NovelToon NovelToon
Bucinya Seorang Duda Dingin

Bucinya Seorang Duda Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.

Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.

Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.

Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

“Arrrghhh!”

Suara amukan Kenan menggema ke seluruh ruangan CEO, bahkan menembus dinding tebal hingga terdengar oleh para karyawan yang sedang bekerja di luar.

Beberapa kepala langsung menoleh, saling pandang dengan ekspresi waspada.

“Kayaknya singa perusahaan lagi ngamuk,” bisik salah satu karyawan dengan wajah tegang.

“Fix. Habis ini pasti ada korban lagi,” sahut yang lain lirih.

“Kalau bukan karena gajinya gede, gue ogah kerja di sini. Serius, gue takut mati muda,” gumam karyawan ketiga.

“Tiga… dua…”

Suara berat muncul dari belakang.

“Kalian mau ngitung detik menuju pemecatan?

Ketiganya tersentak bersamaan.

Joe berdiri santai, satu tangan di saku celana, senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia menoleh ke sudut ruangan, menunjuk kamera kecil yang nyaris tak terlihat.

“CCTV itu bukan pajangan,” katanya pelan. “Suaranya juga jernih. Pak Bos bisa denger semuanya.”

“Semua omongan kalian barusan bisa langsung didengar bos. Sekali klik… kalian langsung bye-bye.”

Wajah ketiga karyawan itu seketika pucat.

Joe menepuk pundak salah satu dari mereka. “Santai. Gue Bercanda.”katanya tersenyum miring.

Baru saja mereka semua menarik napas—

“JONATHAN ADITIYA MAHENDRA!”

Suara itu datang seperti petir di siang bolong. Semua kepala langsung menoleh pada pintu bertuliskan CEO

Joe menghela napas panjang. “Gue lagi…,” gerutunya pelan.

Nama itu adalah nama asli Joe. Marga Mahendra masih melekat karena ia memang keturunan keluarga besar Mahendra.

Tanpa menunda, ia segera berlari menuju ruang CEO.

Begitu pintu terbuka, Joe langsung disambut pemandangan yang membuat dadanya sesak.

Berkas berserakan di lantai. Map-map terbalik. Meja kerja yang biasanya rapi kini tampak seperti habis diterjang badai.

“Astaghfirullah, Kenan!” seru Joe frustasi.

“Kenan!” Joe berteriak kesal. “Kenapa semua berkas berantakan begini?! Apa lagi yang lo lakuin, hah?!”

Joe sampai bersimpuh di lantai, frustasi menatap kekacauan itu.

Sementara Kenan duduk di kursi kebesarannya, jas terbuka, dasi mengendur, rambut sedikit berantakan, wajahnya masam.

“Ngapain lo teriak-teriak?” jawab Kenan dingin. “Gue nggak tuli.”

Joe mengusap wajahnya kasar. Dalam hati ia benar-benar ingin menjerit. Ia benar-benar kelelahan menghadapi sikap sepupunya yang berubah drastis hanya karena satu panggilan telepon.

“Lo nggak lihat ruangan ini udah kayak kena gempa bumi?” tanya Joe sambil berdiri dan berjalan mendekati meja kerja Kenan.

Kenan bangkit, merapikan jasnya tanpa peduli pada kekacauan di sekelilingnya.

“Tolong beresin ruangan ini,” ucapnya datar.

“Batalin meeting sama divisi keuangan. Gue mau pulang sekarang.”

Joe melotot. “Hah?!”

“Abis itu lo juga langsung pulang,” lanjut Kenan sambil melangkah menuju pintu. “Yang Mulia Raja nunggu kita di rumah buat makan malam.”

Tanpa menunggu jawaban, Kenan keluar meninggalkan ruangan.

Pintu tertutup.

Joe terdiam beberapa detik, mencoba mencerna semua yang baru saja terjadi.

Lalu—

“Ck!”

Ia mengacak rambutnya frustasi.

“Gue lagi, gue lagi yang beresin semua ini,” gerutunya. “Kapan sih manusia singa itu berhenti tantrum? Gue capek!”

