Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.
Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cari Masalah
Sementara itu, di dalam kabin jet pribadi yang sunyi, suasana mendadak berubah mencekam. Brian duduk tegak dengan mata terpaku pada layar tablet di tangannya. Melalui sudut pandang CCTV yang tersembunyi di sudut ruang tamu.Ia bisa melihat Mike berdiri terlalu dekat dengan Arumi.
Tangan Brian mengepal begitu kuat hingga urat-urat di lengannya menonjol. Giginya bergelutuk menahan amarah yang mendidih. Ia menyaksikan bagaimana pria itu menatap istrinya dengan penuh obsesi.
"Beran-beraninya dia..." geram Brian rendah, suaranya terdengar seperti harimau yang siap menerkam.
Ia menyambar ponselnya dan langsung menghubungi kepala pengawal di rumahnya. Begitu panggilan tersambung. Brian tidak memberikan kesempatan bagi lawan bicaranya untuk menyapa.
"Siapa yang mengizinkan tikus itu masuk ke rumahku?!"bentak Brian, membuat asistennya yang berada di kursi seberang tersentak ketakutan. "JIka dalam sepuluh detik kalian tidak menyeretnya menjauh dari Arumi, aku sendiri yang akan memastikan kalian tidak akan pernah bekerja lagi di negara ini! Pantau dia, jangan biarkan dia menyentuh kulit Arumi seujung kuku pun!"
Brian melempar ponselnya ke lantai kabin. Ia bersandar pada kursi kulitnya, napasnya memburu. Matanya kembali menatap layar, menyaksikan MIke yang kini mulai mengulurkan tangan seolah hendak menyentuh bahu Arumi.
"Cepatlah terbang sialan!" umpatnya pada pilot, seolah jet pribadi itu bisa menembus waktu agar ia bisa segera sampai dan menghancurkan pria di hadapan istrinya itu.
...***...
Arumi mundur satu langkah secara halus saat Mike mencoba mengikis jarak di antara mereka. Cahaya matahari sore yang mulai menguning masuk melalui jendela besar ruang tamu, memantulkan bayangan panjang yang tampak kaku di lantai marmer.
"Aku menghargai kedatanganmu sebagai rekan mendiang suamiku Mike. Tapi ini sudah sore, dan Brian sedang tidak ada di rumah," ujar Arumi setegas mungkin.
Mike terkekeh pelan, seolah nama yang disebutkan Arumi bukanlah ancaman baginya. "Brian? Adik iparmu itu memang sangat protektif sejak Adrian tiada. Aku dengar dia bahkan melarang mu keluar rumah tanpa pengawalan."
Arumi terdiam, Mike dan publik hanya tahu bahwa Brian adalah adik ipar yang menjaga istri mendiang kakaknya. Tak ada yang tahu bahwa di balik layar. Brian adalah pria yang telah mengklaimnya sebagai istri.
Belum sempat Mike melanjutkan, dari arah pintu masuk dua pengawal bertubuh tegap masuk. Meski tahu Mike adalah pengusaha sukses, tugas mereka hanya satu menjalankan perintah mutlak dari sang majikan.
"Mohon maaf, Tuan Mike. Atas perintah Tuan Brian, Anda diminta untuk segera meninggalkan kediaman ini," ucap kepala pengawal dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Mike menatap kedua pengawal itu dengan tatapan meremehkan, lalu beralih kembali pada Arumi. Sambil merapikan kancing jas mahalnya, ia melempar senyum tipis.
"Sampaikan salamku pada adik iparmu yang arogan itu, Arumi. Dia tidak bisa mengurung mu selamanya hanya karena dia merasa bertanggung jawab atas peninggalan kakaknya," sindir Mike tajam.
Ia mulai berjalan menuju pintu, namun tepat saat melewati Arumi, ia berhenti sejenak.Tanpa memedulikan para pengawal, ia berbisik rendah. "Aku pergi sekarang. Tapi ini bukan yang terakhir. Aku akan menemui janda cantik Adrian ini lagi segera."
Arumi mematung, menatap punggung Mike yang menghilang di balik pintu utama. Ia tahu, jika Brian mendengar apa yang dikatakan Mike melalui kamera pengawas, pria itu pasti akan mengamuk hebat karena harga dirinya sebagai suami yang dirahasiakan telah diusik.
Setelah Mike pergi, Arumi segera kembali ke kamarnya. Ia tak mau ambil pusing dengan ucapan pria itu, baginya Mike hanyalah bagian dari masa lalu yang tidak lagi penting. Saking lelahnya dengan ketegangan sore itu, lagi-lagi ia lupa mengisi daya ponselnya yang masih mati tergeletak di atas meja.
