Menerima laki-laki yang di kenalkan oleh sosok yang bernama Ayah itu seperti membuka pintu derita bagi Maura. Apakah Maura menderita karena perlakuan sang laki-laki atau perasaan bersalah pada keluarganya....
Yuk lanjut episode baru cerita aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
Weekend ini Maura memutuskan untuk pulang dan membuka semua cerita pernikahannya dengan Aska. Maura sudah memantapkan hati jika pernikahannya memang tidak bisa di pertahankan dan di perbaiki. Aska benar-benar menutup akses untuk mereka saling berkomunikasi.
Namun, hal tak terduga datang saat dirinya sedang berkemas. Bi Murni memberitahukan jika Mami Hani datang bersama Stela Kakak iparnya. Stela merupakan istri dari abang Aska. Mereka memang cukup dekat. Maura fikir mereka berdua hanya akan datang berkunjung seperti biasa.
Plak....
"Berani-berani kalian membohongi kami." Ucap Mami Hani setelah mendaratkan tangan nya di pipi Maura yang mendekatinya dan bermaksud mengalami tangan Mami Hani.
Stela hanya diam melipat tangannya di depan dada. Mereka belum duduk sama sekali hanya berdiri menunggu Maura datang.
"Maaf Mi, maksud Mami apa?" Tanya Maura berusaha terlihat biasa saja walau pipi nya terasa sakit dan sudut bibirnya mengeluarkan cairan merah.
"Ini kamu baca sendiri." Ucap Mami Hani melemparkan sebuah amplop bertuliskan nama rumah sakit.
Maura melihatnya dan merasa heran. Siapa yang sakit batin nya. Dengan penuh kehati-hatian Maura membukanya dan betapa terkejutnya Maura karena amplop tersebut berisi tentang catatan medis dirinya yang menyatakan bahkan dirinya tidak bisa memiliki keturunan. Keterkejutan Maura bukan karena isi surat tersebut melainkan kapan dirinya melakukan pemeriksaan tersebut.
"Mi, tapi ini.."
"Cukup! Pantas saja sudah hampir 1 tahun kalian menikah tapi belum juga ada tanda-tanda kamu hamil. Aska laki-laki dan butuh keturunan Maura. Untuk apa kalian bersama kalo kamu tidak bisa memberikan keturunan untuk Aska. Sekarang juga kamu kemasi barang kamu dan pergi dari rumah ini sebelum Aska datang dan semakin sedih. Tunggu saja surat perceraian kalian di rumah orang tua kamu." Mami Hani.
"Baik Mi." Hanya itu yang keluar dari mulut Maura dirinya pun segera kembali ke kamar dan membawa semua barang yang dulu dia bawa ke rumah itu dan tetap membiarkan apa yang sebelumnya ada di sana.
Maura menyimpan kartu debit tanda bukti perjalanan yang sama sekali tidak pernah di pakainya dan semua pemberian Aska melalui Fajar asisten pribadinya. Maura memasukkan semuanya ke dalam kotak kecil dan akan memberikannya pada Aska atau Fajar nanti.
Saat Maura keluar dari kamarnya Mami Hani dan Stela masih berada di ruang keluarga. Keduanya hanya duduk diam tanpa sepatah kata pun. Sebelum Maura berpamitan pada Mami Hani dan Stela Maura berpamitan pada Bi Murni. Bi Murni memeluk Maura erat dengan derai air mata yang tak tertahankan.
"Nyonya akan mendapatkan pria yang lebih baik nanti percayalah." Bi Murni.
"Terima kasih Bi. Maura pamit ya. Bibi jaga diri di rumah." Maura.
"Mih Ka, Maura pamit. Terima kasih untuk kasih sayang Mami dan Kakak selama ini untuk Maura. Maaf. Maura tidak pernah berniat untuk menyakiti Mami dan keluarga. Dan, setelah Mami tau semuanya tolong jangan pernah datang mencari Maura." Pamit Maura.
"Maksud kamu apa? Jangan sok penting ya kamu. Sudah bagus kami hanya meminta kamu kembali ke rumah orang tua kamu. Mami sama Papi tidak meminta kamu mengganti rugi atas kebohongan yang kamu dan keluarga kamu lakukan pada kami." Ucap Stela.
"Kami atau kalian yang harus mengganti rugi?" Tantang Maura.
"Kamu.."
"Sudah Kak. Biar dia pergi Mami muak liat nya."
"Dan untuk kami jangan panggil saya Mami saya bukan Mami kamu dan saya tidak sudi memiliki anak pembohong seperti kamu." Mami Hani.
Sabaaaar.... Lanjut ya...