Joe mengangkat kedua tangannya ke atas.

“Ya Allah, tolong kirimkan seorang gadis atau janda yang bisa nenangin Kenan. Hamba sudah lelah menghadapi kelakuan gilanya ini, ya Allah.”

Ia menarik napas panjang, lalu mulai memunguti berkas satu per satu.

Sesekali Joe mengumpat pelan, sesekali mendesah kasar, menatap ruangan yang porak-poranda akibat satu orang dengan emosi tak terkendali.

Dan seperti biasa, Joe-lah yang harus membereskan semuanya.

***********

Setelah satu jam perjalanan, Kenan akhirnya tiba di rumahnya. Gerbang rumah megah keluarga Mahendra terbuka perlahan, disambut satpam yang berjaga. Mobil Alphard Lexus hitam miliknya melaju masuk ke pekarangan luas dengan air mancur di tengahnya.

Sebelum turun dari mobil, Kenan menarik napas dalam-dalam. Ia menenangkan diri, mematikan sisi singa buasnya di kantor tidak terbawa masuk kerumah, hanya ada Kenan yang ramah, baik, dan sopan,versi yang hanya dimiliki keluarganya.

Beberapa detik kemudian, ia membuka mata, wajahnya kembali tenang. Kenan versi ramah, sopan, dan hangat kembali mengambil alih.

“Assalamu’alaikum,” ucapnya begitu melangkah masuk.

“Wa’alaikumsalam,” jawab semua orang di ruang tamu.

Di ruang tamu rumah Wiratama, seluruh anggota keluarga sedang berkumpul. Papi Baskara duduk santai dengan secangkir kopi, Mami Amara di sampingnya, Nathan bersandar di sofa, dan Kaivan sedang asyik bermain mobil-mobilan di lantai.

Begitu melihat Kenan, mata Kai langsung berbinar.

“Deddyyyy!”

Bocah kecil itu bangkit dan berlari secepat kakinya bisa melangkah, merentangkan tangan.

Kenan langsung berjongkok, menangkap tubuh kecil itu, dan memeluknya erat.

“Iya… iya… deddy di sini,” ucap Kenan lembut.

Kaivan Al Kenan Baskara Mahendra,anak semata wayangnya yang berusia lima tahun. Wajahnya tampan, dengan garis wajah yang nyaris sama persis dengan Kenan.

“Tumben Daddy pulang cepet?” tanya Kai sambil menatap Daddy nya penasaran. Biasanya, Kenan baru pulang setelah salat Magrib.

Kenan tersenyum tipis.

“Deddy kangen kamu, Boy. Masa deddy nggak boleh pulang cepat kalau kangen anak sendiri?”ucap Kenan

Kai terkekeh kecil, lalu memeluk leher ayahnya erat.

Kenan menggendong Kai dan bergabung dengan keluarga yang lain. Ia duduk sambil memangku putranya, sementara Kai sibuk memainkan jari-jari Kenan,kebiasaan kecil yang selalu membuat Kenan luluh.

“Tumben abang pulang sore-sore begini,” celetuk Nathan. “Biasanya juga pulang pas bulan udah nongol.”

“Yang Mulia Raja nyuruh pulang cepat,” jawab Kenan santai.

Papi Baskara langsung mendengus.

“Ck! Anak ini,Ngomong sama papi yang sopan sedikit bisa, nggak?”

Kenan melirik ayahnya sekilas.

“Kenan udah sopan, kok, Pi,” balas Kenan tanpa rasa bersalah. “Nggak teriak, nggak ngancam, dan nggak pakai kata kasar.”

“Tapi nadanya nyebelin,” balas Papi Baskara ketus.

Mami Amara dan Nathan hanya bisa saling pandang lalu menggeleng pelan.

“Males papi ngomong sama orang yang udah duda tiga tahun,” gumam Papi Baskara sambil menyeruput kopi. “Kayaknya otaknya ikut pensiun.”

Kenan mendecih pelan.

“Kenan juga males, Pi." Balas Kenan.

Papi Baskara mendengus.

“Mulut kamu itu, Kenan.”

Mami Amara tersenyum tipis, mencoba menenangkan suasana.

