NovelToon NovelToon
Ksatria Untuk Alisa

Ksatria Untuk Alisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.

“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.

Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”

“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Surat Dari Pulau Seberang

BAB 7: SURAT DARI PULAU SEBERANG

Tiga minggu. Itu adalah batas waktu yang paling lama dirasakan Alisa sejak Ibunya tiada. Dan kali ini, ia harus menghabiskan waktu penantian itu bukan di rumah dinas yang sepi—di mana setidaknya ada memori dan buku birunya—melainkan di rumah Tante Mia, di kota lain.

Rumah Tante Mia, yang bernama lengkap Pramudita, sangat berbeda dari rumah dinas Cakra. Jika rumah Cakra dingin karena kesibukan dan duka, rumah Tante Mia dingin karena aturan. Rumah itu steril, serba putih, dan bau pewangi ruangan yang tajam. Tidak ada debu, tidak ada foto-foto yang berantakan, dan yang paling penting, tidak ada aura militer sama sekali. Tante Mia adalah adik mendiang Shifa, seorang akuntan yang sangat terorganisir, dan hidupnya berjalan lurus seperti grafik laporan keuangan.

"Alisa, kamu harus tidur pukul sembilan. Televisi dimatikan setelah jam delapan. Dan tolong, jangan tinggalkan jejak di meja makan. Lap langsung setelah selesai," begitulah sambutan Tante Mia pada hari pertama Alisa tiba, sambil menunjuk daftar aturan yang tertempel rapi di pintu kulkas.

Alisa mengangguk patuh. Ia sudah terbiasa dengan aturan, karena Ayahnya juga mengatur hidupnya dengan disiplin militer. Namun, aturan Cakra didasari cinta protektif. Aturan Tante Mia didasari keinginan sempurna.

Kamar yang disediakan Tante Mia juga serba putih. Bersih, tapi hampa. Alisa merindukan dinding kamarnya di rumah dinas yang sudah ia penuhi dengan kutipan-kutipan puisi dan gambar-gambar senja.

Malam pertama, Alisa kesulitan tidur. Ia merasa sangat terasing. Ia mengambil buku harian birunya, tetapi bahkan pena yang ia pegang terasa ragu-ragu di atas kertas. Bagaimana ia bisa menulis tentang ketakutan dan kerinduan jika ia tahu Tante Mia mungkin saja sewaktu-waktu masuk tanpa mengetuk?

Alisa hanya menulis satu kalimat singkat: Jarak. Ini bukan tiga ratus kilometer, ini seribu kilometer.

Pagi harinya, rutinitas dimulai. Alisa harus sarapan tepat pukul 06:30, duduk tegak, dan tidak boleh ada suara saat mengunyah. Tante Mia mengawasinya seperti pengawas ujian nasional.

"Kamu sekolah online-nya jam berapa, Alisa?" tanya Tante Mia sambil menyeruput teh.

"Jam delapan, Tante."

"Bagus. Kamu harus memanfaatkan waktu sebelum itu. Belajar tambahan, atau baca buku yang berbobot. Bukan novel murahan," Tante Mia menambahkan, lalu melirik buku harian biru Alisa yang tergeletak di meja. "Itu buku apa? Jangan terlalu banyak mencatat hal tidak penting. Lebih baik fokus pada pelajaran."

Alisa segera menyembunyikan buku birunya ke dalam tas. "Ini cuma buku catatan biasa, Tante."

Alisa merasa Tante Mia tidak mengerti apa-apa tentang dirinya, dan yang lebih buruk, Tante Mia tidak mengerti apa-apa tentang dunia yang ia tinggali.

Hubungan Tante Mia dengan Cakra baik, tetapi dingin. Tante Mia menghormati Cakra sebagai kakak ipar dan seorang Mayor, tetapi ia selalu mengkritik cara hidup Cakra—secara tidak langsung.

"Dulu, Ibumu itu orangnya sangat teratur, Alisa," ujar Tante Mia saat mereka sedang menyetrika baju. "Sayang sekali setelah menikah dengan Cakra, dia jadi ikut-ikutan hidup di bawah tekanan. Harusnya dia punya karir yang lebih baik, bukan hanya di rumah dinas, menunggu penugasan."

Alisa merasa tersinggung, seolah Tante Mia menyalahkan profesi Ayahnya atas semua masalah, termasuk kematian Ibunya.

"Ayah dan Ibu saling mencintai, Tante. Ibu senang menemani Ayah," balas Alisa membela.

"Senang? Ya, mungkin. Tapi itu hidup yang tidak aman, Nak. Kamu lihat sendiri kan sekarang? Ayahmu pergi tiga minggu, kamu harus dititipkan. Itu bukan hidup yang stabil."

