Albie Putra Dewangga, 32 tahun.
Dokter bedah trauma—pria yang terbiasa berdiri di antara hidup dan mati, tapi justru kalah saat menghadapi percintaan.
Kariernya gemilang. Tangannya menyelamatkan nyawa.
Namun hatinya runtuh ketika Alya, kekasihnya yang seorang model, memilih mengejar mimpi ke Italia dan menolak pernikahan.
Bagi Albie, itu bukan sekadar perpisahan melainkan kegagalan.
Di malam yang sama, di sebuah bar ia bertemu Qistina Aulia, 22 tahun.
Mahasiswi cantik dengan luka serupa, ditinggal pergi oleh pria yang ia cintai.
Dua hati yang patah.
Dua gelas yang terus terisi.
Hadir satu keputusan gila yang lahir dari mabuk, kesepian, dan rasa ingin diselamatkan.
“Menikah saja denganku. Aku cowok kaya dan tampan,dan bisa membahagiakan mu."
Kalimat itu terucap tanpa rencana, tanpa cinta atau mungkin justru karena keduanya terlalu lelah berharap.
Apakah pernikahan yang dimulai dari luka bisa berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Cinta dan Ambisi
Albie Putra Dewangga, yang akrab di sapa dengan sebutan Albie. Ia dikenal sebagai dokter bedah trauma di salah satu pusat rumah sakit kota. Dokter bedah yang menangani cedera berat akibat kecelakaan atau kekerasan, seperti perdarahan masif dan kerusakan organ vital. Ia terbiasa bekerja cepat di IGD dan ruang operasi darurat, memimpin penanganan awal hingga operasi penyelamatan nyawa, serta berkoordinasi dengan berbagai departemen saat kondisi pasien kritis.
Albie memiliki tubuh tinggi dengan bahu tegap. Wajahnya tegas, hidung lurus, dan mata gelap yang selalu tampak fokus. Rambut hitamnya jarang ditata berlebihan, cukup terlihat rapi. Albie bukan tipe pria yang berusaha terlihat tampan–ketenangan dingin dan aura percaya dirinya justru membuat orang sulit mengalihkan pandangan.
Sebagai leader tim, Albie selalu menjadi pemimpin operasi darurat, di tuntut untuk mengambil keputusan cepat, dan semua anggota tim mengikuti ritme kerjanya yang tak kenal lambat.
Kehidupan yang Albie jalani bisa di katakan terlalu mudah. Sejak sekolah, kuliah, sampai karir ia dapatkan tanpa ada kendala kesulitan yang berarti. Di usianya yang sekarang 32 tahun, usia yang matang Albie sudah mendapatkan segalanya. Hanya satu saja yang sedang ia perjuangkan yaitu, menikah.
Bagi Albie menikah adalah suatu keharusan. Di tengah prinsip rekan sejawatnya yang memandang bahwa pernikahan bukanlah suatu prioritas. Sebagian kasus, pernikahan hanya akan mendatangkan masalah. Merenggut kebebasan dan menghambat pekerjaan. Tapi tidak dengan Albie. Ia bertekad untuk mempunyai kehidupan yang normal, sesuai dengan norma dan agama yang di anutnya.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk melamar Alya. Wanita yang selama 3 tahun menjalin hubungan asmara denganya.Alya adalah seorang model, akhir-akhir ini namanya banyak di lirik oleh brand-brand nasional dan internasional karna bakatnya di depan kamera semakin populer.
***
"Kamu serius? Ayolah, tidak harus menikah untuk punya pasangan Albie. Dunia ini luas jika harus terikat dengan satu orang wanita saja."
Kalimat itu terlontar dari sorang dokter anastesi bernama Naufal Adhitama, setelah mereka selesai menjalankan operasi pasien kecelakaan.
Naufal adalah sahabat sekaligus rekan satu tim Albie.
Mereka sudah mengenal satu sama lain sejak di bangku SMA. Di tambah sekarang bekerja di rumah sakit yang sama, hubungan diantaranya semakin akrab.
