Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.
Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.
Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DINGINNYA DASAR LAUT
Gudang tua di pulau terpencil itu tidak pernah benar-benar hangat. Suara deburan ombak yang menghantam tiang-tiang dermaga di bawah lantai kayu menciptakan irama yang konstan dan meresahkan. Di sudut ruangan, sebuah lampu gantung kecil bergoyang pelan, melemparkan bayangan panjang yang tampak seperti hantu yang menari di dinding seng yang berkarat.
Baskara duduk di ambang pintu gudang yang terbuka, menatap kegelapan laut lepas. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah korek api perak—benda peninggalan ibunya. Pikirannya melayang pada Sarah. Ia membayangkan wanita itu sekarang mungkin sedang duduk di ruang kerjanya yang mewah, menyesap wine mahal sambil memberikan perintah kepada para jenderal polisi untuk memburu "penculik" putrinya.
"Kau memikirkan apa?"
Suara itu pelan, hampir tertelan angin laut. Baskara menoleh dan melihat Alea berdiri di dekat tumpukan peti kargo. Ia mengenakan kemeja kebesaran milik Reno karena gaunnya sudah tak layak pakai. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini jatuh berantakan di bahunya. Ia tampak rapuh, namun matanya—Baskara menyadari sesuatu telah berubah pada mata itu. Sinar kepolosan yang dulu membuatnya muak kini telah digantikan oleh kekosongan yang dingin.
"Aku memikirkan betapa cepatnya dunia berubah," jawab Baskara, kembali menatap laut. "Dua puluh empat jam yang lalu, kau adalah putri mahkota Mahardika. Sekarang, kau adalah buronan di sebuah gudang yang bau oli."
Alea berjalan mendekat dan duduk di lantai, agak jauh dari Baskara. Ia memeluk lututnya, merasakan angin malam yang menusuk kulitnya. "Dunia tidak berubah, Baskara. Duniamu yang menarikku ke sini. Aku hanya baru menyadari bahwa selama ini aku tinggal di dalam rumah kaca yang pondasinya adalah tumpukan mayat."
Alea terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada getir, "Kenapa kau kembali? Jika kau sudah tahu semua ini sejak lama, kenapa tidak kau biarkan aku tetap tidak tahu? Setidaknya aku bisa hidup bahagia dalam kebohongan itu sampai aku mati."
Baskara menoleh sepenuhnya pada Alea. Wajahnya yang tegas terlihat keras di bawah cahaya rembulan. "Karena kebohongan itu memiliki tanggal kedaluwarsa, Alea. Sarah tidak akan membiarkanmu hidup selamanya. Begitu dia mendapatkan tanda tangan terakhirmu untuk pengalihan hak tanah di proyek Griya Mahardika, kau akan berakhir sama seperti orang tuamu. Entah itu kecelakaan mobil, atau overdosis obat penenang. Dia tidak meninggalkan saksi hidup, Alea. Tidak pernah."
Alea memejamkan mata, mencoba menghalau rasa mual yang muncul setiap kali ia membayangkan "Ibu"-nya merencanakan kematiannya.
"Lalu apa bedanya kau dengan dia?" tanya Alea tajam, matanya terbuka dan menatap langsung ke manik mata Baskara. "Kau membawaku ke sini bukan untuk menyelamatkanku, kan? Kau membawaku karena aku adalah satu-satunya senjata yang bisa meruntuhkan legalitas Mahardika Group. Kau menggunakan nyawaku untuk membalas dendam ibumu."
Baskara tertegun. Ia tidak menyangka Alea akan secepat ini menyadari motifnya yang paling dalam. Ia ingin berbohong, ingin mengeluarkan kata-kata manis manipulatifnya, namun di pulau ini, di tengah kehancuran ini, kebohongan terasa sangat melelahkan.
"Kau benar," jawab Baskara jujur. "Aku membutuhkanmu. Tanpamu, aku hanyalah seorang anak yang marah dan mencoba menggigit raksasa. Tapi bersamamu... aku memegang jantung dari raksasa itu."
Alea tertawa kecil, tawa yang terdengar menyakitkan. "Setidaknya kau jujur sekarang. Jadi, kita adalah rekan bisnis dalam dendam ini? Kau memberikan kebenaran padaku, dan aku memberikan tanda tanganku untuk menghancurkan mereka?"
"Lebih dari itu," sela Reno yang tiba-tiba muncul dari balik barisan monitornya. Wajahnya tampak kuyu, namun ada binar kemenangan di sana. "Kita baru saja mendapatkan tiket masuk ke babak selanjutnya."
Baskara berdiri dan menghampiri Reno, diikuti oleh Alea yang berjalan tertatih.
"Apa yang kau temukan?" tanya Baskara.
Reno menunjuk ke salah satu layar yang menampilkan peta satelit dengan titik merah yang berkedip di sebuah pemukiman kumuh di pinggiran Jakarta Barat. "Aku melacak aliran dana pensiun siluman lainnya. Ada satu akun yang tidak pernah disentuh selama lima tahun, tapi tiba-tiba ada penarikan tunai besar-besaran sore ini, tepat setelah berita penculikan Alea pecah."
"Siapa pemilik akunnya?"
"Handoko Sulistyo. Mantan pengacara utama keluarga Arkananta," jawab Reno. "Pria ini adalah orang yang mengurus surat wasiat Adrian Arkananta sebelum kecelakaan itu terjadi. Dia menghilang setelah memberikan testimoni palsu di pengadilan yang menyatakan bahwa Adrian bangkrut dan berhutang pada ayahmu."
Baskara menyipitkan mata. "Kenapa dia tiba-tiba menarik uang?"
"Ketakutan," sahut Alea tiba-tiba, suaranya terdengar dingin. "Dia melihat berita. Dia tahu jika aku menghilang atau diculik, Sarah akan melakukan pembersihan besar-besaran untuk menghilangkan jejak. Dia tahu dia adalah target selanjutnya."
Baskara menatap Alea dengan sedikit rasa kagum. Gadis ini mulai berpikir seperti seorang penyintas.
"Reno, siapkan perlengkapan," perintah Baskara. "Kita harus kembali ke daratan malam ini juga sebelum Sarah menemukan tempat persembunyiannya atau membungkamnya secara permanen."
"Kembali ke daratan?" Reno terbelalak. "Bas, polisi ada di mana-mana! Wajahmu ada di setiap layar TV di Jakarta!"
"Itulah sebabnya kita akan masuk dari arah yang tidak mereka duga," ujar Baskara. Ia menoleh ke arah Alea. "Kau siap untuk menjadi 'korban penculikan' yang sesungguhnya?"
Alea berdiri tegak, meski tangannya masih sedikit gemetar. Ia menyadari bahwa hidupnya yang lama sudah mati, terkubur di dermaga bersama sepatu hak tingginya. "Jangan tanya apakah aku siap. Tanya padaku kapan kita bisa mulai membakar rumah itu sampai habis."
Baskara tersenyum tipis—kali ini bukan senyum palsu. Ia melihat sekutu yang paling berbahaya sedang lahir di hadapannya.
Malam itu, di bawah perlindungan badai yang mulai mereda, perahu motor mereka kembali membelah lautan menuju hutan beton Jakarta. Di tangan Baskara ada kemudi, di pikiran Reno ada kode-kode peretas, dan di hati Alea ada dendam yang baru saja mekar. Mereka bukan lagi pelarian; mereka adalah infiltran yang pulang untuk mengambil kembali apa yang telah dirampas dengan darah.