Alisa memilih diam. Ia tahu tidak ada gunanya berdebat. Bagi Tante Mia, stabilitas adalah segalanya. Bagi Alisa, stabilitas adalah kehadiran, bukan pekerjaan.

Di rumah dinas, meskipun Cakra sering absen, Alisa merasa stabil karena tahu dia akan kembali ke lingkungan yang sama. Di sini, di rumah yang sempurna ini, Alisa merasa goyah karena ia tidak punya pegangan emosional.

Ia merindukan bau oli di seragam Cakra. Ia merindukan kebisingan prajurit yang sedang latihan di lapangan. Ia merindukan segala sesuatu yang berbau militer, yang dulu ia benci karena telah mengambil Ibunya, tetapi kini ia sadari, adalah identitas utamanya.

Komunikasi dengan Cakra sangat terbatas. Satu kali seminggu, Cakra akan menelepon melalui telepon satelit.

Telepon itu selalu singkat, terstruktur, dan formal.

"Halo, Nak. Bagaimana kabar di sana?"

"Baik, Yah. Aku sudah mengerjakan PR dan membantu Tante Mia."

"Bagus. Tante Mia bagaimana? Apakah dia baik padamu?"

"Tante Mia baik. Semuanya baik."

"Syukurlah. Ingat, jaga kesehatan. Jangan lupa makan. Ayah akan segera pulang. Tiga hari lagi."

"Iya, Yah. Sampai jumpa."

Setelah telepon itu, Alisa merasa lebih kosong. Cakra bertanya tentang kesehatan dan PR, tetapi tidak pernah bertanya tentang perasaannya, atau apakah ia merindukan rumah. Alisa tahu, Cakra tidak ingin mendengar hal-hal emosional karena ia sendiri sedang berjuang di tengah tugasnya yang berat. Ia harus menjadi ksatria yang tidak mengeluh.

Momen terburuk terjadi di minggu kedua. Alisa mendapat nilai kurang memuaskan untuk tugas sekolah online-nya karena ia kelelahan akibat harus mengikuti jam tidur Tante Mia yang terlalu dini.

Tante Mia sangat marah. "Bagaimana bisa kamu mendapat nilai segini, Alisa? Kamu pintar! Kamu harus fokus! Ayahmu sudah berjuang di sana, masa kamu di sini santai-santai?!"

Alisa terkejut. "Aku tidak santai, Tante! Aku... aku tidur terlalu cepat jadi aku tidak punya waktu untuk mengulang materi."

"Alasan!" Tante Mia menunjuk buku harian biru yang kebetulan tergeletak di meja. "Ini! Semua waktu yang harusnya kamu pakai untuk belajar, kamu pakai untuk menuliskan hal-hal tidak jelas ini!"

Tante Mia mengambil buku itu, dan Alisa panik. Itu adalah ruang rahasianya, tempat semua ketakutan terdalamnya tertulis.

"Jangan, Tante! Itu privasiku!" Alisa mencoba merebutnya kembali.

Tante Mia membuka halaman acak, membaca cepat tulisan Alisa tentang kerinduan dan kecemasan Ayahnya.

"Lihat ini! Kamu menulis tentang Ayahmu yang takut pergi! Kamu hanya menambah beban pikiranmu sendiri dengan hal-hal yang tidak perlu kamu pikirkan! Dunia militer itu keras, Alisa! Kamu harus menerima ini sebagai takdir!" Tante Mia meninggikan suara.

Alisa merasa air matanya mendesak keluar. Ia merasa diserang, dan rahasia terbesarnya sudah dibongkar oleh orang yang sama sekali tidak mengerti.

"Tante tidak mengerti! Tante tidak tahu bagaimana rasanya! Tante tidak tahu bagaimana rasanya melihat Ayah menangis!" Alisa meledak, menyesal begitu kata-kata itu keluar.

Tante Mia terdiam, terkejut. Ia menurunkan buku itu. "Apa yang kamu bilang? Menangis?"

Alisa menggeleng cepat, air mata sudah membanjiri pipinya. "Tidak. Aku cuma mengarang. Kembalikan bukuku, Tante."

Tante Mia mengembalikan buku biru itu dengan ekspresi kasihan yang membuat Alisa semakin merasa benci. Kasihan adalah hal terakhir yang ia butuhkan. Ia butuh pengertian.

Setelah insiden itu, Alisa menghabiskan dua hari terakhir penantiannya di kamarnya. Ia menolak keluar, hanya makan di kamar. Ia tahu Tante Mia merasa bersalah, tapi rasa asing itu sudah terlalu dalam.

Ia mengambil buku harian birunya, membukanya ke halaman baru.

