SINOPSIS
Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(•‿•), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Tarian Mawar di Atas Abu
Kepergian Lin Xiao dari Lembah Tabib Hantu tidak dilakukan secara diam-diam. Di bawah langit yang mendung dan berat, ia berjalan keluar dari kabut beracun dengan langkah yang mantap, diikuti oleh Kepala Paviliun Gu yang tampak terpana dan Yun'er yang memegang ujung jubah kakaknya dengan erat. Rambut Lin Xiao kini kembali hitam legam, namun matanya memancarkan kedalaman ungu yang mampu membuat nyali siapa pun menciut. Di depannya, ribuan prajurit Garda Phoenix yang dipimpin oleh Jenderal barisan depan klan Feng, Feng Hu, berdiri membeku.
Feng Hu adalah seorang pria dengan bekas luka besar di wajahnya, dikenal karena kekejamannya di berbagai medan perang kekaisaran. Namun, melihat gadis yang keluar dari lembah itu—gadis yang seharusnya sudah cacat atau mati karena luka-lukanya—ia merasakan naluri bertahan hidupnya menjerit. Aura yang terpancar dari Lin Xiao sekarang tidak lagi terasa seperti seorang murid akademi; itu adalah aura seorang penguasa yang baru saja turun dari takhta kegelapan.
"Xiao Lan... atau haruskah aku memanggilmu iblis pengkhianat?" Feng Hu mengangkat pedang beratnya, mencoba mengumpulkan keberanian para prajuritnya yang mulai mundur perlahan. "Kau dikepung oleh tiga ribu prajurit elit dan sepuluh meriam energi penghancur jiwa. Menyerahlah sekarang, dan mungkin Putra Mahkota akan memberimu kematian yang cepat!"
Lin Xiao berhenti tepat sepuluh langkah di depan barisan tombak pertama. Ia menatap meriam-meriam besar yang diarahkan tepat ke arahnya dengan tatapan meremehkan, seolah-olah senjata pemusnah massal itu hanyalah mainan kayu.
"Tiga ribu nyawa hanya untuk menjemputku? Long Tian benar-benar sangat menghargai nyawanya sendiri hingga dia mengirim kalian semua ke liang lahat lebih dulu sebagai tumbal," ucap Lin Xiao, suaranya tenang namun bergema tajam di tengah kesunyian lembah.
"Tembak!" raung Feng Hu, tidak ingin memberikan kesempatan bagi Lin Xiao untuk bicara lebih jauh.
Sepuluh meriam energi meledak secara bersamaan, melepaskan bola-bola cahaya emas yang mampu meruntuhkan benteng kota dalam sekali hantam. Ledakan itu mengguncang seluruh lembah, menciptakan awan debu dan api yang menyelimuti posisi Lin Xiao. Feng Hu tertawa liar, yakin bahwa tidak ada manusia di Tahap Inti Emas sekalipun yang bisa selamat dari serangan serentak itu tanpa perlindungan perisai tingkat dewa.
Namun, tawanya terhenti seketika seolah-olah tenggorokannya dicekik oleh tangan tak kasat mata.
Asap tebal itu tiba-tiba terbelah oleh gelombang energi ungu yang dingin. Lin Xiao berdiri di sana, dikelilingi oleh kubah transparan yang terbuat dari kelopak mawar hitam yang berputar cepat dengan kecepatan cahaya. Tidak ada satu noda debu pun di pakaiannya, apalagi luka.
"Hanya itu?" suara Lin Xiao terdengar pelan, namun bergetar di setiap gendang telinga prajurit seperti lonceng kematian yang didentumkan.
Ia mengangkat tangan kanannya ke arah langit yang kelabu. 'Seni Nirwana Dewa: Hujan Jarum Pemakan Jiwa!'
Seketika, ribuan jarum energi hitam yang tipis namun pekat muncul dari udara kosong di atas para prajurit. Sebelum mereka sempat mengangkat perisai atau mencari perlindungan, jarum-jarum itu jatuh seperti hujan badai yang murka. Setiap jarum yang menyentuh zirah mereka tidak memantul, melainkan menembus hingga ke Inti Jiwa, membekukan aliran energi mereka dan membuat mereka jatuh lemas seketika.
