NovelToon NovelToon
TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Berbaikan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.

Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.

Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.

"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.

Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Aku Mau Pulang!

"Hah...hah...hah..." bangun dari tidurnya, nafas perempuan itu memburu. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.

"Mimpi apa itu. Kenapa menyeramkan sekali." gumamnya masih dengan nafas yang belum terkontrol.

"Sean Balrick, Alissa. Bukankah itu nama-nama tokoh novel yang semalam aku baca?" mata perempuan itu memejam sejenak, hanya untuk menenangkan diri dari mimpi menyeramkan yang baru dialaminya.

Sangat menakutkan. Mimpinya terasa begitu nyata. Seolah-olah dirinyalah yang berada di situasi itu.

"Mana nama si istri Sean baji-ngan Balrick sama namaku sama. Sama-sama Alissa."

Memang. Sangat menyebalkan ketika tokoh yang berakhir tragis di tangan suaminya sendiri itu memiliki nama yang sama sepertinya. Sehingga dia merasa dirinyalah yang mengalami apa yang tokoh Alissa alami.

Menghembuskan nafas panjang, perempuan itu menoleh pada jendela besar yang masih tertutup tirai. Dia merasa ada yang aneh tapi tidak tahu di mana letak keanehan itu.

"Sepertinya aku terlalu menghayati isi novel. Sampai-sampai bermimpi seperti ini."

"Sudahlah, sebaiknya aku mandi." Alissa mencoba abai. Tentang mimpi yang dialaminya. Tentang rasa aneh yang menyelimutinya. Ia turun dari ranjang. Berjalan menuju pintu kamar mandi yang terletak di sudut ruangan.

Sekilas ia menoleh ke cermin rias. Saat akan melanjutkan langkahnya, ia teringat sesuatu. Tiba-tiba jantungnya terasa berhenti berdetak. Menelan salivanya susah payah, ia kembali menolehkan kepalanya pada cermin rias dengan gerakan slow motion.

"Di--di--dia..." Alissa menunjuk pantulan dirinya sendiri di cermin. Tangannya terasa bergemetar saat itu.

"Dia siapa?!"

Alissa sentuh wajahnya sendiri panik. Sehingga pantulan di cermin pun melakukan hal yang sama.

"Kenapa wajahku berubah?! Apa yang terjadi?!"

Menatap sekeliling, dia baru sadar dengan keanehan yang sedari tadi ia rasakan. Letak jendela, warna dinding, luas ruangan, furniture. Ini bukan tempat yang selama ini ia singgahi untuk mengistirahatkan tubuh. Ini bukan kamarnya.

"Tuhan, ini di mana?!" jeritnya ketakutan. Setelah mimpi buruk tadi, lalu apa ini.

Apakah dirinya diculik. Apakah wajahnya diubah agar tidak ada lagi yang mengenalinya. Siapa. Siapa yang melakukan hal keji seperti itu. Seingat Alissa, dirinya tidak memiliki musuh. Dia tidak pernah mencari masalah dengan siapapun itu.

Krek.

Suara retakan itu mengambil alih atensi Alissa. Entah apa sebabnya, cermin rias di ruangan itu tiba-tiba retak. Namun bukan itu yang membuat Alissa kaget. Tulisan yang tiba-tiba muncul di permukaan cermin berhasil membuatnya mematung tak percaya.

Selamat datang di dunia barumu Alissa. Sekarang kau adalah istri dari Sean Balrick. Tokoh yang akan mati di tangan suaminya sendiri.

"Tidak mungkin." lirih Alissa hampir tidak terdengar. Bahkan untuk membuktikan jika dirinya hanyalah berhalusinasi Alissa menampar kedua pipinya berulang kali hingga hidungnya mengeluarkan darah.

"Tidak mungkin!" jerit perempuan itu semakin tak terkendali. Rasa-rasanya dia sudah kehilangan akal. Tidak---dia memang sudah kehilangan akal. Menyiksa dirinya sendiri berharap segera sadar dari mimpi buruk yang dialaminya.

Alissa mengamuk. Membanting segala perabotan yang ada di ruangan itu. Menimbulkan bunyi bising yang memekakkan telinga. Tak lama, suara ketukan pintu terdengar. Namun Alissa tak menghiraukannya.

"Nyonya? Nyonya Alissa?! Anda baik-baik saja?"

Alissa tidak menjawab itu. Fokus matanya tertuju pada pecahan vas bunga yang berserakan di lantai yang terasa dingin.

"Nyonya? Kami masuk ya?"

Dengan langkah pelan, Alissa ambil salah satu pecahan vas itu. Lalu ia arahkan pada pergelangan tangannya. Jika belum bangun dari mimpi buruk ini, maka Alissa akan mencoba mati. Berharap setelah itu semuanya akan kembali semula.

