Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembur
4 tahun kemudian.......
“Ini pesanan Ibu, Steak Medium dan Salmon Well Done. Selamat menikmati, Bu.”
Ucap Winda dengan nada yang sopan dan tersenyum ramah sambil meletakkan hidangan dengan rapi dan perlahan di atas meja .
“Terima kasih. Wah, plating-nya cantik sekali.” ucap tamu itu tersenyum lebar, matanya berbinar saat menatap hidangan yang di sajikan di depannya.
“Terima kasih, Bu. Kalau ada yang kurang, atau ingin tambahan saus, silahkan panggil saya ya, bu,” Winda balas tersenyum. Winda sedikit membungkuk penuh hormat sebelum melangkah mundur, tetap siaga tapi tidak mengganggu tamu yang mulai menikmati makanannya.
Winda berjalan kembali ke dapur untuk mengambil pesanan lain yang harus di antar.
Sesampainya di dapur, Winda melirik ke arah pass counter.
“Ting ting, masih ada pesanan yang harus diantar lagi?” tanyanya santai.
Chef Reno yang sedang merapikan area kerja menggeleng pelan.
“Nggak. Semuanya udah selesai.”
Winda menoleh cepat. “Serius? Udah selesai semua?”
“Iya. Hari ini tamunya nggak banyak,” jawab Chef Reno ringan.
“Tumben banget…” Winda terkekeh kecil. “Berarti aku bisa pulang dong. Ini kan udah jam tiga sore. Jam empat sampai malam nanti shift malam, kan?”
Chef Reno meliriknya sekilas. “Dasar. Mau pulang cepat aja.”
“Siapa sih yang nggak mau?” sahut Winda santai. “Emang lo mau di sini sampai malam? Dari pagi loh.”
Chef Reno hanya mendengus sambil tersenyum tipis.
“Win, meja tujuh minta saus tambahan,” suara kasir memanggil.
Winda menghela napas pelan. Sepertinya pulang cepat cuma mimpi siang bolong.
" ugh! aku udah senang mau pulang cepat tadi" gerutu winda kesal tetapi harus tetap bersikap profesional.
Reno terkekeh pelan jelas mengejek.
" haha..kasihan"
Winda kembali ke dapur beberapa saat setelah mengantarkan tambahan saus tadi ke meja no 15.
Winda sudah melepas celemeknya setengah badan ketika suara langkah cepat terdengar dari arah depan dapur.
“Winda.”
Ia menoleh. Chef Eksekutif yaitu Tristan, berdiri dengan wajah serius, tangannya memegang papan catatan.
“Iya, Chef?"
“Kamu belum mau pulang, kan?”
“Belum, Chef. Tapi rencananya mau pulang sekarang,” jawab Winda jujur.
Tristan menghela napas singkat.
“Ada satu pelayan shift malam yang nggak bisa datang. Mendadak.”
Winda terdiam. “Owh…”
“Saya butuh pengganti. Kalau kamu bersedia, gajinya tetap dihitung. Bahkan ada tambahan.”
Winda menggenggam celemeknya pelan. Matanya sempat melirik jam di dinding dapur.
“Jadi… sampai tutup, ya, Chef?”
“Iya. Saya tahu ini dadakan,” ucap Tristan lebih tenang. “Kalau kamu keberatan, saya cari orang lain.”
Beberapa detik terasa panjang bagi Winda.
Ia menarik napas pelan.
“Tidak apa-apa, Chef. Saya bisa.”
Tristan mengangguk. “Terima kasih, Winda. Saya mengandalkan kamu malam ini.”
Tristan berbalik, meninggalkan Winda yang berdiri diam sejenak.
Dari arah kompor, Chef Reno meliriknya sambil tersenyum miring.
“Katanya mau pulang cepat?”
Winda mendesah kecil.
“Kayaknya dompet aku lebih butuh daripada badan aku.”
Chef Reno terkekeh pelan.
Chef Reno mematikan kompor lalu mendekat ke arah Winda.
" Tapi lo dari pagi, kan?"
Winda mengangguk kecil. “Iya.”
Reno menyandarkan badannya ke meja stainless. “Kalau udah ngerasa pusing atau capek banget, bilang ma gua.”
" cieeee perhatian banget ma gua"
Reno menghela napas kecil.
"Gue cuma nggak mau lo tumbang di dapur gue" ucapnya sinis.
Winda terkekeh pelan. “hahaha...iyaa iyaaa Santai aja. Masih hidup kok.”
Reno menatap Winda, wajahnya serius.
“Bukan soal hidup. Lo manusia, bukan mesin. Lagian ini pertama kalinya lo lembur.”
Winda terdiam sejenak.
" Ntar gua bantu atur waktu. Kalau lagi sepi, lo duduk. Minum. Jangan sampe ngedrop di jam rame.”
Winda mengangguk. “thanks, pak Reno.”
Winda tersenyum tipis. Rasa lelah di pundaknya seolah sedikit berkurang.
Menit-menit berlalu. Menjelang sore, jumlah tamu di restoran masih terbilang normal. Namun ketika malam mulai turun, suasana perlahan beruba. Tamu di restoran hotel itu semakin ramai, hampir tanpa jeda.
Winda terus bergerak dari satu meja ke meja lain, mengantar pesanan tanpa henti.