Dalam hitungan detik, tiga ribu prajurit elit itu tumbang tanpa sempat mengayunkan satu tombak pun. Mereka tidak mati, namun jalur energi mereka telah hancur—mereka kini tak lebih dari manusia biasa yang lumpuh secara spiritual selamanya.
Feng Hu gemetar hebat, pedangnya jatuh dari tangannya yang kaku. "Kau... apa yang kau lakukan... kau adalah monster..."
Lin Xiao berjalan mendekatinya, langkah kakinya tidak mengeluarkan suara sedikit pun di atas tanah yang hangus. "Aku bukan monster, Jenderal. Aku adalah konsekuensi dari apa yang kau dan tuanmu tanam di masa lalu. Aku adalah mimpi buruk yang kalian ciptakan sendiri."
Lin Xiao tidak membunuhnya. Ia membiarkan Feng Hu tetap hidup untuk mengirimkan teror. "Kembalilah pada Long Tian. Katakan padanya, mawar pertama telah mekar di atas abu pasukannya. Dan aku sedang menuju Kota Perbatasan Wu, tempat gudang persenjataan utama Klan Feng berada. Jika dia ingin menghentikanku, katakan padanya untuk datang sendiri, bukan mengirimkan sampah seperti kalian."
Perjalanan menuju Kota Perbatasan Wu memakan waktu dua hari. Sepanjang jalan, berita tentang "Dewi Rambut Perak" yang menghancurkan tiga ribu prajurit dalam sekejap mata menyebar lebih cepat dari wabah. Orang-orang di desa-desa yang selama ini ditindas oleh pajak berat Klan Feng mulai membisikkan namanya dengan penuh harapan tersembunyi, sementara para bangsawan mulai memperkuat penjagaan rumah mereka dengan ketakutan yang nyata.
Lin Xiao menggunakan waktu perjalanan ini untuk menyempurnakan sinkronisasi dengan Inti Dewa Kegelapan. Ia menemukan bahwa kini ia memiliki kendali absolut atas bayangan di sekitarnya. Ia tidak perlu lagi bergerak secara fisik untuk melakukan serangan jarak dekat; bayangan dari benda mati, bahkan bayangan musuhnya sendiri, bisa ia bentuk menjadi senjata yang mematikan.
Saat mereka sampai di depan gerbang Kota Wu, kota itu sudah dalam keadaan siaga penuh. Kota ini adalah nadi logistik terpenting bagi Klan Feng; di sini tersimpan ribuan zirah ajaib, ramuan perang, dan yang paling penting: 'Kristal Api Phoenix' yang digunakan untuk menggerakkan armada perang udara kekaisaran.
"Nona, Kota Wu dijaga oleh Tetua Feng Cang," bisik Kepala Paviliun Gu dengan nada khawatir.
"Dia adalah praktisi Tahap Inti Emas Tingkat Empat. Dia sangat kuat dan terkenal karena teknik api penghancurnya yang sulit dipadamkan."
"Api?" Lin Xiao tersenyum sinis, menatap tembok kota yang kokoh. "Aku ingin melihat, apakah apinya tetap bisa menyala di dalam kegelapanku."
Lin Xiao melangkah maju sendirian menuju gerbang kota yang tertutup rapat. Di atas tembok, ratusan pemanah sudah membidikkan panah api mereka. Tetua Feng Cang, seorang pria tua dengan janggut merah yang memancarkan aura panas menyengat, berdiri menatapnya dari atas balkon gerbang.
"Xiao Lan! Kau telah melampaui batas kewarasan!" teriak Feng Cang. "Membantai prajurit kekaisaran dan sekarang berani mengancam kota logistik? Kau benar-benar ingin Klan Feng menghapus seluruh eksistensimu hingga ke debu?"
"Klan Feng sudah mencoba melakukannya sekali, Tetua," jawab Lin Xiao, suaranya tajam membelah angin. "Sekarang, aku hanya datang untuk mengambil bunganya sekaligus dengan akarnya."
Lin Xiao tidak menunggu aba-aba serangan. Ia menghilang dalam satu kedipan mata dan muncul kembali di udara, tepat di pusat kota. Ia menghujamkan pedang Nightshade ke arah bawah, namun kali ini ia tidak melepaskan ledakan cahaya.
