NovelToon NovelToon
Mafia'S Innocent Love

Mafia'S Innocent Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Balas Dendam / Persaingan Mafia
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nanda wistia fitri

Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.

Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.

Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Seminggu sudah sejak Maxim dan Melanie pergi.

Rumah besar itu akhirnya terasa seperti rumah sungguhan tanpa teriakan Melanie, tanpa suara Liona yang memamerkan barang-barang mahal kW, tanpa keluhan Calvin yang merasa semua orang harus melayaninya.

Xerra menjalani harinya seperti biasa. Pagi kuliah, sore mengerjakan desain untuk klien luar negeri dia menggambar, membuat konsep logo, poster, bahkan desain interior digital. Pekerjaan sampingan itu jauh lebih melelahkan daripada yang orang lain kira… tapi penghasilannya layak.

Dan hari ini, pembayaran proyek besar itu masuk.

Jumlahnya cukup besar untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Xerra bisa membeli makanan layak. Ia mampir ke supermarket, membeli steak, roti baru, buah segar, dan susu yang benar-benar segar, bukan susu hampir kadaluarsa yang biasa ia beli karena harga nya yang murah.

Dengan senyum kecil penuh kepuasan, ia berjalan pulang ke rumah.

Tapi langkahnya terhenti.

Tiga pria berdiri di depan gerbang rumahnya.

Semua memakai setelan hitam formal, tapi ada satu yang mencolok berperut besar, rambut dipotong cepak, leher dan lengan bertato. Wajahnya seperti preman pasar, tapi pakaiannya seperti pengacara rendahan.

Xerra langsung waspada.

Pria bertato itu menatap papan nama rumah, kemudian menatap Xerra dari ujung kaki sampai kepala, seperti menilai mangsanya.

“Xavierra Collins?”

Xerra mengangguk pelan.

Tangannya mengepal di balik kantong jaket.

 “Kami datang untuk urusan jatuh tempo pembayaran hutang. Sudah lewat satu bulan. Kalau pembayaran tidak dilakukan hari ini, rumah ini akan kami ambil alih.”

Xerra mengernyit tajam.

 “Saya rasa Anda salah orang. Saya tidak pernah berhutang.”

Pria bertato itu tersenyum,senyum yang membuat darah dingin mengalir di punggung.

Ia membuka map cokelat, memperlihatkan kertas jaminan rumah dengan tanda tangan Maxim, lengkap dengan meterai.

 “Yang berhutang bukan kamu.

Yang berhutang Maxim dan istrinya, Melanie. Mereka memakai rumah ini sebagai jaminan. Dan sekarang… jatuh tempo.”

Suasana berubah mencekam.

Xerra merasa udara di sekelilingnya tiba-tiba berhenti.

Tangannya bergetar bukan karena takut, tetapi karena marah.

"Mereka… menggadaikan rumah ini… di belakangku?”

Pria itu menaikkan bahu santai.

 “Masalah kalian sekeluarga, bukan urusanku. Yang kutahu, jika tidak ada pembayaran sampai malam ini… rumah ini pindah tangan.

Wajah Xerra memerah menahan emosi.

Bukan hanya karena rumah itu satu-satunya kenangan dari mendiang orang tuanya…

Tapi karena Maxim dan Melanie tahu jika Xerra tidak akan pernah mengusir mereka.

Tapi mereka tetap mengkhianatinya.

Dan lebih parah lagi…

Mereka kabur dan meninggalkan Xerra untuk menanggung semua akibatnya.

Xerra mengepalkan tangan begitu keras hingga kukunya melukai telapak tangannya sendiri.

 “Ke mana mereka?”

suaranya rendah, hampir seperti geraman.

Pria bertato itu terkekeh.

 “Bukan urusanku. Yang jelas, mereka lari sebelum kami datang. Seperti biasa… yang paling bodoh yang harus menanggung akibatnya.”

Saat para pria itu pergi, meninggalkan ancaman formal dan sebuah surat peringatan…

Xerra berdiri diam di depan rumah besar itu.

Pandangannya kosong.

Tapi di dalam kepalanya… ada badai yang tak bisa dihentikan.

 Mereka pikir aku akan diam saja?

Mereka pikir aku akan pasrah?

Tidak.

Tidak kali ini.

Xerra bertekad mencari Maxim dan Melanie.

Bukan untuk memohon…

Tapi untuk menghancurkan mereka.

*****

Xerra terduduk lemas di lantai marmer putih ruang tamu.

Kertas perjanjian gadai rumah itu tergeletak di sampingnya, namun Xerra menatapnya seolah itu adalah pisau yang baru saja menikam jantungnya.

Rumah ini…

Satu-satunya warisan dari kedua orang tuanya.

Satu-satunya tempat yang membuatnya merasa aman meski hidup bersama parasit seperti Maxim dan Melanie.