Meski jumlah pelayan sebenarnya cukup, entah mengapa rasanya tetap kurang. Seakan setiap sudut restoran memanggil untuk dilayani.
Tubuh Winda mulai terasa lelah, langkahnya tak lagi seringan siang tadi. Namun ia tak punya pilihan untuk berhenti. Tamu terus berdatangan, seperti hujan yang tak kunjung reda.
Langkah Winda mulai melambat tanpa ia sadari. Bahunya terasa berat, seolah setiap tray yang ia angkat bertambah bebannya. Keringat dingin membasahi pelipisnya, sementara napasnya mulai terasa pendek.
Saat berbalik dari satu meja, pandangannya sempat mengabur sesaat. Winda berhenti sejenak, menahan diri dengan meremas tepi tray di tangannya. Ia memejamkan mata sebentar, menarik napas dalam-dalam, untuk menenangkan tubuhnya sendiri.
“Ayo, Win... harus kuat,” gumamnya pelan kepada dirinya sendiri.
Namun saat langkahnya kembali diayunkan, lututnya terasa goyah. Bukan jatuh—belum—tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa tubuhnya sudah di batas.
Dari kejauhan, suara restoran masih ramai. Tawa tamu, denting alat makan, dan panggilan pesanan bercampur jadi satu. Dunia terus berjalan, sementara Winda berjuang menjaga dirinya tetap berdiri.
Akhirnya, Winda menegakkan punggungnya dan memaksa senyum kembali terpasang. Ia menarik napas singkat sebelum melangkahkan kaki menuju meja No.7 untuk mengantar pesanan.
Namun, tiba-tiba pandangan Winda terasa buram. Kepalanya sedikit pening hingga—
“Bug!—awh!”
Tubuh Winda menabrak seseorang. Tray di tangannya terlepas, dan kopi panas yang dibawanya tumpah mengenai kemeja biru milik pria itu.
Mata Winda membelak menatap noda kopi dikemeja biru pria itu,tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi sebelum ia menunduk, jantungnya berdegup kencang. Tak berani mengangkat wajah menatap pria itu“Pa-pak… maaf, Pak. Saya sungguh minta maaf, sa-saya ceroboh… saya benar-benar minta maaf, Pak.” ucap Winda terbata-bata, suaranya gemetar karena panik.
“……”
Pria itu tetap diam. Tatapannya tertuju pada kemeja yang basah, dengan raut wajah yang jelas menunjukkan kekesalan.
Setelah diam beberapa detik , akhirnya pria itu mengangkat wajahnya menatap dingin Winda yang masih menunduk. Alisnya berkerut tajam, rahangnya mengeras menahan emosi.
“Kamu sadar nggak ini kopi panas?”
“Ini baju baru saya. Kamu pikir minta maaf beres gitu aja?”suaranya meninggi, jelas terdengar kesal.
Winda buru-buru berbalik mengambil tisu dari salah satu meja tamu. Ia kembali dan mencoba membersihkan noda di kemeja pria itu, tetap dengan kepala tertunduk.
“S-saya akan lap, Pak… atau kalau perlu saya ganti, Pak,” ucapnya lirih, nyaris tak terdengar di tengah keramaian restoran.
pria itu menepis tangan winda dengan kasar.
“Ganti?” pria itu mendengus pelan. “Kamu tahu harga kemeja ini?”
Winda menggelengkan kepalanya pelan.
Beberapa tamu mulai melirik ke arah mereka. Winda bisa merasakan panas di wajahnya- rasa malu, takut, dan lelah yang akhirnya memuncak.
Pria itu terdiam sejenak, menatap Winda dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai.
" Saya...saya sungguh minta maaf, pak.."
ucap Winda gemetar.
Namun pria itu justru semakin tersulut.
" Kamu jalan mikirin apa sih? atau kamu itu buta hah? "
volume suaranya semakin meninggi.
"Ma-maaf, pak.."
Pria itu benar-benar kehilangan kendali. jari telunjuknya menunjuk kemeja biru nya yang terkena kopi panas tadi.
" Ini kopi panas!" Bentaknya tiba-tiba kasar membuat Winda tersentak. Suaranya menggema di antara meja-meja restoran.Ia mengibaskan kemejanya dengan kasar, wajahnya memerah karena marah.
Beberapa tamu tersentak. Suasana mendadak sunyi.
“Kamu kerja di tempat mahal, tapi cara kerja kamu tuh kayak pelayan magang!” lanjutnya tanpa ampun.
Tubuh Winda gemetar. Terasa kecil, seolah semua mata menusuk ke arahnya. Winda mengangguk cepat, napasnya tersengal. Kepalanya terasa semakin berat saat air mata mulai mengalir di pipinya.
“Saya mohon maaf, Pak… Hiks...ini murni kesalahan saya, saya benar benar minta maaf, pak ” ucapnya pelan hampir tak terdengar.
Entah dari mana keberanian itu muncul, Winda akhirnya mendongak—ingin menatap wajah pria itu.
Namun begitu pandangan mereka bertemu, dunia seolah berhenti bergerak.
Degup jantung Winda mendadak terhenti.
Itu… Reyhan
dalem bnggt sehhh
Winda muka tembok ga sih ini