"janji ya kita harus bareng-bareng sampai besar nanti.. sampai aku bisa ajak kamu jalan-jalan keliling dunia!" seru Sena pada Arunika, gadis dengan rambut kepang duanya itu. "hm! Sena gak boleh ingkar janji ya, Aru bakalan nunggu janji Sena!" angguk gadis itu semangat sambil menyambut jari kelingkin Sena
namun sebuah kesalahpahaman menghantam keduanya, mengukir benci tanpa akhir. perpisahan tak dapat terelakkan hingga takdir mengikat keduanya kembali Cinta dan Benci, Rindu dan Dendam mempermainkan mereka dalam kisah masa-masa SMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna_dee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
masalah di hari pertama sekolah
hari-hari yang Aru lalui tanpa Sena terasa lebih hambar, namun Yulia selalu setia menjadi temannya, perlahan mereka menjadi sangat akrab dan Aru pun tak lagi ingat dengan rasa kecewanya meski masih sering mengingat dan memimpikan Sena, Aru tak lagi menangis seperti sebelumnya.
Yulia menjadi cahaya ketika dirinya hampir terdiam dalam gelap jalanannya, Yulia banyak mengajak Aru melakukan petualangan seru bahkan Arunika merasa hidup karena selalu ada Yulia yang menghiburnya, mengajarinya banyak hal seru dan nakal seperti mencuri mangga tetangga, mengerjai sapi hingga berlari meninggalkan kandangnya. kekonyolan yang mereka lakukan sering membuat warga Desa kesal, namun tak ada rasa kapok bagi mereka berdua seperti hari ini, dua gadis itu membawa mangkuk yang berisi air tanah dengan campuran dedaunan yang di irisnya hingga terlihat seperti lauk sayur asam, mereka berjalan menuju rumah mbok isah, nenek tua yang tinggal bersama cucunya Ningsih.
"mbok, mbok mau sayur? kami punya sayur buat mbok" ucap Yulia memberikan mangkuk itu pada Mbok isah
"ini buatan ibuk, mbok makan ya" sahut Aru juga. mereka berlari seusainya mbok isah menerima mangkuk yang mereka berikan, silang beberapa detik saat keduanya berjongkok bersembunyi di balik semak tanaman di halaman rumah itu, mangkuk yang mereka berikan pada mbok Isah terlempar dan pecah di samping mereka, bahkan percikan dari air di mangkuk pun mengenai wajah mereka, dua bocah itu berlari sambil tertawa mengabaikan kemarahan mbok Isah
sorenya mereka yang sedang mandi di sungai di hampiri oleh Ningsih, cucu mbok Isah sambil marah-marah dengan ranting kering di tangannya
"kalian kan yang ngerjain mbok!!" pekik Ningsih dari atas, dua bocah itu menggelengkan kepala wajah mereka pucat melihat ranting di tangan Ningsih
"awas kalian!!" Ningsih bersiap mengejar mereka, Arunika dan Yulia berlari tak sempat mereka memakai baju, mereka berlari dengan telanjang baju mereka pun mereka tinggalkan di sungai, gelak tawa yang di sambut air mata karena panik terdengar begitu nyaring membuat Ningsih semakin kesal dan langkah kakinya pun di percepat ingin rasanya Ningsih mencekik dua bocah itu
.
HAHAHHAHA....
tawa dua gadis yang berbaju SMA itu menggelegar di pagi hari itu, cerita di 7 tahun yang lalu benar-benar masih hangat di benak mereka. Yulia begitu bahagia mendapati Lusi yang tiba-tiba pindah dan sekolah di tempat yang sama dengannya, hari ini Lusi menjadi murid baru di kelasnya, kelas 11A di SMA Lentera Ilmu
"btw.. karena sekarang kita di kota, jangan pake aku kamu ya.. disini pake nya gue loe, kalo sampai kamu pake aku kamu apalagi ngomongnya ke cowo bakalan di salah pahamin, kamu bakalan di kira naksir sama dia atau bahkan kalian bakalan di kira pacaran" ucap Yulia setelah puas tertawa
"hah? ribet banget.. orang kota emang seribet itu ya?" tanya Lusi heran
"hmm~" jawab Yulia mengangkat kedua bahunya
Lusi menghela nafasnya kasar, setelah lulus SD Lusi semakin banyak berubah, dari kesukaan hingga namanya pun, Lusi tak lagi ingin sesuatu yang pernah seseorang di masa lalu masih membuntutinya meski hanya 'pernah' sekalipun, Lusi tak ingin ada sesuatu lagi yang berhubungan dengannya, tak ingin mendengar namanya yang sering di panggil oleh orang itu hingga merubah nama panggilannya, tak lagi suka warna kuning tak lagi suka dengan rambut kepang dua tak lagi suka dengan Brownies pisang. semua hal itu telah di rubahnya perlahan, yang dulunya Aru kini berubah menjadi Lusi, yang dulunya kuning kini berubah menjadi hijau yang dulunya kepang dua kini berubah menjadi kepang kuda dan yang dulunya brownies pisang kini berubah menjadi keripik singkong
semua hal itu, Yulia menjadi saksi segalanya. setelah lulus SMP, Yulia pindah sekolah ke kota sedangkan Lusi masih melanjutkan pendidikannya di desa hingga hari ini gadis itu pindah. selain karena ingin punya pengalaman baru Lusi juga ikut merantau bersama Bisma yang bekerja sebagai barista di kota itu
"hah.. gerbang udah mau tutup!!" teriak Yulia menunjuk ke arah gerbang sekolah di mana satpam sedang bersiap untuk menutupnya
"wahh gawat!!!" pekik Lusi. mereka berlari sekuat tenaga, karena alasan rindu keduanya berangkat ke sekolah dengan jalan kaki alhasil malah hampir terlambat
berhasil menerobos masuk sebelum di tutup, naasnya Lusi malah tak sengaja menabrak orang hingga keduanya jatuh tersungkur ke tanah
brukk.. ouch..
