"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
APES YANG TERIS KEPANJANGAN HIKSS..
Nabila baru saja selesai menemani Alka meeting di hari pertama kalinya masuk kerja atau magang.
Rasanya otaknya benar di peras karena Alka memintanya banyak tuntutan begitu laporan yang di buat oleh Nabila harus di revisi ulang padahal kalau di perhatikan laporan yang di buat Nabila sudah benar.
"Ya Tuhan, kapan sih gue bisa bebas dengan manusia muster seperti dia, nggak di kampus, di tempat magang selalu saja dia," gumam Nabila berdiri di taman sebentar sambil menghembuskan napas pelan.
"Huh! belum satu hari ful gue sudah capek banget," keluh Nabila tapi ia masih semangat.
"Kalau belum siap kerja jangan sok-sok an mau lulus!" ucap Alka yang sedang berjalan di belakang Nabila.
Nabila langsung menoleh ke belakang,"Eh, Pak," ucap Nabila salah tingkah, ia sungkan karena tadi sedang mengeluh.
"Ya ampun, tadi gue ngomong apa sih, kenapa nggak berpikir dulu ini kan tempat umum, mana di kantor lagi," batin Nabila.
"Kalau tidak mau kerja, sebaiknya kamu pulang, tidur sana!" ucap Alka tanpa menoleh.
Nabila makin jengah oleh ucapan Alka yang bagai deburan ombak datang tiba-tiba atau sama petir di siang bolong.
"E-nggak kok Pak, tadi cuma pegel saja, maklum pertama kali kerja, jadi masih ada kagetnya." sahut Nabila, kikuk.
"Makanya apa-apa itu di persiapkan, dan juga rajin olah raga agar tidak mudah capek, kecuali kalau kamu pemalas!" balas Alka dengan nada dingin, dan itu bikin Nabila salah paham padahal kalimat Alka seandainya di bawa lembut itu adalah bentuk perhatian.
Nabila ternganga dirinya masih saja di anggap pemalas oleh Alka padahal selama ini dirinya sudah banyak meforsir tenaga hanya untuk dirinya, mulak dari jadi dosen galak, sekarang bosnya galak.
Nabila yang kesal tapi tetap memilih diam, ia yakin mau berdebat dan membela bagaimanapun tetap kalah di mata Alka, lebih baik diam.
"Kenapa diam, ucapkan saya benar kan! Kalau kamu malas olah raga, begini saja mulai besok pagi-pagi kamu olah raga dengan saya."
"What? tidak Pak, saya bisa olahraga sendiri, terima kasih." sahut Nabila, lebih baik ia mengangkat besi dari pada di temani Alka.
"Bagus, lakukan setiap hari biar kamu sehat, saya tidak mau karyawan lemah, bisa-bisa rugi perusahaan saya."
"Huh! Apa sih mau nya, nyebelin banget jadi orang."
"Dua puluh menit ada meeting dengan klien, cepat makan siang dulu dan jangan sampai telat," titah Alka lagi.
Mata Nabila terbelalak, baru saja ia menghirup udara segar sudah di ganggu lagi, bukannya dia mengeluh tapi bukankah ia baru saja selesai meeting.
"Hm, sabar Nabila ini adalah ujian, namanya juga magang kamu harus tunjukkan kalau kamu bisa," gumam Nabila memberi semangat pada dirinya sendiri.
"Semoga saja meetingnya tidak lama dan tidak ribet," batin Nabila, lalu segera pergi ke kantin untuk makan siang yang hanya di kasih waktu singkat padahal haknya bukan hanya makan tapi juga istirahat hingga empat puluh menit.
Sampai di kantin Nabila kebingungan mau duduk di mana karena semua meja pada full dan hanya ada satu meja kosong, yang ternyata kepala devisi satu yang masih sahabat dan sepupu Alka tapi orangnya satu banding dua belas dengan Alka.
"Siang, pak," sapa Nabila sopan. Saat ini Nabila sedang bingung mencari tempat duduk.
"Siang," sahut Rio sambil menatap sekeliling karena heran melihat mata Nabila.
"Duduk saja," ucap Rio lagi.
"Tapi, Pak---,"
"Nggak papa, itu kamu lihat semuanya sudah penuh, saya nggak papa duduk sama siapa saja, santai." ujar Rio memang ramah dan orangnya juga hamble.
"Saya hanya anak magang Pak, rasanya tidak etis kalau ganggu makan singa Bapak."
