NovelToon NovelToon
Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Kutukan / Fantasi Timur / Fantasi Wanita / Demon Slayer / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:54
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
​Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Mengintai dalam Kegelapan

​Malam terakhir di istana kelahirannya tidak membawa ketenangan bagi Aethela. Sementara seluruh penghuni istana terlelap setelah pesta dansa yang melelahkan, ia justru merasa terjaga dengan kecemasan yang merayapi kulitnya. Kamar tidurnya, yang biasanya terasa seperti tempat perlindungan paling aman, kini terasa seperti sangkar emas yang sempit. Setiap sudut ruangan yang dihiasi permadani sutra dan furnitur kayu cendana seolah berbisik bahwa besok, semua ini hanya akan menjadi kenangan.

​Ia merasa gelisah dan terdorong oleh rasa ingin tahu yang berbahaya. Pertemuan dan dansa tadi sore telah meninggalkan jejak di pikirannya. Ia tidak bisa melupakan bagaimana kegelapan Valerius "menelan" cahaya peraknya. Baginya, Valerius Nightshade bukan hanya seorang suami yang dipaksakan; dia adalah sebuah teka-teki mematikan yang harus ia pecahkan jika ia ingin selamat di Obsidiana.

​Ia bangkit dari tempat tidur, mengenakan jubah sutra berwarna biru tua yang menyamarkan tubuhnya dalam kegelapan. Ia tidak memanggil pelayannya. Dengan langkah kaki yang seringan bulu, ia menyelinap keluar melalui pintu rahasia di balik rak buku—sebuah lorong yang dulu ia gunakan saat masih kecil untuk melarikan diri dari pelajaran etiket yang membosankan.

​Tujuannya satu: Sayap Barat istana, tempat rombongan Obsidiana ditempatkan.

​Aethela tahu tindakannya ini gila. Jika ia tertangkap, itu akan menjadi skandal besar. Namun, naluri penyihirnya memberitahu bahwa Valerius menyembunyikan sesuatu—sesuatu yang lebih dari sekadar sihir bayangan biasa.

​Saat ia mendekati area Sayap Barat, suhu udara mendadak turun drastis. Ia bisa melihat embusan napasnya sendiri di udara. Ini bukan dingin yang normal; ini adalah dingin supernatural yang memancar dari keberadaan para Naga. Lorong itu sunyi, hanya diterangi oleh obor yang menyala dengan api biru yang aneh—api milik kaum utara.

​Ia bersembunyi di balik pilar marmer besar ketika melihat dua pengawal Obsidiana berjaga di depan pintu utama. Mereka tampak seperti patung batu, tak bergerak dan tak bersuara. Aethela menggunakan sedikit sihir bulannya, memanipulasi cahaya di sekitar tubuhnya untuk menciptakan pembiasan sederhana—sebuah trik ilusi yang membuatnya sulit terlihat dalam kegelapan selama ia tetap berada di area bayangan.

​Ia berhasil melewati mereka dan mencapai balkon luar yang menghubungkan kamar tamu agung. Dari sana, ia bisa melihat ke dalam salah satu ruangan besar melalui celah jendela yang sedikit terbuka.

​Itu adalah kamar Valerius.

​Di dalam kamar, Valerius tidak sedang tidur. Ia telah melepaskan tunik formalnya, menyisakan kemeja linen tipis yang terbuka di bagian dada, menyingkap garis-garis bekas luka lama yang melintang di kulitnya yang pucat. Namun, bukan bekas luka itu yang menarik perhatian Aethela yang sedang mengintip.

​Ia sedang dalam keadaan menderita. Kepalanya tertunduk, dan napasnya terdengar berat serta tersiksa. Ia duduk di tepi tempat tidur, mencengkeram kepalanya sendiri seolah-olah ia sedang menahan ledakan di dalam otaknya.

​Tiba-tiba, bayangan di dalam ruangan itu mulai berperilaku aneh. Mereka tidak diam mengikuti cahaya obor; mereka mulai merambat naik ke dinding, berdenyut seperti jantung yang berdetak. Bayangan itu tampak hidup, memiliki massa, dan perlahan-lahan mulai melilit tubuh Valerius seperti ular-ular hitam yang lapar.

​"Belum... belum sekarang," geram Valerius, suaranya parau dan penuh penderitaan.

​Aethela membeku di balik jendela. Ia melihat pemandangan yang mengerikan sekaligus menakjubkan. Di bawah pengaruh bayangan itu, kulit di sepanjang punggung dan lengan Valerius mulai berubah. Sisik-sisik hitam yang berkilau seperti batu obsidian mulai muncul dan menghilang secara tidak stabil. Untuk sesaat, pupil matanya berubah dari emas menjadi celah vertikal yang memancarkan cahaya merah darah.

​Rasa takutnya melonjak, namun rasa empatinya yang tidak diinginkan juga muncul. Ia menyadari bahwa Valerius tidak sedang memamerkan kekuatannya; ia sedang berjuang untuk tetap menjadi manusia. Sihir bayangan itu bukan hanya kekuatannya, itu adalah penyakitnya. Itu adalah haus yang disebutkan dalam buku kuno yang ia baca.