Meski akrab, Albie dan Naufal memiliki prinsip berbeda. Jika Albie tidak suka bergonta-ganti pasangan, Naufal malah kebalikannya. Ia tidak pernah serius menganggap suatu hubungan dengan wanita.
"Aku serius, dan yakin sama keputusan ku." jawab Abie sambil memijit pelan pelipisnya.
"Tapi sebagai temen, aku sudah peringatkan kamu ya. Kalau sampai kamu menyesal jangan salahkan aku kalau nanti aku akan jadi orang pertama yang menertawakanmu."
"Sudahlah Naufal, tidak usah meragukan kemampuanku. Aku bertindak tidak hanya berdasarkan insting saja. Aku sudah yakin dengan apa yang aku punya, dan aku tahu kualitas diriku."
"Well, kalau begitu aku nggak bisa bilang apa-apa lagi. Seorang Albie Putra, tidak ada yang bisa merubah keputusannya. Oke, aku bantuin cari tempat yang bagus buat kamu melamar Alya. Gimana?"
"Itu lebih membantu, dari pada kamu harus bicara omong kosong seperti tadi."
"Tapi ini bukan berati aku setuju dengan pernikahan ya. Aku hanya melakukan tugas seorang sahabat, tidak lebih."
"Terserah kamu saja."
***
Denting piano mengalun lembut di restoran hotel mewah yang di siapkan oleh Naufal. Albie sudah duduk dengan setelan jas rapi menanti kedatangan Alya. Wajahnya sedikit tegang, karna ini adalah moment spesial yang menjadi cita-cita untuknya. Menikahi Alya–hidup bahagia membangun keluarga.
"Sayang, kamu sudah lama menunggu?"
Albie mendongak, di hadapannya kini sudah berdiri seorang wanita cantik berdandan tidak mencolok namun terkesan mahal– Alya.
"Tidak juga, tidak masalah jika terlambat sedikit saja."
Albie mencoba tersenyum, bagi seorang yang terbiasa bekerja dalam perhitungan waktu sebenarnya dia tidak terlalu suka menunggu.
Alya menghempaskan tubuhnya di kursi berhadapan dengan Albie. "Aku minta maaf, aku selalu telat setiap kita janjian makan malam."
"Nggak apa-apa, kamu juga pasti sibukkan?"
"Iya Mas, jadwal aku sekarang sedang padat-padatnya. Semoga Mas bisa ngertiin."
"Aku akan berusaha ngertiin kamu kok, kamu tenang saja."
"Syukurlah, Mas. Aku berterimakasih kamu ngertiin aku."
"Malam ini aku ingin memberitahumu sesuatu Alya, sesuatu yang tidak hanya butuh satu malam untuk menimbang. Aku sudah memikirkannya bahkan berhari-hari sebelum malam ini. Tapi keputusan ku sudah sangat bulat."
"Mas, kamu mau bilang apa? Kenapa kedengarannya serius sekali?"
"Alya, tiga tahun terakhir ini aku belajar banyak tentang cinta lewat kamu. Terima kasih karena selalu bertahan di sisiku, bahkan saat aku terlalu dingin, keras kepala, dan sering menuntut tanpa sadar. Aku tahu mencintaiku bukan hal yang mudah, tapi kamu tetap memberi dengan ketulusan yang tak pernah setengah-setengah. Sekarang, izinkan aku membalas semuanya. Dengan waktu, dengan kesungguhan, dengan seluruh hidup yang aku miliki. Beri aku kesempatan menjadikan kamu alasanku untuk berhenti ragu, untuk melangkah tanpa batas, sebagai pria yang siap bertanggung jawab dan membahagiakanmu, hari ini dan selamanya."
"Mas, jangan bilang kalau kamu mau melamar aku."
Albie tersenyum tipis, lalu merogoh saku jas. mengeluarkan kotak kecil berwarna merah. Ia membuka kotak kecil itu. Sebuah cincin berlian berkilau muncul di atasnya.
