Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.
Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.
Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOPENG SANG KAKAK
Gedung Mahardika Group berdiri angkuh dengan fasad kaca yang memantulkan langit Jakarta yang kelabu. Namun di dalamnya, udara terasa jauh lebih menyesakkan. Baskara berjalan melewati lobi dengan langkah tegap, mengabaikan sapaan hormat dari para staf. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: Alea sedang diinterogasi oleh Sarah.
Begitu ia sampai di lantai eksekutif, ia melihat Alea keluar dari ruangan Sarah dengan wajah pucat pasi. Tangannya memeluk map erat-erat, dan ia tampak seolah sedang menahan napas agar tidak runtuh di lantai koridor yang mengkilap.
"Alea," panggil Baskara pelan.
Gadis itu tersentak, bahunya berjingkat. Saat ia menoleh, Baskara melihat ketakutan yang murni di matanya. "Baskara... aku... aku harus pergi."
"Masuk ke ruanganku. Sekarang," perintah Baskara dengan nada yang tidak menerima penolakan.
Di dalam ruangan audit yang kedap suara, Baskara menutup tirai otomatis. Alea langsung merosot ke kursi tamu, menutup wajahnya dengan telapak tangan yang gemetar.
"Apa yang dia katakan padamu?" tanya Baskara sambil menyodorkan segelas air.
"Ibu bertanya... dia bertanya kenapa aku sangat dekat denganmu akhir-akhir ini," suara Alea bergetar. "Dia bilang, kau adalah orang asing yang tiba-tiba kembali hanya untuk merebut warisan. Dia memperingatiku agar tidak memberimu informasi apa pun tentang operasional pribadinya. Dia mengancam akan mengirimku ke cabang di luar negeri jika aku mengkhianatinya."
Baskara berjongkok di hadapan Alea. Ini adalah bagian dari rencananya—fase pesona. Ia harus membuat Alea merasa bahwa ia adalah satu-satunya sekutu yang nyata di dunia yang palsu ini.
"Dengarkan aku, Alea," Baskara meraih tangan gadis itu. Dingin. "Sarah melakukan itu karena dia takut. Dia takut kau mulai menyadari bahwa kau bukan sekadar 'anak angkat' yang berhutang budi padanya. Dia ingin mengisolasimu agar kau tetap bisa dia kendalikan."
"Tapi kenapa? Aku mencintainya, Baskara. Dia yang menyelamatkanku saat aku tidak punya siapa-siapa," isak Alea.
Baskara merasakan sedikit rasa sakit di dadanya mendengarnya. Dia tidak menyelamatkanmu, Alea. Dia menculikmu dari reruntuhan yang dia buat sendiri. Namun, Baskara menahan kalimat itu. Belum saatnya. Jika ia mengatakannya sekarang tanpa bukti fisik yang tidak terbantahkan, Alea akan menganggapnya gila dan kembali ke pelukan Sarah.
"Aku tahu kau merasa berhutang budi," ujar Baskara dengan suara yang dilembutkan, menggunakan nada kakaknya yang paling meyakinkan. "Tapi tanyakan pada hatimu, apakah ibu yang mencintaimu akan selalu mengancam akan membuangmu setiap kali kau melakukan kesalahan kecil? Apakah kasih sayang harus terasa seperti penjara?"
Alea mendongak, matanya yang basah menatap Baskara. "Lalu aku harus bagaimana?"
Baskara tersenyum tipis—sebuah senyum manipulatif yang dibungkus dengan empati. "Gunakan ketakutannya. Berpura-puralah kau menuruti perintahnya. Katakan padanya bahwa aku mencoba merayumu untuk mendapatkan data perusahaan, tapi kau menolak. Jadilah agen ganda untukku, Alea. Dengan begitu, dia tidak akan mencurigaimu lagi, dan kita bisa terus mencari kebenaran tentang orang tuamu tanpa gangguan."
Alea terdiam cukup lama. Pertempuran batin terlihat jelas di wajahnya. Kesetiaan dua puluh tahun kepada Sarah sedang beradu dengan insting bertahan hidup yang dipicu oleh Baskara.
"Kau berjanji... kau tidak akan menghancurkan Ibu jika ternyata dia tidak bersalah?" tanya Alea dengan sisa-sisa harapan terakhirnya.
Baskara menelan ludah. Ia tahu Sarah bersalah hingga ke tulang sumsumnya. Namun ia mengangguk. "Aku hanya mencari kebenaran, Alea. Jika dia tidak bersalah, kebenaran itu akan membebaskannya. Tapi jika dia menyimpan bangkai, kau berhak tahu."
Alea menghapus air matanya dan berdiri. "Baiklah. Aku akan melakukannya. Aku akan memberi tahu Ibu bahwa kau mencoba mendekatiku, tapi aku tetap setia padanya."
"Pintar," puji Baskara.
Setelah Alea keluar, Baskara kembali ke meja kerjanya. Ia membuka laptopnya dan melihat pesan baru dari Reno. Sebuah lampiran foto lama yang buram: Keluarga Arkananta di depan kantor Suryakencana. Di sana, seorang bayi perempuan yang digendong ibunya tertawa lebar—bayi itu adalah Alea.
Baskara memejamkan mata. Ia merasa seperti monster. Ia sedang melatih Alea untuk membohongi orang yang dianggapnya ibu, demi menghancurkan keluarga yang membesarkannya. Namun, saat ia teringat wajah ibunya sendiri yang meninggal dalam kesedihan setelah dikhianati ayahnya, tekad Baskara kembali mengeras.
"Maafkan aku, Alea," gumamnya pada keheningan ruangan. "Tapi kau harus hancur sebelum kau bisa benar-benar bebas."
Baskara mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Sarah: “Terima kasih untuk sarapan tadi pagi, Sarah. Aku senang Alea mulai mengerti posisinya di perusahaan ini.”
Sebuah provokasi kecil. Baskara ingin Sarah merasa bahwa dia sedang "menang" dalam memengaruhi Alea, padahal ia sedang menggiring mereka berdua ke tepi jurang yang sudah ia siapkan. Topeng sang kakak sudah terpasang dengan sempurna, dan di balik topeng itu, dendam sedang menanti untuk meledak.