Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.
Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Terasi Dan Antrean Kemenangan
Jam makan siang di kawasan HR Muhammad biasanya didominasi oleh mobil-mobil mewah yang meluncur masuk ke restoran berkelas. Namun, hari ini ada pemandangan yang berbeda.
Sebuah antrean manusia mengular panjang hingga keluar trotoar. Bukan di depan Royal Spoon yang megah dengan pilar emasnya, melainkan di seberang jalan, tepat di depan ruko yang baru saja dibuka plang namanya:
DAPUR RUMAH
Masakan Ibu, Rasa Rindu.
Wisnu Abraham mengamati pemandangan itu dari balik kaca jendela mobil sedan hitamnya yang terparkir agak jauh. Ia sengaja tidak turun di depan pintu agar tidak menarik perhatian.
"Luar biasa," gumam sopir pribadi Wisnu tanpa sadar. "Itu antreannya panjang sekali, Pak. Padahal baru buka seminggu."
Wisnu tidak menjawab, tapi sudut bibirnya terangkat. Ia menurunkan kaca mata hitamnya, menatap kerumunan itu.
Ada pegawai bank dengan kemeja rapi yang rela antre sambil mengipasi diri. Ada sopir taksi online yang memarkir mobilnya. Bahkan, Wisnu melihat beberapa wanita sosialita—yang ia tahu adalah target pasar Sisca—turun dari Alphard mereka dan dengan penasaran ikut mengantre di tempat Alina, mungkin tergoda oleh aroma masakan yang menyengat lezat.
"Saya akan turun di sini," ucap Wisnu.
Wisnu berjalan menyeberang jalan. Aroma bawang goreng, sambal terasi, dan kuah rawon yang pekat langsung menyambut indra penciumannya. Sangat kontras dengan aroma pewangi ruangan artifisial di restoran seberang.
Saat Wisnu melangkah masuk, suasana di dalam "Dapur Rumah" begitu hidup.
Ruangan itu tidak ber-AC dingin menusuk tulang, melainkan sejuk alami dengan kipas angin industri yang besar dan ventilasi udara yang terbuka. Interiornya didominasi kayu jati belanda yang hangat. Di dinding, tertulis menu dengan kapur tulis: Rawon Setan, Ayam Goreng Lengkuas, Sayur Asem, Sambal Dadak.
Dan di tengah kesibukan itu, Wisnu menemukan Alina.
Wanita itu tidak mengenakan blazer kantornya yang kaku. Hari ini, Alina mengenakan kaos polos berwarna putih yang digulung lengannya, celana jeans, dan celemek kain berwarna cokelat tua. Rambutnya dicepol tinggi asal-asalan, memperlihatkan leher jenjangnya yang berkeringat.
Alina bergerak gesit. Ia tidak duduk di meja kasir memerintah karyawan. Ia ikut turun tangan.
"Meja nomor lima butuh tambahan sambal!" seru Alina pada staf dapur, lalu dengan sigap ia sendiri yang mengantar nampan berisi es teh manis ke meja pelanggan.
"Silakan, Pak, Bu. Maaf menunggu agak lama," ucap Alina ramah, senyumnya tulus senyum yang jarang Wisnu lihat di kantor.
Wisnu terpaku sejenak.
Ia biasa melihat Alina yang anggun, dingin, dan mematikan di ruang rapat. Tapi melihat Alina yang berkeringat, melayani orang tanpa gengsi, dan bekerja kasar seperti ini... entah mengapa, itu membuat Wisnu semakin kagum.
Gadis ini benar-benar petarung. Dia bisa menjadi ratu di istana, tapi dia juga tidak takut menjadi pelayan di warung. Tekadnya sekeras baja.
"Satu Rawon Daging, pisahkan toge-nya," ucap Wisnu saat Alina melintas di dekatnya.
Alina menoleh kaget, nyaris menumpahkan nampan yang sudah kosong di tangannya.
"Pak Wisnu?" bisik Alina, matanya membelalak. "Bapak ngapain di sini? Panas lho, Pak."