"Will you marry me, Alya"
Alya membeku, tidak menyangka jika Albie merencanakan ini untuknya. Bahkan ia bingung harus bereaksi apa.
Albie sendiri juga bingung dengan reaksi Alya, ada apa?. Bukankah jika di ukur dari segi hubungan yang sudah berjalan tiga tahun sudah sepantasnya Albie menyatakan keseriusan. Atau Alya belum siap menerima keseriusan. Oh...yang benar saja!
Usia Albie bukan saatnya lagi untuk menjalin hubungan hanya untuk permainan. Terlebih ini soal prinsip Albie yang tidak mau mempermainkan hubungan.
"Mas, ini...terlalu cepat. Aku baru saja menerima tawaran agensi untuk ke Itali. Ini karir ku Mas, aku nggak bisa sia-siakan kesempatan yang sudah aku tunggu-tunggu."
Tangan yang tadi penuh semangat menjulur memegang kotak cincin perlahan turun. Albie, merasakan kekecewaan yang teramat sangat.
Ia bahkan tak percaya dengan apa yang di dengarnya, terasa sangat tiba-tiba.
"Bahkan aku sudah berniat menghubungi rumah sakit milik adik Papa untuk merekrutmu di sana. Jadi kita tidak perlu berjauhan. Kita sama-sama di Itali. Karna Mas kan tahu aku nggak pernah bisa kalau kita berjauhan."
Albie menghela nafas dalam-dalam, "Alya, aku sudah berkorban menolak tawaran rumah sakit di Jepang demi tetap bersama kamu di sini. Tapi, sekarang kamu malah ingin ninggalin aku ke Itali."
"Mas, kita hanya perlu bersabar sampai kontrak aku habis. Cuma butuh satu tahun saja, setelah itu kita akan bahas lagi soal pernikahan kita."
Albie merasa keberadaannya tidak lebih penting dari apapun. Lalu ia harus bagaimana? Menunggu lagi? Bukankah ini keterlaluan?
"Alya, ini bukan soal aku bisa dengan mudah masuk di rumah sakit milik adik Papamu... Tapi ini soal pengabdianku. Dulu aku memilih untuk mengabdi di negri sendiri demi kamu, yang kamu bilang tidak pernah bisa menjalin hubungan jarak jauh. Tapi nyatanya kamu sendiri yang mempersulit hubungan ini."
"Mas, aku nggak mempersulit. Tapi kamu kan tahu kalau pekerjaan aku terikat oleh kontrak. Lagi pula ini juga cita-cita ku. Sudah sangat lama aku menantikan ini."
Albie tersenyum tipis –senyum yang di paksakan. Akhirnya dia tahu apa yang sebenarnya menjadi sumber permasalahan. Semua tentang ambisi seorang wanita yang tak ada tandingannya. Albie berfikir, jika ini soal ambisi maka lawan saja dengan ego setinggi mungkin.
"Aku nggak bisa ikut kamu ke Itali, kalau kamu mau pergi silahkan saja. Aku nggak akan menghalangi. Sudah cukup buat aku mengerti bahwa hubungan ini akan berakhir dengan jalan kita sendiri-sendiri."
"Mas, maksudku bukan begitu. Aku cuma minta kamu ngertiin aku sedikit saja. Aku ingin mengejar mimpiku, dan aku tidak bisa berjauhan denganmu. Aku sudah temukan solusinya, semua akan baik-baik saja Mas."
"Maaf, aku nggak bisa!"
Albie berdiri, kemudian berlalu begitu saja. Melupakan rencana yang sudah ia atur matang-matang. Kalau saja ia tahu bagaimana akhirnya, tentu dia tidak akan mau untuk memulainya–untuk apa?
*
*
*
~Jangan lupa like koment ya, biar aku semangat buat update cerita selanjutnya
~ Salam hangat dari Penulis🤍
Bberapa negara melegalkan eutanasia, sementara yang lain melarangnya....