Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memanfaatkan
Lampu jalanan Neukölln yang berkedip di luar jendela memberikan pencahayaan yang dramatis pada apartemen sempit itu, memproyeksikan bayangan jeruji jendela ke lantai kayu yang sudah kusam. Sophie melangkah masuk dengan napas yang masih terasa berat. Bau sup hangat dan aroma obat-obatan yang khas menyambutnya—bau yang selalu mengingatkannya pada beban yang ia panggul selama sepuluh tahun terakhir.
Di sudut ruangan, di bawah lingkaran cahaya lampu meja yang temaram, Hans Adler duduk di kursi rodanya. Pria itu tampak jauh lebih tua dari usia aslinya; rambutnya yang memutih dan tatapannya yang seringkali kosong adalah bukti nyata dari pengkhianatan yang menghancurkan jiwanya.
"Kau pulang, Sophie?" suara Hans terdengar seperti gesekan kertas tua, namun penuh dengan kasih sayang yang tulus.
Sophie segera meletakkan tasnya, memastikan map cokelat dari Julian terkunci aman di dalamnya. Ia menghampiri ayahnya, berlutut di atas lantai yang dingin, dan meletakkan kepalanya di pangkuan Hans. Untuk sejenak, ia bukan lagi asisten CEO yang dingin atau wanita tangguh yang menantang keluarga Hoffmann. Ia hanyalah seorang putri yang merindukan keadilan.
"Ayah sudah makan?" bisik Sophie, tangannya menggenggam jemari Hans yang kurus.
"Sudah, Nak. Jangan cemaskan aku," Hans mengusap rambut Sophie dengan tangan yang gemetar. "Wajahmu... kau terlihat seperti baru saja melewati badai. Apa pekerjaan di firma hukum itu sangat menyulitkanmu?"
Sophie memejamkan mata, menelan pahitnya kebohongan yang harus ia sampaikan. "Hanya kasus besar, Ayah. Tentang seorang pria yang kehilangan segalanya karena tanda tangan yang salah."
Sophie mengangkat kepalanya, menatap ayahnya dengan sorot mata yang tajam namun lembut. Ia mengeluarkan beberapa lembar salinan cetak biru dari tasnya, namun dengan lihai menutupi bagian logo perusahaan Hoffmann dengan jarinya.
"Ayah, aku sedang mempelajari teknis otoritas digital untuk risetku," Sophie memulai, suaranya jernih dalam kesunyian malam. "Ingatkah Ayah malam terakhir sebelum... kejadian itu? Ayah bilang Richard meminta tablet kerja Ayah?"
Hans terdiam. Tatapannya mendadak menajam, seolah ditarik paksa kembali ke masa kelam itu. "Dia bilang sistemnya butuh pembaruan enkripsi. Richard adalah sahabatku, Sophie. Kami membangun segalanya dari garasi kecil. Aku tidak punya alasan untuk tidak mempercayainya."
"Dan besok paginya, dana itu hilang," sambung Sophie dengan nada yang bergetar karena emosi yang tertahan.
Hans mengangguk pelan, setetes air mata jatuh di pipinya yang keriput. "Sistem mencatat kunci digitalku yang melakukan perintah transfer ke akun bodong itu. Tak ada yang percaya padaku, Sophie. Bahkan hakim menganggap aku menggunakan celah keamanan yang kubuat sendiri."
Sophie mengepalkan tangannya. Di bawah lampu yang redup itu, wajahnya tampak seperti patung pualam yang cantik namun mematikan. "Ayah tidak menggunakannya. Richard yang menduplikasi kunci itu saat tablet Ayah ada di tangannya. Dia menggunakan kepercayaan Ayah sebagai senjata."
"Sophie, sudahlah," Hans mendesah berat, sebuah kepasrahan yang menyakitkan. "Richard sudah menang. Dia memiliki Berlin sekarang. Jangan biarkan dirimu ikut hancur karena mencoba melawan matahari."
Sophie berdiri, bayangannya memanjang di dinding apartemen, tampak megah dan penuh tekad. "Matahari pun bisa tenggelam, Ayah. Dan aku adalah malam yang akan menjemputnya."
Setelah memastikan Hans tertidur lelap, Sophie duduk di meja belajarnya yang kecil. Ia membuka map dari Julian di bawah cahaya lampu meja yang hanya menerangi area kerjanya, menciptakan suasana yang sangat fokus dan misterius.
