Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Tragedi Sarapan
Malam telah larut. Lana memperhatikan suaminya telah tertidur. Wajah tampannya tak berubah, bahkan semakin tampan saja walau tubuhnya kini kurus. Lana mengeluarkan ponsel dan mencoba mencari sudut yang tepat untuk mengambil foto Fian. Bahkan ia memperbesar foto itu sebelum mengambilnya. Foto pun ia dapatkan beberapa.
Diperhatikannya wajah sang suami. Kalau mau jujur, Fian itu kulitnya putih mirip orang bule. Hanya karena rambutnya hitam, tak ada yang begitu memperhatikannya. Berdasarkan kabar burung di kantor, Fian bukanlah anak kandung Hawari tapi anak kandung adiknya yang tinggal di Jerman. Adiknya pernah menikah dengan orang bule sehingga lahirlah Fian, tapi kemudian cerai. Kini adik Hawari menikah dengan orang Indonesia dan masih menetap di sana.
Namun, bila diperhatikan dengan baik, Fian sama sekali tidak mirip dengan Hawari dan istrinya. Apakah Fian mirip dengan adik Hawari? Tak ada yang tahu, karena belum pernah ada yang melihat adik Hawari datang ke Indonesia.
Terdengar Fian terbatuk membuat Lana panik dan pura-pura tidur.
Pria itu membuka matanya dan melihat ke depan. "Lana, tolong minum!"
Karena tak tega, Lana pura-pura bangun dan menguap. "Apa? Mas mau minum?" Ia bangkit dan mengambilkan segelas air pada suaminya. "Nih."
"Mmh." Fian duduk dan meminumnya. Setelah itu kembali tidur.
***
"Lana, bangun!"
Lana membuka mata sebelah tapi malah menarik selimutnya. "Ada apalagi dia, pagi-pagi cari masalah."
"Lana!"
"Iyaa ...," sahut Lana dengan malas.
"Cepat bangun! Kamu belum solat Subuh 'kan?"
"Eh?" Lana meraih ponselnya di atas meja. "Astaghfirullah ... sudah jam lima." Matanya membola.
"Cepat solat! Aku sudah." Pria itu menarik selimutnya dengan tenang. "Kalau sudah solat, panggil Hadi. Aku ingin sarapan di meja makan."
"Iya." Lana bergegas ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, keduanya sudah berada di meja makan. Lana membantu mengambilkan lauk hingga pria itu tinggal makan saja.
Sungguh ini pengalaman baru bagi Fian karena sebelumnya, Lynda tak pernah mengambilkannya makanan. Mungkin karena saat itu ia sehat, ia tak pernah mempermasalahkan, tapi saat ia sakit istrinya tak pernah mencoba untuk membantu. Biasanya malah menyuruh pembantu mengambilkan makanannya. Andai saja ia masih sehat, ia tak perlu pusing memikirkan hal ini. Ingin rasanya marah, tapi perlakuan Lana justru mirip dengan yang dilakukan ibunya. Dulu ia selalu kesal bila ibunya mengambilkan piring dan lauk karena dianggap seperti anak kecil, tapi setelah menikah, ia malah merindukannya.
"Nasi gorengnya mau sama sosis atau telur?" tanya Lana.
"Telur."
Lana meletakkan piring Fian kembali ke tempatnya. Pria itu kemudian mulai makan.
Terdengar bunyi langkah sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer. Rupanya Lynda turun dari lantai dua diikuti seorang penjaga gerbang membawakan sebuah koper. "Oh, sedang makan. Oh ya, aku akan pergi ke Paris selama tiga bulan, jadi jangan tunggu aku pulang."
Fian tak menoleh, hanya Lana. "Lana, tolong jusnya. Aku ingin minum jus jeruk."
"Eh, iya." Lana menuangi gelas suaminya.
Lynda tampak kesal, tapi ia tak peduli. Wanita berambut panjang itu menarik kursi dan duduk di sebelah Fian sambil merapikan rambutnya. Lana tampak serba salah.
"Lana, ayo makan." Fian kembali bicara tanpa menoleh.
"Oh ... iya," sahut Lana ragu-ragu. Ia baru saja duduk ketika Lynda minta tolong.
"Eh, tolong piringnya."
"Oya." Lana tak jadi duduk.
Saat itu Fian langsung mengambil gelasnya dan meneguk sedikit. Bola matanya bergerak melihat piring yang melintas di depan matanya.
Namun, Lynda tak langsung mengambil piringnya. "Eh, tolong ambilkan nasi goreng sedikit sama sosis."
"Oh, iya." Lana menurut.
Fian hanya memperhatikan, bahkan semuanya tanpa bicara.
Padahal Lana sedikit khawatir dengan kediaman pria itu yang tampak aneh. "Apa dia marah?" "Ini." Ia menyerahkan piring itu pada Lynda.