“Sudahlah, yang penting Kenan sudah di rumah.”

Kenan mengangguk, lalu menatap ayahnya.

“Jadi, kenapa papi nyuruh Kenan pulang cepat?”

“Nah, Nat juga mau tanya itu juga pi,” timpal Nathan.

Papi Baskara menyandarkan punggung.

“Nggak ada apa-apa. Cuma makan malam biasa. Papi mau ketemu sahabat lama. Kebetulan dia lagi di kota ini.”

Kenan menyipitkan mata.

“Cuma itu?”

“Kamu ngarep apa?” tanya Papi Baskara balik.

“Entahlah,” jawab Kenan jujur. “Biasanya kalau papi sok manis, ada agenda tersembunyi.”

“Mulutmu itu,” sahut Papi Baskara. “Ini murni makan malam.”

“Kalau tahu gitu, gue mending lembur,” gumam Kenan.

“Ck! Minum tuh kopi. Jangan banyak bicara lagi,” potong Papi Baskara.

"Dasar pak tua. "gerutu Kenan. Ia pun akhirnya meminum kopi yang sudah disediakan.

Waktu berlalu tanpa terasa. Obrolan ringan memenuhi ruang tamu. Tak lama kemudian, Kai tertidur dan Kenan membawanya kekamar

Saat suasana kembali tenang,ditengah obrolan mereka terdengar suara langkah kaki dari luar.

“Assalamu’alaikum,” ucap seseorang dengan suara lemah.

“Wa’alaikumsalam,” jawab semua orang.

Mereka menoleh dan langsung terkejut.

Joe berdiri di ambang pintu dengan wajah kusut, mata sayu, dan langkah gontai.

“Ya Allah, Joe,” seru Mami Amara. “Kamu kenapa, Nak?”

Joe bahkan tak sempat menjawab. Ia langsung duduk di samping Mami Amara dan menyandarkan kepala di bahu sang bibi.

“Lo sakit, bang?” tanya Nathan khawatir.

“Nggak,” jawab Joe pelan. “Cuma… hampir mati aja.”

“Kenapa kamu bisa kayak gini?” tanya Mami Amara lembut.

“Nggak apa-apa, Nat, Aunty,” jawab Joe lemas. “Cuma kecapean. Gara-gara ulah si duda itu.”

Joe menunjuk Kenan.

Kenan sama sekali tak merasa bersalah. Ia tetap menyeruput kopinya tanpa menanggapi aduan itu.

“Mampus,” gumam Nathan kecil.

“Joe kecapean, Aunty,” lanjut Joe. “Kerja rodi. Dikiranya kantor itu medan perang.”

Mami Amara mengusap rambut Joe penuh iba.

“Sabar ya, Nak.”

Semua keluarga paham apa yang telah terjadi.

"Pasti bocah gila ini habis ngamuk karena aku suruh pulang," batin Papi Baskara.

"Duda satu ini hobi banget tantrum. Kapan Joe bebas dari dia," batin Nathan.

"Ya Allah, kapan anak hamba bisa berhenti marah-marah di kantornya," batin Mami Amara iba.

Tatapan kasihan pun kembali tertuju pada Kenan.

“Kenapa kalian semua lihat Kenan kayak gitu?” tanya Kenan akhirnya.

“Nggak apa-apa,” jawab Mami Amara cepat. “Kamu istirahat dulu. Siap-siap buat makan malam.”

Ia menoleh ke yang lain.

“Kalian juga. Termasuk kamu, Joe. Jangan sampai telat.”

Joe mengangguk lemah.

“Iya, Aunty. Asal nggak disuruh lembur lagi.”

Kenan berdiri, merapikan lengan kemejanya.

“Dasar lemah,” sindirnya santai sebelum melangkah pergi.

Joe mendengus pelan, menatap punggung Kenan yang menjauh.

“Dasar duda gila…”umpat Joe.

Kenan tidak menghiraukan cacian itu sedikit pun. Ia terus berjalan santai menuju kamarnya.

Bersambung...................

1
Faidah Tondongseke
Aamiin..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!