"Maaf Nan, gue enggak bisa."
Devi Zaruna menggeleng dengan pelan yang berhasil membuat Agnan Frendo kehilangan kata-kata yang dari tadi sudah dia siapkan.
Keheningan menyelimuti kedua insan yang saling mencintai itu, ini bukan permasalahan cinta beda agama atau cinta yang tidak direstui.
"Bukankah cinta tidak harus memiliki?"
Devi Zaruna, wanita cantik pekerja keras dengan rahang tegas serta tatapan tajam layaknya wanita pertama dengan beban di pundak yang harus dia pikul. Jatuh cinta merupakan kebahagiaan untuknya tetapi apa yang terjadi jika dia harus berkoban untuk cintanya itu demi ibunya?
"Kebahagiaan ibu paling penting."
Devi dan Agnan sudah menjalin hubungan selama tiga tahun tetapi hubungan itu harus kandas ketika ibunya juga menjalin hubungan dengan ayah Agnan.
Bagaimana kelanjutan kisah cinta Devi serta hubungannya dengan Agnan? apakah ibu Devi akan menikah dengan ayah Agnan atau malah Devi yang menikah dengan Agnan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lujuu Banget, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kandasnya Hubungan
"Sial!"
Agnan mengirim seribu pesan kepada Devi tetapi tidak dibalas sama sekali oleh wanita itu hingga Agnan menelepon tetapi tidak diangkat oleh wanita itu. Devi menghilang begitu saja setelah mengirimkan pesan mereka putus.
"Enggak boleh! Gue enggak terima putus gitu aja!" Agnan melangkah ke arah mobil tetapi akan membuka pintu depan tubuhnya goyang bahkan tidak sampai sedetik tubuhnya jatuh ke lantai.
Saat membuka mata hal yang pertama kali Agnan lihat adalah ruangan putih khas dengan bau obat-obatan menyengat, infus sudah tertancap di lengannya. Saat mengalihkan pandangan ke samping, seorang wanita cantik telah duduk di sampingnya.
"Kak?"
Vina memberikan segelas air, wanita itu menghela napas melihat Agnan yang terlihat menyedihkan.
"Kamu kelelahan," ujar Vina, kakak Agnan.
Agnan mencoba untuk duduk seraya menerima air dari Vina, membasahi tenggorokan lalu tersadar jika dia bermaksud untuk menghubungi Devi.
"Kak ponselku! Aku harus menghubungi Devi."
Vina tidak berkomentar apa-apa, dia memang tidak pernah bertemu dengan Devi tetapi Agnan sering bercerita mengenai wanita itu sampai dia mendengar kabar jika ayahnya dekat dengan ibu wanita itu.
"Istirahat, tubuhmu sudah terlalu lelah!"
"Enggak kak! Aku harus menghubungi Devi. kamu enggak boleh putus, kak, please," mohon Agnan.
Vina mengalah, dia memberikan ponsel pria itu. Saat Agnan kembali menghubungi Devi hanya centang satu yang dia dapatkan. Sakit? Air mata Agnan bahkan mengalir, tubuh dan jiwanya sudah sangat lelah dengan semua keadaan ini, dia belum sempat istirahat sehingga harus drop dan terbaring di rumah sakit.
"Kak ...."
"Mana nomornya biar kakak hubungi."
Wajah Agnan sedikit cerah mendengar ucapan Vina yang akan menghubungi Devi, tetapi sepertinya nasib sedang tidak berpihak kepada Agnan karena nomor Devi sama sekali tidak bisa dihubungi.
"Istirahat, nanti kakak coba lagi," hibur Vina.
Kali ini Agnan menurut karena tubuhnya juga tidak bisa diajak bekerja sama, pria itu menutup mata untuk beristirahat membuat Vina menghela napas melihat wajah Agnan yang sudah kurus karena terlalu lelah.
