NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kita pacaran ?

Pagi itu Naura sedang merapikan rambut di depan cermin, memastikan ikatannya tak terlalu ketat, saat ketukan keras di jendelanya membuatnya hampir menjatuhkan sisir.

Tok. Tok. Tok.

Naura menoleh cepat. Tirai disibakkan setengah, dan di sanalah wajah laki-laki paling menyebalkan sekompleks itu berdiri santai—Hamka—dengan tangan diselipkan ke saku jaket, ekspresi datar seolah tak sedang mengganggu ketenangan orang.

“Ngapain lo, pagi-pagi udah bikin rusuh di rumah orang?!” sentak Naura sambil membuka jendela sedikit saja, cukup untuk meluapkan kekesalannya.

Hamka melirik jam di pergelangan tangannya, cuek luar biasa.

“Gue tungguin lo sepuluh menit lagi.”

Nada suaranya datar. Bukan minta izin. Lebih mirip pernyataan.

Naura mendengus. “Lo kira gue siapa? Artis yang tinggal turun tangga terus langsung siap?”

“Ada angin apa nih… tumben,” lanjutnya sambil memicingkan mata penuh selidik. “Jangan bilang lo tiba-tiba jadi tetangga baik.”

Hamka mengangkat bahu. “Angin pagi.”

Naura hampir membanting jendela kalau saja otaknya tak bergerak lebih cepat dari emosinya.

Kalau dia mau nganter…

Ia melirik tasnya. Mengingat ongkos ojek yang belakangan makin kejam di dompetnya.

Lumayan.

Naura berdehem, berusaha terlihat tak terlalu tertarik.

“Lo nggak kenapa-kenapa kan? Jangan-jangan motor lo mogok terus ngajak gue dorong.”

Hamka menatapnya datar. “Lo mau naik apa mau gue tinggal?”

“Hish. Dasar nyebelin.”

Namun lima menit kemudian, Naura sudah turun dengan tas selempang dan wajah setengah kesal, setengah puas.

“Kalau telat, gue nggak mau disalahin,” katanya sambil mengenakan helm.

Hamka menyalakan motor. “Pegang yang bener.”

“Yang bener apa? Setang?” balas Naura sinis.

Hamka melirik sekilas. “Jangan jatuh aja.”

Motor melaju meninggalkan halaman rumah, membawa dua orang yang selalu ribut—tapi entah kenapa, selalu berjalan searah di pagi-pagi yang tak mereka rencanakan.

Dan Naura tersenyum kecil di balik helmnya.

Siomay hari ini aman.

Motor Hamka melaju menyusuri jalan pagi yang mulai ramai. Klakson bersahutan, pedagang kaki lima baru membuka lapak, dan aroma gorengan bercampur udara pagi.

“Pelan dikit napa!” teriak Naura dari belakang. “Gue bukan karung beras!”

“Emangnya Lo yang bawa motor kaya siput ,” jawab Hamka santai.Dia masih saja membahas saat dirinya dibonceng waktu itu “

" Lo harusnya bilang makasih sama gue ,karena walau gue bawa motor gaya siput,tapi Lo selamat sampe rumah,"

Naura mendengus kecil. Geram rasanya menghadapi laki-laki yang satu ini..nggak tahu terima kasih dan selalu punya jawaban.

"Ya udah,” ujar Hamka dengan senyum smirk menyebalkan. “Nanti lo nggak usah bilang makasih ke gue ya, biar kita impas.”

" Eh awas...ada yang nyebrang !" pekik Naura spontan .

 Hamka langsung mengerem mendadak.

"Ah Lo mah bikin kaget aja..lebay !"

“Lebay pala lo. Tadi nyaris nyerempet ibu-ibu!”

“Ibu-ibunya yang nyebrang sambil main HP.”

“Pokoknya kalo gue kenapa-kenapa, lo tanggung jawab!”

Hamka mendengus. “Dari kemarin hidup lo isinya nyalahin gue mulu.”

Naura memukul bahu Hamka pelan—lebih ke refleks daripada marah.

“Ya karena lo nyebelin!”

Hamka terkekeh kecil, nyaris tak terdengar. “Pegang yang bener.”

“Ini udah megang!” protes Naura. “Kalau lepas juga gara-gara lo ngerem mendadak.”

Seperti menjawab ucapannya, sebuah motor dari kiri tiba-tiba memotong jalur. Hamka refleks mengerem, tubuh motor sedikit oleng.

Naura spontan memeluk pinggang Hamka.

Detik itu hening.

Motor berhenti aman di pinggir jalan.

“Gue bilang juga apa!” suara Naura terdengar tegang. “Lo tuh....”

“Udah,” potong Hamka cepat. “Aman.”

Naura tersadar lengannya masih melingkar. Ia buru-buru melepas, wajahnya panas.

“Gue refleks. Jangan GR.”

Hamka melirik ke spion. “Iya, iya. Refleks.”

Nada suaranya terdengar… terlalu tenang.

