Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Dimas berdiri di tepi lapangan voli, dengan bola voli baru di tangan kirinya. Semua penonton di tribun tampak saling berbisik dan memperhatikannya dengan rasa ingin tahu.
“Siapa dia?”
“Mana Riko, kenapa diganti?”
“Anak ini kelihatannya masih muda banget, yakin bisa main?”
Suasana terasa agak canggung. Dimas mencoba tetap tenang, tapi tatapan tajam penonton membuat dadanya berdebar. Ini adalah pertama kalinya dia diturunkan di pertandingan sebesar ini, jadi wajar jika rasa gugup menyelimutinya.
“Ayo, bro, santai aja.”
Seorang pemain berjersey sama—kapten tim—menepuk pundaknya dan menyodorkan ikat kepala agar Dimas bisa lebih fokus dan tak terlalu terpengaruh penonton.
Dimas mengangguk kecil. Ia bisa menebak, orang itu pasti kapten tim yang tadi sempat memberinya semangat sebelum pertandingan. Setelah itu, sang kapten kembali ke posisinya di lapangan belakang.
“Servis dimulai!” seru wasit lantang.
Dimas menarik napas dalam-dalam. Ia menatap bola di tangannya, lalu mengingat pelatihan yang diberikan pelatih beberapa hari lalu.
Tangannya mulai bergerak. Dengan satu ayunan penuh, bola itu meluncur ke udara awalnya tampak akan keluar lapangan, namun tiba-tiba bola berputar tajam dan jatuh tepat di tepi garis belakang lawan.
“ACE!”
Penonton terdiam sejenak, lalu bersorak.
Namun, beberapa di antara mereka masih mencibir, “Hoki doang tuh!”
Tapi pelatih Dimas justru berdiri dan menatapnya tak percaya. Servis melengkung seperti itu dengan putaran sempurna dan kecepatan tinggi jarang sekali dilakukan bahkan oleh pemain senior.
Kapten tim melirik ke arah pelatih, seolah menanyakan apakah Dimas akan tetap diberi kesempatan. Tapi pelatih hanya tersenyum lebar dan melambaikan tangan, tanda agar pertandingan dilanjutkan.
Dimas mengambil bola lagi. Kali ini, ia sudah tidak gugup. Wajahnya tenang, matanya tajam menatap lawan di seberang net. Pemain penerima di sisi lawan tersenyum meremehkan, lalu menunduk bersiap menerima.
Dimas mengangguk ringan, mengangkat bola, lalu melompat tinggi. Ayunan tangannya kali ini lebih kuat, penuh tenaga dan keyakinan.
Duuaar!
Bola meluncur deras, nyaris tak terlihat oleh mata. Pemain lawan hanya sempat mengangkat tangan sebelum bola menghantam lantai keras di depannya.
“Service point!” teriak wasit.
Sorakan pun menggema.
Dimas mengatur napas, lalu bersiap lagi. Servis keduanya lebih cepat lagi—Wuuush!—masuk di antara dua pemain lawan yang salah komunikasi.
“Service point lagi!”
Dan yang ketiga… bola melesat dengan kecepatan luar biasa, menukik tajam tepat di tengah.
“ACE! Tiga poin beruntun dari Dimas!”
Penonton kini bersorak riuh, menyebut namanya berulang kali.
Sementara pelatih hanya tersenyum kecil sambil berbisik,
“Anak ini… bukan pemain biasa.”
Pemain lawan hanya bisa menatap Dimas dengan mata terbelalak. Ia bahkan tak sempat bereaksi ketika bola voli itu jatuh keras di area pertahanannya. Poin ketiga berturut-turut. Dia hanya berdiri diam, kaget dan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Seluruh penonton di tribun mendadak hening. Tak ada yang menyangka, pemain baru seperti Dimas bisa melakukan servis sekencang dan setajam itu.
“Gila… itu anak dari mana?”
“Dia beneran masih mahasiswa kita?”
“Servisnya kayak peluru, bro.”
Kapten tim tertawa lepas dari garis belakang, menatap Dimas sambil berteriak, “Bro! Kamu makan apa tadi pagi?! Itu servis monster!”
Dimas hanya tersenyum tipis, masih menahan degup jantungnya yang cepat. Ia mengangguk pada kapten, lalu bersiap untuk servis berikutnya.
Dari bangku pelatih, semua mata tertuju padanya. Seorang asisten bahkan berbisik pelan, “Kau lihat itu barusan?”
Pelatih mengangguk pelan. “Kalau anak ini terus begini, dia bakal jadi bintang di turnamen nasional nanti.”