keduanya meringis sakit, mata Yulia sudah melotot melihat Lusi yang menabrak salah satu cowok populer di sekolah itu, gelarnya sih sang Arjuna sekolah. penyuka kebersihan dan tak suka di sentuh, dingin tapi bermulut tajam dan satu lagi dia adalah anak dari donatur tetap di sekolah itu
Deva namanya, Yulia tak terlalu mengenalnya. selama satu tahun sekolah disana Yulia hanya tau cowok itu bernama Deva, tak pernah mengobrol dengannya meski hanya satu kata apalagi bertatap muka Yulia hanya sering melihatnya dari kejauhan dan kali ini Lusi malah menabraknya hingga cowok itu harus berbaring di tanah
'duh anj*r!! baru pertama masuk udah buat masalah aja ni bocah!" pekiknya dalam hati sambil membatu sahabatnya itu berdiri
"duh.. maaf ya.. ak.. gue gak sengaja sumpah!!" ucap Lusi merasa bersalah ingin membantu cowok itu berdiri tapi Yulia menarik tangannya ke belakang
"eh.. maaf ya kak Senior, temen saya gak sengaja" imbuh Yulia juga buru-buru terakhir kali ada yang berani menyentuh cowok itu dengan berani, si pelaku malah di permalukan didepan semua siswa
"e.. anu, sa.. saya murid baru kak, saya beneran gak sengaja maaf ya.." ucap Lusi lagi menangkup kedua tangannya sambil menunduk memohon agar orang didepannya itu mau memaafkannya
"nama loe siapa?" tanya cowok itu dengan suara berat
"Lu.. Lusi kak" jawab Lusi gugup
Deva menenteng kerah belakang seragam Lusi, menariknya tanpa kata Lusi pun hanya diam mengikuti arah kaki Deva yang menariknya seperti anak kucing
"tuh kan!! apes banget sih pagi-pagi udah ketemu masalah gini!" gumam Yulia mengejar Lusi yang di bawa paksa oleh Deva
"kak.. saya mau di culik kemana?" tanya Lusi takut, Deva tak menjawab dan terus diam, semua mata melirik ke arah mereka dan Yulia berusaha menutup wajahnya dengan tas sambil terus mengejar Lusi
sampai di depan Toilet, Deva baru melepaskan Lusi
"didalem ada tisu kering dan tisu basah, bersihin tangan gue!" perintahnya menunjukkan lengannya yang penuh goresan tanah dan debu, tau dirinya bersalah Lusi cepat-cepat masuk dan mengambil tisu ke dalam. Lusi membersihkan tangan dan seragam Deva yang kotor sambil terus komat kamit meminta maaf
merasa tangan dan seragamnya lumayan bersih, Deva meninggalkan Lusi tanpa bicara, begitu saja sampai Lusi di buat melongo oleh nya
"Huss!! ayo ke kelas.. kita udah jadi bahan gosip tau!" ucap Yulia menyadarkan Lusi dan menariknya menuju kelas
begitu banyak kerumunan didepan kelasnya, semenjak dirinya masuk kelas itu punggung terus merasa horor. ingin bertanya pada Yulia apa yang terjadi tapi sahabatnya itu sejak tadi hanya diam dengan tangan yang memijat kepala
hingga guru masuk, mengundangnya kedepan untuk memperkenalkan diri sebagai murid baru di kelas itu
"halo semua... saya Lusiana Arunika Nandira..."