Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.
Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.
Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.
Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ide Gila Tasya
“Tasya!” suara Nina tiba-tiba terdengar dari balik pintu.
Tasya dan Dimas refleks saling menjauh. Jarak di antara mereka tercipta terlalu cepat, terlalu kaku. Saat Nina muncul di ambang pintu, wajah Tasya sudah lebih dulu memanas—merah karena gugup dan takut ketahuan.
Nina langsung menghampiri dan memeluk Tasya erat. “Gue dapet kabar dari Nico. Katanya lo dikepung preman suruhan bokap lo.”
“Gue aman, Na,” jawab Tasya sambil membalas pelukan itu. Ia lalu berbisik pelan, “Cuma… cowok di belakang lo.”
Nina menoleh. Tatapannya langsung jatuh pada Dimas. Lebam samar di pelipis pria itu tak luput dari perhatiannya.
“Gimana ceritanya kalian bisa sampai dikepung di kampus?” Nina mendengus kesal. “Emangnya petugas keamanan ke mana semua? Besok gue lapor ke dekan.”
“Nggak usah dipanjangin, Na,” potong Dimas tenang sambil bangkit dari bangku. “Ini urusan masa lalu gue.”
“Lo mau ke mana?” Nina menegurnya tajam. “Gue belum selesai ngomong!”
“Kopi gue kering,” jawab Dimas santai sambil mengangkat gelas kosong, hanya menyisakan kerak hitam di dasarnya.
“Na, sebelumnya gue minta maaf,” Tasya menyela. Ia mengambil laptop yang baru saja diperbaiki Dimas dan memperlihatkan bodinya. “Ini kebentur waktu gue… bela Dimas.”
“Astaga, Sya,” gumam Nina saat melihat retakan kecil di ujung laptop. Pandangannya menajam ke arah Tasya.
“Sorry, Na,” Tasya menunduk. “Gue janji besok cari kerja sampingan buat ganti laptop lo.”
“Gue malah baru mau bilang,” Nina mengangkat dagu Tasya agar menatapnya. “Laptop ini bisa lo pake.”
Ia meraih satu tas lain dan mengeluarkan sebuah laptop. “Tadi temen gue jual laptop second yang udah lama gue incar. Dia lagi butuh duit, jadi sekalian gue ambil.”
“Berarti gue harus minjemin lagi laptop ini ke lo dong,” lanjut Nina, nada suaranya terdengar setengah kecewa.
“Nggak perlu,” suara Dimas terdengar dari arah pintu. Ia masuk sambil membawa segelas kopi yang masih mengepulkan asap. “Udah gue benerin. Dalemnya aman, cuma ujungnya doang kebentur.”
“Huft… syukurlah,” Nina menghembuskan napas lega, lalu memeluk laptop barunya erat-erat. “Berarti gue nggak perlu ngorbanin laptop baru ini.”
Malam itu, Dimas akhirnya membuka sedikit tabir masa lalunya—tentang Reza dan dunia yang pernah menyeretnya jauh dari kehidupan yang normal. Ia sempat menjadi tukang pukul sekaligus pengamanan lepas, selalu dibawa oleh sejumlah pengusaha ternama untuk urusan-urusan kotor. Namun, pada satu titik, Dimas memilih keluar. Ada alasan yang tak pernah benar-benar ia ceritakan, baik kepada Nina maupun Tasya.
“Jadi lo nggak mau terbuka sama kita, Dim?” tanya Nina sambil menyuapkan makanan yang dipesannya lewat layanan daring.
“Kita saling kenal, tapi bukan berarti gue harus buka semua masa lalu gue ke kalian,” jawab Dimas singkat, memalingkan wajahnya.
“Na, besok anter gue ke tempat om gue, ya,” kata Tasya pelan. “Rencananya gue mau ambil job sampingan di restorannya. Siapa tahu dia mau bantu.”
“Gue masih bisa bantu lo, Sya,” balas Nina, nadanya terdengar menahan. Seolah ia sedang melarang tanpa ingin terlihat memaksa.
“Tapi gue nggak mungkin terus ngerepotin lo, Na. Lagian—”
“Udah, Sya,” potong Nina tegas. “Gue nggak bakal biarin lo hidup sengsara.”
Dimas terdiam mendengar percakapan itu. Ada bagian dalam dirinya yang paham betul rasanya hidup di bawah tanggungan orang lain—tak nyaman, menyesakkan, dan perlahan menggerogoti harga diri. Ia pernah berada di posisi itu.
“Gue mau keluar sebentar,” ujar Dimas sambil meraih jaket yang menggantung di balik pintu. “Lo berdua masih mau di sini?”
“Gue ikut, Dim. Sekalian cari makan,” sahut Tasya cepat. Ia lalu menoleh ke Nina. “Lo balik duluan aja, ya, Na. Gue janji cuma makan doang.”
Mereka pun keluar bersama. Nina kembali ke kosannya, sementara Dimas mengajak Tasya ke Kampung R-17 untuk menemui Raka. Setibanya di sana, Tasya memesan dua Indomie rebus dengan telur. Dimas hanya memesan segelas kopi hitam.