Arumi melangkah ke kamar mandi, menanggalkan pakaiannya, lalu masuk ke dalam bathtub. Ia berendam di dalam air hangat, mencoba menghanyutkan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Uap air yang memenuhi ruangan perlahan membantunya sedikit lebih rileks.
Setelah selesai mandi, Arumi bersiap-siap. Ia mengenakan pakaian rumahan yang nyaman, lalu berniat turun ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di benaknya. Ia ingin membuat banana cake kesukaan Adrian.
Rasa rindu kepada mendiang suaminya itu mendadak membuncah. Arumi ingin mengenang Adrian lewat aroma kue yang dulu selalu memenuhi rumah mereka. Tanpa menyadari bahwa badai bernama Brian sedang bergerak mendekat, Arumi melangkah turun ke dapur dengan satu tujuan, mengobati rindunya pada pria yang telah tiada.
Di dapur yang luas itu, Arumi sibuk mengaduk adonan bersama para pelayan. Aroma manis pisang dan mentega perlahan mulai memenuhi ruangan. Para pelayan di sana diam-diam selalu mengagumi nyonya muda mereka. Bagi mereka, Arumi adalah sosok yang tidak hanya cantik, tetapi juga sangat ramah dan rendah hati.
"Nyonya, biarkan kami saja yang melanjutkan membuat kuenya. Anda cukup duduk manis saja," ucap Astrid, pelayan senior yang sudah mengabdi belasan tahun di keluarga Aditama.
Arumi menoleh dan memberikan senyum lembut yang menenangkan. "Tidak apa-apa, Bibi Astrid. Biarkan aku yang menyelesaikannya. Kalian beristirahatlah lebih awal, aku juga sedang tidak ingin makan malam berat."
Astrid tampak ragu, ia melirik jam dinding dengan cemas. "Tapi, bagaimana jika nanti Tuan Brian tahu dan dia marah, Nyonya?"
"Biarkan saja dia marah," sahut Arumi ringan tanpa menghentikan kegiatannya. "Bukankah dia memang selalu marah-marah setiap hari?"
Celetukan itu spontan membuat para pelayan tersenyum kecil, merasa terhibur sekaligus kagum dengan keberanian nyonya mereka menghadapi temperamen buruk sang tuan besar.
Setelah banana cake matang dan aromanya menguar sempurna, Arumi bersikeras membagikan potongan kue itu kepada seluruh penghuni mansion. Mulai dari para pengawal, pelayan, hingga sopir di pos depan.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dengan perasaan yang sedikit lebih tenang. Arumi kembali ke lantai atas. Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan gaun tidur berbahan sutra, ia merebahkan tubuhnya di ranjang luas yang terasa sepi.
Keheningan malam segera membawa Arumi ke alam bawah sadar. Dalam tidurnya yang nyenyak ia kembali ke masa lalu, terhanyut dalam mimpi indah tentang mendiang suaminya, Adrian. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya, senyum damai yang hanya muncul saat ia bersama pria yang dia cintai dalam mimpinya.
...***...
Pukul empat pagi, keheningan mansion mewah keluarga Aditama pecah oleh suara deru mobil yang berhenti di depan pintu utama. Brian melangkah keluar dengan rahang yang mengeras. Kemejanya sudah kusut, dan matanya merah karena kurang tidur dan amarah yang membara sepanjang belasan jam penerbangan.
Begitu pintu besar itu terbuka, hal pertama yang menyambut indra penciumannya bukanlah aroma parfum Arumi yang lembut, melainkan aroma manis yang sangat ia kenali. Aroma banana cake.
Langkah Brian terhenti di tengah ruangan. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tahu persis siapa yang sangat menyukai kue itu. Bukan dirinya, aroma itu adalah aroma kesukaan Adrian, kakaknya yang telah tiada.
"Sialan," geram Brian pelan. Aroma itu terasa seperti ejekan baginya, seolah-olah hantu kakaknya masih menguasai rumah dan istrinya.
Ia melangkah lebar menaiki tangga, mengabaikan para pengawal yang tertunduk takut melihat aura gelap yang dipancarkan sang aktor. Brian membuka pintu kamar dengan sekali hentakan kuat.
Di dalam sana, suasana begitu tenang, sangat kontras dengan badai di dalam dadanya. Ia mendekat ke sisi ranjang, menatap Arumi yang tertidur lelap. Sisa-sisa senyum tipis masih tertinggal di bibir wanita itu. Sebuah senyum damai yang jarang Arumi berikan padanya. Brian tahu, senyum itu bukan untuknya. Arumi pasti sedang memimpikan Adrian.