"Sama sendoknya," pinta Lynda lagi.
Lana mengambilkan sendok dan kembali menyerahkan piring itu.
Lynda mengambilnya dengan senang hati. "Ah, enaknya ... ada yang bisa disuruh-suruh."
"Hadii ..!!" teriak Fian keras hingga suaranya menggema ke langit-langit ruangan. Lynda dan Lana terkejut.
"Iya, Pak." Hadi yang berdiri tak jauh dari meja makan seketika siaga.
"Tolong antar aku ke kamar."
Hadi menarik kursi roda Fian dari sisi meja makan dan memutarnya ke arah kamar.
"Mas, kok balik? Mas 'kan belum sarapan," sahut Lana heran.
Hanya tangan Fian yang terangkat tanpa menoleh. "Lana, ayo ke kamar. Aku mau istirahat."
Lana terpaksa berdiri dan bergegas ikut suaminya.
Lynda tampak kesal karena baru kali ini Fian tak mau makan bersamanya. Ia mengetuk-ngetuk piring dengan garpu karena dongkol, diabaikan. Biasanya pria itu yang selalu mengejarnya untuk tak lupa sarapan bersama. Namun, sekarang sejak menikah lagi, sepertinya perhatiannya mulai teralihkan.
Seketika ia menjatuhkan garpu ke piring karena selera makannya tiba-tiba hilang. Bunyinya sedikit berdenting karena ia setengah melempar. Namun, kemudian tersenyum. "Mmh, istirahat ya. Tapi kamu tak bisa melakukan apa pun padanya karena kamu tak mampu. Kamu 'kan mandul." Ia mendengus dengan senyum miring sambil mengambil gelas dan minum seteguk.
Di kamar, Fian kembali ke atas ranjang. Ia duduk di sana tapi mulutnya merengut. Dengan bantuan tangan, ia mengangkat tubuhnya dan bergeser ke belakang, setelah itu terdengar suara kayu dipukkul. Ternyata Fian tengah memukkul meja.
Lana kaget. Saat itu, Hadi telah keluar. Wanita itu lebih bingung lagi ketika Fian memukkuli meja berkali-kali membuat Lana ketakutan. Ia meraih tangan kiri suaminya itu agar tak cidera dan berusaha menahannya. "Mas, kamu kenapa?"
"Diam! Lepaskan aku!" ucap Fian beringas menghempas tangannya, hingga Lana terjatuh ke lantai.
Pria itu terkejut, tapi kembali memukkuli meja. Bahkan kali ini mengamuk hingga tangan kirinya mulai memerah. Rambutnya pun berantakan karena memukkul dengan sekuat tenaga. "Aah ...! Aahh ...!"
"Mas ...." Lana kembali bangkit. Ia kembali meraih tangan suaminya, tapi kali ini menahannya dengan keras. Ia memegang erat-erat dengan kedua tangan. "Mas, kamu kenapa?" tanyanya khawatir.
"Minggir! Lepaskan tanganku!" Fian berusaha melepaskan tangannya tapi tak bisa. Tubuhnya malah jatuh ke belakang. "Lana!"
"Mas, ada apa denganmu?" Lana masih berupaya menahan sambil berusaha menenangkan pria itu.
"Lana, lepasin gak!" Urat-urat di leher Fian menonjol, menandakan ia tengah berupaya keras melepaskan tangannya hingga tampak mulai berhasil. Matanya memerah. Namun, tiba-tiba Lana memeluknya membuat pria itu kaget. "La-na ...." Bola matanya melebar sempurna.
"Mas, sabar ya ... ada apa denganmu?" Lana begitu bingung. Apa yang membuat pria ini begitu marah?
Fian tak menyangka wanita itu berani memeluknya, tapi saat ini, ia malah membutuhkan pelukan itu. Pelukan hangat yang tiba-tiba saja membuat dirinya tenang. Napasnya yang sempat terengah-engah kini mulai tenang. Untuk sesaat, Fian bahkan bingung harus bagaimana.
"Kenapa aku begini? Kenapa aku marah? Marah pada siapa? Bukankah mengacuhkan Lynda saja sudah cukup?" Terbayang lagi bagaimana Lynda menyuruh Lana mengambilkan makanannya. Apalagi dengan kata-kata yang begitu menyulut kemarahannya. "Ada yang bisa disuruh-suruh".
Jadi pertanyaannya, bukan marah karena siapa, tapi marah karena apa. "Apa ... aku ... marah karena Lynda menindas Lana? Apa aku menyukainya? Ah, bukan. Lana milikku! Dia orangku! Tidak semestinya dia menindas orang kepercayaanku. Kenapa pula Lana tidak melawannya!?" Fian melirik Lana tajam.
Bersambung ....
mau pakai baju terruutp