'Domain Nirwana: Malam Tanpa Akhir!'
Seketika, cahaya matahari yang terik di Kota Wu lenyap total. Seluruh kota tertutup oleh kubah kegelapan yang begitu pekat hingga cahaya lampu minyak pun tidak bisa menembusnya.
Orang-orang di dalam kota berteriak histeris karena mereka tidak bisa melihat bahkan tangan mereka sendiri. Di dalam kegelapan ini, Lin Xiao adalah penguasa mutlak yang melihat segalanya.
Feng Cang mencoba menyalakan api spiritualnya untuk menerangi sekitarnya, namun ia terkejut saat melihat api merahnya justru berubah menjadi ungu gelap dan segera padam, seolah-olah oksigen di tempat itu telah ditelan oleh energi kematian.
"Di mana kau?! Keluar dan lawan aku secara jantan!" teriak Feng Cang dalam kegelapan yang mencekik.
"Aku ada di mana-mana, Tetua," suara Lin Xiao berbisik tepat di belakang telinganya.
Sret!
Sebuah sayatan tipis namun dalam muncul di lengan Feng Cang, membakar nadinya dengan energi dingin yang destruktif.
"Dan aku adalah akhir dari segalanya."
Sret! Sret!
Luka-luka mulai bermunculan di sekujur tubuh Feng Cang. Meskipun dia memiliki tingkat kultivasi yang lebih tinggi secara teori, dia tidak bisa merasakan keberadaan fisik Lin Xiao. Di dalam domain ini, Lin Xiao bergerak melalui bayangan, menyerang dari sudut yang tidak terpikirkan oleh logika manusia.
Akhirnya, Lin Xiao muncul kembali dalam wujud fisik di depan Feng Cang, mencengkeram leher pria tua itu dengan satu tangan. "Katakan padaku, Tetua. Di mana Long Tian menyembunyikan 'Jantung Phoenix'?"
Feng Cang terbatuk darah, matanya terbelalak melihat pantulan kegelapan di mata Lin Xiao. "Kau... kau mencari benda itu? Kau tidak akan pernah mendapatkannya... Putra Mahkota sudah memindahkannya ke kuil rahasia..."
"Terima kasih atas informasinya," ucap Lin Xiao dingin. Ia melepaskan energi hitam yang langsung membekukan seluruh sistem saraf Feng Cang, membuatnya jatuh pingsan dalam keadaan kaku.
Lin Xiao melambaikan tangannya, dan seluruh gudang logistik di kota itu meledak dalam api ungu yang mengerikan. Ribuan zirah dan kristal api yang merupakan harta militer paling berharga bagi klan Feng hancur menjadi debu dalam hitungan menit. Ini adalah pukulan ekonomi dan militer yang fatal bagi kestabilan Long Tian.
Saat kegelapan terangkat, rakyat Kota Wu melihat Lin Xiao berdiri di atas puncak reruntuhan gudang logistik yang masih membara. Ia menatap ke arah Ibu Kota yang kini terasa semakin dekat di ufuk barat.
"Ini baru permulaan, Meili," gumam Lin Xiao. "Aku akan menghancurkan setiap fondasi yang kau pijak hingga kau sendiri yang memohon padaku untuk mengakhiri hidupmu."
Ia kembali ke arah Gu dan Yun'er yang menunggu dengan setia. Yun'er menatap kakaknya dengan mata berbinar penuh pemujaan, sementara Gu hanya bisa terdiam melihat kehancuran masif yang diciptakan oleh seorang gadis dalam waktu sesingkat itu.
"Tujuan kita berikutnya adalah Sekte Pedang Langit," perintah Lin Xiao dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Tempat di mana Long Tian melatih pasukan bayangannya. Jika kita ingin membakar istananya, kita harus mematahkan pedangnya terlebih dahulu."
Dengan langkah yang diselimuti aura kematian yang anggun, sang Mawar Hitam melanjutkan perjalanannya, meninggalkan kota yang kini menjadi saksi bisu atas awal keruntuhan sebuah dinasti.