Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Mau Jalan Sama Dia
Aira menatap layar ponselnya lama.
Evan:
Malam minggu besok jadi ya. Aku jemput jam tujuh.
Jarum jam berdetak terlalu keras.
Aira menghela napas… lalu mengetik.
Aira:
Iya.
Send.
Jantungnya berdegup aneh, bukan karena senang.
Tapi karena satu nama terus mengganggu kepalanya
Damar.
Malam itu, Aira keluar kamar buat ambil minum.
Damar ada di ruang tengah, membaca buku seperti biasa. Terlalu tenang untuk seseorang yang bikin orang lain nggak tenang.
“Aira.”
“Hm?”
“Kamu jadi pergi?”
Aira berhenti di depan kulkas.
“Kenapa nanya?”
“Jawab aja.”
“Iya,” jawab Aira singkat. “Aku pergi.”
Damar menutup bukunya perlahan.
“Dengan Evan?”
Aira meneguk air. “Iya.”
Hening.
Aira kembali naik ke atas menuju kamarnya, Damar mengikutinya dari belakang.
Damar memotong Aira persis di depan pintu kamar.
“Aku… nggak setuju,” kata Damar dengan nada yang sedikit tinggi.
Aira tertawa kecil, pahit. “Kamu nggak punya hak.”
“Aku cuma...” Suara Damar tercekat, Damar terdiam.
“Kamu bukan siapa-siapa aku," Kalimat itu menghantam, jantung Damar.
Damar mulai panik masih menatap Aira.
“Aira.”
“Apa?” Aira menatap balik, matanya tajam.
“Mau ngelarang lagi? Pakai alasan apa sekarang? Bikin kue?”
Damar mendekat.
Satu langkah.
“Aira, dengar...”
“Aku capek,” potong Aira.
“Kamu selalu bilang nggak peduli, tapi selalu ikut campur.”
Aira Maju menyingkirkan Damar dari hadapannya
“Malam minggu aku mau jalan. Titik.”
Tangannya sudah menyentuh gagang pintu kamar.
Namun tiba-tiba, Damar menarik pergelangan tangannya.
“AIRA.”
“Apa sih!”
Aira menoleh dan dunia berhenti.
Bibir Damar menyentuh bibirnya.
Bukan lama.
Bukan rapi.
Canggung.
Spontan.
Panas.
Aira membeku dan Damar juga.
Mereka saling menjauh dengan napas tercekat, mata Aira membesar.
“KAMU..”
“Masih mau jalan sama dia?” potong Damar cepat, suaranya gemetar.
“Setelah ini?" Damar sedikit tersenyum.
Hening.
Jantung Aira seperti mau copot.
“Kamu… sadar nggak kamu barusan ngapain?” suara Aira bergetar.
Damar berusaha terlihat tenang. “Aku tau.”
“Kamu jahat.”
“Iya.”
“Kamu nyebelin.”
“Aku tau.”
Aira menghentakan kaki ke lantai
“Dasar!”
Aira mendorong dada Damar pelan lalu masuk kedalam kamar.
BRAK!
Pintu tertutup keras.
Di balik pintu, Aira menempelkan punggungnya.
Tangannya menyentuh bibirnya, tanpa dia sadari dia tersenyum
“Bodoh… Aira," katanya pelan “…kok seneng,"
Ponselnya bergetar.
Evan:
Mau mastiin lagi jadi kan?
Aira menatap layar… lalu mengetik cepat.
Aira:
Maaf Evan, Aku nggak bisa pergi. Tante aku ngajak aku belanja mendadak.
Send.
Aira langsung membenamkan diri di atas tempat tidurnya, memeluk bantal, wajahnya merah merona.
Sedangkan di tempat yang lain, di dalam kamarnya Damar melamun tatapannya kosong, tangannya gemetar.
“Aku bener-bener mencium Aira,” gumamnya.
Tapi tidak ada penyesalan hanya saja semua itu terlalu tiba-tiba.
*** Efek Samping Ciuman **
Aira turun ke dapur dengan harapan sangat tinggi.
Mungkin Damar akan canggung atau malu-malu.
Minimal senyum aneh lah.
Pagi itu mereka sarapan pagi, seperti biasa Aira memasak untuk sarapan, Karena tante Mala sudah pergi.pagi-pagi sekali.
Namun Aira melihat tak ada perubahan dalam sikap Damar.
“Telurnya kebanyakan garam.”
Damar duduk santai di meja makan.
Tenang.
Normal.
Terlalu normal.
Aira berhenti melangkah.
“…Oh.”
Aira duduk pelan.
Hening.
Tidak ada tatapan, tidak ada salah tingkah, dan tidak terjadi apa-apa.
Seolah kejadian semalam cuma mimpi.
Aira menatap Damar diam-diam, rambutnya masih rapi, wajahnya dingin, fokus baca berita di ponsel.
SERIOUSLY?
“Kamu tidur nyenyak?” tanya Damar tanpa menoleh.
Aira tersedak.
“KA..."
Aira menahan diri. “Y-ya.”
“Syukur lah.”
"Syukur?!"
Aira mencengkram sendok.
Dia nggak bahas, nggak minta maaf, nggak panik.
Apa dia nyesel?
Di kepala Aira mulai berisik.
“Kamu… inget kejadian semalam?”
Damar berhenti mengunyah.
“Iya.”
“Oh.”
Aira mulai sesak saking kesel,
“Terus?” kata itu terlontar begitu saja.
“Terus apa?” tanya Damar datar.
“YA TERUS APA?!”
Damar menoleh pelan. “Kenapa kamu teriak?”
Aira menghela napas keras.
“Nggak jadi.” Aira berdiri cepat.
Damar melirik Aira “Kamu mau kemana? ini tanggal merahkan,”
“KEMANA AJA.”
Jawaban Aira terlalu cepat.
Damar mengernyit. “Kenapa?”
Aira menatapnya kesal.
“KEMANA AJA ASAL NGGAK LIAT KAMU...”
Damar terdiam.
“kamu kenapa?”
Aira berbalik sambil membuka pintu. “Lupakan”
Aira keluar dengan pipi panas.
Di luar ...
“Astaga,” gumam Aira sambil berjalan cepat.
“Ini manusia terbuat dari tanah apa sih,”
"Tanah kutub utara..." Aira menjawab sendiri.
Aira mendesah.
Hah… Apa aku harus jalan dulu sama cowok baru dia perduli?
Di dalam rumah, Damar bengong, Sendok di tangannya terlepas
“Bisa jadi dia ketemu Evan?” gumamnya.
Rahangnya mengeras.
“…nggak boleh.”
Damar bergegas keluar dari rumah.