Ia menyebarkan dokumen-dokumen itu: catatan transfer ke Lutz-Logistics, cetak biru bangunan, dan daftar kode otoritas digital yang sempat ia salin secara diam-diam dari komputer Max tempo hari. Dengan bantuan kaca pembesar, ia meneliti setiap detail kecil.
"Tanda tangan digital ini..." gumam Sophie. Ia menyadari ada pola unik. Setiap kali transfer ilegal terjadi, itu selalu dilakukan pada jam 03.00 pagi dari terminal utama kantor CEO.
Sophie menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit kamar yang retak. Sekarang ia tahu apa yang harus ia lakukan. Bukti yang diberikan Julian adalah fondasinya, tapi "senjata pamungkasnya" ada di dalam komputer pribadi Richard yang kini berada di ruang arsip rahasia di dalam kantor Max.
Besok, ia tidak akan lagi bersikap defensif. Jika ia ingin menghancurkan Richard, ia harus menjadi lebih dekat dengan Maximilian. Ia harus memanfaatkan obsesi Max padanya untuk mendapatkan akses total ke jantung kekaisaran mereka.
Ia menyentuh bibirnya yang pernah dikecup oleh Max. Rasa panasnya masih tertinggal, sebuah pengingat bahwa ia sedang memainkan permainan api. Jika ia terpelesat, ia akan terbakar bersama Max. Tapi jika ia berhasil, ia akan membersihkan nama ayahnya dan melihat Richard Hoffmann jatuh dari singgasananya.
"Satu langkah lagi," bisik Sophie pada kegelapan. "Hanya satu langkah lagi menuju kehancuranmu, Richard."
Lampu meja yang redup masih menyinari dokumen-dokumen berdebu di hadapan Sophie ketika ponselnya di atas meja bergetar pendek. Getaran itu terasa seperti sengatan listrik di tengah kesunyian malam.
Sophie melirik layar ponselnya. Sebuah pesan dari nomor yang ia simpan dengan nama "MH".
"Datanglah ke rumah sakit sekarang. Aku tidak peduli ini jam berapa. Ini adalah perintah resmi dari atasanmu. Aku tidak bisa menemukan berkas audit proyek Munich dalam sistem yang kau siapkan. Ini perintah, Nona Adler.”
Sophie menatap layar itu dengan mata menyipit. Jam dinding menunjukkan pukul 23.30. Ini adalah permintaan yang absurd, bahkan untuk standar seorang CEO yang gila kerja seperti Max. Ia tahu betul berkas Munich sudah tertata rapi di folder utama; Max hanya sedang mencari alasan. Pria itu merasa kesepian, cemas, atau mungkin hanya ingin menegaskan kekuasaannya kembali setelah penghinaan yang dilakukan ibunya sore tadi.
Jari Sophie sudah berada di atas tombol block, namun ia terhenti. Matanya kembali menatap nota transfer ke Lutz-Logistics yang tergeletak di meja.
“Gunakan dia, Sophie,” bisik suara di dalam kepalanya. “Jika kau ingin kunci digital Richard, kau butuh Max sepenuhnya di pihakmu.”
Sophie menarik napas panjang, memadamkan emosinya, dan mulai mengetik balasan dengan nada yang sedikit berbeda—lebih lembut, namun tetap menjaga jarak.
"Baik, Tuan Hoffmann. Saya akan tiba dalam tiga puluh menit.“
...****************...
Lampu-lampu koridor rumah sakit yang remang menciptakan bayangan panjang saat Sophie melangkah menuju pintu ruangan VIP. Ia berhenti sejenak, membetulkan letak kerah mantelnya, dan memastikan ekspresi wajahnya adalah perpaduan sempurna antara kepatuhan seorang asisten dan kelembutan seorang wanita yang "mulai luluh".
Tanpa mengetuk, ia mendorong pintu berat itu.
Suasana di dalam ruangan sangat sunyi. Hanya ada suara dengung halus dari mesin pendingin ruangan. Maximilian tidak sedang berbaring di ranjang pesakitan; ia duduk di pinggiran ranjang, mengenakan kaos hitam tipis yang memperlihatkan otot lengannya yang diperban.
