Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.
Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.
Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.
Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Sonya yakin melihat punggung lebar seorang lelaki yang sepertinya ia kenal. Sayangnya, saat ingin mendekati lelaki itu, tubuh mungilnya tersingkirkan oleh beberapa lelaki berbadan besar yang kini mengawal bos Yandex Corp.
"Son, apa yang kamu lakukan?" Reza, yang baru turun dari mobil mewahnya, langsung menyapa Sonya.
Sonya buru-buru merapikan tampilannya yang terlihat berantakan akibat tergeser oleh para pengawal tadi.
"Aku ingin masuk, hanya saja ada 'badai' menerjang tadi," kilahnya.
Tak ingin membuat Reza curiga, ia segera berkata lagi, "Kenapa kamu ada di sini?"
"Oh, karena aku khawatir sama kamu. Jadi, aku putuskan meninggalkan kantorku," ucap Reza terang-terangan.
"Reza!"
Reza sangat menyukai ekspresi kesal yang muncul di wajah Sonya saat dirinya mencoba menggoda wanita beranak satu itu. Sejak awal bertemu Sonya, ia sudah menetapkan bahwa wanita itu adalah jodohnya. Hingga kini, wanita pilihan orang tuanya selalu ia tolak. Baginya, jika bukan Sonya yang berdampingan di pelaminan, ia tidak akan pernah menikah.
"Ayolah, jangan marah. Aku ke sini tentu ada urusan dengan bos Yandex. Aku dengar dia mulai bekerja di sini. Dan selain itu—"
"Kalau kamu mulai mengatakan hal-hal tidak jelas lagi, aku pergi," ancam Sonya, seperti bisa membaca jalan pikiran Reza.
Tawa merekah di bibir Reza hingga beberapa saat. "Kalau begitu, ayo kita masuk."
Tak ingin membuat Sonya semakin kesal, Reza langsung menarik tangan Sonya masuk ke dalam gedung pencakar langit itu.
***
Di ruangan bertuliskan "CEO Yudha Anggara"
Seorang lelaki langsung duduk di kursinya. Di sisinya, selalu ada seorang asisten yang setia mengikutinya. Namun, di sofa dalam ruangan itu, terlihat seorang perempuan berparas menawan.
"Kak Yudha," panggilnya dengan suara serak basah.
Kedua lelaki yang berada di dalam ruangan itu langsung fokus pada sang wanita. Tak lama, Yudha menginstruksikan Bayu, yang tak lain dulu sahabat karibnya dan kini menjadi asisten pribadinya untuk meninggalkan ruangan.
"Bukankah aku memintamu untuk tinggal di rumah?" ucap Yudha dengan nada dingin.
Wanita dengan rok mini yang dipadukan dengan baju berpotongan rendah itu bangkit dari duduknya. Langkahnya bak model berjalan di atas karpet merah. Setelah mencapai tujuannya, ia berkata, "Bagaimana aku bisa di rumah jika kamu terus sibuk dengan pekerjaan? Bukankah kamu berjanji untuk makan malam dan membahas acara pertunangan kita?"
Tangan Yudha mengepal erat. Dengan sabar, ia menjawab, "Serly, aku sudah bilang, kamu saja yang atur."
"No, no, no." Serly menggerakkan jari telunjuknya sebagai tanda penolakan. "Pernikahan itu atas nama kita berdua. Kak Yudha masih ingat, kan, dengan janji Kakak?"
Rahang Yudha mengeras menatap wanita di hadapannya, tetapi ia masih terlihat sabar. "Kalau begitu, kamu pulang dulu. Nanti malam aku akan menemuimu."
"Kakak serius? Janji?" desak Serly memastikan.
"Tentu."
"Oke, aku akan pulang," sahut Serly penuh semangat.
"Jaga dia baik-baik," pesan Yudha ketika Serly membalikkan badan untuk meninggalkan ruangan itu.
Serly hanya mengisyaratkan tanda "oke" dengan tangannya, lalu bergegas mencari seorang anak yang ia bawa ke perusahaan. "Ke mana dia pergi?"
Setelah Serly pergi, Bayu yang selalu siaga segera masuk ke ruangan Yudha.
"Apakah rekrutmen katering sudah siap?" tanya Yudha setelah mood-nya kembali fokus pada pekerjaan.
Lelaki itu selalu serius dalam bekerja. Tak heran, perusahaannya berkembang begitu pesat hingga membuka banyak cabang baru. Ya, perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan perhiasan ini adalah hasil jerih payahnya bersama Mira, kakak Serly.
Lima tahun yang lalu, saat Yudha dalam kondisi terpuruk, Mira datang mengajaknya berbisnis di luar negeri. Keahlian Mira dalam mendesain perhiasan berhasil menarik banyak pelanggan. Sayangnya, wanita itu tidak bisa bertahan hidup, dan kini Yudha merasa bertanggung jawab pada Serly.
"Sudah, Pak."
"Kalau begitu, biar saya saja yang mewawancarai mereka," ucap Yudha.
Permintaan Yudha tentu saja tidak bisa dibantah. Selama mengikuti Yudha, Bayu sangat paham karakter bosnya, terutama soal makanan untuk karyawan. Menurut Yudha, makanan sehat akan meningkatkan produktivitas dan kreativitas.
"Baik, Pak. Tapi, Bapak ada pertemuan dengan perusahaan RR, dan saya sudah mengonfirmasi bahwa beliau sudah datang," jelas Bayu memberikan informasi.
"Berapa investasi yang diajukan?"
"Saya sudah membaca perkembangan perusahaan itu. Jika beliau tertarik dengan bisnis ini, berapa pun yang kita ajukan akan dipenuhi olehnya. Bisa dikatakan beliau mampu berinvestasi hingga lima puluh persen," papar Bayu.
"Kalau begitu, wawancara bisa dimulai dulu. Setelah saya selesai dengan—"
"Pak Reza," Bayu memotong kalimat Yudha untuk menyebut nama kliennya.
"Ya, dengan Pak Reza. Saya akan bergabung setelah itu."
Yudha bangkit dari kursi kebesarannya, lalu berjalan menuju ruang rapat.