"Kamu nggak ganggu, kamu juga mau makan, kan! dan ini juga tempat umum siapa saja boleh duduk di sini asal kosong," akhirnya Nabila mengangguk dan tidak menyangka orang tinggi seperti Rio yang katanya teman Alka dan juga ada kerabat.
"Terima kasih Pak," ucap Nabila duduk, tapi ia duduk di kursi sebelah Rio bukan di depannya karena tidak enak kalau saling berhadapan.
"Kamu anak yang magang, itu kan?" tanya Rio dengan nada bersahabat, ia memang orangnya santai dan tidak sombong.
"Iya, Pak," sahut Nabila rada sungkan sebab ia berbicara dengan orang yang memilik ke dudukan tinggi di kantor ini.
"Semoga nilai kamu bagus, biasanya nanti dapat rekomendasi keterima bekerja di sini setelah lulus," ucap Alka.
"Aamiin, terima kasih Pak."
"Saya rasa kamu pintar, karena jarang loh anak magang seperti kamu berhasil menyeimbangi Pak CEO dan ide-ide kamu tadi sewaktu meeting luar biasa, saya yakin kamu nanti bisa jadi pegawai tetap di sini, Alhamdulillah kantor ini cukup bijaksana dalam menggaji karyawannya."
"Aamiin," lagi-lagi hanya itu yang bisa Nabila ucapkan.
Rasanya lega ternyata di para petinggi di sini tidak semuanya sombong dan galak.
Dan saat Nabila berbincang-bincang dengan Rio tiba-tiba Alka muncul membawa makanan siang seolah ia mau bergabung untuk makan siang di kantin, sungguh aneh seorang Alka makan siang di kantin sebab biasanya ia makan di ruangannya dan itupun di antar oleh karyawannya.
"Rio, aku duduk sini ya, tuh pada full," ucap Alka datar sambil ngelirik ke arah Nabila yang menunduk makan.
Sementara Nabila hanya bisa ngobatin, karena makan siangnya terganggu lagi dan lagi.
"Ya ampun, sampai makan siang pun saja masih di hantui orang itu, dasar jailangkung," batin Nabila.
"Hm, Pak CEO tumben mau makan di sini, tidak sibuk kah? dan tumben di kantor sampai siang, biasanya hadir satu jam," ledek Rio sengaja karena heran sama bosnya yang hari ini keliatan aneh sekali.
"Yang sibuk itu lo bukan gue," balas Alka cuek, sebab ia tidak mau Rio tahu kalau alasannya makan siang di kantin hanya karena Nabila.
Anak magang yang baru satu hari kerja.
"Nabila, ini adalah hari pertama kamu magang di sini, gimana rasanya punya bos keren, senang kan! jarang-jarang loh anak magang di terima jadi sekertaris CEO," ledek Rio, karena tahu ini adalah pertama kali Alka menerima sekertaris cewek.
Nabila terkesiap.
"Ya wajib bersukur, karena magang di sini susah, secara di sini perusahaan besar," timpal Alka datar.
"Iya betul, tapi sayang CEOnya nyebelin," batin Nabila.
"Oh ya kamu hari ini tidak ke kampus, bukannya di sana jadwal kamu juga padat?" tanya Rio lagi, tahu kalau saudaranya itu gila pekerjaan dan jabatan, sudah jadi CEO masih saja jadi dosen dan di sana juga masih masuk petinggi kampus.
"Lima belas menit lagi gue masih ada meeting, baru ke kampus," sahut Alka santai.
Nabila pun tersindir karena tadi Alka sudah mengingatkan untuk cepat-cepat makan siang.
"Gue salut sama lo bro! Jadi CEO oke, dosen juga oke tapi kasian juga ya entar yang jadi istri lo karena pasti sampai rumah dapat cepek, lo doang," kekeh Rio.
"Ya gimana lagi, seharusnya dia beruntung dapat gue, dari pada orang yang nggak jelas, pengangguran," sahut Alka lagi, santai.
"Bentar, lo ngomong kayak gitu, memang sudah ada calonnya?" tanya Rio.
"Udahlah, insyaallah sebentar lagi kita nikah."
"Hah? Lo serius?"
"Seriuslah!"
****
Gimana ya jadi Nabila saat ini, wkwkwkw.
terima kasih banyak yang masih setia sama cerita ini. Dan selamat datang yang baru bergabung, yuk ramaikan.