Pandangannya terpaku pada kegelapan di balik jendela besar, seolah sedang mencari sesuatu yang hilang di antara lampu-lampu Berlin.
Sophie melangkah masuk, suara hak sepatunya teredam oleh karpet tebal. Ia berhenti dua langkah di belakang Max, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam—sebuah gestur hormat yang jauh lebih santun daripada biasanya.
"Saya sudah di sini, Tuan Hoffmann," ucap Sophie dengan suara rendah yang merdu, nyaris seperti bisikan yang menenangkan.
Max tidak langsung menoleh. Bahunya yang tegap tampak sedikit tegang sebelum akhirnya ia menghela napas panjang dan memutar tubuhnya. Matanya yang gelap, yang biasanya memancarkan kedinginan, kini tampak haus akan sesuatu. Ia menatap Sophie dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang memastikan bahwa wanita itu benar-benar nyata, bukan sekadar halusinasi akibat kelelahan.
"Kau datang lebih cepat dari yang kukira," gumam Max. Suaranya serak, memberikan kesan intim yang kental.
"Anda memberi perintah, dan saya mematuhinya," balas Sophie. Ia mengangkat kepalanya perlahan, membiarkan matanya bertemu dengan mata Max. Kali ini, ia tidak membalas tatapan itu dengan tatapan menantang atau dingin. Ia melembutkan sorot matanya, membiarkan sedikit celah kerentanan yang palsu terlihat di sana. "Lagi pula, saya tidak bisa tenang jika tidak memastikan kondisi Anda sendiri setelah kejadian tadi."
Max menyipitkan mata, mencari tanda-tanda kebohongan di wajah Sophie. Ia adalah pria yang dibesarkan di dunia penuh tipu daya; ia tidak lemah, dan instingnya sangat tajam. "Tiba-tiba kau peduli, Nona Adler? Setelah semua kedinginan yang kau tunjukkan?"
Sophie melangkah satu langkah lebih dekat—jarak yang cukup berisiko namun diperlukan. Ia mengulurkan tangannya yang halus, perlahan menyentuh perban di lengan Max. Gerakannya sangat ringan, seolah takut menyakiti pria itu.
"Hampir kehilangan seseorang di depan mata saya sendiri... itu mengubah banyak hal, Max," Sophie menyebut namanya tanpa gelar, sebuah manuver cerdas untuk meruntuhkan tembok pertahanan Max. "Saya sadar bahwa amarah saya pada masa lalu mungkin membuat saya buta terhadap apa yang ada di depan saya saat ini."
Max tertegun. Cengkeraman tangannya pada seprai ranjang mengeras. Ia bisa merasakan kehangatan dari jemari Sophie meresap ke kulitnya. Kehadiran Sophie yang begitu tunduk dan perhatian adalah candu yang selama ini ia idamkan.
"Kau tahu bahwa aku bisa menghancurkanmu dalam sekejap jika kau bermain-main denganku, Sophie," ancam Max, namun suaranya justru terdengar seperti bisikan parau yang penuh keinginan. Ia meraih pergelangan tangan Sophie, menarik wanita itu hingga berdiri tepat di antara kedua kakinya.
Sophie tidak melawan. Ia justru membiarkan dirinya ditarik, menatap Max dengan tatapan yang tenang namun dalam. "Saya tahu siapa Anda, dan saya tahu apa yang Anda mampu lakukan. Karena itulah, saya memilih untuk tidak lagi melawan arus."
Ia meletakkan tangannya yang bebas di dada Max, merasakan detak jantung pria itu yang berdegup kencang. "Katakan pada saya, apa yang Anda inginkan dari saya malam ini? Sebagai asisten Anda, atau sebagai orang yang berhutang nyawa pada Anda?"
Max menatap bibir Sophie, lalu kembali ke matanya. Dominasi Max masih terasa kuat, namun di dalam matanya mulai terpancar obsesi yang membutakan. "Aku ingin kau tetap di sini. Jangan pergi ke mana pun. Malam ini, aku ingin kau menjadi milikku sepenuhnya, tanpa ada bayang-bayang Von Arnim atau siapa pun."
Sophie memberikan senyum tipis yang misterius—senyum yang diartikan Max sebagai tanda menyerah, padahal itu adalah senyum seorang pemain catur yang baru saja menjebak Raja lawannya.
