Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: PERTOLONGAN ISMI
#
Dingin.
Gelap.
Napas... susah.
Dyon nggak tau udah berapa lama dia tergeletak di lantai gudang. Mungkin sejam. Mungkin lebih. Waktu kayak berhenti—cuma ada rasa sakit yang nggak ada habisnya.
Rusuknya patah—tiap kali napas rasanya kayak ditusuk pisau dari dalam. Darah udah ngering di wajah, lengket, gatel. Tapi tangannya nggak kuat buat nggaruk.
Mata merem. Terbuka dikit. Merem lagi.
*Ibu... Bapak...*
Dia ingat wajah ibu. Senyumnya yang hangat waktu masak nasi goreng buat sarapan. Suara bapak yang kalem waktu ngajarin ngaji. Pelukan mereka yang bikin Dyon merasa... aman.
*Kalian di sana... enak nggak? Di surga... jauh dari semua ini?*
Air mata keluar lagi. Panas. Ngalir ke pelipis, nyampur sama darah kering.
*Aku... aku pengen nyusul. Capek, Bu. Capek banget.*
Suara gembok bergerak—bunyi kriyet kecil. Dyon nggak peduli. Mungkin mereka balik buat nyiksa lagi. Mungkin mau ngabisin dia sekalian.
Udah. Terserah.
Pintu kebuka pelan—bunyi engsel berkarat nyaring di keheningan.
Cahaya masuk. Bikin mata Dyon silau.
"Dyon?!"
Suara perempuan. Lembut. Panik.
Ismi.
Langkah kaki cepat. Sandal ngehantam lantai gudang berkali-kali. Terus Ismi ada di sampingnya—jongkok, tangan gemetar ngelus wajah Dyon yang penuh darah.
"YA ALLAH! DYON!" Ismi teriak. Suaranya pecah. "APA YANG MEREKA LAKUKAN?!"
Dyon coba buka mulut. Bibir kering, pecah-pecah. "Is... Ismi..."
"JANGAN NGOMONG! JANGAN!" Ismi nangis—keras, histeris. Air matanya jatuh ke wajah Dyon. "YA ALLAH, YA ALLAH... KENAPA... KENAPA MEREKA BISA JAHAT KAYAK GINI?!"
Tangannya gemetar pegang kepala Dyon—hati-hati, takut bikin sakit. Jilbabnya agak melorot gara-gara dia buru-buru, tapi dia nggak peduli.
"Ismi... pulang... aja," bisik Dyon pelan. Suaranya serak. "Bahaya... kalau... kalau kamu... di sini..."
"DIAM!" Ismi ngelap air matanya—tapi makin banyak yang keluar. "AKU NGGAK BAKAL NINGGALIN KAMU! NGGAK!"
Dia lirik sekeliling—gudang gelap, kotor, bau apek. Nggak ada siapa-siapa. Cuma mereka berdua.
Ismi napas dalam. Coba tenang—meskipun tangannya masih gemetar parah. "Aku... aku angkat kamu. Kita... kita harus ke klinik."
"Nggak... nggak usah," Dyon geleng pelan—kepala rasanya berat banget. "Aku... nggak punya... uang."
"AKU PUNYA!" Ismi bentak—bukan marah, tapi desperate. "AKU PUNYA UANG! DIAM DAN DENGERIN AKU!"
Dia coba angkat Dyon—pegang di bawah ketiak, bantu dia duduk. Dyon meringis—rusuk patahnya bergeser, nyerinya luar biasa. Dia nggak bisa nahan—teriak.
"MAAF! MAAF!" Ismi nangis makin kencang. "AKU... AKU NGGAK TAU HARUS GIMANA... TAPI... TAPI KAMU HARUS KELUAR DARI SINI!"
Dyon coba bantu—kakinya ngedorong lantai, tangan nahan di bahu Ismi. Pelan-pelan dia berdiri—meskipun kakinya kayak jelly, goyang-goyang, hampir jatuh lagi.