Sedangkan wanita yang dihubungi Vina tadi baru saja pulang dari puskesmas, wanita itu sedikit meringis kesakitan dengan kaki serta tangan yang luka, untung saja tidak parah.
"Masih sakit?" tanya Lastri.
Devi mengangguk sebagai jawaban, dia mengalami sedikit kecelakaan saat akan pulang, untung saja orang yang menabraknya tidak kabur dan membawanya ke puskesmas. Jika tidak Devi tidak tau akan melakukan apa-apa karena lokasi yang sepi, untung saja.
"Pelan-pelan," lirih Lastri sambil membantu Devi untuk pergi ke kamar.
"Udah," ujar Devi setelah berhasil berbaring di atas kasur.
Devi meraih ponsel yang retak akibat jatuh ke aspal, untung ponselnya masih bisa hidup. Saat itu juga notifikasi bermunculan dari Agnan. Seribu pesan dan seribu panggilan bahkan dari nomor yang tidak Devi kenal. Devi sama sekali tidak membuka pesan dari Agnan.
Sebenarnya ini keputusan yang berat untuknya tetapi dua jam berpikir membuat Devi mengambil keputusan untuk menyelesaikan hubungan ini. Kebahagiaan ibunya nomor satu.
"Bu," lirih Devi menatap Lastri yang datang membawa makanan.
"Ibu serius mau nikah sama pak Tomi?"
Lastri tidak membalas ucapan Devi karena wanita itu sibuk memberikan salep ke luka Devi membuat wanita itu sedikit meringis. Devi tidak tau apa pendapat dari Tomi tetapi jika pria itu tidak mau menikah hanya karena hubungan dia dengan Agnan, Devi siap mundur demi kebahagiaan ibunya.
"Tidak perlu kamu pikirkan, fokus dengan kesehatanmu," ujar Lastri.
Devi tidak mengatakan apa-apa, dengan tangan yang masih sakit Devi makan, dia harus minum obat dan segera sembuh karena dua hari lagi Devi harus kembali bekerja.
Lastri pergi setelah Devi meminum obatnya, Devi sendiri mengambil ponsel saat melihat Yaya menghubungi dirinya, setelah mengangkat panggilan tersebut Yaya langsung memberikan pertanyaan yang sudah Devi duga.
"Lo serius putus sama Agnan? Dev, udah Lo pikirin baik-baik?"
"Mau bagaimana lagi, ini demi ibu gue," balas Devi.
"Tapi Lo pikirkan lagi, sumpah hubungan kalian tu udah lama, udah ...."
"Udahlah Ya, gue habis kecelakaan nih."
Yaya yang mendengar ucapan Devi langsung mengalihkan panggilan ke video call, saat melihat luka Devi, wanita itu kembali berteriak menanyakan apakah dia baik-baik saja.
"Kok bisa sih? Makanya kalo bawa motor fokus, jangan memikirkan banyak hal," omel Yaya tetapi hanya dibalas tertawa oleh Devi.
Dia masih beruntung mempunyai Yaya di kehidupan ini, dia suka mendengar ocehan wanita itu, ocehan yang membuat Devi kembali mengingat mengenai Agnan.
"Vi, Lo serius?"
"Gue yakin ini keputusan yang tepat," ujar Devi lagi dan lagi.
Dia tidak tau apa ini keputusan yang tepat atau tidak karena hatinya sendiri tidak menerima jika hubungan ini selesai.
"Demi ibu," lanjut Devi lagi.
"Apapun yang terjadi, gue selalu ada buat Lo," ucap Yaya.
Devi kembali tersenyum, setidaknya dia masih mempunyai Yaya. Lagian ... dia masih bisa bertemu dengan banyak orang baru sedangkan ibu ... Tidak banyak pria yang mau menerima ibu dengan tiga anak, apalagi jika tidak menikah ... Dia yakin keluarga ayahnya akan terus menganggu mereka.
"Semoga semua baik-baik saja."
...***...