Ternyata selama ini, mereka tinggal dengan tenang sambil menunggu tanggal jatuh tempo hutang.

Sambil menunggu saat di mana rumah ini akan dirampas, dan Xerra keponakan yatim piatu yang mereka manfaatkan bertahun-tahun akan tersingkir.

Dengan gerakan kaku, Xerra bangkit.

Ia tidak bisa melawan di pengadilan. Tidak mungkin menang melawan perusahaan penagihan besar. Tidak punya kuasa, tidak punya wali, tidak punya waktu.

Yang bisa ia lakukan hanyalah… menyelamatkan apa yang bisa ia selamatkan.

Ia masuk ke kamar ibunya.

Lemari kayu tua itu masih di sana ratusan kali Melanie berusaha membongkarnya, tapi kunci brankas rahasianya hanya Xerra yang tahu.

Dengan tangan gemetar, ia memasukkan

Kalung berlian

Gelang platina

Kain beludru hitam yang isinya cincin emas dengan batu sapphire biru tua

Dan map cokelat tua dengan cap lilin merah

“Nanti kalau sudah tenang… aku akan membacanya.”

Tapi kenyataannya bukan ketenangan yang datang melainkan kehancuran.

Tiga koper. Itu saja.

Seluruh masa kecilnya, seluruh kenangan keluarganya…

Diringkas menjadi tiga koper di tangan.

Saat ia menutup koper terakhir, kunci rumah diletakkan di atas meja makan.

Xerra menatap ruangan itu sekali lagi.

Ruang tamu yang dulu dipenuhi tawa ibunya saat memasak, kini kosong dan dingin.

Dapur yang dulu dipenuhi aroma roti panggang, kini hanya berisi piring kotor bekas makan Melanie.

Tangga tempat ayahnya pernah menggendongnya, kini sunyi.

Perlahan, ia melangkah keluar.

Udara malam terasa menusuk tulang.

Cahaya lampu jalan memantul di trotoar basah.

Xerra menyeret koper besarnya.

Tek… tek… tek…

Suara rodanya bertemu batu jalan.

Setiap langkah terasa lebih berat daripada langkah sebelumnya.

Bukan karena koper…

Tapi karena rasa kalah yang menyesakkan.

Ini pertama kalinya dalam hidupnya…

Xerra tidak bisa menang.

Tepat di ujung jalan, ia berhenti.

Menatap ke belakang.

Rumah megah dua lantai itu berdiri angkuh,gelap, bisu, tidak lagi menjadi miliknya.

Air mata jatuh.

Bukan satu.

Bukan dua.

Tetapi mengalir begitu deras, sampai sulit bernapas.

“Mama, Papa… maaf…”

“Aku sudah berusaha… tapi kali ini… aku kalah…”

Setelah berjalan kaki hampir satu jam tanpa arah, Xerra berhenti di sebuah halte bus tua.

Lampu jalan remang, angin malam menusuk kulit, dan embusan udara dingin membuat tubuhnya bergetar hebat.

Tangannya memeluk koper satu-satunya harta yang tersisa.

Air mata masih mengalir tanpa bisa ia kendalikan.

Pertama kalinya dalam hidup, Xerra tidak tahu harus pergi ke mana.

“Apa aku benar-benar sendirian sekarang…?”

Tiba-tiba

Suara mesin mobil pelan memecah kesunyian.

Sebuah sedan biru dove berhenti tepat di depan halte.

Pintu pengemudi terbuka.

Seorang pria keluar… tinggi, tampan, rahang tegas, berwajah sedingin malam itu.

Matanya tajam seperti sedang menilai seluruh dunia dan juga dirinya.

Xerra langsung menegang begitu mengenali sosok itu.

Evans Pattinson.

Laki-laki yang malam itu membiarkannya tidur, makan dengan kenyang, dan pergi tanpa menyentuhnya…

Laki-laki yang seharusnya berbahaya, tapi justru terasa lebih aman daripada keluarganya sendiri.

Evans memasukkan satu tangan ke saku celana, dan bertanya datar.

“Kau mau tidur di jalanan… atau pulang bersamaku?”

Xerra mengedip, memastikan ini bukan ilusi.

Suaranya bergetar, namun bibirnya masih sempat melontarkan candaan kecil.

“Paman tampan…”

Evans mengerutkan alis tajamnya.

 “Aku tidak setua itu untuk kau panggil paman.”

Xerra menghentikan tangisnya sejenak.

Lalu dia tersenyum senang

Senyum lemah, tapi nyata.

"Kalau begitu… aku ikut.”

Evans berjalan mendekat, mengambil koper besar di sisi Xerra seolah itu bukan beban sama sekali.

Tanpa bertanya apa pun, tanpa menuntut alasan.

Dia hanya membuka pintu mobil dan menatap Xerra.

 “Masuk.”

Dan Xerra,dengan sadar…

Benar-benar merasa seperti pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!