Dimas mendengar sedikit sorakan penonton, tapi kini ia sudah tahu satu hal lapangan voli adalah tempatnya. Dan orang-orang yang dulu meragukannya, kini hanya jadi latar belakang di tengah cahaya yang mulai ia pancarkan.
Ternyata, kata-kata pelatih Henry benar juga.
Dimas tersenyum kecil, lalu menatap pemain lawan berikutnya seorang spiker utama dari tim kampus ternama, yang baru masuk menggantikan penerima sebelumnya. Pemain itu menatapnya dengan pandangan tajam, merasa Dimas sedang sombong karena senyumnya barusan.
“Hmph.” Pemain itu mendengus sambil memantapkan posisinya menerima servis.
Wasit mengangkat tangan. “Siap? Lanjutkan!”
Dimas memantulkan bola dua kali. Ia mengangkat pandangan, lalu melompat tinggi. Kali ini, ayunan tangannya jauh lebih mantap, seolah tubuhnya sudah menyatu dengan bola itu.
DUUARR!
Bola melesat kencang, nyaris tak terlihat suara desingnya seperti angin yang membelah udara.
Zwooopp!
Bola menghantam garis belakang lapangan dengan keras, dan penonton hanya sempat mendengar suara pantulan sebelum wasit berteriak lantang:
“ACE! 109 KM/JAM!”
Pemain lawan yang mencoba menerima bola menatap tangannya sendiri sarung pelindungnya sampai panas dan berasap ringan karena gesekan keras. Ia menelan ludah, menatap bola yang bergulir pelan ke arah net.
“Apa-apaan itu barusan?” gumamnya gemetar.
“Anak ini servisnya kayak roket, men.”
“Apakah kita baru aja lihat calon legenda voli nasional?”
Kerumunan langsung meledak dalam sorakan, beberapa bahkan berdiri bertepuk tangan memanggil nama Dimas. Namun Dimas hanya menatap mereka sebentar, lalu meletakkan telunjuk di depan bibirnya.
“Diam dulu…” ucapnya pelan.
Gerakan itu disambut riuh penonton mengira Dimas sedang bergaya, tapi sebenarnya dia hanya ingin fokus. Ia tidak sedang merayakan, ia sedang menenangkan diri agar ritmenya tidak terganggu.
Kini, atmosfer di lapangan benar-benar berubah. Semua mata tertuju pada satu orang Dimas, pemain baru dengan servis yang tidak bisa diprediksi siapa pun.
Dimas menatap pemain lawan di seberang net sang penerima berikutnya yang tampak ragu-ragu untuk maju. Wasit sudah memberi tanda siap, tapi pemain itu hanya berdiri kaku, matanya terpaku pada Dimas seperti sedang menghadapi mimpi buruk.
Penonton mulai berteriak menggoda.
“Takut yaaa?”
“Pecundang! Pecundang!”
“Hadapi aja, bro, itu cuma bola, bukan peluru!”
Sorakan itu menggema di seluruh gedung olahraga, membuat wajah pemain lawan memerah karena malu. Pelatihnya bahkan harus masuk ke lapangan, menepuk bahunya dan memberi semangat agar tetap fokus. Setelah hampir lima menit, permainan kembali dimulai.
Dimas memantulkan bola sekali. Dua kali. Nafasnya teratur. Ia mengangkat bola tinggi dan melompat dengan ayunan penuh tenaga.
DUAARR!
Bola meluncur deras seperti kilatan cahaya melintasi udara.
“Service in! 105 KM/JAM!” teriak wasit.
Pemain lawan mencoba menahan, tapi bola menukik tajam ke arah kakinya dan memantul liar. Sorakan langsung menggema.
Belum sempat mereka bernapas, Dimas sudah kembali bersiap. Servis berikutnya bahkan lebih cepat.
Zwooopp!
“104 KM/JAM! Service point!”
“OUT! Dua poin berturut-turut dari Dimas!”
Seluruh penonton melonjak berdiri, bersorak-sorai. Nama Dimas diteriakkan di setiap sudut tribun. Dalam sekejap, dia menjadi bintang baru di lapangan voli kampus itu.
Namun Dimas, dengan ekspresi datar dan mata tajam, menatap penonton lalu mengangkat jari telunjuk ke bibirnya.
“Diam dulu…” katanya lagi.
Kerumunan justru bersorak lebih keras, mengira Dimas sedang melakukan selebrasi khasnya.
Mereka tak tahu bagi Dimas, itu bukan gaya. Itu adalah bagian dari fokus.