Minggu, 19 November: Jarak yang Jauh

Aku benci tempat ini. Bukan karena Tante Mia jahat, tapi dia tidak mengerti. Dia tidak mengerti kalau aku tidak takut pada kesendirian. Aku takut pada kepergian.

Aku belajar satu hal di sini: Dunia luar sangat membingungkan. Mereka mengira aku lemah karena aku anak tentara. Mereka mengira aku manja karena Ayahku jarang di rumah.

Tapi aku kuat. Aku menuliskan semua ini, dan ini membuatku lebih kuat dari siapapun di rumah ini. Aku harus kembali ke rumah dinas. Aku harus kembali ke dermaga. Aku harus kembali ke diriku sendiri, di mana aku tahu, kalau Ayah pergi, setidaknya aku sendirian di tempat yang aku kenal.

Alisa memutuskan saat itu juga. Ia tidak akan meminta Cakra menitipkannya lagi di rumah Tante Mia. Ia lebih memilih tinggal sendiri di rumah dinas, dengan Bu Suti yang datang sesekali, daripada harus tinggal di tempat yang membuatnya merasa asing.

Tiga hari kemudian, Cakra akhirnya pulang.

Cakra terlihat lebih kurus dan kulitnya lebih gelap. Namun, ia kembali dengan senyum tulus yang hilang sejak Shifa meninggal.

"Ayah pulang, Nak!" Cakra berteriak dari pintu.

Alisa berlari kencang, memeluk Ayahnya sangat erat, mencium bau keringat, debu, dan mint yang sangat ia rindukan.

"Aku merindukanmu, Yah. Sangat merindukanmu," bisik Alisa, akhirnya mengizinkan dirinya untuk merengek sedikit.

Cakra memeluknya balik. "Ayah juga, Nak. Ayah juga."

Saat mereka dalam perjalanan pulang ke rumah dinas, Cakra melihat Alisa diam, hanya menatap ke luar jendela.

"Ada apa, Nak? Kamu tidak suka di sana?" tanya Cakra.

Alisa mengumpulkan keberaniannya. "Yah, aku senang Tante Mia baik. Tapi... lain kali, kalau Ayah pergi lama, aku mau di rumah dinas saja. Aku bisa jaga diri. Aku sudah besar."

Cakra menatap Alisa sejenak, wajahnya terlihat berpikir keras. Alisa menunggu penolakan yang keras, menunggu perintah yang tidak bisa dibantah.

"Kamu yakin bisa jaga diri? Tidak takut?" tanya Cakra.

"Aku janji, Yah. Aku akan kirim laporan setiap jam. Aku akan jadi ksatria yang menjaga pangkalan Ayah."

Cakra tersenyum kecil. Ia mengusap kepala Alisa. "Baik. Ayah percaya padamu. Tapi kita cari asisten rumah tangga yang bisa tinggal menginap. Tidak bisa kamu sendirian sepenuhnya."

Alisa merasa hatinya menghangat. Ayahnya memercayainya. Keputusan Cakra untuk mengizinkannya tinggal di rumah dinas adalah hadiah terbaik setelah penantian tiga minggu yang menyiksa.

Alisa melihat kembali ke belakang. Rumah Tante Mia sudah jauh. Ia akhirnya kembali ke tempat yang ia kenal. Kembali ke keheningan yang ia pahami. Dan yang terpenting, ia kembali ke buku harian birunya, tempat di mana ia boleh menuliskan ketakutan terbesarnya, dan perlahan-lahan, ia akan mengubah ketakutan itu menjadi kekuatan.

Ia harus cepat dewasa. Karena hanya dengan dewasa, ia bisa mengendalikan hidupnya, dan tidak perlu lagi dititipkan pada orang yang tidak mengerti makna sebuah seragam, sebuah penantian, dan sebuah kerinduan.

1
panjul man09
disetiap kesulitan ada kemudahan ,disetiap kesedihan akan ada kebahagiaan , setelah hujan muncullah pelangi , author 👍👍👍👍👍
panjul man09
ujian hati dimulai
panjul man09
ceritanya sangat menyentuh hati ,kalimat yg digunakan jauh lebih berbobot daripada cerita novel yg lain ,authornya sangat pandai memainkan perasaan
panjul man09
👍😍👍😍👍😍
panjul man09
👍👍👍👍👍
panjul man09
cuman 2 pemerannya ? tdk ada pemeran ketiga ?
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
mereka memelukan sosok ibu
panjul man09
sebaiknya cakra menikah lagi
david 123
terharu Thor...ttp semangat ya ..cerita ini bisa sbg movitasi bagi anak yg berjuang mencari jadi dirix melalui bakat dan minat.
david 123
aduh baca sambil berderai air mata..alurx..keren..sangat menyentuh...hati...luar biasa Thor ..ceritamu ini...ttp semangat dg ide -ide cermelangx....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!