Naura mencengkeram jaket Hamka dari belakang. Bukan karena takut—lebih ke refleks menahan emosi yang makin naik ke ubun-ubun.

“Gue nyalahin lo karena emang lo nyebelin,” balasnya ketus.

Motor kembali melaju, kali ini sedikit lebih pelan. Jalanan mulai padat, suara klakson bersahut-sahutan, dan matahari pagi menyelinap di sela gedung-gedung.

Hamka melirik sekilas ke kaca spion. Wajah Naura terpantul di sana,datar, tapi alisnya sedikit berkerut.

“Lo tau nggak,” katanya tiba-tiba, nada suaranya berubah lebih rendah, “gue sebenernya nggak maksa lo naik motor gue.”

Naura mendengus. “Iya, iya. Gue juga nggak maksa lo sok jago nyetir.”

“Hah. Nyetir motor aja dibilang nyetir.”

“Pokoknya kalo jatoh, gue yang rugi.”

Hamka terkekeh kecil. “Tenang aja. Kalo jatoh, gue lindungin lo.”

Naura refleks menepuk punggungnya. “Ih! Jangan ngomong gitu sembarangan!”

“Kenapa? Takut baper?” godanya.

“Takut lo jatohin gue, bego.”

Lampu merah menyala. Motor berhenti. Di antara riuh pagi, suasana mendadak canggung. Angin tipis mengibaskan ujung kerudung Naura.

Hamka menoleh sedikit. “Pegangan yang bener!”

Naura ragu sepersekian detik, lalu memegang jaketnya lagi. Kali ini lebih erat.

“Bilang aja lo khawatir,” gumamnya pelan.

Hamka tersenyum tipis, tapi tak membalas. Lampu hijau menyala, motor kembali melaju—dan tanpa mereka sadari, jarak di antara mereka tak lagi sejauh tadi, meski mulut masih sibuk saling menyerang.

Di lampu merah, Hamka menoleh sedikit. “Lo kenapa?”

Naura mendengus. “Nggak kenapa-kenapa.”

“Terus kenapa pegangannya kayak mau copot?”

“Biar lo nggak ugal-ugalan.”

Hamka mengangguk pelan. “Siap, komandan.”

Naura terdiam. Lalu tertawa kecil tanpa sadar.

Ribut dari mulut.

Tapi di jalan, mereka saling jaga tanpa perlu sepakat.

meski tak satu pun mau mengakuinya.

Gerbang sekolah Naura sudah terlihat dari kejauhan. Barisan motor mulai melambat, beberapa siswa berseragam putih abu-abu berjalan berkelompok sambil tertawa riuh.

“Udah… di sini aja,” kata Naura cepat.

Hamka menepikan motor di bawah pohon ketapang yang rindang, tak jauh dari gerbang. Mesin dimatikan, suasana mendadak hening.

Naura melepas helm, rambutnya sedikit berantakan. Ia merapikannya asal, lalu menoleh.

“Makasih,” ucapnya singkat, nyaris tak terdengar.

Hamka mengangguk. “Lho gue kan udah bilang nggak usah bilang makasih..Jagan salahin kalo nanti Lo harus bantuin gue lagi biar nanti gue bisa ngucapin terimakasih ke Lo ."

" Terserah Lo deh..atur aja se enak Lo !" ucapan Naura malas.

Biasanya Naura langsung turun, menutup pembicaraan dengan satu kalimat sinis. Tapi kali ini ia diam. Tangannya masih menggenggam helm, kakinya belum melangkah.

Hamka meliriknya. “Kenapa?”

“Apaan sih, gue turun ini,” jawab Naura cepat, lalu salah menjejakkan kaki.

Hampir saja ia kehilangan keseimbangan.

Hamka refleks menahan pergelangan tangannya.

Sentuhan itu singkat. Tapi cukup membuat Naura membeku.

“Pelan,” kata Hamka, lebih rendah dari biasanya.

Naura menarik tangannya cepat. “Gue bisa sendiri.”

“Kelihatan,” balas Hamka datar, tapi sudut bibirnya terangkat tipis.

Beberapa siswa melirik ke arah mereka. Naura langsung panik.

“Udah, lo pergi sana. Jangan nongkrong di sini."

“Gue nggak nongkrong.”

Naura menatap tajam ,"awas aja Lo kalo Lo nggak masuk kelas lagi,Gue laporin Babe !" ancamnya .

" Siap komandan." Sahut Hamka santai.

" Sana masuk ,atau Lo mau bareng masuk sama gue ? " Hamka mencondongkan tubuhnya ke arah Naura .

" Enggak ya..kaya pacaran aja datang barengan ."

Begitu kalimat itu keluar, Naura langsung menyesal.

Ups..Bodoh !

Naura merutuki dirinya sendiri

" Kita pacaran ? boleh juga .." nada suaranya terdengar mengejek atau mungkin menggoda .Entahlah .

" Dasar nyebelin ..!" Naura memukul pelan lengan Hamka,lalu berbalik dan pergi , meninggalkan laki-laki itu dengan senyum kecil yang tak sempat ia lihat.

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!