Tak lama, Raka muncul dari kejauhan, berjalan mendekat bersama dua anak buahnya yang selalu setia. Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat kepada Dimas sebelum duduk di sampingnya.
“Gue dapet ini dari anak buah Reza,” kata Raka pelan.
Dimas membuka amplop itu. Sebuah invoice—tagihan yang tertunda hampir satu tahun.
“Mereka nyerang lo bukan karena Andreas, tapi…” Raka menggantung kalimatnya sambil menatap Dimas.
“Gue tahu,” potong Dimas lirih. Ia menutup kertas itu perlahan. “Utang ini bakal terus ngejar hidup gue.”
“Ada satu jalan buat beresin semuanya,” ujar Raka.
“Anthony,” sela Dimas cepat. Pandangannya refleks beralih ke Tasya yang sedang menikmati mi hangat di hadapannya. Ia langsung menggeleng, seolah melihat bahaya besar di balik nama itu.
Raka ikut melirik ke arah Tasya. “Gue nggak bisa bantu banyak, Dim,” katanya sambil berdiri. “Tapi setiap pilihan yang lo ambil, pasti ada konsekuensinya.”
Ia menepuk bahu Dimas singkat, lalu pergi.
Dimas kembali menatap invoice itu. Angka di sana tertera jelas: Lima Puluh Juta Rupiah.
Dari samping, Tasya melirik diam-diam. “Rencana lo ke depan mau ngapain buat cari duit sebanyak itu?” tanyanya sambil meletakkan sendok dan garpu.
“Gue belum kepikiran,” jawab Dimas jujur.
Tasya mengangguk pelan, lalu perlahan menarik kertas itu dari tangan Dimas untuk membacanya lebih saksama. Bukan cuma penalti—utang itu mencakup beban yang belum pernah benar-benar ia selesaikan.
“Bokap gue selalu usaha buat nutupin duit kuliah sama biaya hidup gue,” ujar Dimas akhirnya. “Meski dia sendiri hidup di tempat yang nggak layak.”
“Terus?” Tasya melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam tas.
“Itu satu-satunya yang gue punya,” lanjut Dimas, menatap Tasya. “Dan gue udah janji sama nyokap, gue nggak bakal balik ke dunia itu lagi.”
“Mungkin ini cara Tuhan ngasih kita jalan,” ucap Tasya pelan.
“Lo terjepit sama utang,” lanjutnya, “dan gue jadi anak terbuang gara-gara deket sama lo.”
Dimas mengernyit, mencoba menangkap arah pikirannya.
“Gue nggak mungkin nunggu Nina terus ngasih uang saku,” kata Tasya mantap. “Dan lo juga nggak mungkin balik ke dunia lo. Jadi gimana kalau sekarang kita cari jalan bareng buat ngumpulin duit?”
“Maksud lo?” Dimas menatapnya bingung.
“Papi gue nggak mungkin ngambil semua barang di apartemen,” jawab Tasya. “Siapa tahu masih ada barang gue yang bisa dijual.”
“Lo gila, ya!” Dimas bangkit dari duduknya.
Namun Tasya tak memberi kesempatan. Ia langsung menarik tangan Dimas, memaksanya ikut berjalan. Meski Dimas sempat menahan dan menolak, Tasya tetap bersikeras, menyeretnya menuju motor tua yang terparkir tak jauh dari sana.
Sesampainya di apartemen, Tasya menguatkan diri lalu melangkah menuju meja resepsionis untuk menanyakan kunci kamarnya.
“Maaf, Mbak. Kunci kamar sudah dikembalikan ke pemiliknya,” ujar salah satu resepsionis yang berjaga. “Kemarin Pak Andreas juga sudah menyampaikan kalau sewa apartemen ini nggak akan diperpanjang,” lanjutnya sambil memperlihatkan selembar surat pemutusan sewa sepihak.
Dada Tasya terasa mengempis.
“Kalau barang-barang papi… maksudnya, barang-barang gue, memangnya sudah diangkut semua?” tanyanya, menyimpan harap yang kian menipis.
“Kalau soal itu, Mbak bisa langsung tanya ke Pak Andreas,” jawab petugas tersebut dengan nada profesional.
Tasya mengangguk pelan, lalu berbalik dan kembali ke sisi Dimas. Mereka melangkah keluar dari lobi.
“Gue penasaran,” bisik Tasya sambil melirik ke arah tangga darurat di sisi lain lobi. “Nggak mungkin papi secepat itu mindahin semua barang gue.”
“Jangan bilang lo kepikiran hal gila,” balas Dimas, refleks menarik tangan Tasya untuk membawanya pergi.
Namun Tasya justru berbalik arah. Dengan cepat ia menarik Dimas menuju tangga darurat, melangkah masuk dan mulai menaiki anak tangga menuju lantai kamar yang pernah ia tempati.
“Sya… jangan nekat,” ujar Dimas, berusaha menahan langkahnya.
“Jangan bikin gue kesel, Dim,” pekik Tasya tanpa menoleh. “Kita udah terlanjur sampai sini.”