Ismi nahan dia. Kuat-kuat. Badannya kecil, tapi dia paksa diri nahan berat Dyon yang limbung.
"Pelan... pelan aja," bisik Ismi sambil nangis. "Kita... kita jalan pelan."
Mereka keluar dari gudang. Satu langkah. Dua langkah. Dyon hampir jatuh berkali-kali—tapi Ismi terus nahan. Terus peluk pinggangnya biar nggak jatuh.
Koridor belakang sepi. Syukurlah. Nggak ada yang liat.
Tapi jalan ke gerbang sekolah masih jauh. Dyon nggak yakin dia kuat.
"Ismi... aku... aku nggak bisa," Dyon napasnya putus-putus. "Berat... kamu... kamu capek..."
"DIAM! AKU NGGAK CAPEK!" Ismi teriak lagi—meskipun peluh udah ngucur di dahinya, nafasnya ngos-ngosan. "KAMU HARUS HIDUP, DYON! KAMU HARUS!"
Kenapa dia sekeras ini? Kenapa dia peduli banget?
Dyon nggak ngerti. Tapi... hangat. Dadanya hangat meskipun sakit.
Akhirnya mereka sampai di gerbang. Ismi ngeluarin hape—telpon ojek. Suaranya masih gemetar waktu ngasih alamat.
Lima menit kemudian, ojek datang. Bapak-bapak tua yang kaget liat Dyon berlumuran darah.
"Nak, ini kenapa?!" tanya bapak ojek.
"TOLONG ANTER KE KLINIK TERDEKAT! CEPAT!" Ismi nggak jawab pertanyaannya—langsung naik, bantu Dyon naik di belakangnya. Dyon ngelean di punggung Ismi—kepala berat, mata udah setengah merem.
Motor melaju cepat. Angin sore dingin nyambar muka Dyon—tapi dia nggak ngerasa apa-apa. Cuma hangat punggung Ismi. Cuma wangi parfumnya yang lembut kayak bunga.
*Jangan tidur,* pikir Dyon. *Kalau tidur... mungkin nggak bangun lagi.*
"DYON! JANGAN TIDUR!" Ismi teriak sambil pegang tangan Dyon yang melingkar di pinggangnya. "KUMOHON! BERTAHANLAH!"
"Hmm..." Dyon cuma bisa gumam pelan.
Klinik kecil. Bangunan satu lantai, cat putih udah kusam. Ada tulisan "KLINIK SEHAT SENTOSA" di depan.
Ismi turun cepat, bantuin Dyon turun—hampir jatuh, tapi dia tahan. Bayar ongkos ojek sambil bilang "makasih, Pak!" cepet-cepet.
Masuk klinik. Suster kaget—langsung panggil dokter.
Dyon dibawa ke ruang perawatan. Ditidurkan di kasur. Dokter—bapak-bapak berkacamata—langsung periksa.
"Rusuk patah. Luka dalam di kepala. Memar parah di seluruh tubuh," kata dokter sambil ngeliatin dengan serius. "Siapa yang lakukan ini?"
Ismi nggak jawab. Cuma nangis sambil pegang tangan Dyon yang dingin.
"Kami harus bawa ke rumah sakit—"
"NGGAK!" Ismi potong. "DI SINI AJA! TOLONG OBATI DI SINI!"
Dokter ragu. "Tapi—"
"KUMOHON, PAK!" Ismi nangis makin keras. "SAYA... SAYA BAYAR BERAPA PUN! TAPI TOLONG... TOLONG OBATI DIA DI SINI!"
Dokter lihat Ismi lama. Terus ngangguk pelan. "Baik. Saya usahakan."
---
Dua jam kemudian.
Dyon tersadar. Mata terbuka pelan—silau, ada lampu putih di atas. Bau obat nyengat.
Kepala masih pusing. Rusuk masih nyeri—tapi udah diperban. Ada infus nancep di tangan kiri.