​Dia kehilangan kendali, pikir Aethela. Ia bisa merasakan resonansi sihir bulan di dalam dirinya mulai bereaksi secara otomatis. Cahaya bulan adalah penawar bagi kegelapan yang liar. Tanpa sadar, jemari Aethela menyentuh kaca jendela, dan sedikit pendaran perak merembes keluar dari kulitnya.

​Valerius tersentak. Insting predatornya yang tajam menangkap kehadiran sihir asing. Dalam sekejap, ia berdiri dan menoleh ke arah jendela dengan kecepatan yang tidak mungkin dilakukan manusia biasa.

​"Siapa di sana?!" serunya.

​Aethela tidak punya waktu untuk lari. Dengan sekali sentakan tangan, Valerius menggunakan bayangannya untuk menarik pintu jendela hingga terbuka lebar. Aethela terdorong masuk ke dalam ruangan, terjatuh di atas karpet tebal tepat di kaki sang Pangeran Naga.

​Kesan dingin dan gelap langsung menyergapnya. Bayangan-bayangan di ruangan itu mendesis, seolah-olah mereka ingin menerkam cahaya yang dibawa Aethela.

​Valerius menatapnya dengan mata yang masih setengah naga—liar dan tanpa belas kasihan. Ia mencengkeram lengan Aethela dan menariknya berdiri dengan kasar.

​"Mengintai calon suamimu di tengah malam, Putri?" Valerius mendesis, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Aethela. "Apakah kau begitu tidak sabar untuk memulai pernikahan kita, atau kau hanyalah mata-mata kecil yang bodoh?"

​Aethela bisa merasakan panas tubuh Valerius yang kontras dengan udara dingin di ruangan itu. Cengkeraman tangannya kuat, namun ia bisa merasakan tangan Valerius sedikit gemetar. Pria ini sedang berjuang dengan rasa sakit yang luar biasa.

​"Aku tidak memata-matai," sahut Aethela, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar meskipun jantungnya terasa ingin melompat keluar. "Aku merasakan sihirmu yang tidak stabil. Kau... kau sedang hancur, Valerius."

​Mata Valerius menyipit. "Aku tidak butuh dikasihani oleh manusia."

​"Ini bukan belas kasihan! Ini adalah pengamatan," tantang Aethela. Ia memberanikan diri menatap sisik-sisik hitam yang masih tersisa di leher Valerius. "Sihirmu memakanmu dari dalam. Kau membawaku ke Obsidiana bukan untuk menjadi Ratu, tapi untuk menjadi baterai sihirmu, bukan?"

​Valerius melepaskan cengkeramannya dan berbalik, berusaha menyembunyikan wajahnya yang masih menunjukkan tanda-tanda transformasi. "Kau pintar, Aethela. Terlalu pintar untuk kebaikanmu sendiri. Ya, sihirmu adalah penstabil. Tanpanya, aku akan menjadi monster sepenuhnya dalam waktu singkat. Dan aku tidak akan membiarkan kerajaanku jatuh karena aku tidak bisa menahan kegelapan ini."

Rasa benci yang tadi ia rasakan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit—kerentanan yang saling terkait. Ia juga memiliki kutukan. Ia juga takut kehilangan dirinya sendiri pada sihirnya.

​"Kita tidak berbeda, Valerius," ucap Aethela rendah. "Kau takut pada bayanganmu, dan aku takut pada bulanku. Kau pikir kau menjadikanku tawanan, tapi kenyataannya, kita berdua adalah tawanan dari kekuatan yang tidak kita inginkan."

​Valerius terdiam. Ruangan itu menjadi sunyi, hanya menyisakan suara deru angin di luar. Bayangan di dinding mulai tenang, perlahan kembali ke tempat asalnya saat keberadaan Aethela memberikan ketenangan yang tidak disengaja pada energi di ruangan itu.

​Valerius menoleh kembali, matanya kini telah kembali menjadi emas manusia yang dalam. Ia menatap Aethela dengan cara yang berbeda—bukan sebagai aset, melainkan sebagai seseorang yang pertama kali melihat ke dalam jiwanya yang rusak.

​"Pergilah," kata Valerius, suaranya kini terdengar letih. "Tidurlah. Besok perjalanan kita akan sangat panjang. Dan jangan pernah mengintai aku lagi, Aethela. Lain kali, bayanganku mungkin tidak akan mengenalimu sebagai pengantinnya."

​Aethela tidak membantah. Ia berbalik dan berjalan keluar melalui pintu jendela, kembali ke kegelapan lorong. Namun, saat ia melangkah pergi, ia tahu satu hal: ia tidak lagi hanya takut pada Valerius. Ia mulai merasa terikat padanya dengan cara yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar perjanjian politik.

Aethela merasakan beban rahasia itu di dadanya. Ia telah melihat kelemahan sang Naga. Dan dalam dunia mereka, kelemahan adalah kunci—namun juga bisa menjadi tali yang menjerat mereka berdua hingga mati.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca📖

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!