Maximilian menarik pinggang Sophie dengan sentakan posesif, memaksa tubuh wanita itu merapat pada posisinya yang sedang duduk di tepi ranjang. Wajah Max kini sejajar dengan perut Sophie, sementara tangannya melingkar kuat seolah takut jika ia melonggarkan pelukan itu sedikit saja, Sophie akan menguap menjadi asap dan kembali ke pelukan pria lain.
Keheningan malam di kamar VIP itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas mereka yang saling bersahutan. Sophie, dengan ketenangan yang mematikan, mengangkat tangannya perlahan. Ia menyisir rambut hitam Max yang sedikit berantakan dengan jemarinya, mengusap kepala pria itu dengan gerakan lembut dan ritmis yang mampu meredam badai di dalam dada sang CEO.
Max memejamkan matanya, menyandarkan keningnya pada tubuh Sophie. Kenyamanan yang diberikan Sophie terasa begitu asing namun sangat ia butuhkan. Untuk pertama kalinya, predator itu tampak jinak di bawah sentuhan lembut mangsanya.
"Sophie," suara Max terdengar parau, teredam di balik pakaian wanita itu. "Apa kau tidak merasa terganggu dengan tindakanku? Kau bisa mendorongku jika ini membuatmu tidak nyaman."
Sophie tidak berhenti mengusap rambutnya. Ia memberikan jeda yang sempurna, sebuah teknik manipulasi emosi yang ia kuasai dengan baik. Ia menunduk, menatap puncak kepala Max dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Jika ini adalah satu-satunya cara agar Anda merasa tenang setelah hari yang mengerikan ini, maka saya sama sekali tidak keberatan," bisik Sophie lembut, hampir seperti gumaman kasih sayang. "Tidakkah Anda menyadarinya, Tuan? Saya sudah berada di sini, sesuai permintaan Anda."
Max menghela napas panjang, pelukannya sedikit melunak namun tetap tidak melepaskan. Ia perlahan mengangkat kepalanya, menatap Sophie dengan mata yang terlihat letih namun berkilat karena emosi yang dalam.
"Tentang orang tuaku tadi..." Max menjeda, ada keraguan yang jarang terlihat di wajahnya. "Aku minta maaf. Atas setiap cacian yang Ibu lontarkan, dan atas bagaimana Ayah menatapmu. Kau tidak seharusnya diperlakukan seperti itu."
Mendengar permintaan maaf yang tulus itu, gerakan tangan Sophie di rambut Max terhenti seketika. Untuk sedetik, hatinya yang telah ia keraskan seperti batu terasa berdenyut aneh.
Ada rasa hangat yang tak diundang menyusup ke sela-sela kebenciannya. Ia tidak menyangka bahwa seorang Maximilian Hoffmann, pria yang terbiasa memerintah dan menghakimi, bisa merendahkan suaranya untuk meminta maaf atas kesalahan yang bukan perbuatannya.
Namun, bayangan wajah ayahnya yang layu di kursi roda segera muncul di benak Sophie. Ia memadamkan percikan emosi itu sebelum sempat berkobar.
Sophie tersenyum tipis—senyum paling manis yang pernah ia buat untuk pria ini. Ia kembali mengusap pipi Max, membiarkan ibu jarinya menyapu luka kecil di pelipis pria itu dengan sangat hati-hati.
"Saya sudah melupakannya, Max," ucap Sophie dengan nada yang begitu meyakinkan. "Kata-kata mereka tidak akan mengubah apa pun di antara kita sekarang. Fokus saya hanyalah kesembuhan Anda. Jadi, berhentilah merasa bersalah."
Max meraih tangan Sophie yang ada di pipinya, mencium telapak tangan itu dengan penuh perasaan, seolah sedang menyegel sebuah janji suci. Di bawah temaram lampu ruangan, suasana di antara mereka menjadi sangat intim dan menyesakkan. Max merasa ia baru saja memenangkan hati wanita itu, sementara Sophie merasa ia baru saja membuka gerbang paling aman untuk menghancurkan dinasti Hoffmann dari dalam.
"Tetaplah bersamaku sampai aku tertidur," pinta Max, suaranya kini penuh permohonan yang tak tertahankan.
"Tentu saja," jawab Sophie pelan, matanya berkilat di balik kegelapan. "Saya tidak akan pergi ke mana pun."