"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Rencana di Balik Tirai Putih
Kelopak mata itu bergerak perlahan, bergetar hebat sebelum akhirnya menampakkan iris cokelat yang masih tampak sayu. Achell terbangun. Hal pertama yang ia rasakan bukanlah rasa sakit di sekujur tubuhnya, melainkan rasa lelah yang amat sangat di jiwanya. Ia melihat langit-langit putih yang asing dan mendengar suara mesin yang membosankan.
Jake, yang sedang duduk di samping ranjang, langsung berdiri. "Achell? Sayang, kau bisa mendengarku?"
Achell menoleh lemah. "Uncle... Jake..."
Di luar ruangan, Julian dan Sophie yang melihat dari balik kaca langsung bersiap masuk dengan wajah lega yang luar biasa. Namun, Achell memberikan isyarat lemah dengan tangannya. Ia hanya ingin berbicara dengan paman kandungnya saja.
Saat itu, Victor sedang tidak ada di sana. Pria itu baru saja pergi keluar untuk pertama kalinya dalam tiga hari, berniat membeli buah-buahan dan makanan terbaik, berharap saat ia kembali, mukjizat itu datang dan ia bisa memberikannya langsung pada Achell.
"Uncle, aku ingin pergi," bisik Achell dengan suara serak.
Jake tersentak, ia memegang tangan Achell erat. "No, no! Jangan bicara begitu. Kamu tidak akan pergi ke mana-mana, Princess kecil. Kamu aman di sini bersama Uncle. Jangan tinggalkan Uncle."
Achell tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung kepedihan mendalam. "Aku baik-baik saja, Uncle. Maksudku bukan pergi meninggalkan dunia ini... aku ingin pergi jauh. Ke luar negeri."
Jake terdiam, menunggu penjelasan keponakannya.
"Aku ingin mengejar cita-citaku menjadi dokter," lanjut Achell.
Jake tertegun. Selama ini ia tahu Achell mengambil jurusan sastra dan perkantoran di asrama karena desakan orang tuanya. Mereka memaksa Achell belajar piano dan tata krama korporat hanya agar ia bisa menjadi "pajangan" yang berguna bagi bisnis keluarga De Alfa di masa depan. Impian Achell sebagai dokter selalu terkubur di bawah keinginan egois mereka.
"Apa kau ingin Uncle menelepon orang tuamu? Memberitahu mereka kau sudah sadar?" tanya Jake hati-hati.
"Tidak, Uncle," jawab Achell tegas meski suaranya pelan. "Mereka tidak peduli padaku, dan aku juga tidak peduli lagi pada mereka. Tiga hari aku koma, dan mereka bahkan tidak muncul di pintu ini, kan?"
Jake hanya bisa menunduk, tak mampu membela kakak kandungnya sendiri. "Lalu bagaimana dengan hari kelulusanmu, sayang? Itu hanya tinggal beberapa bulan lagi."
"Itu tidak penting. Yang terpenting, setelah aku ujian nanti dan tiba hari kelulusanku, aku ingin Uncle yang hadir sebagai waliku. Aku tidak butuh siapa pun lagi." Achell menatap Jake dengan tatapan memohon. "Bantu aku, Uncle. Aku ingin menghilang."
Jake menarik napas panjang. Ia tahu apa maksud 'menghilang' ini. Menghilang dari jangkauan Victor Louis Edward.
"Baiklah. Apapun keinginanmu, Princess. Uncle berjanji akan membiayai sekolah kedokteranmu di luar negeri. Uncle akan mencopot semua akses pribadimu, kartu bank, atau apa pun yang berkaitan dengan Victor. Tapi berjanjilah pada Uncle satu hal," Jake menatap mata Achell dalam-dalam. "Menjauhlah darinya. Jangan pernah menghubunginya lagi sampai kau lulus jadi dokter."
"Aku berjanji, Uncle. Aku juga tidak mau dia tahu ke mana aku pergi nanti," jawab Achell dengan mata yang berkilat penuh tekad. Untuk pertama kalinya, si "Achell yang bodoh" telah mati bersama kecelakaan itu.
Jake mengusap kepala Achell, menyuruhnya beristirahat, lalu melangkah keluar. Di ruang tunggu, Sophie dan Julian langsung menyerbu dengan pertanyaan.
"Bagaimana? Apa dia sudah sadar?" tanya Sophie panik.
Jake memberikan kode rahasia pada mereka, sebuah tatapan yang meminta kerja sama. "Dia masih sangat lemah. Dia belum mau bicara dengan siapa pun. Tolong, bantu aku untuk sementara ini."
Bertepatan dengan itu, pintu koridor terbuka. Victor datang dengan beberapa kantong belanjaan mewah di tangannya. Wajahnya tampak sedikit lebih segar karena harapan yang ia bawa.
"Apa ada perkembangan? Apa dia sudah sadar?" tanya Victor cepat, matanya langsung menuju ke arah pintu kamar ICU.
Jake tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah dan berjalan melewati Victor seolah pria itu transparan. Victor menoleh pada Sophie dan Julian, namun kedua remaja itu serempak menggelengkan kepala dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat, sesuai kode dari Jake.
"Belum, Tuan Edward. Kondisinya masih sama," bohong Julian dengan suara datar.
Victor merosot duduk di kursi tunggu, meletakkan kantong buahnya di lantai dengan lunglai. Ia tidak tahu bahwa di balik pintu itu, gadis yang ia cari sudah sadar dan sedang merencanakan kehidupan baru yang sama sekali tidak melibatkan namanya. Sanksi yang sesungguhnya baru saja dimulai bagi Victor; bukan kematian Achell, melainkan keberadaan Achell yang tak akan pernah bisa ia temukan lagi.