"Saya pemilik ruko ini, ingat? Saya mau inspeksi investasi saya," jawab Wisnu santai, lalu duduk di kursi kayu di sudut ruangan yang baru saja kosong.
Alina tersenyum kecil, lalu mengangguk. "Siap, Bos. Satu Rawon spesial segera datang."
Lima menit kemudian, semangkuk rawon hitam pekat dengan daging yang empuk tersaji di depan Wisnu.
Wisnu mencicipi kuahnya. Rasanya meledak di mulut. Gurih, kaya rempah, dan hangat. Ini rasa yang jujur. Rasa yang tidak berusaha menjadi sok mewah, tapi berhasil memuaskan perut yang lapar.
"Bagaimana, Pak?" tanya Alina yang kini berdiri di samping mejanya sambil menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan.
"Kamu benar," aku Wisnu, meletakkan sendoknya. "Ini jauh lebih memuaskan daripada steak karet di seberang."
Wisnu menatap Alina lekat-lekat.
"Saya kagum padamu, Alina."
Alina terdiam, pipinya sedikit merona bukan karena panas kompor, tapi karena pujian tulus itu.
"Bukan karena masakanmu," lanjut Wisnu. "Tapi karena tekadmu. Kamu punya posisi tinggi di kantor saya, gaji besar, fasilitas mewah. Tapi kamu masih mau turun ke sini, berkeringat, melayani orang, hanya untuk memastikan rencanamu berhasil."
"Saya tidak punya kemewahan untuk gengsi, Pak," jawab Alina rendah hati namun tegas. "Sisca jatuh karena dia merasa dirinya ratu yang tidak boleh kotor. Saya? Saya sudah pernah jatuh ke selokan paling dalam. Sedikit keringat dan bau terasi tidak akan membunuh saya."
Alina menunjuk ke arah jendela kaca besar yang menghadap ke jalan.
"Bapak lihat ke seberang."
Wisnu mengikuti arah telunjuk Alina.
Di seberang jalan, di balkon kaca Royal Spoon yang mewah namun sepi, terlihat sosok wanita berbaju glamor sedang berdiri mematung.
Itu Sisca.
Sisca sedang menatap antrean di "Dapur Rumah" dengan wajah yang sulit dijelaskan. Ada kebingungan, ada iri hati, dan ada kepanikan yang mulai tumbuh. Restorannya sendiri hanya terisi dua atau tiga meja, sementara warung sederhana Alina meledak pengunjung.
"Dia melihat kita," ucap Alina dingin. "Dia melihat mobil-mobil pelanggannya parkir di tempat saya. Dia melihat orang-orang lebih memilih makan di kursi kayu daripada di sofa beludru miliknya."
"Itu siksaan mental yang efektif," komentar Wisnu.
"Betul. Dia tidak akan bangkrut hari ini. Tapi egonya? Egonya sedang retak, Pak. Dia akan mulai bertanya-tanya, apa yang salah? Kenapa orang kaya pun memilih makan di sini? Dan pertanyaan itu akan menghantuinya sampai dia membuat kesalahan fatal."
Alina kembali menatap Wisnu.
"Terima kasih sudah percaya pada strategi 'warung nasi' ini, Pak."
Wisnu tersenyum tipis. Ia mengambil tisu, membersihkan sudut bibirnya.
"Lanjutkan, Alina. Bakar egonya pelan-pelan. Saya menikmati pertunjukannya."
Siang itu, di tengah hiruk pikuk suara sendok garpu dan aroma bumbu dapur, Wisnu Abraham menyadari satu hal: Alina Oktavia bukan lagi sekadar aset perusahaan. Wanita ini adalah mitra yang setara. Dan melihat betapa kuatnya tekad Alina untuk bangkit dan melawan, Wisnu merasa... dia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti wanita ini lagi.
Di seberang jalan, Sisca membanting gelas kopinya ke lantai balkon. Perang dagang telah dimulai, dan ronde pertama dimenangkan telak oleh aroma terasi.