Berhenti bergerak, tikus kecil!" raung Vorg frustrasi.

Nyx tidak menjawab.

Saat cakar itu hampir merobek kepalanya, sosoknya mendadak memudar-menghilang menjadi bayangan- dan dalam kedipan mata, ia sudah muncul kembali tepat di belakang punggung Vorg.

Alih-alih menyerang balik dengan brutal, Nyx justru menunjukkan dominasi mental yang luar biasa. la mendarat dengan ujung kaki tanpa suara, lalu berjalan dengan santai di belakang punggung monster yang sedang mengamuk itu. la melangkah dengan ritme yang tenang, memainkan belatinya di antara jemari, seolah ia tidak sedang berada dalam pertempuran hidup dan mati, melainkan sedang berjalan- jalan di taman pribadinya.

Setiap kali Vorg berbalik dan menghantamkan tinjunya ke lantai hingga marmer hancur lebur, Nyx sudah tidak ada di sana.

la kembali muncul di sudut lain, tetap dalam posisi berjalan santai, membiarkan Vorg membuang- buang energinya dalam kemarahan yang sia- sia.

"Kekuatanmu meningkat tiga kali lipat," suara Nyx bergema dari balik topeng, dingin dan datar.

"Namun, apa gunanya kekuatan besar iika kau bahkan tidak bisa menyentuh bayanganku?" Ketakutan mulai merayap di mata merah Vorg.

la menyadari bahwa lawan di depannya tidak sedang kesulitan; Nyx sedang membedahnya secara perlahan, menunggu saat yang tepat untuk mematikan seluruh sistem sarafnya dalam satu serangan final.

Nyx terus bergerak dengan keanggunan yang mematikan, mengubah ruangan megah itu menjadi panggung penderitaan bagi Vorg.

Di setiap gerakannya, Nyx sengaja menyisakan jarak yang sangat tipis, membiarkan cakar Vorg nyaris menyentuh jubahnya hanya untuk menghilang di detik terakhir.

la tidak hanya bertarung; ia sedang mempermalukan seorang legenda.

Vorg, yang biasanya dipuja sebagai pahlawan perang, kini terlihat tak lebih dari preman jalanan yang mengayunkan tinju buta ke arah udara kosong.

Dalam satu kilatan gerakan yang terlalu cepat untuk ditangkap mata, Nyx melesat melewati sisi kanan Vorg.

Sret-BRUAK! Tanpa ada teriakan dramatis, lengan kanan raksasa milik Vorg yang tertutup bulu tebal terlepas dari bahunya, jatuh menghantam lantai marmer dengan suara berat.

Darah menyembur deras, namun Vorg hanya menggeram rendah, menggertakkan taringnya untuk menahan rasa sakit yang luar biasa.

Meski kehilangan satu lengan, insting Beastification-nya masih menolak untuk menyerah.

la kembali menerjang, mengayunkan lengan kirinya yang tersisa dengan sisa tenaga yang ia punya.

"Hei..." suara Nyx terdengar jernih di tengah deru napas berat Vorg.

la menghindari serangan itu hanya dengan memiringkan tubuh sedikit ke belakang.

"Sebenarnya kalian sudah salah karena telah mengusik ketenangan Tuan kami."

Nyx berbicara dengan nada santai, seolah mereka sedang berbincang di kedai teh, bukan di tengah genangan darah.

Setiap kali tinju kiri Vorg menghantam udara, Nyx melangkah mundur atau menyamping dengan presisi yang menghina.

"Walau jujur saja, aku juga harus berterima kasih sedikit padamu," lanjut Nyx, belatinya berputar di jemarinya.

"Karena kebodohan kalian yang menariknya keluar dari pengasingan, aku bisa kembali melihat matahari terbit. Aku tidak perlu lagi membusuk di kegelapan abadi."

Vorg yang bersimbah darah terengah-engah, matanya yang merah menatap Nyx dengan bingung sekaligus murka.

"Apa... apa yang sebenarnya kau bicarakan, dasar iblis?!"

Vorg memang telah hidup cukup lama untuk mendengar sejarah, namun ia selalu meremehkan kabar burung tentang mantan Pangeran Mahkota Arion yang dibuang.

Baginya, berita tentang kembalinya Arion hanyalah informasi sampah yang dilebih- lebihkan oleh para bangsawan yang ketakutan.

"Bukannya pangeran kalian itu sudah sangat lemah? Kabar yang beredar mengatakan dia kehilangan segalanya..."

