Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.
Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.
Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAKAN DI DINDING KACA
Koridor lantai eksekutif Mahardika Group selalu terasa seperti berjalan di atas lapisan es tipis yang siap pecah kapan saja. Setelah pertemuannya dengan Alea di ruang audit, Baskara tidak langsung bekerja. Ia berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke arah gedung-gedung pencakar langit Jakarta, memperhatikan pantulan dirinya di kaca.
Ia sedang mengenakan topeng yang sempurna. Namun, di balik topeng itu, kata-kata Reno tentang "memilih antara keadilan atau Alea" terus berputar seperti kaset rusak.
Pintu ruangannya terbuka sedikit. Sekretaris senior yang merupakan kaki tangan Sarah, seorang wanita bernama Mirna, masuk membawa setumpuk dokumen. Matanya yang tajam memindai ruangan, mencari tahu apakah Alea masih ada di sana.
"Tuan Baskara, ini laporan operasional dari divisi logistik yang Anda minta kemarin," ujar Mirna dengan nada datar. "Nyonya Sarah berpesan agar Anda tidak terlalu terpaku pada arsip lama. Beliau ingin Anda fokus pada proyek Griya Mahardika yang akan diluncurkan bulan depan."
Baskara menerima dokumen itu tanpa ekspresi. "Sampaikan pada Sarah, aku hanya ingin memastikan tidak ada lubang hitam di masa lalu yang bisa menjerat kita di masa depan. Audit yang baik tidak pernah memilih-milih tahun."
Mirna tersenyum tipis—jenis senyum yang menandakan bahwa setiap kata Baskara akan segera sampai ke telinga Sarah—lalu keluar tanpa suara.
Baskara membuka dokumen itu. Bukan angka-angka yang ia cari, melainkan pola. Ia memperhatikan bahwa setiap kali divisi logistik melakukan pengadaan unit baru, ada aliran dana yang "parkir" di sebuah yayasan kesejahteraan bernama Lentera Kasih. Ingatannya tajam. Nama yayasan itu muncul di flash drive merah semalam. Itu adalah yayasan yang membayar biaya panti jompo untuk supir truk yang menabrak orang tua Alea.
"Kau sangat rapi, Sarah," gumam Baskara. "Kau membayar rasa bersalahmu dengan uang perusahaan."
Sementara itu, di meja kerjanya yang berada di area terbuka, Alea berusaha fokus pada layar komputernya. Namun, jemarinya yang gemetar tak bisa diajak kompromi. Ia merasa seperti sedang mengenakan pakaian yang terbuat dari duri. Setiap kali rekan kerjanya menyapa, ia merasa seolah-olah mereka tahu bahwa semalam ia baru saja mencuri kunci brankas ibunya sendiri.
Tiba-tiba, ponsel kantornya berdering. Suara Sarah terdengar dari seberang sana.
"Alea, masuk ke mobil sekarang. Kita ada janji makan siang dengan keluarga Wijaya. Bawa dokumen penawaran tanah di Sentul."
Alea terkesiap. Keluarga Wijaya adalah saingan bisnis Mahardika, namun belakangan ini mereka sedang dijajaki untuk aliansi politik. Alea tahu ini bukan sekadar makan siang. Ini adalah cara Sarah untuk memamerkan "asetnya"—Alea—sekaligus memutus akses komunikasi Alea dengan Baskara selama beberapa jam ke depan.
Baskara melihat dari balik kaca ruangannya saat Alea berjalan terburu-buru menuju lift dengan wajah yang diselimuti kecemasan. Ia tahu ia harus melakukan sesuatu. Jika Alea dibiarkan sendiri bersama Sarah dalam tekanan tinggi, gadis itu bisa saja pecah dan membocorkan semuanya.
Ia segera mengambil kunci mobilnya dan menelepon Reno.
"Ren, Sarah membawa Alea keluar. Makan siang di restoran The Peak. Aku butuh gangguan. Sesuatu yang membuat Sarah harus pergi dari meja makan dan meninggalkan Alea sendirian selama setidaknya sepuluh menit."
"Kau ingin aku melakukan apa? Menyalakan alarm kebakaran?" tanya Reno di ujung telepon.
"Terlalu kasar. Buat masalah di sistem keamanan rumahnya. Kirimkan notifikasi ke ponsel Sarah bahwa ada upaya pembobolan di ruang kerjanya. Dia sangat posesif dengan ruang itu. Dia pasti akan panik dan pergi mengecek melalui iPad-nya atau menelepon tim keamanan rumah."