Dengan keadaan yang sudah berantakan, Alissa tertawa renyah. Menjadi istri Sean Balrick? Memangnya jiwanya bertransmigrasi? Alissa tidak gila dengan percaya hal seperti itu. Trasmigrasi jiwa hanya ada di novel. Dan Alissa hidup di dunia nyata.

"Bagaimana ini, kita masuk atau tidak. Kenapa tiba-tiba Nyonya diam saja?" suara dari luar ruangan itu kembali hadir. Tapi Alissa tetap abai. Mungkin saja suara itu juga hanyalah halusinasinya.

perlahan namun pasti, Alissa sayat pergelangan tangannya menggunakan pecahan vas bunga yang tadi dia pungut. Setika rasa perih merayap begitu saja. Perempuan itu meringis tertahan.

Tidak Alissa. Kau harus bisa. Buktikan jika ini hanya mimpi buruk. Setelah kau kehilangan kesadaran, kau akan bangun kembali dengan semuanya yang kembali seperti semula.

Cairan merah kental menetes. Namun tidak ada tanda-tanda dia akan kehilangan kesadaran. Seperti mata yang berkunang-kunang, atau tubuh yang lemah. Hanya ada rasa perih yang meresap pada tangannya.

Brak.

Pintu dibuka secara paksa. Terkejut, Alissa menjatuhkan pecahan vas yang ia gunakan untuk menyayat nadinya.

"Nyonya!? Apa yang anda lakukan?!" teriak seseorang yang baru saja membuka paksa pintu kamar.

"Siapa kalian?!" Alissa meringkuk ketakutan. Menatap dua perempuan yang berpakaian khas pelayan.

"Sebaiknya kau panggil Tuan Sean. Biar aku di sini mengawasi Nyonya." ucap salah satu dari mereka.

Temannya itu segera menurutinya. Ia bergegas pergi untuk memanggil tuan mereka. Siapa tadi namanya? Sean.

Sean. Sean Balrick?!

"Arghh, tidak mungkin!" pelayan itu terkejut ketika tiba-tiba Alissa berteriak.

"Ini tidak mungkin terjadi!"

"Nyonya, tenangkan diri anda." ujar pelayan itu mencoba mendekat. Menyadari hal itu, Alissa ambil sembarang barang untuk ia lempar pada perempuan berseragam pelayan itu.

"Berhenti! Jangan mendekat." seru Alissa.

"Baik, tapi tolong jangan sakiti diri anda lagi." pelayan itu menoleh pada pergelangan tangan Alissa yang masih setia meneteskan darah. Melihat itu membuatnya meringis seketika.

"Bawa aku kembali. Ku mohon, aku tidak mau di sini!"

"Mungkin, aku sudah gila!"

Alissa berteriak tidak jelas. Pelayan itu jadi ketakutan sendiri. Nyonya mereka yang biasanya berbicara anggun, berpenampilan cantik, kini keadaannya berbalik seratus delapan puluh derajat.

Memegang tengkuknya sendiri, tiba-tiba pelayan itu merasa merinding. Nyonya mereka sedang tidak kerasukan penghuni mansion ini bukan. Menelan ludahnya takut, pelayan itu parno sendiri.

"Bawa aku kembali. Aku mau pulang. Bawa aku kembali. Aku mau pulang--

Alissa terus berucap seperti itu. Membuat dugaan pelayan itu semakin kuat. Jika Nyonya mereka telah kerasukan hantu.

"Sepertinya aku harus memanggilnya pawang hantu?" buru-buru ia ingin pergi sampai hampir menabrak temannya yang tadi ia suruh untuk memanggil tuan mereka.

"Hei, kau mau kemana? Kau seharusnya menjaga Nyonya." peringat temannya itu.

"Aku akan memanggil pawang hantu."

"Apa?!" temannya itu mengernyitkan kening bingung.

"Pawang hantu." pelayan itu mendekatkan bibirnya pada telinga temannya. "Dengar, sepertinya Nyonya kerasukan hantu." bisiknya sepelan mungkin.

"Hantu? Ck, ini akibat terlalu sering menonton film horror!" ujar temannya yang tak percaya begitu saja.

"Hei, aku serius. Tadi---

Pelayan itu mulai bercerita. Dan itu tak luput dari pendengaran laki-laki jangkung berwajah dingin di depan mereka.

Dengan langkah tegasnya, dia menuju kamar Alissa. Dan seketika laki-laki itu terdiam sejenak melihat bagaimana kacaunya ruangan itu, pun dengan penghuninya.

"Aku mau pulang. Aku mau pulang. Bawa aku kembali. Ku mohon Tuhan, aku tidak mau di sini..."

Alissa terus berceloteh hingga matanya memberat dan dia kehilangan kesadarannya.

"Aku mau pulang..."

1
Ahrarara17
Nanti dikabulin panik sendiri kamu, Alissa
Ahrarara17
Dih, gombal banget Sean
Ahrarara17
Wajar aja denial. Takut Sean bohong
Ahrarara17
Semangat nulisnya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!