Dia nengok ke samping.
Ismi.
Duduk di kursi plastik. Kepala nunduk, tangan ngelipet di pangkuan. Jilbab udah rapi lagi—tapi matanya bengkak, merah. Bekas nangis.
"Ismi..." suara Dyon serak.
Ismi langsung ngangkat kepala—cepat. Matanya berbinar—lega, seneng, sedih, semua campur jadi satu.
"DYON!" Dia loncat dari kursi, pegang tangan Dyon. "KAMU... KAMU SADAR! ALHAMDULILLAH... ALHAMDULILLAH!"
Air mata jatuh lagi. Dia nangis—tapi sekarang nangis lega.
"Ismi... kenapa... kenapa kamu nangis buat... buat sampah sepertiku?" tanya Dyon pelan. Matanya berkaca-kaca.
Ismi geleng keras. Tangannya ngepal—pegang tangan Dyon lebih erat.
"KAMU BUKAN SAMPAH!" teriaknya. Suaranya pecah. "JANGAN PERNAH BILANG GITU LAGI! KAMU... KAMU LEBIH KUAT DARI MEREKA SEMUA! KAMU... KAMU MANUSIA! MANUSIA YANG BAIK!"
Dyon nggak kuat. Air matanya tumpah—kayak bendungan jebol.
"Kenapa... kenapa kamu baik banget sama aku?" bisiknya. "Aku... aku nggak punya apa-apa buat dibalikin ke kamu..."
Ismi senyum—meskipun masih nangis. "Karena... karena Allah mencintaimu, Dyon. Dan aku... aku melihat itu. Aku melihat kekuatanmu. Kesabaranmu. Meskipun dunia jahat sama kamu... kamu masih berdoa. Masih sholat. Masih bertahan."
Dyon terisak. Keras. Kayak anak kecil.
Ismi peluk kepalanya—hati-hati. Lembut. "Menangis... nggak apa-apa. Kamu manusia, Dyon. Kamu boleh menangis."
Mereka diam dalam pelukan itu. Cuma suara tangis Dyon yang ngisi ruangan.
---
Beberapa menit kemudian, Dyon udah agak tenang. Ismi duduk di kursi lagi—tapi masih pegang tangan Dyon.
"Dyon," kata Ismi pelan. "Kita... kita harus lapor. Ke polisi. Atau ke kepala sekolah. Mereka... mereka nggak boleh lolos begitu aja."
Dyon langsung geleng—panik. "Jangan! Jangan, Ismi!"
"Tapi kenapa?! Mereka udah nyiksa kamu! Ini... ini kejahatan!"
"Koneksi mereka kuat," Dyon napas berat. "Mereka... mereka orang kaya. Mereka bisa manipulasi kebenarannya. Aku... aku pernah lapor."
Ismi kaget. "Kapan?"
"Bulan lalu," Dyon ngeliatin langit-langit. Suaranya kosong. "Aku lapor ke polisi. Bilang Arman sama Edward nyiksa aku. Tapi... tapi bapak mereka datang. Bayar polisi. Bilang aku yang ngada-ngada. Aku... aku yang disuruh minta maaf. Malah... malah abis itu mereka nyiksa aku lebih brutal. Di gudang yang sama. Mereka bilang... 'ini pelajaran buat anak yang suka ngadu'."
Ismi nutup mulut pakai tangan—shock. "Ya Allah..."
"Jadi kumohon," Dyon natap Ismi. Matanya penuh permohonan. "Jangan lapor. Nanti... nanti makin parah."
Ismi nggak bisa ngomong. Cuma nangis lagi—diam, air mata ngalir.
Dunia ini... kejam.
Terlalu kejam.
---
**BERSAMBUNG**
**HOOK:** *Di saat seluruh dunia menganggapku sampah, dia melihatku sebagai manusia. Tapi... bisakah cinta seorang malaikat menyelamatkan iblis yang sudah terlalu dalam di neraka?*