"Oke, beri aku lima menit. Tapi ingat, Bas, kau sedang bermain api. Jika kau muncul di sana 'secara tidak sengaja', Sarah akan tahu kau sedang membuntuti mereka."
"Aku tidak akan muncul di sana sebagai Baskara yang mencurigakan," jawab Baskara sambil memasuki lift. "Aku akan muncul sebagai pahlawan yang 'kebetulan' sedang berada di area yang sama."
Rencana itu mulai berjalan. Di restoran mewah di lantai 50, Sarah sedang duduk dengan anggun bersama seorang pengusaha muda dari keluarga Wijaya. Alea duduk di samping Sarah, terlihat seperti boneka pajangan yang cantik namun tak bernyawa.
Tiba-tiba, iPad milik Sarah yang tergeletak di meja bergetar hebat. Sebuah tanda peringatan berwarna merah muncul: SECURITY BREACH - PRIVATE STUDY ROOM.
Wajah Sarah yang semula tenang langsung berubah tegang. Ia segera berdiri, meminta maaf kepada tamunya dengan alasan ada keadaan darurat di rumah, dan melangkah menjauh menuju sudut yang lebih sepi untuk menghubungi kepala keamanan rumahnya.
Inilah kesempatan Baskara.
Ia muncul dari arah bar, memegang segelas minuman, dan berjalan perlahan menuju meja Alea yang kini sedang terduduk lemas sendirian.
"Kau terlihat seperti ingin melompat dari jendela ini, Alea," bisik Baskara sambil berdiri di belakang kursinya, pura-pura memperhatikan pemandangan kota.
Alea hampir melompat dari kursinya karena terkejut. "Baskara? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Mencegahmu melakukan kesalahan," jawab Baskara cepat. "Dengarkan aku. Sarah akan kembali dalam dua menit. Dia sedang panik karena alarm rumah. Gunakan momen ini untuk menunjukkan bahwa kau ada di pihaknya. Katakan padanya kau bersedia mengurus kepulangan kalian agar dia bisa mengecek masalah di rumah lebih cepat. Tunjukkan bahwa kau peduli pada keselamatannya."
"Kenapa aku harus melakukan itu?"
"Agar dia tidak pernah curiga bahwa kau adalah orang yang membantu aku masuk ke ruang kerja itu semalam. Bangun kembali dinding kepercayaannya, Alea. Itu satu-satunya cara agar kau tetap aman di sisinya."
Alea menatap Baskara dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kekaguman, namun juga rasa takut akan betapa lihainya pria ini merancang setiap skenario.
"Kau benar-benar tidak punya hati ya, Bas?" bisik Alea pedih.
Baskara terdiam sesaat. Kalimat itu terasa lebih menusuk daripada yang ia duga. "Aku punya hati, Alea. Tapi hatiku sudah lama mati rasa demi satu tujuan. Lakukan apa yang kukatakan, atau kita berdua akan hancur malam ini."
Baskara berbalik dan menghilang di balik kerumunan tepat saat Sarah kembali ke meja dengan wajah muram.
"Ibu, ada apa? Apa terjadi sesuatu di rumah?" tanya Alea dengan nada yang sangat meyakinkan, persis seperti yang diajarkan Baskara.
Sarah menatap Alea, seolah mencari celah kebohongan. Namun melihat wajah cemas Alea, ketegangannya sedikit mengendur. "Hanya kesalahan teknis di sistem keamanan. Tapi aku harus segera pulang. Kau selesaikan makan siang ini dengan Tuan Wijaya, bisa?"
"Tentu, Bu. Biar aku yang mengurus semuanya di sini," ujar Alea lembut.
Sarah mengangguk, lalu pergi dengan terburu-buru. Alea menarik napas panjang, namun tangannya di bawah meja terkepal kuat. Ia merasa kotor. Ia baru saja menyadari bahwa ia sedang belajar menjadi seorang manipulator, persis seperti Baskara, dan persis seperti Sarah.
Dari kejauhan, di sudut bar yang gelap, Baskara memperhatikan Alea. Ia melihat bahu gadis itu yang sedikit berguncang. Ia tahu ia baru saja mendorong Alea satu langkah lebih dalam ke dalam kegelapan. Dan untuk pertama kalinya, kemenangan kecil ini tidak terasa manis sama sekali.