Vorg meludah darah ke lantai, mencoba mengumpulkan sisa martabatnya.

"Kenapa orang sekuat dirimu... kenapa sosok yang mampu membantai pasukan elit dalam sekejap masih memilih untuk mengikuti pecundang buangan seperti dia?!"

Langkah Nyx mendadak berhenti.

Keheningan yang sangat dingin menyelimuti ruangan itu, bahkan lebih dingin dari kematian itu sendiri.

Nyx menatap Vorg dari balik topengnya dengan tatapan yang membuat sang Komandan Beast merasa jiwanya baru saja dicengkeram es.

"Lemah?"

Nyx mengulangi kata itu dengan tawa kecil yang terdengar mengerikan.

"Kau berkata seperti itu karena kau hanya melihat permukaannya. Kau hanyalah seekor binatang yang baru saja keluar dari sarang, Vorg."

Nyx melangkah maju, membiarkan auranya menekan Vorg hingga sang Komandan terpaksa berlutut karena beratnya tekanan tersebut.

Nyx melangkah mendekat, mengabaikan genangan darah yang membasahi sepatunya. Dengan gerakan yang sangat tenang namun tak terelakkan, ia mencengkeram lengan kiri Vorg-satu-satunya anggota tubuh yang masih tersisa bagi sang Komandan untuk melawan.

Vorg, sang legenda Kerajaan Beast yang kini telah kehilangan keangkuhannya, hanya bisa bersandar pada dinding dengan napas yang terputus-putus. Tubuh besarnya gemetar, bukan hanya karena kehilangan darah, tapi karena ia menyadari bahwa di depan sosok bertopeng ini, ia benar-benar tak berdaya.

la hanya bisa menunggu, menatap dengan mata redup pada apa yang akan dilakukan Nyx selanjutnya.

"Yah... bagaimana kau bisa mengerti?" ucap Nyx dengan nada yang nyaris terdengar kasihan.

"Kau hanyalah seekor binatang, Vorg."

Nyx mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke telinga sang Komandan yang mulai kehilangan kesadaran.

"Tuan Arion... dia jauh lebih dari sekadar seorang pemimpin," bisik Nyx.

la menempelkan ujung belati hitamnya ke pangkal lengan kiri Vorg.

Bukannya menebas dengan cepat, Nyx justru menarik bilah tajam itu secara perlahan dan sangat halus ke belakang.

Suara otot dan tulang yang terpisah terdengar jelas di keheningan ruangan itu.

Vorg mengerang tertahan, rasa sakit yang merayap perlahan jauh lebih menyiksa daripada tebasan instan.

Lengan kiri itu terjatuh ke lantai.

Vorg kini benar-benar kehilangan kedua tangannya, hancur secara fisik dan mental.

"Dia adalah seorang Raja Iblis," lanjut Nyx dengan suara yang penuh pemujaan, seolah gelar itu adalah sesuatu yang paling suci baginya.

Nyx kemudian berdiri tegak, membiarkan tubuh Vorg yang tak lagi berlengan itu merosot jatuh.

la memutar tubuhnya, menatap ke arah Putri Valerica yang sejak tadi meringkuk di sudut ruangan, wajahnya pucat pasi dan seluruh tubuhnya bergetar hebat setelah menyaksikan komandan terkuatnya diperlakukan seperti mainan.

Nyx tidak langsung membunuhnya. la justru menyarungkan salah satu belatinya dan memberikan tatapan yang sangat dingin di balik topengnya.

"Tuan Putri..."

panggil Nyx dengan nada provokatif.

"Apa anda tidak mau kabur? Sekarang adalah satu-satunya kesempatanmu untuk berlari sejauh mungkin, sebelum bayangan Tuan kami benar-benar menelan tempat ini."

Valerica tertegun sejenak, air mata ketakutan mengalir di pipinya.

Tanpa berpikir dua kali, ia bangkit dengan kaki yang lemas, tersandung mayat-mayat ksatria elitnya sendiri, dan berlari keluar ruangan sambil menjerit ketakutan.

Nyx membiarkannya pergi. la tahu, membiarkan mangsa lari dalam ketakutan yang hebat adalah bagian dari rencana untuk menyebarkan teror yang lebih luas.

Kini, perhatiannya kembali ke ruangan yang sunyi, menunggu perintah selanjutnya dari bayangan.

Bersambung...

1
Leon 107
ngak tau lagi apa yang mau dibaca...
Leon 107
pertama...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!